
Kemudian, Akbar pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya, sedangkan Riska yang masih tidur kini tengah bermimpi sesuatu.
Yaitu berdiri di sebuah pantai dengan ombak yang mulai meninggi, entah apa yang di pikirkan Riska, yang pasti ia tidaklah pernah takut akan di terjang air walau ia tau akan mendekat pada kematian.
"Bagiku jika ini nyata, semua akan terasa halus menerpa karena ku tidak ingin jadi beban. namun jika ini hanyalah mimpi, maka akan ku jadikan mimpi indah yang mendebarkan." Ucap Riska.
"Tuhan, jikalau memang aku ini beban, tolong jangan biarkan janin di perutku ini menjadi beban Papah nya di kemudian hari begitu pun dengan Omah dan juga Opah nya." Sambung Riska sambil mengelus perut nya.
Namun saat ombak itu mulai menerpa tubuh Riska, Akbar pun menggoyangkan pundak Riska karena ia khawatir dengan Riska yang sontak nafas nya tidaklah terkontrol.
"Sayang bangun.." Ucap Akbar.
"Ehm.." Balas Riska yang mulai membuka mata nya.
"Sayang kamu tidak apa-apa?, kamu baik-baik saja kan?." Tanya Akbar yang langsung memeluk Riska.
"Aku baik-baik saja kok, aku hanya mimpi ombak menerjang saja." Jawab Riska.
"Sayang, tolong jangan buat aku panik." Ucap Akbar.
"Maafin aku ya." Balas Riska.
Lalu Akbar pun terus memeluk Riska hingga Riska yang memang pandai menenangkan pun berhasil membuat Akbar mulai tenang di pelukan nya.
Setelah itu, Akbar pun melepas pelukan nya dan menatap mata Riska dengan tatapan yang begitu tenang. Ia mulai mengelus perut Riska dan mengecup pipi nya.
"Sayang, tolong jaga baik-baik kandungan mu ya, jika butuh apa-apa panggil Bunda. sekarang kaki mu tidak lah baik-baik saja, dan lain kali jangan ceroboh lagi ya." Nasihat Akbar.
"Maaf ya sayang, aku tadi kebelet pipis, makan nya aku buru-buru tanpa memanggil Bunda. tapi aku janji sama kamu untuk memastikan kalau anak kamu akan baik-baik saja." Balas Riska.
"Anak aku?, tidak sayang. ini anak kita dan akan tetap selalu begitu." Ucap Akbar.
"Tapi kalau dia lahir tanpa melihat ku dulu, dia hanya akan jadi anak kamu kan?." Tanya Riska.
"Sutt.. tolong jangan bicara begitu, kamu pasti bisa melahirkan bayi kita dengan selamat begitu juga dengan kamu. aku mau anak kita nanti tidak kurang kasih sayang orang tua nya." Jawab Akbar.
"Dia pasti tidak akan merasa sepi kok sayang, kamu kan humoris dan Bunda sangat penyayang, aku yakin kalian pasti akan melengkapi warna nya dengan sejuta kasih sayang" Balas Riska.
"Loh kok kamu bicara begitu terus, jangan begitu dong sayang. kamu harus berpikir positif." Ucap Akbar.
Kemudian Riska pun memeluk Akbar lagi dan meremas kaos nya dengan sangat erat. hingga Akbar pun membalas pelukan itu sambil menenangkan Riska.
"Sayang, aku tidak tau kenapa akhir-akhir ini aku jadi takut jika aku akan gagal mengeluarkan bayi kita ke dunia." Ucap Riska.
"Hust.. kamu pasti bisa, kalau kamu kuat, pasti anak kita juga akan jadi anak yang kuat." Balas Akbar.
__ADS_1
"Kamu yakin akan hal itu?." Tanya Riska.
"Sangat yakin." Balas Akbar.
Lalu setelah Riska mulai tenang karena Akbar berhasil menenangkan nya. Riska kini mulai menatap mata Akbar entah dengan tatapan apa yang pasti terlihat begitu pilu dan penuh kesedihan.
"Sayang, jika ada apa-apa, cerita sama aku atau Bunda ya. jangan memendam sendiri dan malah jadi pusing sendiri." Ucap Akbar.
"Kamu kan lagi hamil pertama, apalagi usia kandungan kamu masih lah belum besar. jadi jangan banyak pikiran negatif ya, harus banyak berpikir positif biar kamu dan bayi kita sehat selalu." Sambung Akbar.
"Iya sayang, maafin aku ya." Balas Riska.
"Tidak apa-apa, nanti kita ke Dokter ya untuk memastikan kondisi kamu." Ucap Akbar.
"Ehmm.. iya sayang." Balas Riska.
"Yaudah, kamu mandi dulu sana, nanti kita makan malam bersama dengan Bunda." Titah Akbar.
Dan tanpa membalas ucapan Akbar, Riska pun segera beranjak lalu mengecup pipi Akbar. kemudian ia langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri nya.
..."Pembalap Itu Istri Ku"...
Setelah mandi, Riska pun mengambil sajadah dan langsung berdzikir sore menunggu adzan maghrib berkumandang. lalu Akbar yang hendak masuk ke dalam kamar pun menghentikan langkah nya, ketika ia melihat pemandangan yang begitu indah.
Kemudian ia pun masuk ke dalam kamar, lalu mengambil pakaian shalat nya dan kopiah. dan setelah ia siap, ia pun langsung menghampiri Riska dan duduk di depan Riska sambil ikut berdzikir sore.
Dan setelah mereka berdzikir, tidak terasa adzan maghrib pun berkumandang begitu indah dan menyejukkan hati para muslim dan muslimah. kemudian, Akbar dan Riska pun melanjutkan shalat berjama'ah yang di pimpin oleh Akbar yang memang sudah berkewajiban sebagai imam yang baik.
Di sisi lain, Bunda Del yang tengah berhalangan pun sedang menyiapkan makan malam sambil menunggu Bik Inem yang masih shalat maghrib.
"Ehm.. semoga menantuku suka dengan menu makan malam ini." Ucap batin Bunda Del sambil tersenyum.
Dua puluh menit kemudian, Bik Inem yang sudah selesai shalat maghrib pun langsung merapikan sejadah dan mukena nya. lalu ia segera menghampiri Bunda Del dan membantu nya menata makanan di atas meja beserta minuman dan buah-buahan.
"Maaf ya Nyonya." Ucap Bik Inem.
"Tidak apa-apa Bik. oh ya Bik, tolong ambilkan salad di kulkas, tadi saya lupa mengambil nya." Titah Bunda Del.
"Baik Nyonya." Balas Bik Inem.
Setelah mengambil salad, Bik Inem pun segera menaruh nya di atas meja dan menyusun piring serta sendok garpu di depan kursi masing-masing majikan nya itu.
Lalu kita kembali pada Akbar dan Riska yang kini tengah selesai menunaikan shalat maghrib. Riska yang berada di belakang Akbar pun langsung mencium tangan Akbar yang kini tengah duduk berhadapan dengan nya.
"Sehat-sehat ya sayang, terimakasih sudah menemani hari-hari ku dengan penuh kenangan indah." Ucap batin Akbar sambil mengelus kepala Riska.
__ADS_1
"Sayang, ayo kita makan malam. pasti Bunda sudah menunggu kita di ruang makan nih." Ajak Riska.
"Oh iya, yasudah kamu bersiap dulu, lalu kita ke ruang makan bersama oke." Balas Riska.
Kemudian Riska pun segera merapikan sajadah, mukena dan juga menaruh kopiah Akbar dengan rapih di dalam lenari. setelah itu, Riska dan Akbar pun langsung keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang makan.
..."Pembalap Itu Istri Ku"...
Dan tidak lama kemudian, Riska dan Akbar kini sudah sampai di ruang makan. lalu mereka pun bergabung dengan Bunda Del yang sudah menunggu mereka.
"Selamat malam Bunda." Ucap Akbar dan Riska.
"Selamat malam sayang, ayo duduk dan kita makan bersama." Balas Bunda Del sambil tersenyum.
"Terimakasih Bunda." Ucap Akbar dan Riska bersamaan.
Setelah duduk, Riska melihat makanan di meja makan yang begitu menggoda nya. dimana banyak sekali makanan kesukaan dia yang terhidang berupa tahu kukus, sayur asem dan juga ayam goreng.
"Bun, menu makan malam nya kesukaan aku semua. Bunda serius memasak ini untuk menu makan malam kita?" Tanya Riska yang begitu senang.
"Iya sayang, Bunda sengaja membuat menu makan malam ini spesial untuk kamu yang sedari kemarin merengek minta di buatkan ini semua tapi selalu telat bilang pada Bik Inem." Jawab Bunda.
"Terimakasih ya Bunda, maaf jadi merepotkan Bunda." Ucap Riska sambil tersenyum.
"Tidaklah sayang, masa untuk menantu dan calon cucu Bunda harus merasa di repotkan." Balas Bunda Del.
Lalu setelah itu, mereka pun makan malam bersama dengan Bunda. namun Akbar yang melihat Riska yang ceria, kini tengah menatap Bunda Del sambil tersenyum sebagai ucapan terimakasih nya pada Bunda.
"Terimakasih Bunda." Ucap batin Akbar.
"Sama-sama sayang." Ucap batin Bunda Del yang merasakan tatapan terimakasih Akbar.
Bersambung..
Maaf ya semuanya.. aku lagi tidak enak badan dan juga jaringan tidaklah mendukung karena di wilayah kota ku tengah di landa hujan petir akhir-akhir ini.
Hingga up pun jadi terlambat begini, namun alhamdulillah di wilayah dekat rumah ku tidaklah banjir hingga aku baru bisa up setelah jaringan yang kini mulai stabil.
Terimakasih semuanya yang selalu menunggu up nya novel "Pembalap Itu Istri Ku". semoga kalian selalu suka ya dengan episode per episode yang aku buat sesuai imajinasiku ini.
Selamat membaca dan sampai jumpa..
Jangan lupa jaga kesehatan, like, koment, rate, saran, kritik, and vote or gift.
Thank you..
__ADS_1