Pembalap Itu Istri Ku

Pembalap Itu Istri Ku
Tuba di balas susu


__ADS_3

Setelah suasana cukup stabil, Akbar pun duduk di samping Riska yang tengah terbaring. Lalu Akbar meraih tangan Riska dan menyesali kelakuan nya di kantor tadi.


"Sayang maafkan aku, tolong jangan seperti ini. aku tau aku salah, aku menyesal sayang." Ucap Akbar sambil meneteskan air mata.


Namun Riska masih terdiam tanpa merespon ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Akbar. hingga Suster pun datang menghampiri Akbar.


"Permisi Tuan, kami meminta izin untuk membawa Nona ke ruangan rawat inap nya." Ucap Suster.


"Baik, tolong tempatkan di ruang Vip kelas paling tinggi. berapapaun biaya nya, saya akan bayar." Balas Akbar lalu beranjak menjauh dari brangkar.


"Baik Tuan, sebelum itu Tuan lunaskan dulu biaya Administrasi nya agar kami cepat menyelesaikan tugas kami." Ucap Suster.


Lalu tanpa sepatah kata pun yang terlontar, Akbar pun segera menemui Salim untuk menemani nya ke tempat administrasi.


"Lim, lu kabari Papah Laurent dan Bunda sekarang ya, gua tidak bisa harus berpura-pura terus dan membohongi mereka." Titah Akbar sambil berjalan dengan terburu-buru.


"Iya Bar, tapi lu jangan terburu-buru begini. lu harus tenang agar semua sinkron tanpa kesalahan lagi." Balas Salim yang mencoba menenangkan Akbar.


"Gua tidak bisa kalau tidak buru-buru." Ucap Akbar.


Lalu Salim pun langsung menuruti perintah Akbar tanpa bertanya lagi. sedangkan Akbar, ia langsung melunasi administrasi dan kembali lagi ke ruangan Riska.


"Oh ya Bar, gua pamit ke kantor lagi gak apa-apa kan?." Tanya Salim.


"Baiklah, thanks ya lu sudah bantu gua." Jawab Akbar.


"Sudah tugas gua Bar, semoga Riska cepat sembuh ya. lu harus lebih sabar dan jangan suka marah-marah terus oke." Ucap Salim.


Namun Akbar hanya mengangguk tanpa berkata sepatah kata pun. lalu Salim yang tadi sudah izin pamit pun pergi meninggalkan Akbar dan Riska di rumah sakit.


Setelah Salim pergi, Akbar pun masuk ke dalam ruang rawat inap Riska dan duduk di kursi samping brangkar. ia menggenggam tangan Riska yang masih diam dengan nafas yang di bantu oleh pentilator oksigen.

__ADS_1


"Sayang, aku terlalu keras ya sama kamu?, maafin aku sayang. tolong buka mata kamu, jangan tinggalkan aku." Ucap batin Akbar.


Lalu tidak lama kemudian, jari jemari Riska pun mulai bergerak dan mata nya mulai membuka sedikit demi sedikit.


"Ehm.." gumam Riska yang masih lemas dan susah bernafas.


"Sayang, kamu sudah siuman?." Tanya Akbar lalu menekan tombol bantuan.


Tak lama kemudian, Dokter dan satu Suster pun sampai di ruang rawat inap itu. lalu, Dokter pun langsung memeriksa kondisi Riska secara detail.


"Bagaimana kondisi Istri saya Dok?." Tanya Akbar.


"Untuk saat ini, nafas Nona masih belum stabil Tuan. tapi semua bisa di bilang lebih baik karena detak jantung Nona sudah semakin stabil untuk membantu Nona berangsur membaik." Jawab Dokter.


"Syukurlah, terimakasih ya Dok." Ucap Akbar.


"Sama-sama Tuan, kalau begitu kami pamit kembali ya Tuan." Balas Dokter.


Dan di saat Akbar dan Riska saling memandangi satu sama lain tanpa bicara, Bunda Del dan Tuan Laurent pun sampai di rumah sakit. lalu tanpa basa-basi, mereka pun segera mengetuk pintu kamar dan masuk ke dalam.


"Permisi Nak, yaampun apa kabar kamu sayang?." Tanya Bunda Dele lalu memeluk Akbar.


"Baik Bunda, Bunda sendiri?." Balik tanya Akbar.


"Baik juga Nak, oh ya menantu ku bagaimana kondisi mu sayang?." Tanya Bunda Dek sambil mengelus rambut Riska.


"Jauh lebih ba.. baik Bun." Jawab Riska yang masih tersenggal-senggal.


"Ehm Bagaimana bisa begini Akbar?, bukankah kemarin kalian masih baik-baik saja." Tanya Tuan Laurent sambil mengelus rambut Riska juga.


"Iya Nak, bukankah kalian tengah bulan madu, kok sekarang tiba-tiba begini." Sambung Bunda Del.

__ADS_1


"Jadi sebenarnya.." Jawab Akbar yang di selang oleh Riska.


"Sebenarnya tadi pagi kita sudah tiba di kota, dan langsung ke kantor. dan mungkin karena aku kecapean, jadi nya sesak nafas ku kambuh Pah, Bun. makan nya Akbar langsung membawa ku ke rumah sakit dengan bantuan Salim." Ucap Riska yang menyelang Akbar.


"Ehm begitu, lain kali kalau kamu capek, bilang ya pada Akbar, kan kondisi kamu berbeda dengan yang lain. jadi kamu harus bisa menyesuaikan diri oke." Balas Tuan Laurent sambil tersenyum.


"Nah betul kata Papah kamu, kamu jangan memaksakan diri jika sedang tidak baik-baik saja. kan sehat itu nomor satu, kerjaan itu nomor dua." Sambung Bunda Del.


"Iya Pah, Bun hehe, Riska janji tidak akan mengulangi nya lagi." Balas Riska sambil tersenyum walau tertutup pentilator oksigen.


Lalu ketika Tuan Laurent dan Bunda Del mengobrol dengan Riska, Akbar pun hanya bisa terdiam. karena Riska selalu menutupi kesalahan dia walau dia hampir membunuh Riska sekalipun.


"Sayang, kenapa kamu selalu melindungi ku?, dan kenapa aku selalu kasar pada nya. padahal dia sangat baik dan pengertian terhadap ku." Ucap batin Akbar yang termerenung.


Setelah mereka berbincang, Akbar pun duduk di sofa kamar tersebut dengan Bunda Del dan Tuan Laurent. namun canda tawa yang sedari tadi terukir, kini kembali menjadi suasana yang serius ketika Bunda Del menanyakan sesuatu.


Bersambung..


^^^_Karena sebuah kesalahan dan perilaku jahat di balas dengan kejahatan yang sama. Karena kita hanya manusia, mau di nilai baik atau buruk oleh orang lain kita harus tetap berbuat baik kepada siapapun. walau kadang memaafkan tapi sulit melupakan_^^^


..._Ar, 13 April 22...


Wah wah wah, kira-kira apa ya sesuatu itu? 🤣🤣 ada deh. kalau penasaran, terus ikuti kisah Riska dan Akbar ya di novel "Pembalap Itu Istri ku."


Dan supaya tidak tertinggal ceritanya, yuk di fav love dan tekan lonceng.. eh, di kata youtube kali astoge. 🙃


Haha ya itulah maksud ku lah ya di fav love gitu kan. and so, jangan lupa dukung novel Author juga ya dengan cara di like, koment, saran dan vote/gift.


Thanks All❤❤


Note:ingatkan ku bila ada si tyfing buangk* ya🙏✌

__ADS_1


__ADS_2