
"Iya. Ibu mengerti kok. Tanyakan dokter nya kapan aku bisa pulang? Aku tidak betah di rumah sakit. Bikin semangat hilang. Apalagi saat anakku pulang begini."
"Iya. Nanti aku bicara dengan dokternya. Ibu jangan khawatir. Aku dapat cuti panjang. Kita akan bersama beberapa hari ke depan."
"Oh senangnya." Amelia memeluk Dhira.
Dalam hati Dhira menangis.
Betapa sebenarnya ibunya merasakan berat hidup terpisah dengan dirinya. Tapi bagaimana lagi, ia dapat pekerjaan di tempat jauh. Sekarang ia harus bisa membujuk ibunya ikut ke Jakarta. Selain bisa dibawah pengawasannya, ibunya bisa melakukan pengobatan yang lebih intensif.
Pagi harinya Dhira sudah bicara dengan dokter yang menangani Amelia. Ia sempat down ketika dokter mengatakan tidak ada jalan lain lagi selain mencari pendonor. Kondisi ibunya sudah lemah dan yang pasti lama kelamaan akan semakin memburuk.
Tapi dengan tenang Leo memberi saran kepada Dhira agar ibunya di bawa ke Jakarta dan menjalani pemeriksaan lagi. Juga menemukan ginjal di Jakarta kemungkinan lebih mudah dari pada di daerah Lampung. Juga fasilitas di rumah sakit di Jakarta lebih memadai dan modern. Bahkan bisa menemui para dokter ahli bagian ginjal. Ada beberapa orang kenalan Leo ahli Nefrologi.
Tapi kendalanya, Amelia tidak bersedia. Wanita itu menolak keras ke Jakarta. Ini membuat Dhira frustasi. Entah bagaimana lagi caranya membujuk ibunya.
"Bersabar, biasalah orang tua kadang lebih percaya perasaannya dari pada penjelasan." Leo menyandarkan kepala Dhira di bahunya. Pria ini selalu tabah dan setia menemani Dhira bahkan tanpa tidur sedikitpun.
"Bingung menghadapi ibu yang seperti ini."
"Aku tahu kamu bukan orang yang mudah menyerah. Kita akan berusaha membujuk ibu lagi."
"Terimakasih telah bersedia menemaniku."
"Itu kewajiban dan tanggung jawabku. Karena aku menyayangimu dan ibu."
Telaga di mata Dhira berkaca kaca. Terharu dengan perhatian serta kasih sayang Leo padanya.
"Sekarang kita beristirahat dulu. Tadi paman Bali dan bibi sudah bilang akan menjaga ibu. Kita juga butuh istirahat. Jika besok ibu akhirnya mau ikut, bukankah kita harus kuat diperjalanan. Dan harus sehat buat mengurus ibu nantinya."
"Iya. Tapi kita akan tidur dimana? Di sini tidak ada tempat."
"Tadi paman bilang, kita bisa tidur di rumah paman yang ada di dekat sini."
"Oh iya. Aku lupa kalau paman Bali ada rumah di sini."
Akhirnya mereka malam itu tidur di rumah paman Bali. Meski berat bagi Dhira, tapi Leo berhasil menenangkannya.
Esok harinya Dhira terlihat lebih segar. Setelah tidur nyenyak makan dan mandi ia seperti mendapat kekuatan baru. Ia sudah mempersiapkan kata kata yang akan diucapkannya nantinya untuk membujuk ibunya agar mau berangkat ke Jakarta. Ia ke kamar dimana Leo tidur. Pelan pelan dibukanya pintu dan ternyata Leo masih tidur nyenyak. Ia tersenyum melihat Leo yang tidur miring ke arah pintu. Terlihat wajah tampan itu sangat tenang dan enak di pandang. Ia memutuskan pergi ke rumah sakit duluan. Membiarkan Leo istirahat yang cukup.
Dengan langkah cepat cepat, Dhira ke ruangan Amelia di rawat. Tapi ia sangat terkejut saat melihat ranjang ibunya kosong bahkan selimutnya sudah terlipat rapi. Dadanya turun naik menebak ibunya pergi kemana.
"Sus, Suster! Ibu saya kemana?" Tanyanya dengan wajah pucat.
__ADS_1
"Oh ibunya sedang ke taman bersama ibu Ayunda. Barusan aja keluar. Katanya ingin berjemur. Cuacanya bagus. Itu di depan pintu masuk sebelah timur."
Dhira bernafas lega. Pikirannya sempat kemana mana dan ia sudah ketakutan. "Oh. Terimakasih Sus."
Ia melangkah ke arah pintu yang diberitahukan suster dan mencari ibunya di lapangan berumput. Ia tersenyum melihat ibunya dan bibi sedang berbicara. Ibunya duduk di kursi roda sedangkan bibinya berdiri di belakangnya.
Langkah Dhira terhenti saat samar samar mendengar bibi Ayunda menyebut Jakarta.
"Bagaimanapun kamu harus kuat. Kota itu adalah kota kenangan pahit dan buruk bagimu. Tapi bagi Dhira itu adalah kota kehidupan. Ia mendapat pekerjaan disana bahkan sudah dapat pacar dari sana. Bagaimana caramu memutuskan harapan Dhira dengan kota itu. Bisa saja takdir akan membuat putrimu melakukan hal besar yang akan memenangkan mu."
"Hahhh...kamu tidak tahu bagaimana kejamnya mereka. Entah apa yang terjadi bila mereka melihat atau mengetahui kami masih hidup. Memikirkannya saja membuatku serasa mengalami kejadian mengerikan itu. Sampai sekarang aku masih merinding dan dadaku sakit setiap mengingat itu."
"Dengar, anakmu bukan gadis biasa. Dia hebat dan berpendirian kuat. Bukankah kamu menempanya sekuat itu agar bisa melindungi kalian berdua? Lihatlah, apa kamu meragukan kemampuannya? Kenapa sekarang kamu jadi pesimis begini?"
"Padahal waktu Dhira kecil, kamu selalu bilang padaku 'lihat Ayunda, putriku ini lah besok yang akan menyeret orang orang jahat itu ke dalam neraka. Dengan tangan nya sendiri akan mematahkan tulang tulang mereka membayar apa yang telah kami berdua alami.' Kemana semangatmu itu? Kenapa tiba tiba hilang? Perjuanganmu belum berakhir. Kamu tidak bisa menyembunyikan diri kalian selamanya. Saat kamu masih mampu, kamu harus menghadapi mereka. Dan percayalah pada putrimu."
"Entahlah, rasanya keberanian ku makin lenyap. Aku akui aku takut. Aku takut Dhira kenapa kenapa. Belum lagi aku yang sudah sakit-sakitan."
"Benar yang kamu takutkan. Tapi setidaknya Dhira berhak tahu siapa ayahnya Mel."
"Iya. Tapi aku belum siap."
"Makanya itulah ke Jakarta. Berobat yang baik agar kamu sehat dan kuat. Setidaknya Dhira tidak terbagi fokus saat suatu hari bertemu dengan hal yang kamu takutkan. Coba bayangkan situasinya, kamu dalam keadaan sakit, munculah masalah karena Dhira sudah tahu siapa ayahnya. Bagiamana cara Dhira menghadapinya secara bersamaan?"
"Maka dari itu, pergilah. Bila memang kalian bertemu artinya sudah waktunya Dhira tahu yang sebenarnya. Kalau tidak, artinya kamu bisa berobat dengan baik."
Dhira sekarang mengerti, alasan ibunya tidak mau ke Jakarta. Ternyata ayahnya dari kota itu. Artinya ibunya sebelumya berada di Jakarta. Ia semakin penasaran dengan kisah masa lalu ibunya. Namun dua ibu itu tidak lagi membahas tentang itu. Mereka sudah berubah topik.
Darahnya berdesir membayangkan kembali ucapan dua wanita itu. Mereka pernah dilenyapkan ternyata. Kehidupannya dan ibunya tidak diinginkan oleh orang yang ditakuti ibunya. Kenapa bisa begitu? Apakah ibunya punya kesalahan? Jadi, selama ini ibunya berusaha bersembunyi. Sedikit mulai terkuak masa lalu ibunya.
Tengah hari Leo datang menyusul ke rumah sakit. Ia membawa makan siang untuk mereka semua.
Sambil makan mereka membahas soal kelanjutan perobatan Amelia. Dengan bijaksana dan berwibawa Leo mengungkapkan pendapatnya. Awalnya Amelia terus saja menolak, tapi akhirnya menurut.
Dhira tersenyum senang akhirnya ibunya luluh. Bahkan ibunya sudah jujur soal ginjalnya yang tinggal satu. Sempat membuat air mata mereka menetes dengan kisah Amelia yang terpaksa menjual ginjalnya delapan belas tahun yang lalu karena harus mengoperasi dahi Dhira yang tumbuh benjolan. Tidak memiliki uang, membuatnya harus lebih berjuang agar putrinya bisa tumbuh normal selayaknya anak sehat lainya. Itulah bekas yang ada di dahi dan kepala Dhira.
Sementara itu, Leo langsung bergerak cepat. Sebelum menemui Dhira dan yang lainnya, ia terlebih dahulu menemui dokter yang menangani Amelia. Bertanya banyak hal tentang penyakit calon ibu mertuanya. Begitu mendapat penjelasan ia langsung menghubungi dokter kenalannya yang ahli bidang ginjal bahkan memesan ginjal untuk Amelia. Untungnya golongan darah Amelia bukan golongan yang langka sehingga harapan untuk mendapat ginjal tidak terlalu sulit. Memang tidak akan semudah mengobati penyakit lain yang hanya membutuhkan pengobatan, namun masih ada harapan dengan ginjal jenis umum. Harapannya kini adalah semoga tidak terjadi kesulitan diluar dugaan. Jika keadaan Amelia bertahan maka ada waktu untuk mendapatkan ginjal untuknya.
***
Sudah dua Minggu Amelia berada di Jakarta. Untungnya ia masih bisa menjalani rawat jalan sehingga tidak terlalu membuat pengeluaran Dhira membengkak.
Mereka mengontrak rumah di dekat rumah sakit. Tidak terlalu besar tapi cukup bersih dan nyaman. Bujukan Leo untuk tinggal di rumah baru yang ditunjukan Leo pada Dhira hari itu tidak mempan. Kekasihnya itu terlalu menjaga agar tidak terjadi sesuatu yang kurang enak dikemudian hari.
__ADS_1
Perobatan Amelia juga berjalan lancar. Asal ia tidak stres dan kelelahan keadaannya masih terbilang aman. Tentu tidak lepas dari obat dan pantauan dokter.
Hari hari Dhira berlalu tanpa terasa. Kesibukannya di kantor juga mengurus ibunya membuatnya tidak pernah menghitung hari dan tanggal. Bahkan terkadang lupa hari.
"Sayang, kamu kurusan sekarang. Apa kamu terlalu capek?" Leo mengelus-elus bahu Dhira. Mereka sedang duduk menikmati malam di halaman.
"Nggak. Paling kurang tidur aja." Itu memang benar, Dhira susah tidur karena terlalu gelisah memikirkan ibunya.
"Besok aku akan menempatkan seorang perawat untuk mengurus ibu. Kamu sampai nggak ada waktu beristirahat. Lihat dagu mu makin runcing." Leo mencubit pelan dagu Dhira.
"Nggak perlu. Aku masih kuat kok. Ibu tidak akan mau diurus orang lain. Lagian aku nggak terlalu capek kok. Ibu tidak susah di urus. Aku hanya perlu menyiapkan makanan, mengingatkan minum obat."
"Beruntungnya aku diberikan wanita sebaik dan setangguh kamu." Leo mencium puncak kepala Dhira. "Oh iya, kemarin aku sudah mendapat kabar dari seorang teman, katanya ada calon pendonor. Semoga yang ini tidak ada kendala." Sudah empat kali ada kabar yang bersedia mendonorkan ginjal pada Amelia tapi keempatnya tidak memenuhi syarat kesehatan untuk melakukan transplantasi. Dan yang ini yang kelima. Leo tidak main main dengan bantuannya.
Dhira tidak menyahut. Ia malah menatap kosong ke depan.
"Hei, mikirin apa? Aku lagi bicara tentang ibu."
"Iya aku dengar kok. Setelah aku pikir pikir, biarlah ginjal ku aja. Nggak perlu membeli ginjal lagi."
"Andhira!" Wajah Leo tegang mendengar ucapan kekasihnya. "Selain terlalu beresiko, hanya kamu satu satunya yang di miliki ibu. Kamu harus mikirin masa depan kalian berdua. Lihat bagaimana keadaan ibu saat ini. Hal yang sama bisa saja terjadi padamu."
"Aku akan menjaga kesehatan setelah melakukan operasi."
"Tidak! Aku tidak setuju. Itu sudah ada calon untuk menyembuhkan ibu. Kamu tidak perlu menjalani hidup seperti itu. Perjalananmu masih panjang, dan ini menyangkut masa depanmu."
"Kesehatan ibu juga salah satu masa depanku. Untuk apa aku berhasil jika aku tidak bisa menolong ibuku." Suara Dhira parau menahan tangis.
"Hsss...jangan sedih terus. Kamu tinggal berdoa dan menjaga kesehatanmu sendiri. Soal ibu serahkan padaku. Kita hanya bersabar menunggu hingga waktu yang tepat. Ibu pasti bisa sehat kembali. Ibu akan menjalani operasi setelah itu kamu tidak perlu khawatir lagi. Semoga calon yang ini memenuhi syarat maka semua akan terkendali."
"Uang kami tidak cukup. Tabungan sama hasil penjualan kebun hanya cukup untuk operasi. Untuk biaya membeli ginjal..."
"Kamu ini bodoh atau apa? Kamu tidak perlu memikirkan biayanya. Aku akan mengatasi semuanya. Uang penjualan kebun simpan aja. Nanti setelah ibu sehat kamu bisa memodali ibu untuk membuka usaha di kota ini. Jangan beli kebun lagi agar ibu tidak kembali ke Lampung."
"Tapi itu biayanya besar. Bagaimana aku membiarkan kamu menanggungnya. Aku tidak enak. Dan entah kapan aku ada uang untuk mengembalikannya."
"Ck, kamu ini selalu menganggap aku orang lain. Padahal aku sudah menganggap mu keluargaku bahkan seperti diriku sendiri. Apa aja akan kulakukan demi kamu. Bukankah kamu juga begitu? Kamu akan melakukan apapun kan untukku juga? Karena kita saling mencintai."
Dhira tidak menjawab. Ia hanya menunduk. 'Entah apa yang akan terjadi dikemudian hari Leo, tidak ada yang tahu seperti apa hubungan kita ini. Hati kecil ini selalu ragu. Apalagi dengan sikap orang tuamu.' Hanya dalam hati Dhira berkeluh.
"Nah, melamun lagi." Leo menepuk pelan kepala Dhira.
"Bagaimana bila kita tidak berjodoh? Bukankah semua yang kamu lakukan hanya kesia-siaan belaka?"
__ADS_1
"Apa kamu tidak percaya dengan kekuatan cinta?" Tanya Leo. "Kalau cinta kita berdua sama besarnya aku yakin kita berjodoh." Optimis, itulah Leo.