
Setelah makan malam selesai, tiba-tiba Riska merasa mual. hingga ia pun memuntahkan semua isi makanan yang baru saja ia nikmati sebelum nya.
"Huek.."
"Sayang, kamu tidak apa-apa?." Tanya Akbar sambil memijat leher Riska.
"Tidak apa-apa sayang, aku baik-baik saja." Jawab Riska.
Lalu Riska segera membersihkan mulut nya dan keluar dari kamar mandi di temani Akbar. namun Bunda Del yang khawatir, ia segera membuat jus jeruk untuk menghilangkan rasa mual itu.
"Sebaiknya kamu minum jus jeruk dulu sayang, setelah itu kamu istirahat." Titah Bunda Del sambil menyodorkan segelas jus.
"Terimakasih Bunda." Balas Riska yang kemudian mengambil jus itu dari tangan Bunda Del.
"Bun, apa sebaiknya Riska kita periksa ke Dokter lagi ya?." Tanya Akbar.
"Aku tidak mau di periksa terus, ini hanya mual biasa kok." Ucap Riska.
"Baiklah, Akbar, sebaiknya kamu gendong Riska ya, kasihan kan kaki nya belum pulih total." Titah Bunda Del.
"Baik Bun, kalau begitu aku dan Riska ke kamar duluan ya." Balas Akbar.
"Jaga Riska dengan baik ya Akbar sayang. gendong pelan-pelan dan taruh bantal kecil di bawah kaki Riska." Titah Bunda Del.
"Iya Bun." Balas Akbar.
Lalu Akbar pun menggendong Riska setelah Riska meneguk habis jus jeruk yang Bunda Del buatkan. setelah itu, ia pun membawa Riska ke kamar mereka dan membaringkan nya di atas kasur.
"Terimakasih sayang." Ucap Riska.
"Sama-sama. sekarang kamu bobo ya, besok kita akan menghabiskan waktu bersama." Balas Akbar.
"Memang nya kamu tidak kerja sayang?." Tanya Riska.
"Besok Weekend sayang, mana mungkin aku kerja. masa kamu lupa sama hari si hehe." Jawab Akbar.
"Oh iya hehe, maaf aku lupa." Ucap Riska sambil tertawa kecil.
"Dasar kamu ya hehe." Balas Akbar yang ikut tertawa kecil.
"By the way, aku mau manggil kamu Bee aja deh mulai sekarang hehe." Ucap Riska.
"Haha ada angin apa mau manggil aku Bee?, kan biasanya juga sayang." Balas Akbar.
__ADS_1
"Kan kalau sayang udah pasaran banget Ay, jadi aku mau yang tidak terlalu pasaran dikit lah hehe." Jelas Riska.
"Haha, yasudah kalau begitu, mulai hari ini aku manggil kamu Bee, kamu juga manggil aku Bee, oke?." Balas Akbar.
"Oke deh Bee." Ucap Riska.
"Yasudah kalau begitu kamu istirahat ya, besok kita ke Dokter untuk periksa kesehatan kamu kembali oke. dan semoga, hasilnya bagus." Ucap Akbar sambil mengelus rambut Riska.
"Tapi kamu juga tidur ya." Balas Riska.
"Iya ih, manja ya kamu hehe." Ucap Akbar sambil mencubit hidung Riska.
"Ih sakit tau Bee." Balas Riska sambil memegang hidung nya.
"Haha maaf ya Bee cantik ku." Ucap Akbar.
Lalu Riska pun hanya tertawa kecil ketika melihat Akbar juga tertawa. setelah itu, Riska yang kecapean becanda dengan Akbar pun mulai terlelap dalam tidur.
"Selamat malam sayang." Ucap Akbar lalu mengecup kening Riska.
Setelah memastikan Riska tidur, Akbar beranjak dari kasur menuju ruang tamu sambil membawa laptop nya. lalu ia pun membuka email yang di kirim Renata dan membaca nya.
"Busana, jika gua berhasil kerjasama dengan perusahaan itu, pasti gua bisa mendapat keuntungan banyak. but, busana kan bukan keahlian gua dan perusahaan." Gumam Akbar.
Hingga akhirnya Akbar pun menelepon Renata dan Salim untuk diskusi malam itu juga. kemudian Salim dan Renata yang sudah merencanakan ide untuk mengajak Riska bergabung di bisnis ini pun langsung mengutarakan ide mereka.
"Menurut kalian, tolak atau tidak kerjasama ini?." Tanya Akbar.
"Menurut gua si, lu harus terima tawaran ini Bar. lagi pula merancang sebuah gedung besar ini kan impian lu banget sedari dulu." Jawab Salim.
"Tapi kan perusahaan ini juga meminta kita untuk mencarikan desainer baju yang sudah berpengalaman untuk merancang busana ketika pembukaan gedung juga. lu kan tau ini bukan profesi gua sebagai Ceo arsitektur gedung." Ucap Akbar.
"Kenapa Kak Akbar tidak mengajak Kak Riska saja?." Usul Renata.
"Apa hubungan desain dengan Riska Nat?." Balik tanya Akbar.
"Lah kan Kak Riska pintar menyesuaikan pakaian Kak, kenapa kita tidak coba tanya pada Kak Riska apa dia juga bisa menggambar pola gaun atau tidak. jika bisa kan kita langsung mencari penjahit yang profesiol untuk menjahitkan karya desain yang Kak Riska buat nanti." Jawab Renata dengan jelas.
"Ehmm iya juga si, tapi dia butuh istirahat total selama hamil. kalau nanti dia malah kecapean kan resiko nya pasti akan ke kandungan nya juga Nat." Ucap Akbar.
"Iya si Bar, tapi apa salahnya mencoba." Balas Salim.
"Ya Kak Akbar, intinya aku juga akan pastikan kalau Kak Riska tidak kecapean. aku pasti akan membantu dia dan ada selalu untuk dia selama Kak Akbar dan Salim sibuk nanti." Sambung Renata.
__ADS_1
"Baiklah, kalau memang ini yang terbaik untuk perusahaan, besok gua akan bicara pada Riska." Balas Akbar.
"Kita tunggu keputusan kalian Bar." Ucap Salim.
"Oke, sampai jumpa." Balas Akbar.
Kemudian, ia pun menutup panggilan itu dan menulis susunan kerangka baru untuk schedule karyawan bulan depan.
..."Pembalap Itu Istri Ku"...
Namun di saat Akbar tengah sibuk dengan perusahaan nya, Galuh yang benar-benar semakin ter'obsesi dengan Riska tengah menatap foto Riska dan mencium nya.
"Mau kamu lagi hamil atau pun tidak, aku akan tetap mencintaimu. tapi sayang, aku juga ingin harta Akbar bagaimanapun cara nya." Ucap Galuh pada foto Riska.
"Dan aku berjanji, aku akan mendapatkan kamu kembali dan juga harta Akbar tanpa meninggalkan sepersenpun untuk nya." Sambung Galuh.
Dan di saat Galuh berhalusinasi aneh tentang Riska, Rabella yang tidak di undang pun datang secara tiba-tiba ke ruangan Galuh. namun Galuh tidaklah terusik oleh kedatangan Rabella, melainkan ia masih tetap fokus menatap foto Riska yang sangat cantik versi Galuh.
"Kenapa lu datang kesini tanpa mengabari gua terlebih dahulu hem?." Tanya Galuh.
"Gua cuma mau memastikan kalau lu tidak akan merusak rencana gua dengan obsesi lu terhadap Riska." Jawab Rabella.
"Cara lu mencintai itu berbeda dengan gua, jadi jangan salahkan gua kalau rencana lu gagal, karena cinta lu dan gua tidak akan sama." Ucap Galuh yang masih fokus dengan foto Riska.
"Bisa tidak sekali saja lu kerjasama dengan benar hah?." Tanya Rabella.
"Bisa saja, asalkan lu tidaklah mencelakai Riska. karena sedikit saja ia tergores, nyawa lu taruhan nya." Jawab Galuh yang langsung menatap Rabella dengan tajam.
Lalu Rabella yang melihat tatapan tajam Galuh pun terdiam seketika karena rasa takut yang mulai melanda. hingga akhirnya Galuh pun mengecup bibir Rabella dan tersenyum.
"Lu paham kan?." Tanya Galuh yang tersenyum, lalu kembali menatap foto Riska.
"Pa.. paham Gal." Jawab Rabella yang terbata-bata.
"Urusan lu sudah selesai bukan?. kalau sudah, pergilah dari sini tanpa menunggu gua usir dengan cara gua." Usir Galuh.
"Ba... baik Gal." Balas Rabella yang buru-buru pergi dengan rasa takut.
Dan akhirnya, Rabella pun pergi karena takut dengan Galuh yang menunjukkan sifat mafia nya. sedangkan Galuh, ia masihlah seperti orang gila yang duduk sambil bicara dengan foto Riska.
Bersambung..
Hello gaes, segini dulu ya episode kali ini. jangan bosan-bosan untuk terus mampir dan fav love bagi yang belum hehe.
__ADS_1
Ok thanks gaes, jangan lupa di like, koment, rate, vote atau gift ya.