
Setelah Akbar menjelaskan pada Bunda Del, Bunda pun menatap putra semata wayang nya dan mengelus rambut Akbar yang kini tengah memeluk nya.
"Ehm.. maafkan Bunda ya nak, ini semua pun gara-gara Bunda. andai Bunda tidak menjodohkan kamu dengan Riska, mungkin Riska tidak akan merasakan sakit nya kenyataan dan kamu juga tidak harus terpaksa mencintai Riska yang sebenarnya tidak kamu cinta." Ucap Bunda yang merasa kecewa dengan keputusan nya dulu.
"Tidak Bunda, aku mencintai Riska kok. tapi aku butuh waktu untuk menerima nya sepenuh hati karena aku juga masih mencintai Bella." Balas Akbar.
"Tidak usah membohongi dirimu sendiri hanya untuk melihat Bunda bahagia nak. jika memang kamu mencintai Bela, lepaskan Riska. dan jika kamu serius mencintai Riska, lepaskan Bella dan bukalah lembaran baru dengan Riska." Ucap Bunda Del.
"Aku butuh waktu untuk itu Bun." Balas Akbar.
"Jika memang begitu, diamlah dulu tenangkan dirimu. baru kamu jelaskan perlahan mau mu apa pada Riska dan juga Bella." Ucap Bunda.
Lalu Akbar pun hanya meneteskan air mata karena kecewa dengan diri nya yang mencintai dua wanita sekaligus tanpa memikirkan hati Riska sebagai istri nya dan juga Rabella sebagai kekasih nya yang memang harus ia lupakan.
..."Pembalap Itu Istri Ku"...
Satu minggu telah berlalu..
Kini Riska masih menjalankan tugas nya sebagai sekertaris pribadi Akbar dan juga Istri nya. namun Riska tidak banyak bicara dan hanya melakukan kewajiban nya.
"Tuan, tolong tanda tangan di berkas ini ya." Ucap Riska.
Lalu Akbar mengambil berkas itu dan menandatangani nya. kemudian Riska pun mengambil berkas itu lagi dan beranjak pergi. namun Akbar menahan tangan Riska dan berdiri di belakang Riska.
Kemudian ia pun memeluk nya dan mengecup leher Riska. hingga Riska pun merasakan kehangatan itu kembali dari suami nya. namun semua itu tidak berlangsung lama, karena Riska kembali membuka mata nya dan mengingat akan posisi nya.
"Maaf Tuan, aku harus melanjutkan pekrjaan ku." Ucap Riska lalu melepas tangan Akbar.
"Tunggu sayang, tolong jangan seperti ini." Balas Akbar yang masih menggenggam erat tangan Riska.
Namun Riska terus berusaha melepaskan tangan Akbar, hingga Akbar yang tidak tahan dengan rasa rindu nya pada Riska pun terus memaksa.
Lalu satu tamparan pun melayang dari tangan Riska yang mengenai pipi Akbar. kemudian Akbar pun refleks melepas tangan Riska dan terdiam sejenak, karena ini pertama kali nya Riska menampar nya.
"Ma.. af, maafkan aku." Ucap Riska yang terbata-bata lalu memegang pipi Akbar.
__ADS_1
Namun Akbar menepis tangan Riska dan menatap mata Riska dengan penuh emosi. hingga Riska pun berdiri tegak dan menundukkan kepala nya.
"Pergi dari hadapan ku." Usir Akbar.
"Maafkan aku sekali lagi sayang." Ucap Riska dengan pelan dan pergi meninggalkan Akbar.
Setelah satu jam Akbar sendiri di ruangan nya, Riska pun mengetuk pintu kembali dan menunggu Akbar mengizinkan nya masuk.
"Masuklah.." Ucap Akbar.
Lalu Riska pun masuk ke dalam dan duduk di meja kerja nya tanpa berani menatap Akbar sedikit pun. dan Akbar pun diam-diam melihat Riska yang tangan nya gemetaran begitu juga dengan pandangan nya yang terus menunduk ketakutan.
"Ehm.. apa kamu memiliki trauma akan bentakan?, atau kamu takut pada ku yang berubah-ubah emosi nya?" Tanya batin Akbar.
Kemudian Riska pun beranjak lagi dan memberikan satu berkas yang sebelum nya Salim berikan pada Riska untuk Akbar tandatangani.
Setelah itu Riska pun duduk kembali ke meja nya dan merasakan pusing di kepala nya. namun ia hanya mengusap kening nya dan terus melakukan pekerjaan nya.
"Sayang, kamu baik-baik saja?." Tanya Akbar.
Lalu Akbar yang merasa Riska sedang tidak baik-baik saja pun beranjak dari kursi nya, lalu menghampiri Riska dan memijat kening Riska.
"Jangan merepotkan diri mu Tuan, aku baik-baik saja." Ucap Riska yang kemudian melepaskan tangan Akbar dari kening nya.
"Aku hanya melakukan kewajiban ku sebagai suami sayang, tolong jangan seperti ini pada ku. maafkan aku karena sudah membuat kamu kecewa." Balas Akbar.
"Ehm.. Tuan." Ucap Riska lalu beranjak dari kursi nya.
Kemudian Riska berdiri di hadapan Akbar dan menatap nya, lalu ia juga memegang pipi Akbar dengan tangan nya yang gemetar.
"Ehm.. a..ku," Ucap Riska yang masih terbata-bata karena lagi-lagi ia mengingat trauma nya terhadap kekerasan pria.
"Kenapa sayang?, tidak biasanya kamu begini. apa yang terjadi sebenarnya sehingga kamu jadi gemetaran dan lebih banyak diam?." Tanya Akbar.
"Aku tidak apa-apa Tuan, aku hanya mau bilang kalau aku sudah memaafkan kamu. lupakan saja apa yang pernah terjadi, dan kamu uruslah surat perpisahan kita." Jawab Riska.
__ADS_1
"Kenapa kamu berkata begitu sayang?, aku tidak bisa hidup tanpa kamu." Ucap Akbar.
"Kamu tidak bisa hidup tanpa aku, tapi aku tidak bisa tinggal satu atap namun dengan cinta yang pura-pura." Balas Riska.
"Sayang, tolong percayalah. hal yang pernah aku katakan dulu tidaklah benar, aku sudah mencintaimu sejak kita mulai membuka lembaran baru." Ucap Akbar yang mencoba menjelaskan apa yang ingin ia jelaskan selama ini.
"Ehm.. kamu jangan berpura-pura terus Tuan, aku tau kamu ingin membahagiakan Bunda. tapi jika cara membahagiakan Bunda itu harus mengorbankan cinta dan perasaan mu, untuk apa semua itu kamu lakukan." Balas Riska.
Lalu di saat Akbar dan Riska berdebat, tiba-tiba Rabella pun masuk ke dalam ruangan Akbar tanpa undangan dari kantor maupun Akbar sendiri.
Hingga dengan refleks Riska pun melepas tangan nya dari pipi Akbar dan menundukkan kepala nya lagi dan pamit pergi.
"Aku permisi dulu." Ucap Riska lalu pergi dari ruangan itu.
"Loh sayang, kenapa dia pergi saat melihat ku?." Tanya Rabella.
"Untuk apa kamu datang kesini Bel?." Balik tanya Akbar.
"Aku kan kangen sama kamu, bukankah kamu bilang masih mencintai ku. lalu kenapa kamu melarang ku datang ke kantor mu?." Tanya Rabella.
"Ehm.. aku tidak mau melukai perasaan Riska, dan aku juga tidak mungkin melanjutkan hubungan kita Bel. aku sudah menikah, dan cintaku pada mu juga sudah tidak bisa seperti dulu lagi." Jawab Akbar.
"Tapi sayang, kamu kan bisa menceraikan Riska. lalu kita bisa menikah bukan?." Tanya Rabella.
Lalu Akbar pun diam sejenak dan mengehela nafas nya. kemudian ia pun menatap mata Rabella dengan tatapan tajam. hingga mata tajam Akbar pun membuat Rabella menjadi takut dengan nya.
"Aku tegaskan sekali lagi ya Bel, semenjak kamu pergi ke Amerika, aku sudah hilang respect pada mu karena kamu sudah berani bermain api dengan ku di sana. hingga ku memutuskan untuk menikahi Riska dan menjadikan nya istri ku untuk yang pertama dan terakhir." Jelas Akbar.
"Dan aku ingatkan sekali lagi padamu. Riska adalah istri dan calon ibu dari anak-anak ku nanti, sedangkan kamu hanyalah masa lalu yang harus ku lupakan dan singkirkan dari hati dan pikiran ku. jadi ku tegaskan sekali lagi, mulai detik ini, menit, dan hari ini, kita tidak punya hubungan apapun lagi, paham kamu." Tegas Akbar.
Setelah menegaskan Rabella, Akbar pun menarik tangan Rabella dan menyuruh satpam di sana untuk mengusir nya. lalu ia juga menegaskan pada satpam maupun keamanan kantor agar tidak mengizinkan Rabella masuk lagi ke kantor nya mulai detik ini.
Namun Riska yang tidak melihat moment itu pun tengah duduk di sofa ruangan Renata sambil mendengarkan musik dari earphone nya.
Bersambung..
__ADS_1