Pembalap Itu Istri Ku

Pembalap Itu Istri Ku
Sebuah fakta


__ADS_3

Lalu ketika Riska asik menyuap sedikit demi sedikit spageti ke mulut nya. Akbar pun diam-diam memandang Riska dengan tatapan sayu dan sedih.


"Aku tidak tahu sekelam apa masa lalu mu Bee, namun di mata mu aku bisa melihat banyak nya penderitaan. akan tetapi, kenapa kamu masih terus bungkam padaku dan hanya diam di saat ada masalah." Ucap batin Akbar sambil menatap Riska.


"Lalu Bee, kini aku sudah tau kenapa Galuh sangat mencintai mu, bahkan dia rela melakukan apapun walau nyawa dia taruhan nya. dan setelah banyak nya pengorbanan mu, aku dapat tau apa yang spesial dari mu." Ucap batin Akbar kembali.


Setelah Akbar menatap Riska dalam diam, ia pun tersenyum dan melanjutkan makan dengan pelan-pelan dan hati-hati.


"Bee, lama banget kamu makan?, aku saja sudah mau habis nih." Ucap Riska dengan mulut nya yang masih penuh.


"Telan dulu baru bicara." Balas Akbar lalu mengelap sudut bibir Riska dengan tisu.


"Hehe lupa, maaf Bee." Ucap Riska.


"Tidak apa-apa. kamu laper banget ya Bee?." Tanya Akbar.


"Entahlah, aku seperti merasa lapar setiap saat hehe." Jawab Riska.


"Hehe ya wajar saja, kan sekarang kamu makan tidak sendirian. yasudah kalau masih laper, nanti kita beli makanan lagi di luar ya." Ucap Akbar.


"Aku mau kamu masakin aja di rumah, tidak mau makanan luar." Balas Riska.


"Baiklah, kamu mau makan apa hari ini?." Tanya Akbar.


"Pengen donat sama cake, boleh?." Jawab Riska sambil bertanya kembali.


"Boleh kok, nanti aku buatkan ya." Ucap Akbar lalu mengelus rambut Riska.


"Habiskan makan mu, aku mau mengambil air putih dulu." Ucap Akbar lalu beranjak pergi meninggalkan Riska.


Namun itu semua hanya trik Akbar. karena Galuh sedari tadi menelepon Akbar tanpa sepengetahuan Riska, karena handphone Akbar memakai mode getar notification.


"Ehm.. untuk apa menelepon gua Gal?." Tanya Akbar dengan dingin nya.


"Sorry Bar, gua perlu bicara sama lu di rumah." Jawab Galuh.


"Maksud lu?, lu sedang di rumah gua hah?." Tanya Akbar.


"Iya Bar, gua butuh bicara sama lu hari ini juga." Jawab Galuh.


"Bangs*t!!, baiklah gua pulang sekarang, tapi dengan satu syarat." Ucap Akbar.


"Apa?." Tanya Galuh.


"Jangan macam-macam dengan Bunda." Jawab Akbar yang kemudian memutus panggilan.


Namun setelah Akbar memutus panggilan dan beranjak pergi, ia pun lupa kalau dia ke toko bunga tidaklah sendirian. hingga saat Akbar pergi tanpa menoleh ke arah Riska, Riska yang kaget di tinggal tanpa pamit pun langsung beranjak.

__ADS_1


Akan tetapi Riska kembali ceroboh dan terjatuh ke lantai. hingga ia pun merintih kesakitan sambil memegang perut nya.


"Ahgr.. Bee" Panggil Riska sambil meringis.


"Nona muda.." Ucap salah satu pegawai yang kini meminta bantuan pegawai lainnya.


"Telepon ambulance sekarang." Titah sekertaris Riska.


Dan setelah Akbar pergi dengan mobil nya, ambulance pun datang tidak lama selepas kepergian Akbar dari toko bunga. kemudian, Riska pun di angkat ke dalam ambulance dan pergi ke rumah sakit di temani sekertaris pribadi nya.


"Tolong telepon Akbar." Titah Riska.


Sekertaris Riska pun menghubungi Akbar "Tidak di jawab Nona." Balas Sekertaris Riska.


"Coba terus.. tolong aghr.." Titah Riska lagi yang semakin meringis.


Namun panggilan itu tetap tidaklah di jawab oleh Akbar.


..."Pembalap Itu Istri Ku"...


Hingga tanpa terasa, kini Akbar sudah sampai di rumah nya dan langsung keluar dari mobil. kemudian dia pun masuk ke dalam rumah dengan emosi karena ia takut kalau Bunda Dele kenapa-kenapa.


"Untuk apa lu kesini hah!." Teriak Akbar yang kini berada di hadapan Galuh.


"Gua hanya ingin bicara sama lu sebentar saja Bar." Jawab Galuh yang kemudian beranjak dari tempat duduk nya.


"Lu mau bicara apa?!." Tanya Akbar dengan nada yang masih meninggi.


"Maksud lu apa hah?." Tanya Akbar yang tidak mengerti maksud dari Galuh.


Kemudian di saat Galuh mencoba menjelaskan, Bunda Dele pun datang lalu menyodorkan sebotol minuman soda pada mereka berdua.


"Ambillah" Ucap Bunda.


"Terimakasih" Balas mereka berdua yang kemudian meneguk minuman soda itu.


"Kenapa ribut terus si kalian?. masih mau salah paham terus hah?." Tanya Bunda Dele.


"Aku tidak mengerti maksud dari cowok brengs*k ini Bun." Jawab Akbar.


"Jangan begitu sayang, mau bagaimanapun dia adalah sepupu kamu, dialah sepupu yang selama ini kamu rindukan." Ucap Bunda sambil mengelus pundak Akbar.


"Apa??, aku masih tidak paham Bun." Balas Akbar.


Lalu Bunda Dele pun menceritakan semuanya hingga membuat Akbar terduduk di atas sofa. kemudian, Galuh berlutut di kaki Akbar yang di sambut oleh penolakan Akbar dengan memegang kedua pundak Galuh.


"Cukup Galuh." Ucap Akbar.

__ADS_1


"Gua minta maaf Bar, tolong maafkan gua. setelah ini gua akan merelakan Riska untuk lu, namun lu harus janji sama gua untuk menjaga nya." Balas Galuh.


"Riska??, yaampun gua lupa." Ucap Akbar yang kemudian berdiri dari duduk nya.


"Kenapa Bar?." Tanya Galuh yang kemudian berdiri di samping Akbar.


"Riska gua tinggal di toko bunga." Jawab Akbar yang panik dan langsung mengecheck handphone nya.


"Kamu ceroboh sekali sayang, cepay susul Riska ya." Titah Bunda Dele.


"Iya Bun, tapi aku mau menghubungi sekertaris nya dulu. pasti Riska mencoba menghubungi ku lewat nomor sekertaris nya." Balas Akbar.


Lalu Akbar pun langsung menelepon balik sekertaris Riska. yang kemudian di jawab oleh nya yang kini tengah menunggu di depan ruang UGD.


"Hallo Tuan muda, anda dimana sekarang?." Tanya sekertaris Riska yang langsung pada inti nya.


"Maaf tadi saya lupa mengajak Riska pulang. Riska masih di sana kan?." Tanya balik Akbar.


"Kami tengah di UGD Tuan. Nona muda tadi terjatuh dan tanpa sengaja membentur lantai hingga perutnya terasa sakit." Jawab Sekertaris Riska.


"Apa??!!, terus kalian sekarang di rumah sakit mana hah?." Tanya Akbar yang sangat panik.


"Cempaka Tuan, cepat kemari karena Nona sangat membutuhkan anda Tuan Muda." Jawab Sekertaris Riska.


Kemudian Akbar pun menutup panggilan nya dan langsung pamit kepada Bunda Dele tanpa lagi menoleh ke belakang.


"Akbar.. lu mau kemana?." Teriak Galuh.


"Rumah sakit!..., Bunda aku pamit ya." Jawab Akbar sambil berteriak juga.


"Rumah sakit mana nak?." Teriak Bunda Dele.


"Cempaka!!, sudah aku terlambat..." Balas Akbar yang langsung keluar rumah.


Lalu ia pun pergi dari rumah menuju rumah sakit dengan mobil sport nya. yang kemudian di susul oleh Galuh dan juga Bunda Dele.


..."Pembalap Itu Istri Ku"...


Di ruang UGD Riska masih dalam kondisi sadar. lalu Dokter pun memasangkan infus dan juga sekantung darah karena Riska memang memerlukan itu untuk menjaga stamina sel darah yang kadang tersumbat akibat dari masalah syaraf nya.


"Dokter, apa bayi ku baik-baik saja?." Tanya Riska yang terus memegang perutnya yang sangat sakit.


"Kandungan anda baik-baik saja Nona, namun...." Ucap Dokter


Bersambung


Yang harus bersambung karena Othor nya keburu pening karena tidaklah sinkron keadaan fisik nya. jadi kawan semua, jangan lupa di fav love agar tidak tertinggal episode selanjut nya.

__ADS_1


Terimakasih All, jangan lupa like, koment, Rate, vote or gift and share..


See you next time..


__ADS_2