
Lalu Riska pun pergi dengan motor sport nya menuju pantai sambil melepas jaket hitam dan penutup wajah yang ia pakai.
"Karena pada dasarnya, hanya angin yang dapat membawa pergi masalah ku" Ucap batin Riska sambil menutup mata nya.
Kemudian ketika Riska tengah menikmati angin sejuk itu, tiba-tiba melingkarlah tangan kekar di pinggang Riska hingga membuat Riska terpaksa membuka matanya dan menoleh pada sosok yang tengah memeluknya dari belakang.
"Diamlah, tetaplah hirup udara segar ini. sampai dimana kamu bisa tenang dan damai." Ucap Pria itu.
"Terimakasih Kakak." Balas Riska yang kemudian kembali pada posisi nya.
...Dan hari kini terus berlalu..
Akbar merasa sangat khawatir dengan Riska yang tidak kunjung kembali. bahkan sampai larut malam setelah tahlilan pun Riska belum juga kembali.
Lalu Akbar yang khawatir pun segera menelepon Riska dan di angkat oleh seorang Pria yang bersama Riska di pantai tadi.
"Hallo" Ucap Pria itu.
"Siapa ini?, kenapa handphone Riska ada pada lu." Tanya Akbar yang langsung kesal.
"Maaf, Riska sedang istirahat, dan kamu tolong jagalah Aidha dengan baik." Jawab Pria itu.
"Hey siapa lu sebenar nya hah?, dan ada urusan apa lu dengan keluarga gua?." Tanya Akbar kembali yang semakin geram.
"Nanti juga kamu tau siapa saya, dan pesan saya tetaplah di rumah sampai pagi. tidak usah khawatir, Riska baik-baik saja di sini dengan ku." Jawab Pria itu lalu menutup panggilan Akbar.
"Hallo, hallo!!!" Teriak Akbar.
Lalu Akbar yang geram pun segera menyuruh Salim yang masih berada di rumah nya untuk segera melacak handphone Riska.
Namun sayang nya nomor handphone Riska tidak terdeteksi sehingga membuat Akbar benar-benar geram dengan tingkah Riska yang semakin keterlaluan.
"Ada apa Akbar?" Tanya Galuh.
"Ehm.. Riska sedang bersama Pria lain Gal" Jawab Akbar sambil menahan amarah nya.
__ADS_1
"Maksud lu apa Bar?." Tanya Galuh lagi yang tidak percaya dengan ucapan Akbar.
"Tadi gua menghubungi nya, namun yang menjawab nya adalah Pria bukan Riska. dan lu tau, hati gua begitu sakit mendengar semua ini karena di saat Bunda dan sahabat nya meninggal, namun dengan santai nya Riska pergi tanpa pamit dan menetap dengan Pria lain tanpa izin." Jawab Akbar dengan amarah yang begitu besar.
"Sebaiknya lu tenang dulu Bar, Riska gak mungkin seperti itu. bahkan lu mengenal dia tidaklah sehari dua hari namun sudah berhari-hari, pasti lu sudah tau bagaimana sifat dia Bar." Ucap Galuh sambil menenangkan Akbar yang sudah larut dalam amarah nya.
"Gua tidak peduli Gal, kalau sampai besok dia pulang, gua bakal buat perhitungan dengan dia." Balas Akbar yang kemudian pergi ke kamar Aidha.
Lalu di saat itu pula, Galuh segera pergi kepada Tuan Laurent lalu menceritakan semua kejadian ini pada nya. kemudian Tuan Laurent pun mengambil handphone nya lalu menelepon seseorang.
"Hallo Nak, kau dimana?." Tanya Tuan Laurent.
"Di indonesia Pah, dan hari ini semua sudah tebalas. nyawa di balas nyawa dan harta di balas harta." Jawab Pria itu.
"Maksud mu apa Nak?." Tanya Tuan Luarent kembali.
"Lihatlah berita terbaru, maka Papah akan mengerti maksud dari ucapan ku." Jawab kembali pria misterius itu.
Kemudian Tuan Laurent pun segera membuka sosmed nya dan mencari tau berita terbaru hari ini. namun sebelum Tuan Laurent memeriksa berita di sosmed nya.
Salim yang tengah mengutak-atik laptop nya pun segera berteriak karena kaget melihat kabar duka dari Rabella yang di kabarkan meninggal dengan keadaan yang mengenaskan.
"Ada apa ini?, kenapa kalian berisik sekali hah?." Tanya Akbar.
"Kekasih gelap lu meninggal Bar." Jawab Salim.
"Maksud lu?" Tanya Akbar lagi.
"Rabella sudah meninggal akibat ledakan bom di rumah nya pagi tadi Akbar." Jawab Tuan Laurent dengan wajah dingin nya sambil tersenyum tipis.
"Apa?!" Teriak Akbar.
"Kenapa Akbar?, bukankah nyawa harusnya di bayar dengan nyawa?." Ucap Tuan Laurent.
"Tapi tidak begini caranya Papah." Balas Akbar.
__ADS_1
"Tante meninggal karena Rabella Bar, dan kenapa lu masih membela dia padahal lu sudah tau kebenaran nya seperti apa hah!." Teriak Galuh yang kesal dengan respon Akbar.
Dan kemudian, Akbar pun hanya bisa diam karena Rabella yang dia cintai kini sudah lenyap menjadi debu bersama Bunda Dele yang juga pergi meninggalkan nya.
"Pembalap Itu Istri Ku"
Pagi hari kini sudah tiba..
Akbar yang masih terlihat kesal dan emosi nya tidak stabil pun terus marah-marah di sepanjang waktu itu. hingga tepat pukul 10 pagi, Riska pun pulang ke rumah dan mencoba masuk ke dalam rumah.
Namun Akbar yang sudah stay di depan pun segera menghentikan langkah Riska yang semakin jauh ke dalam rumah.
"Selamat pagi Bee, kenapa kamu menghalangi jalan ku." Ucap Riska.
"Kamu kemarin kemana saja?, siapa Pria yang bersama mu kemarin?, dan kenapa kamu membunuh Rabella tanpa bertanya dulu pada ku.?" Tanya Akbar dengan penuh emosi.
"Aku hanya memenuhi janjiku pada Bunda dan Kresna, lalu aku membunuh Rabella beserta seluruh aset nya karena nyawa harus di bayar dengan nyawa. lalu kamu bertanya siapa pria yang bersama ku, dia adalah Raihan." Jawab Riska tanpa rasa gugup.
"Siapa Raihan hah?." Tanya Akbar lagi yang semakin geram.
"Dia adalah Ka..." Jawab Riska yang kemudian di hentikan oleh sebuah tamparan dari Renata.
"Ehm.. kenapa kamu menampar ku?, dan kenapa kamu menggangguku ketika sedang mengobrol dengan suami ku?." Tanya Riska pada Renata.
"Kamu itu brengsek Kak, Nyonya Dele meninggal kamu malah pergi dengan Pria lain. Aku jijik sama kamu Kak, wanita yang aku banggakan kini malah bertingkah seperti wanita laj*ng!." Teriak Renata sambil di pegangi Salim untuk menahan tubuh Renata yang emosi.
"Karena misi adalah janji, jika kami harus membunuh maka membunuh. dan jika kami harus menjaga maka kami akan menjaga." Ucap Raihan yang langsung berdiri di belakang Riska.
"Dan ya, jika lu bilang Adik gua ini salah bermalam dengan Kakak nya semalam karena lelah itu salah dan di samakan dengan wanita jal*ng, maka lu harus pikir lagi sebelum mengucap." Sambung Raihan.
"Maksud lu apa hah?." Tanya Akbar yang semakin bingung.
"Raihan adalah sepupu Riska, mereka besar bersama namun di dua tempat yang berbeda. dan tolong jangan salah paham dulu sebelum kalian bertanya." Ucap Tuan Laurent yang memecah keributan itu.
Lantas Renata pun merasa bersalah atas sikaf nya barusan. namun Akbar masih dengan sikaf galak dan dingin nya walau pun ia mencoba untuk terima.
__ADS_1
Sedangkan Riska yang semakin kecewa dengan semua orang pun hanya diam dan langsung pergi ke kamar dengan Akbar yang ikut menyusul Riska.
Bersambung..