Pembalap Itu Istri Ku

Pembalap Itu Istri Ku
Perdebatan yang lucu.


__ADS_3

Beberapa menit kemudian..


Bunda Dele pun keluar dari kamar mandi dengan menggendong Aidha yang sudah di balut handuk tebal.


Lalu Aidha pun di baringkan di atas kasur bayi yang sebelumnya Akbar dan Riska siapkan. kemudian Riska mengambil pakaian, bedak bayi, dan perlengkapan Aidha yang lainnya agar ia tetap wangi dan nyaman.


"Nah Riska, Akbar, Bunda ajarkan ya cara merawat baby dan memakaikan baju nya dengan benar oke." Ucap Bunda Dele.


"Pelan-pelan ya Bun mem'praktekan nya, soalnya mata ku kan tidak terlalu awas hehe." Balas Riska.


Lalu Bunda Dele pun mengangguk dan tersenyum pada Riska sambil mem'praktekan apa yang tengah Bunda Dele ajarkan untuk Riska dan Akbar sebagai Ayah dan Ibu seorang putri cantik.


"Nah begitu Nak, kalian paham?." Tanya Bunda Dele sambil membalut Aidha dengan kain bedongan nya.


"Aku paham Bun, tapi enggak tau deh kalau Akbar haha." Ejek Riska.


"Hilih, siapa bilang aku tidak paham. aku pasti paham lah masa iya enggak paham cuma hal simple begini." Balas Akbar yang arogan.


"Mueleh,, buktikanlah nanti kalau benar kamu paham haha." Ejek Riska lagi yang menantang Akbar.


"Oke!, siapa takut" Balas Akbar yang menerima tantangan Riska.


Setelah Riska dan Akbar saling adu suara karena tidak ada yang mau mengalah, Bunda Dele pun ke balkon untuk menjemur Aidha sebentar setelah ia di balut pakaian dan bedongan bayi.


"Ehm.. Ayah dan Ibu mu itu pasangan yang menarik Nak, namun walau begitu mereka kompak. dan setelah besar nanti, kamu harus bisa mempunyai gabungan sifat mereka ya, agar bisa mewujudkan mimpi ayah dan ibu mu." Ucap Bunda Dele sambil mengecup pipi Aidha.


Kemudian, Bunda Dele pun masuk kembali menghampiri Riska dan Akbar sambil tertawa karena Akbar tengah mem'praktekan cara memakaikan pakaian bayi pada boneka.


"Tuh bisa loh aku." Ucap Akbar.


"Mana ada, ini tidak rapih. masa iya kaki nya naik sebelah." Balas Riska.

__ADS_1


"Hey, di kata manusia batu apa yang diam saja tidak bergerak-gerak. ya jelas kaki pasti tidak akan lurus saja dong kalau ikatan bedong nya saja tidaklah kencang." Ucap Akbar.


"Dimana-mana boleh melonggarkan, tapi kaki harus tetap rapih dalam bedongan agar kaki nya lentik dan indah nanti Bee." Balas Riska.


"Hilih sok tau kamu Bee." Ketus Akbar.


"Eh, ada benar nya loh kata Riska. kaki bayi kan harus tetap rapih di bedongan agar lentik dan indah ketika nanti sudah beranjak besar. karena tulang bayi kan masih rapuh, jadi kalau kita salah tekuk, nanti tulang nya pasti bermasalah." Ucap Bunda Dele menengahu perdebatan itu.


"Tuh denge ku maneh (tuh dengerin sama kamu)." Balas Riska dengan logat sunda nya.


"Hailih.." Ketus Akbar.


"Oh ya Bunda, Ai mana?." Tanya Riska yang tidak melihat Aidha dalam gendongan Bunda Dele.


"Tuh sudah Bunda baringkan di ranjang nya." Jawab Bunda Dele.


"Terimakasih ya Bunda sudah mau membantu Riska dan Akbar untuk mengurus Ai." Ucap Riska sambil tersenyum.


Lalu Bunda Dele pun kembali melanjutkan aktivitas nya setelah menidurkan cucu pertama nya. sedangkan Akbar kini tengah merapihkan pakaian bayi ke rak bayi agar tidak berantakan.


Dan kemudian, Akbar menghampiri Riska dan mencium kening nya agar Riska tidak badmood akibat perdebatan kecil mereka.


"Ehm.. Bee." Panggil Akbar.


"Yes" Jawab Riska.


"Besok aku sudah mulai kerja." Ucap Akbar yang memulai obrolan.


"Aku tau kok, ehm.. lalu kenapa?." Tanya Riska.


"Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal kerja seperti biasa nya?." Balik tanya Akbar.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok Bee, lagian kan pekerjaan tidak boleh di tinggalkan. dan rezeki tidak akan datang sendiri jika kita tidaklah usaha." Jawab Riska sambil tersenyum.


"Iya si Bee, tapi kan aku tidak mau nanti kamu kecapean karena mengurus Aidha sendirian." Ucap Akbar.


"Kamu tenang saja Bee, di sini aku tidak sendiri. ada Bunda dan Bik Ambar yang membantu ku merawat Aidha kita. dan kamu juga jangan khawatir soal kesehatan ku, aku janji akan atur pola makan ku selagi kamu sibuk bekerja dan aku sibuk mengurus Aidha." Balas Riska.


"Terimakasih ya Bee, kamu selalu membuat ku merasa yakin kalau kamu bisa menjaga keluarga kecil kita dan juga keluarga besar kita." Ucap Akbar yang kemudian memeluk Riska.


Lalu Riska pun hanya diam dan membalas pelukan Akbar sambil tersenyum. dan setelah itu, Akbar pun melepas pelukan nya lalu mengambil buah apel yang kemarin malam ia masukkan ke dalam kulkas kecil di kamar nya.


"Oh iya aku lupa, kemarin aku memasukkan buah apel kesukaan kamu ke dalam kulkas, kamu makan ya Bee." Ucap Akbar sambil memberikan satu buah apel pada Riska.


"Terimakasih ya Bee." Balas Riska yang langsung meraih tangan Akbar dan menggigit buah apel langsung dari tangan Akbar.


"Ih bukannya di ambil semua Bee, hehe." Ucap Akbar sambil tertawa kecil.


"Rasanya tidak adil kalau hanya aku yang memakan nya. sedangkan kamu juga berhak memakan buah apel ini karena kamu yang sudah menyiapkan nya." Balas Riska sambil menyodorkan buah apel itu ke mulut Akbar.


"Kamu begitu menghargai aku Bee, tapi aku yang perfectionis selalu membuat mu kecewa hanya karena kesalahan yang seharusnya tidak besar namun aku besar-besarkan." Ucap batin Akbar sambil memakan buah apel.


"Kok kamu bengong Bee?, kalau lagi makan itu jangan bengong." Ucap Riska.


"Enggak kok Bee, aku hanya menikmati buah apel nya saja." Balas Akbar.


"Baiklah kalau begitu." Ucap Riska.


Lalu mereka pun menyantap buah apel bersama dan menikmati pagi har itu dengan indah walau sempat ada perdebatan sedikit hehe.


Bersambung...


..."Aku baru sadar, kalau bidadari yang pernah aku lukai sungguh berhati mulia. Maafkan aku ya Bee, karena aku pernah melukai mu dan tidak pernah menerima mu kala itu."...

__ADS_1


^^^_Akbar sad. ^^^


__ADS_2