
Di kamar, Riska segera membuka jaketnya. lalu Akbar yang ikut masuk ke kamar pun terdiam melihat ada luka memar di pundak Riska dan juga tato baru di leher Riska.
"Kenapa hanya berdiri di sana Bee?, tidakkah kamu mau istirahat atau berangkat kerja hari ini?" Tanya Riska yang kemudian menutup pintu lemari setelah mengambil kemeja putih nya.
"Kenapa kamu pergi tidak mengabari ku Bee, aku kan khwatir." Ucap Akbar yang mengalihkan pertanyaan Riska.
"Untuk apa aku meminta izin kamu jika tujuan ku membunuh Rabella." Balas Riska sambil mengancingkan kemeja nya.
"Jadi berita itu.. Rabella.." Ucap Akbar yang terbata-bata karena tidak percaya.
"Kenapa?, kamu kaget?. dari awal kan kamu tau aku bukanlah wanita polos dan baik. aku anak angkat seorang Mafia besar di kota ini, aku pembalap dan aku juga seorang petarung MMA." Balas Riska dengan santai nya.
"Lagi pula bagiku sebenarnya mudah saja untuk membunuh Rabella dari dulu, namun aku masih memberikan kesempatan agar kamu bisa menghabiskan sisa waktu yang sudah aku berikan pada Rabella." Sambung Riska sambil menatap mata Akbar dan tersenyum.
"Bukankah aku istri yang baik??, hehe.." Ucap Riska lagi sambil mengelus pipi Akbar dan beranjak.
"Ehm.. Aku tau kamu pasti tidak akan membiarkan apapun yang kamu miliki harus di bagi, tapi bukankah jika sudah masalah begini kamu juga pasti akan mendapat kasus Bee. kenapa kamu tidak berpikir sebelum melakukan apapun yang ingin kamu lakukan?." Tanya Akbar sambil memegang tangan Riska.
"Tugas adalah tugas, jika aku di penjara itu hal yang waras. karena sejauh ini polisi tidak ada yang bisa melacak ku, maka jika kali ini mereka berhasil aku berjanji tidak akan lari dan sudah resiko ku atas apa yang sudah ku perbuat." Jawab Riska sambil tersenyum.
Kemudian Akbar pun beranjak dan memeluk tubuh Riska yang memang pagi itu benar-benar canggung karena sudah lama ia tidak berdamai bagus dengan Akbar.
Setelah itu, Riska melepas pelukan nya dan beranjak ke kasur. lalu Akbar menyelimuti tubuh Riska dengan selimut dan pergi ke luar kamar untuk menemui Raihan, Tuan Laurent, Renata, Galuh dan Salim.
"Lu sudah mendengar semua penjelasan Adik gua?" Tanya Raihan.
"Ya sudah, dan lu sendiri kenapa tidak terus terang ketika di telepon?" Balik tanya Akbar.
"Lagi pula jika pun gua terus terang, apakah lu akan percaya begitu saja hah?. bukankah lu tidak pernah menerima alasan dan penjelasan apapun sebelum ada saksi dan bukti." Jawab Raihan tanpa bertele-tele.
__ADS_1
"Ya gua paham, and sorry gua sempat salah paham dengan lu dan juga Riska." Ucap Akbar.
"Santai, and ya. lu khawatir kah Riska akan di tangkap polisi dan kasus ini terus berlanjut?" Tanya Raihan lalu duduk di sofa.
"Ya lu bisa melihat jelas wajah gua ini tanpa harus gua jawab kan?. lagi pula ini kasus besar bukan hanya noda kecil yang mudah di hilangkan." Jawab Akbar dengan sedikit kesal.
"Gua sudah mengatur semuanya sedari awal misi ini berjalan, dan gua harap lu tidak usah panik karena Adik gua tidaklah se sehat yang lu pikirkan." Ucap Raihan.
"Lu tau.. ketika gua bertanya pada pihak rumah sakit keluarga, Adik gua kesana tidaklah check up atau memeriksa sedikit pun kesehatan nya. melainkan hanya menyumbangkan uang dan uang tanpa ada semangat untuk hidup." Sambung Raihan.
"Dan itu semua karena lu yang terlalu memikirkan mantan lu yang sekarang sudah hancur lebur menyatu dengan tanah dan tumpukan debu." Jelas Raihan.
Dan kali ini Akbar hanya diam saja ketika mendapat teguran pedas sepedas sambal setan dari Raihan. lalu setelah Raihan mengutarakan isi hati nya yang ia pendam, Raihan pun pamit ke apartement nya yang baru.
Setelah Raihan pergi pun Akbar langsung beranjak ke kamar nya untuk menenangkan diri. namun ketika ia sampai di kamar, ia di kejutkan dengan Riska yang sudah tidak ada di kamar.
"Riska!!" Teriak Akbar yang kemudian terdengar sampai ke ruang tamu.
"Riska tidak ada di kamar Pah." Jawab Akbar.
"Ehm.. Lalu kenapa harus teriak-teriak?." Tanya Tuan Laurent.
"Bagaimana aku tidak teriak Pah, istri ku hilang dan aku harus mencari nya bukan?." Balik tanya Akbar.
"Untuk apa kamu mencari Riska?, dia tidak akan jauh dari sini kok, Kamu tenang saja." Jawab Tuan Laurent yang kemudian pergi tanpa menjelaskan apa-apa.
*pembalap itu istri ku*
Sore tiba, Akbar masih mencari Riska yang benar-benar hilang tanpa bisa di lacak karena tiada yang dapat membantu melacak keberadaan Riska saat itu.
__ADS_1
Hingga akhirnya Akbar pun memutuskan untuk kembali ke rumah karena akan siap-siap melaksanakan Tahlilan malam untuk Bunda Dele dan Kresna.
Lalu di rumah, Galuh pun ikut menemani Akbar yang tidak stabil emosi nya untuk menenangkan singa yang kini bangun dengan banyak nya duka.
"Bar, lu harus tenang, Riska pasti akan ketemu nanti, dan perusahaan juga membutuhkan lu. jadi lu harus bisa kuat agar selalu stabil dalam melangkah." Ucap Galuh.
"Lu gak tau perasaan gua Gal, Bunda meninggal saat ini dan gua butuh Riska di samping gua. tapi gua dengan tega menghancurkan hatinya hingga Riska pun kini pergi entah kemana." Balas Akbar.
"Gua tau lu drof, tapi lu harus kuat menghadapi ini semua Bar." Ucap Galuh.
Kemudia Akbar pun mencoba untuk mengontrol perasaan nya. namun di sisi lain, Riska kini tengah berbaring sambil di elus rambutnya oleh seorang Pria yang tidak lain adalah Raihan.
"Kak, capek." Keluh Riska sambil menatap Raihan dengan tatapan penuh kesedihan.
"Sabar ya By, nanti kamu pasti sembuh. " Balas Raihan sambil terus mengelus rambut Riska.
"Ehm aku tidak yakin Kak, lalu apakah keputusan aku untuk lari dari Akbar tanpa membawa Aidha itu benar Kak?" Tanya Riska kembali.
"Seharusnya tidak By, karena Aidha tidak tau apa-apa dan dia masih membutuhkan kamu." Jawab Raihan.
"Lalu bagaimana aku akan mengambil Aidha" Ucap Riska yang bingung.
"Ehm nanti kita cari solusi nya." Balas Raihan.
*dari sinilah kita dapat melihat dimana posisi Riska tidaklah enak, dia yang tadinya baik-baik saja kini semakin banyak luka dengan sosok suami yang posesif dan cemburuan namun ia harus bertahan demi buah hati nya.*
*tapi walau begitu, Riska pun memutuskan untuk tinggal dengan Raihan dan menjalani pengobatan sampai tuntas. lalu membiarkan Aidha dengan Akbar tanpa sosok istri maupun ibu*
....dua belas tahun kemudian...
__ADS_1
Bersambung..