Pembalap Itu Istri Ku

Pembalap Itu Istri Ku
Riska yang bijak


__ADS_3

Setelah sampai di kantor, Akbar dan Riska pun langsung masuk ke dalam dan bergabung dengan Salim.


"Lu sudah menemukan petunjuk Lim?." Tanya Akbar.


"Sudah Bar, tapi gua tidak bisa pastikan kalau semua bisa membuahkan hasil." Jawab Salim.


"Why not?." Tanya Akbar.


"Gua hanya menemukan petunjuk bahwa yang mencuri itu terluka akibat terkena meja tajam lu itu." Jawab Salim.


"Hanya itu?." Tanya Akbar lagi.


Namun di saat Salim dan Akbar debat, tiba-tiba Riska pun menggeprak meja dengan pelan dan mengambil catatan harian nya tentang kantor.


"Brak!!!."


"Astaga, ada apa ini sayang?." Tanya Akbar.


"Aku sudah tau siapa dalang pencurian ini." Jawab Riska.


"Hah siapa?." Tanya Akbar dan Salim bersamaan karena terkejut.


Lalu Riska pun memutar laptop nya dan memperlihatkan wajah si pencuri yang ternyata adalah Galuh.


"Kalian tau dia kan?." Tanya Riska sambil kembali mengutak-atik laptop nya.


"Ya aku tau, menurut kamu kenapa Galuh bisa menjadi gila seperti ini sampai nekat mengambil berkas penting kita.?." Tanya Akbar.


"Be simple, kamu sedang naik daun. so dia ada dua lantai di bawah kamu, hingga hal nekat pun pasti akan dia lakukan untuk menjatuhkan mu dan mengambil hak kamu, betul?." Jawab Riska sambil menutup laptop nya

__ADS_1


"Ada benar nya juga." Balas Salim.


Lalu dirasa apa yang Riska ucap itu masuk logika, Akbar dan Salim pun mulai berdiskusi untuk mengubah strategi pada berkas yang Galuh curi supaya client tetap berada di pihak Pratama Acour.


"Kenapa kalian repot-repot mengubah strategi itu menjadi semakin rumit hem?." Tanya Riska.


"Bukankah ini jalan pintas terbaik sayang, kalau kita diam yang ada strategi yang sebelum nya kita sudah buat malah membuat Galuh teruntungkan." Jawab Akbar.


"Coba kamu perhatikan kembali salinan berkas itu dengan teliti, menurut kamu apa minus dari berkas sebelum nya?." Tanya Riska.


Kemudian, Akbar pun mengamati dan membaca ulang salinan berkas yang di curi itu. lalu Riska pun melangkah menuju jendela ruangan kerja dan menutup mata nya sambil menghirup udara segar.


"Bar, apa menurut lu ada yang berbeda dengan Riska?." Tanya Salim.


"Gua rasa juga begitu Lim, seperti bukan Riska yang biasa nya. Riska yang ini lebih bijak dari sebelum nya." Jawab Akbar.


"Sebenarnya bukan Kak Riska yang berbeda, tapi pola pikir nya yang lebih luas." Sambung Renata yang sudah tiba di ruangan itu ketika mereka tengah mengobrol.


Lalu Akbar dan Salim pun memperhatikan Riska yang memang terlihat tenang, bahkan selalu tersenyum sambil melihat pemandangan yang indah.


"Apa kalian sudah menemukan minus nya?." Tanya Riska yang masih melihat pemandangan indah itu.


"Aku pikir, tidak ada minus nya sayang, ini sudah rapih tanpa ada minus sedikit pun." Jawab Akbar.


Kemudian, Riska pun membalikkan tubuh nya dan duduk di jendela yang terbuka itu sambil menatap Akbar, Salim dan Renata.


"Minus dari berkas itu simple saja, dalam dua berkas itu hanya mengandung materi dari apa yang nanti akan di pesentasikan bukan?, tapi apa kalian pernah pikirkan kalau materi yang kalian persentasikan itu tidak sesuai dengan apa yang akan di metting kan, dan hasil nya akan seperti apa nanti apa kalian berpikir kesitu?." Tanya Riska.


Lalu Akbar pun baru peka, dan langsung menge-mail dua rekan yang sebelum nya akan kerjasama dengan nya. setelah itu, Akbar pun mulai berdiskusi kembali dengan Salim dan Renata untuk mengubah konsep menjadi lebih menarik dari sebelum nya.

__ADS_1


Namun Riska yang memang berposisi sebagai skertaris pun hanya menunggu hasil nya sambil membaca pesan grup nya di whatsaap.


"Ehm... balap dimana?." Balas Riska di pesan chat Kresna.


"Kali ini kita main di sqruit Ris, lu mau ikut atau tidak?." Tanya Kresna dalam pesan chat itu.


"Berapa hadiah nya?." Tanya Riska.


"50 juta plus mobil sport merah satu cash tanpa kredit atau potong pajak." Jawab Kresna.


"Daptarkan nama gua tapi jangan sebutkan nama asli gua." Ucap Riska.


"Oke Ris." Balas Kresna.


Setelah saling membalas chat, Akbar pun memanggil Riska untuk menyalin hasil diskusi mereka bertiga yang sudah di ketik lengkap di laptop.


"Baik akan ku amankan tanpa kecolongan lagi." Ucap Riska yang langsung mengutak-atik laptop.


Dari situlah Akbar baru menyadari kecerdasan Riska yang dulu sempat ia remehkan. lalu Renata pun tersenyum dan langsung menggenggam tangan Salim.


"Lu sekarang sudah tau kan Bar kalau Istri lu ini cerdas." Ucap Salim.


"Ya gua baru menyadari hal itu." Balas Akbar sambil terus menatap Riska.


"Baiklah, metting akan di laksanakan besok, jadi gua dan Renata pamit untuk melanjutkan kerja kami ya Bar." Ucap Salim.


"Oke Lim, thanks for all" Balas Akbar.


Lalu Salim dan Renata pun pergi meninggalkan Akbar dan Riska di ruangan mereka. setelah itu, Akbar pun duduk di samping Riska dan mencup pucuk kepala Riska yang masih fokus mengetik.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2