Pembalap Itu Istri Ku

Pembalap Itu Istri Ku
Kambuh


__ADS_3

Hello gaes, selamat hari natal bagi yang menjalankan. crismass day ya untuk semuanya, and happy new year Riska ucapkan tuk kalian. โ˜บโ˜บ


Doa ku, semoga di tahun berikutnya kita bisa membuka lembaran yang lebih baik dari tahun ini. dan harapan ku, semoga di tahun depan atau berikutnya ku bisa merayakan dengan sang kekasih di satu rumah bukan hanya bertemu dan merayakan lalu kembali ke rumah masing-masing.


Aamiinโ˜บโ˜บ.


Hehe lama banget ya ini openning nya, maaf-maaf gaes, skuy lanjut deh yak...


Jeng jeng jeng.. Ahay deh..


Setelah sampai di ruang kerja Akbar, dia pun langsung membaringkan Riska di sofa.


"Ambilkan minyak hangat Na" Titah Akbar.


Lalu Renata pun mengambilkan minyak hangat dan memberikan nya pada Akbar. setelah itu, Akbar pun membuka tutup botol minyak itu dan mendekat kan nya ke dekat hidung Riska.


Dan tidak lama kemudian, Riska pun membuka mata nya. lalu ia melihat kesekeliling nya dan kembali memegang kepala nya.


"Sakit sekali" Ucap Riska.


"Kita ke rumah sakit saja Bar" Ajak Salim.


"Baiklah, ayo Ris biar gua bantu ya" Ucap Akbar.


"Gua tidak mau ke rumah sakit atau klinik. gua tidak mau kesana lagi, di sana bau dan gua bosen harus kesana terus setiap penyakit ini kambuh" Balas Riska.


"Memang nya lu sakit apa si Ris?" Tanya Akbar.


"Gua baik-baik saja." Jawab Riska lalu beranjak dari sofa.


"Heh!, lu sakit apa!?" Tanya Akbar sekali lagi dengan sedikit menaikkan nada suara nya.


"Gua baik-baik saja Pak!, bisa tidak ai untuk membiasakan diri bertanya dengan pertanyaan yang sama dan jawaban yang sama?" Tanya balik Riska.


"Kalau lu sakit itu bilang Ris, kalau lu penyakitan ya tetap saja penyakitan Ris tidak mungkin di ubah juga kan lu akan membaik" Ucap Akbar.


Lalu Riska yang hendak marah pun langsung kembali diam ketika Akbar bicara seperti itu. sedangkan Salim dan Renata pun saling melihat ke arah Akbar dan memberikan kode kalau kata-kata nya menyakiti Riska.


Namun Akbar tidak peka dan malah menaut-naut kan kedua halis nya menandakan kalau dia bingung dengan tingkah Renata dan Salim.


"Ehm.." Riska menarik nafas nya.


"Gua memang penyakitan Bar dan gua tau itu. tapi, apa salah nya kan gua berharap kalau gua bisa sembuh. gua tau emang gua tidak bisa hidup seperti kalian yang tanpa obat dan pantangan makan serta aktivitas." Tutur Riska lalu menarik nafas nya lagi.


"Ma.." Ucap Akbar yang di potong oleh Riska.


"Ehm.. Bar, kenapa lu bicara seolah kalau orang penyakitan itu tidak bisa sembuh?, apa selama ini harapan gua itu pasti akan pupus ya?, tapi jika memang begitu, untuk apa juga kan gua mengharafkan sembuh kalau emang gak bisa hehe" Ucap Riska lalu tertawa kecil.


"Tidak Ris, bukan begitu maksud gua. gua minta maaf kalau kata-kata gua salah. dan sekali lagi gua benar-benar minta maaf ya Ris." Ucap Akbar meminta maaf pada Riska.


"Tidak apa-apa Bar. yasudah gua mau ke kamar mandi dulu ya, maaf sudah merepotkan kalian terutama lu Bar" Balas Riska lalu pergi begitu saja.


"Ehm.. gua jadi tidak enak dengan Riska nih Na, Lim." Ucap Akbar.

__ADS_1


"Lagian lu si, bukan dengerin isyarat kita malah nyerocos saja seperti petasan hajatan" Balas Salim.


Dan tidak lama kemudian, bel masuk pun berbunyi. dimana Salim dan Renata pamit untuk kerja kembali, sedangkan Akbar masih menunggu Riska sambil meminum air putih.


"Brak!!" Tiba-tiba terdengar suara keras dari kamar mandi.


"Ris, itu suara apa?, lu baik-baik saja kan?" Tanya Akbar dengan sedikit teriak.


Namun tidak ada jawaban dari Riska. lalu Akbar yang panik pun segera mengetuk pintu dan mendobrak nya ketika masih tidak mendapat jawaban.


Dan alangkah terkejut nya Akbar saat melihat Riska kini terbaring di lantai kamar mandi dengan bercak darah di kepala Riska. lalu Akbar pun langsung menggendong Riska menuju luar kantor tanpa mempedulikan para karyawan dan staf nya yang memperhatikan Akbar.


"Pak Nasik, ayo antar saya ke rumah sakit Papah" Titah Akbar.


"Baik Tuan Muda" Balas Pak Nasik yang kemudian membukakan pintu untuk Akbar.


Lalu Akbar pun masuk ke dalam bersama Riska di gendongan nya. dan duduk di ujung pintu dengan Kepala Riska yang kini ada di atas paha Akbar.


"Ayo cepat Pak" Titah Akbar lagi.


Pak Nasik pun masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan hati-hati. setelah itu, dia pun langsung tancap gas menuju rumah sakit.


Di sisi lain, Bunda Dele yang kepo dengan aktivitas Akbar dan calon mantu nya itu segera menelphone Renata.


๐Ÿ“ž"Rena, Akbar ada di kantor kan dengan Riska?" Tanya Bunda.


"Iya Bu, tadi si terakhir kali di dalam. tapi tidak tau deh kalau sekarang" Jawab Renata.


๐Ÿ“ž"Hais kamu ini kebiasaan ya, Salim mana?" Tanya Bunda lagi.


"Baiklah kalau begitu terimakasih." Ucap Bunda.


Dan baru saja Bunda Dele akan masuk menelphone Salim, handphone nya pun berdering dengan notif panggilan dari Akbar.


"Lah, bocah nya telephone" Ucap Bunda lalu menjawab panggilan itu..


"Loh kamu ngapain telephone?, ehm.. gak biasanya juga kamu pakai nomor pribadi nak, ada apa?" Tanya Bunda pada Akbar.


๐Ÿ“ž"Aku cuma mau kabarin Bunda kalau Riska harus di bawa ke rumah sakit" Jawab Akbar.


"Hah?, ada apa dengan Riska sayang?, dia kenapa?" Tanya Bunda Dele yang langsung khawatir.


๐Ÿ“ž"Aku pun tidak tau Bun, dia pingsan di kamar mandi lalu kepala nya berdarah, dan aku curiga kalau dia terpleset di sana Bun." Jawab Akbar yang ikut khawatir.


"Yasudah, cepat kamu bawa ya karena Riska itu tidak seperti wanita pada umum nya." Titah Bunda.


๐Ÿ“ž"Maksud Bunda?" Tanya Akbar.


"Nanti juga kamu tau" Jawab Bunda lalu mematikan panggilan itu.


Lalu Akbar yang penasaran pun segera memerintahkan Pak Nasik lebih tancap gas supaya cepat sampai di rumah sakit.


*** Beberapa menit kemudian ***

__ADS_1


Akbar telah tiba di rumah sakit, lalu Pak Nasik segera membukakan pintu untuk Akbar keluar.


"Makasih Pak" Ucap Akbar lalu menarik Riska pelan-pelan ke pelukan nya.


Seteah itu, Pak Nasik pun masuk ke dalam, dan langsung di sambut oleh para Suster yang memang sudah tau keluarga Akbar.


"Loh Pak, ada apa kesini?, Nona sakit kah? Atau Tuan muda?" Tanya Suster yang rewel.


"Haduh.. Pak Nasik!, Sus cepat bantu saya, kenapa malah banyak tanya si" Teriak Akbar sambil menggendong Riska.


Lalu Suster pun panik dan segera memerintahkan para petugas rumah sakit untuk cepat membawa brangkar untuk Riska.


Dan ketika Riska sudah ada di atas brangkar, ia pun membuka mata nya dan memegang tangan Akbar yang hendak melepaskan nya.


"Ehm.. Ris, lu udah siuman?" Tanya Akbar.


"Gua dimana?" Balik tanya Riska.


"Rumah sakit, lu tadi pingsan dan kepala lu berdarah, makan nya gua bawa lu kesini. untuk check dan bersihkan luka nya supaya tidak infeksi." Jawab Akbar.


"Gua tidak mau bertemu Dokter!, gua mau pulang!" Teriak Riska.


"Kenapa si Ris, hais lu harus check luka nya." Ucap Akbar.


"Tidak mau!" Bentak Riska.


Dan ketika Riska hendak beranjak, tiba-tiba suara petir pun terdengar keras di temani hujan yang cukup deras siang itu.


"Papah!" Teriak Riska sambil menutup telinga nya.


Dan karena hujan, trauma nya pun kembali menghantui Riska sampai dia seperti orang yang hilang kesadaran. Riska ketakutan, panas dingin, bahkan tubuh nya bergetar dan wajah nya pucat.


Lalu Akbar yang melihat kondisi Riska pun bertanya pada Dokter yang sedari tadi stand di samping brangkar yang memang belum di dorong sama sekali oleh petugas menuju kamar rawat inap.


"Dok, Riska kenapa?, kok kondisi nya jadi menurun." Tanya Akbar.


"Kita harus bawa Nona ke dalam ruangan Tuan muda. seperti nya dia mempunyai masalah dengan hujan." Jawab Dokter.


"Baiklah, lakukan yang terbaik untuk nya. saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan nya." Ucap Akbar.


Lalu para petugas rumah sakit pun segera mendorong brangkar, yang di ikuti Akbar sambil menggenggam tangan Riska, dan juga Pak Nasik di belakang Akbar.


Sepuluh menit sudah, Riska pun sudah sampai di ruang VIP rawat inap. lalu Dokter pun memeriksa kondisi Riska dengan detail sambil di perhatikan Akbar yang memang over protektif dan perfectionis.


"Bisa lebih cepatkah anda memeriksa nya" Tanya Akbar.


"Ini sudah selesai kok Tuan muda." Jawab Dokter.


"Baiklah, bagaimana kondisi nya?" Tanya Akbar.


Lalu Dokter pun menghampiri Akbar dan menjawab pertanyaan Akbar dengan sejujur-jujur nya.


***Bersambung***

__ADS_1


One more crismass day, jangan lupa like, koment, rate, vote/gift okeyy๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2