
Dhira mengikuti Leo berjalan ke arah rumah itu. Lalu melihat Leo membuka dengan kunci dari kantongnya membuatnya menebak itu rumah Leo.
"Saya pulang aja Pak." Dhira merasa sungkan harus masuk ke ruang semewah itu.
"Kamu ini. Susah dibilangin. Ayo masuk!" Leo mendorong pelan punggung Dhira hingga mereka sudah ada di dalam.
"Duduklah. Aku akan buatkan minum." Leo berlalu ke arah belakang.
Dhira tidak langsung duduk. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tidak ada hiasan apapun atau foto seperti kebanyakan rumah lainnya. Semua terlihat polos. Hanya ada lampu hias di plafon dan satu set sofa.
"Lho masih berdiri aja. Apa nggak capek?" Duduk ini minum lah dulu." Leo menaruh dua minuman berwarna kemerahan. Ia yakin itu adalah fanta.
Dhira duduk. Dan meraih gelas. Ia sungguh haus. Aslinya pengen air putih biar hausnya sembuh tapi tidak berani meminta.
"Oh kamu pasti haus dan lapar. Aku akan memesan makanan dan mengambil air putih."
"Nggak usah Pak. Saya..."
"Tenanglah. Aku sungguh berniat baik." Leo pergi lagi. Dan keluar dengan gelas kosong dan satu teko kaca berisi air.
Leo menuang air dan menyodorkan ke hadapan Dhira.
Tanpa pikir panjang lagi, Dhira mengambil gelas dan meminumnya hingga habis.
Kryyuuuucutttt...
Wajah Dhira langsung memerah saat perutnya berbunyi nyaring. Ia berdehem dua kali untuk menutupi kegugupannya.
Ternyata Leo tidak menunjukkan reaksi apapun. Padahal dengan jelas ia mendengar suara perut Dhira. Tapi berusaha cuek agar hadis itu tidak malu.
"Ini air hangat. Sini aku bantu membersihkan tanganmu."
"Biar saya aja Pak." Dhira menarik baskom dari hadapan Leo.
"Biar ku bantu." Leo memasukkan tangannya ke dalam air dan bersentuhan dengan tangan Dhira.
Dag daug dag dug
Jantung Leo bagi terkena setrum saat merasakan kulit Dhira di telapak tangannya. Ia menahan nafas agar tidak terlalu ketara. Setelah lebih tenang, ia mengambil kain kasa di dekat baskom dan membersihkan darah yang sudah kering ditangan Dhira.
'kenapa dia baik sekali padaku? Hah... biarin ajalah. Yang penting aku nggak minta.' batin Dhira dalam hati sambil melirik ke wajah Leo yang fokus ke baskom.
Tidak lama kemudian, seorang dokter wanita setengah baya datang mengobati luka luka Dhira. Setelah semua selesai dan memberikan obat, dokter itu pamit.
"Saya pamit pulang Pak." Dhira bangkit.
__ADS_1
"Makanan sudah ku pesan. Makanlah dulu. Kamu pasti lapar dari semalam tidak makan atau minum."
"Tapi Pak."
"Tidak ada tapi. Istirahat lah dulu, sambil nungguin makanan tiba. Kalau tidak nyaman itu kamar tamu. Tidurlah di sana. Matamu kelihatan mengantuk."
"Tidak usah Pak. Di sini aja. Terimakasih." Ucapnya lirih dan bersender untuk meluruskan punggungnya.
Leo pergi ke kamar dan mengeluarkan sebuah selimut kecil. "Gunakan ini di kakimu." Ia paham Dhira tidak nyaman karena gaun yang dipakainya.
Dhira menerima selimut itu dan menutupi bagian paha hingga kakinya. Ia memejamkan mata berpura pura tidur agar Leo pergi dari ruangan itu.
Dan benar, Leo naik ke atas dan masuk ke kamarnya.
"Untung dia tidak terluka parah. Lihat bagaimana aku membalasmu Rendra!" Leo membuka pakaiannya dan berganti pakaian santai yang biasa dipakainya saat di rumah.
Lima belas menit suara bell rumah berbunyi. Leo berlari turun untuk membuka pintu. Makanan pesanannya telah tiba.
Pelan pelan ia meletakkan paper bag makanan di meja dekat Dhira. Kemudian mendekati Dhira yang sepertinya tidur dengan posisi duduk. Di tatapnya wajah tenang milik Dhira. Rasa damai menyelinap ke hatinya. Tidak ada yang ia lewatkan dari wajah cantik itu. Semua ia pindai bahkan langsung hafal dengan bentuk alis, hidung, bibir dan dagunya. Semua begitu indah dimatanya. Rasanya tak bosan bosan menatapnya terus menerus sambil mendengarkan irama dengkuran halus dari hidungnya.
Merasa kasihan dengan posisi tidur Dhira, ia mengulurkan tangannya ke bawah leher gadis itu dengan hati-hati. Tangan satunya memangku kedua kakinya dan mengangkatnya perlahan. Membaringkannya di sofa selayaknya orang tidur. Dengan hati hati menarik ujung dress yang tersingkap sehingga menampilkan paha putihnya. Kemudian menyelimuti kaki hingga pahanya dengan selimut.
"Selama ini aku begitu menutupi hatiku terhadap wanita bukan karena aku berhasil ternyata, tapi karena dirimu tidak ada diantara mereka. Begitu melihatmu aku tidak bisa melawan hati ini untuk selalu melihatmu." Selama hampir tiga tahun Leo menjauhi dirinya dari yang namanya percintaan. Bukan pernah trauma hanya hatinya aja yang tidak srek. Pernah beberapa kali pacaran. Waktu SMA dan kuliah. Namun begitu pelulusan hubungannya juga berakhir. Sejak itu ia belum berusaha mencari pacar lagi. Tapi begitu melihat Dhira saat pertama kali, hatinya sudah bergetar disertai jantungnya berdebar. Dari hari itu, setiap malam ia merindukan Dhira dan selalu berusaha menahan diri agar tidak terlalu mencolok. Tapi itu sangat menyiksa dirinya. Tidak tahan lagi sehingga membuat alasan menjadikan Dhira sebagai pelatihnya. Dirinya sendiri adalah ahli bela diri. Namun untuk beberapa waktu ke depan akan berpura pura dan terlihat berhasil saat Dhira mengajarinya.
Tidak terasa jarum jam berputar terus hingga pukul empat sore. Dhira menggeliat kecil sambil miring menghadap sandaran sofa tanpa membuka matanya. Tidak tidur semalaman membuatnya tidur nyenyak serasa tidur di malam hari. Merasa sedikit sempit, ia mundur agar lebih leluasa. Tapi kesialan menimpanya. Ia terjatuh dari sofa. Seutuhnya tubuhnya pindah ke lantai yang amat dingin.
"Khem!"
Dhira terlonjak dan langsung mengangkat kepalanya melihat ke arah suara. "Pak Leo? Sedang apa di sini?" Tanyanya dengan raut wajah bingung.
"Ini rumahku." Jawabnya santai.
"Ha?" Dhira mengintari seluruh ruangan dengan penglihatannya. "Lupa." Menepuk jidatnya pelan setelah mengingat yang sebenarnya.
"Tidurmu nyenyak sekali. Sekarang perutmu pasti sangat lapar setelah melewatkan dua kali waktu makan."
Dhira menyengir dengan kepala tertunduk. Pelan pelan ia bangun dan duduk dengan rapi. "Saya pamit dulu Pak, saya akan makan di rumah." Betapa dirinya sangat malu. Bisa-bisanya tertidur pulas pake acara jatuh pula.
"Tidak bisa. Ini makanan siapa yang habiskan. Mubajir kalau dibuang." Leo membuka makanan. "Ini harus dipanaskan dulu. Lauk dan sayurnya sudah dingin."
"Biarkan saja Pak. Saya akan makan di rumah."
"Tidak. Aku juga belum makan. Kita makan bareng. Biar ku panaskan bentar." Leo sudah mengangkat rantang makanan dan membawanya ke dapur. Sebenarnya bisa aja ia memesan lagi dari tukang masaknya tapi, sengaja membuat waktunya Dhira lebih lama bersama.
Dhira tidak betah duduk saja, ia menyusul Leo ke dapur. "Pak biar saya aja. Bapak duduk aja dan menunggu."
__ADS_1
"Oh kamu ke sini. Tidak perlu. Itu tanganmu masih sakit. Duduklah di situ. Ini sudah hampir selesai." Leo menunjuk kursi di tempat meja makan.
Tapi Dhira tidak mendengarkan Leo. Dengan inisiatif sendiri ia menyiapkan piring juga gelas dan air minum.
Kini mereka sudah makan. Keduanya nampak lahap. Dhira sungguh tidak malu malu lagi. Rasa lapar diperutnya mengalahkan gengsinya.
"Ini obatmu. Jangan lupa diminum. Agar lukamu tidak infeksi. Kalau belum bisa bekerja ambil cuti beberapa hari."
"Tidak Pak. Saya bisa kok bekerja. Nggak enak baru seminggu yang lalu saya cuti. Ini tidak terlalu sakit. Hanya lecet kulit. Setelah minum obat juga sudah lebih baikan."
"Terserahlah. Yang penting kamu sanggup." Leo tidak bisa memaksanya. Bisa saja sih, namun ia menjaga agar hubungannya yang baru dibentuk tetap terjalin.
"Ponselmu itu di dekat vas bunga sedang mengisi daya."
"Hah? Bapak mengambil ponsel saya?" Tanya Dhira setengah membentak.
"Iya. Maksudku tadinya ingin menelepon Vanya temanmu memberitahukan dirimu sudah baik dan aman. Tapi melihat itu mati ku cas terlebih dahulu." Leo menatap Dhira dengan wajah sedikit tegang. Seperti hendak marah.
"Maaf Pak, saya tidak bermaksud membentak. Saya malah berterimakasih sudah ditolong banyak oleh Bapak." Dhira menjatuhkan tatapannya ke meja. Mereka sama sama diam dan membereskan dan membersihkan perabotan makan. Sore itu untuk kedua kalinya Leo mengantar Dhira hingga ke rumahnya.
***
"Dhiraaaa....oh my friend, are you ok?" Ara berteriak begitu melihat Dhira dan Vanya keluar dari perusahan. Ia sudah mendapat kabar yang telah menimpa Dhira dari Vanya kemarin sore. Ia memeriksa wajah dan tangan Dhira. "Siapa sih yang berani berbuat jahat padamu? Kita harus menyelidiki ini, begitu orangnya ketahuan dia harus disiksa. Kita bertiga harus membalasnya."
"Ck. Kamu ini berisik banget. Kayak iya aja bisa ngalahan lelaki besar dan tinggi seperti raksasa. Aku aja kalah. Apalagi kalian berdua." Gurau Dhira.
"Benarkah orangnya seperti itu, kalau begitu harus anak buah papi yang menanganinya. Ini harus ku laporkan pada papi." Ara mengeluarkan ponsel nya di dalam tas.
"Ssssttt! Sudah. Tidak perlu Memberitahukan papimu. Bikin beban papimu bertambah aja. Semua udah beres kok. Oke sekarang tenanglah. Simpan ponselmu agar kita pergi."
"Serius? Kamu nggak butuh bantuan papiku?"
"Bukan nggak butuh. Tapi lain kali aja pas ada yang lebih sulit."
"Okelah. Tapi awas terjadi lagi hal mengerikan ini. Tidak ada ampun bagi penjahat itu. Entah dari mana hatimu itu Dhi, begitu lembut dan pemaaf."
"Ais lebay. Ayo di mana mobilmu?" Dhira menarik tangan Vanya dan Ara.
Di dekat pos jaga gerbang, Leo yang berada di mobil tersenyum melihat tingkah Dhira. Ternyata gadis itu pintar mengendalikan situasi. Melihat mobil teman Dhira sudah berjalan ia juga perlahan mengikuti dari belakang. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Dhira.
Ternyata Ara membawa mereka ke sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal mewah di kota Jakarta. Ara mentraktir mereka. Entah ini sudah yang kesekian kalinya. Setiap Vanya dan Dhira menolak Ara selalu punya seribu jurus agar terjadi seperti yang dikehendakinya. Senda tawa dan wajah mereka bertiga kerap menjadi pengundang perhatian orang disekitar. Apalagi para pria. Tidak jarang mereka dapat gangguan nakal, tapi selalu bisa diatasi oleh Dhira. Mereka bertiga begitu bahagia dengan persahabatan itu. Tapi yang sering bersama adalah Ara dan Dhira. Karena Vanya sudah punya pacar waktunya sering dicuri sang kekasih. Tapi itu tidak jadi penghalang bagi mereka bertiga. Persahabatan tetap berjalan.
Brukkk
Tiba tiba Ara menabrak Leo. "Maaf, aku tidak memperhatikan Anda."
__ADS_1
"Hati hati neng. Ini jalan umum." Leo sengaja membuat perhatiannya hanya dibagian depannya. Trik untuk membaur karena ada Dhira di sana.