
Dhira mundur, ia duduk di kursi panjang yang tersedia di sana. Menunggu dengan sangat gelisah. Baru duduk sekitar lima menit, ia bangkit lagi melihat Leo sudah keluar dari pintu. Matanya menatap Leo dengan tatapan penuh curiga.
Leo mendekat pada Dhira. "Mami ingin bicara denganmu secara langsung."
Dhira menegang. Pikirannya langsung menebak hal yang tidak beres.
"Jangan cemas. Mami baik baik saja. Katanya ada yang harus disampaikan padamu."
Dhira bangkit. Dengan jantung berdegup lebih cepat, ia berjalan masuk ke kamar Meli.
Matanya langsung tertuju pada Meli yang terbaring. Wanita itu memejamkan mata tapi terlihat dari air mukanya tidaklah tidur.
Kaki Dhira semakin mendekat, setelah mencapai lebih dekat pada Meli, ia berhenti. Ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya mulutnya sulit terbuka.
Meli merasakan seseorang telah ada di sampingnya. Dibukanya matanya dengan perlahan. Mata yang biasanya tajam dan selalu bersemangat itu kini sayu dan meredup. Wajahnya juga pucat bagai tak berdarah. Mulutnya juga terlihat kering dan sulit bergerak. Matanya melirik ke arah Dhira.
Pandangan mereka saling bertemu. Beberapa detik kemudian, Dhira maju lebih dekat lagi.
"Ma-af...aku...telah," Meli berhenti. Ia terlihat berusaha menelan air ludahnya tapi begitu sulit sehingga dagunya harus terangkat sedikit.
"Iya. Aku tidak akan mengingat itu. Aku hanya ingin ibuku." Dhira mengatakan keinginannya. Jujur, ia juga kasihan melihat kondisi Meli. Cukup baginya Meli mengatakan keberadaan ibunya. Soal yang lainnya tidak akan memperhitungkannya lagi. Itu sebabnya wajahnya lebih bersahabat.
Meli tersenyum kaku. Lalu terlihat meringis sambil menahan nafasnya.
"Bu, ku mohon katakan saja di mana ibuku." Dhira menundukkan tubuhnya dengan wajah yang sangat berharap.
Meli membuka mulutnya. Wanita itu begitu kesulitan saat menggerakkan lidahnya. "D-dia...mmaa...ssihhh..." Meli berhenti. Ia kelelahan dan seperti sesak nafas.
Dhira bagai seorang yang luar biasa haus menanti ujung kalimat Meli. Sangat ingin segera mengetahui, tapi tidak bisa memaksa keadaan Meli. Hatinya sendiri pun tidak tega melihat kondisi Meli.
Meli mengangguk sedikit dengan sorot mata menatap Dhira yang menghangat. "Hhhhid-duuppp."
Dhira bernafas lega. Tangannya terangkat menggosok dadanya karena yang ditakutkannya tidak terjadi. Tapi tetap bingung karena tidak tahu ibunya berada dimana.
"Bisakah Ibu katakan di mana ibuku berada?" Tanya Dhira hati-hati. Ia juga berat melihat kondisi Meli. Tapi tidak kuat menahan diri ingin tahu dimana ibunya.
Meli menggeleng. "Di-a ber-sama or-rang lain." Meli menarik nafasnya bahkan sampai dadanya masuk ke arah dalam. Lalu ia terlihat kesulitan saat mengeluarkan udara yang barusan di berkumpul di paru-parunya.
Meli membuka mulutnya untuk berbicara tapi sepertinya suaranya tidak bisa keluar. Ia sampai mengerutkan kening agar bisa bersuara. Tapi usahanya gagal. Ia malah terbatuk terpaksa. Bersamaan dengan batuknya darah yang sedikit berwarna kehitaman keluar dari hidungnya. Lalu muncul lagi dari mulutnya. Ia terlihat bernafas tersendat dengan cairan yang makin banyak keluar itu.
"Akh! Kenapa ini?" Dhira kebingungan melihat kondisi Meli. "Bu Meli?" Ia ingin mengangkat kepala Meli tapi ragu.
"Leo!!! Leooo...!!" Teriak Dhira sambil berlari ke pintu. Dibukanya pintu itu, tapi baru memegang handel nya, Leo sudah membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Leo sudah masuk dan berlari ke arah dalam. Mendengar teriakan Dhira, ia sudah dapat firasat buruk.
"Mi...Mami..." Leo mengangkat bahu Meli diatas lengannya. Darah itu sangat banyak bahkan hingga membanjiri lehernya.
"Dokter! Dokter!! Tolong...!" Teriak Leo dengan suara bergetar menahan tangis.
"Mamiii...jangan begini! Aku mohon bertahanlah!" Tangis Leo pecah. Ia sudah tidak tahan melihat kondisi Meli.
Wanita itu masih kejang. Sedangkan darah masih saja mengalir dari hidung dan mulutnya.
__ADS_1
Tangan wanita itu bergerak menyentuh wajah Leo dengan mata berair. Mulutnya yang masih berdarah terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi sedikitpun suara tidak bisa lagi keluar dari mulut itu. Tangannya yang sudah memegang pipi Leo melorot dan terjatuh. Sedangkan kepalanya terjatuh lemas dengan posisi menunduk.
"Mamiiii..." Pekik Leo. Diangkatnya kepala Meli yang sudah tak berdaya. Kini wanita itu tidak lagi berusaha untuk bernafas. Tapi sudah pasrah. Wajahnya yang pucat kini mulai membiru.
Dari tempatnya berdiri, Dhira tak kuasa menahan air matanya meski tidak ada suara tangis dari mulutnya. Pikirannya seperti berhenti dan dadanya terasa sakit.
Dokter dan perawat masuk dengan tergesa-gesa. "Biar diperiksa dulu."
Leo mundur. Wajahnya sudah banjir air mata. Ia sangat takut terjadi sesuatu pada maminya.
"Pasien telah meninggal." Ujar dokter itu setelah melakukan beberapa pemeriksaan.
Leo bagai orang linglung. Kabar yang sampai padanya dari kemarin memberinya harapan baik. Apalagi setelah mendengar dari Kim maminya tidak mengalami depresi lagi. Sudah bisa bicara baik seperti biasanya walau terbata-bata.
Tapi kenapa sekarang tiba tiba begini? Hanya sehat selama dua hari, lalu meninggal.
Dhira tidak tahu ingin melakukan dan mengatakan apapun. Ia hanya berdiri dengan tatapan ke ranjang di mana jenazah Meli berada. Ia juga tidak menyangka wanita itu begitu cepat selesai dari dunia ini. Tanpa terasa air matanya merembes membanjiri pipinya.
Tanpa mengatakan apapun, dengan tubuh limbung, Dhira mundur keluar dari ruangan itu. Ia berpegangan di pintu agar tidak terjatuh. Dari pintu ia melihat bahu Leo yang bergetar. Ia tahu pria itu menangis tanpa suara.
Ingin merangkul pria yang lagi nelangsa itu tapi kakinya tidak bisa beranjak. Justru mundur menjauh dari ruangan itu dan pergi membawa kebingungan dalam hatinya.
***
Jenazah Meli tiba di kediaman Atmaja. Berita duka langsung menyebar dengan cepat dan sudah banyak orang yang datang untuk melayat. Baik tetangga, kenalan maupun keluarga.
Leo, Rudy dan beberapa orang lainnya berdiri di dekat peti. Mereka melangsungkan acara sebagaimana yang mereka yakini untuk memberangkatkan almarhum Meli ke peristirahatan yang terakhir.
Diantara orang berpakaian serba hitam, seorang gadis juga berdiri dengan wajah sedih. Ia mengenakan dress hitam yang panjang hingga ke sepatu. Ia adalah Dhira. Ia tetap datang berbelasungkawa untuk Meli.
"Siapa yang meninggal? Mengapa membawaku ke sini?" Tanya Ara dengan wajah bingung.
"Wanita yang melahirkan mu. Apakah kamu tidak sedih?" Wajah Dhira kaku, dengan sorot mata yang lemah. Tidak garang biasanya.
"Wanita yang melahirkan ku? Kok bisa? Mamiku telah meninggal dari aku lahir." Jawab Ara dengan enteng. Ara tidak paham.
"Ibumu masih hidup selama ini. Jika dia tidak meninggal hari ini, mungkin kau belum juga tahu siap ibumu sebenarnya." Jawab Dhira dengan lirih. Wajahnya tidak lagi kaku seperti sebelumnya.
"Hah? Bagaimana bisa? Dari mana kamu tahu dia itu mamiku?"
"Leo adalah saudara kandungmu. Dan laki laki yang berdiri di samping kanannya adalah Rudy Atmaja ayah kalian berdua. Pergilah ke sana! Sebelum semuanya terlambat. Jika Meli sudah di kuburkan, maka seumur hidupmu kau tidak akan pernah melihatnya lagi." Dhira mendorong Ara dengan pelan. Sedangkan Ara berjalan dengan kaki saling menyepak karena bukan kehendaknya untuk berjalan.
Ara beberapa kali menoleh ke belakang, menatap wajah Dhira dengan bingung. Matanya menyipit, belum juga mengerti.
"Pergilah ke sana! Lihat dia untuk terakhir kalinya." Dhira terus mendorong Ara.
Meski Ara tidak mengerti yang sebenarnya, ia berjalan mendekati peti yang dikelilingi banyak orang. Kakinya berhenti saat melihat wajah yang terlentang di dalam peti. Matanya melotot melihat wanita yang sangat tidak disukainya karena kesombongannya, terbujur kaku dengan wajah dan dan membiru. Kini ia mengerti yang meninggal adalah ibunya Leo.
Tiba-tiba ia teringat dengan perkataan Dhira yang mengatakan, wanita itu lah yang telah melahirkannya.
Ara berlutut di samping peti. Kedua tangannya berada dipinggiran peti menatapi wajah yang tak bernyawa itu lagi. Tak ada reaksi apapun dari wajahnya, kecuali matanya yang terus menatap Meli.
"Hiks hiks Araaaa..." Tangis Leo pecah begitu melihat Ara adiknya sudah ada di sampingnya sedang menatapi mami mereka. Ia memeluk adiknya dengan tangis yang makin keras.
__ADS_1
"Huuu...uuuu...huuuu...uuuu..." Tangis Leo pecah. Ia berhambur memeluk Ara dan menciumi kepalanya. "Adikku, ini adalah mami kitaaa..."
Begitu juga dengan Rudy, begitu melihat Leo memeluk seorang gadis yang di sebutnya Ara, ia langsung berhambur memeluk Ara juga.
"Anakku...putrikuuuu...huuu...dia adalah mamimu...huhuhu..."
Seluruh orang di ruangan itu ikut menangis mendengar tangisan dua lelaki yang sangat mereka kenal dengan wajah penuh tanda tanya terhadap Ara.
Air mata Ara mengalir membasahi pipinya. Tanpa permisi air itu berdesakan terus dengan perasaan bingung. Ia menangis bukan sedih karena jenazah disampingnya tapi terhipnotis oleh tangis Rudy dan Leo. Ia bagai terbawa arus merasakan bagaimana perasaan dua lelaki itu.
Dhira yang berada di balik punggung orang orang sedikit merasa lega telah melakukan hal yang benar. Sebenarnya egoisnya masih menguasai dirinya untuk menyusahkan keluarga Leo. Tapi hatinya menang memberi pencerahan ke otaknya, membawa Ara keluar menemui keluarga aslinya. Meski Meli telah melakukan kesalahan besar tapi wanita itu telah tiada. Sedangkan anggota keluarga lainnya hanya korban dan hanya menerima luka. Itulah yang dipikirkannya.
Begitu keluar dari rumah sakit, Dhira langsung kepikiran pada Ara. Saat itu juga ia menyuruh paman Bali membawa Ara ke rumahnya. Itulah makanya Ara sampai di rumah duka.
Senja hari, penguburan telah selesai dengan baik. Cuaca gerimis membuat suasana makin menyedihkan. Seakan menggiring perasaan Leo yang tak tergambarkan. Kini tinggal keluarga inti yang masih setia berdiri di samping pusara basah Meli. Leo tak henti hentinya mengusap wajahnya yang masih saja dialiri air mata.
"Sudah Nak. Semua telah terjadi. Inilah yang harus kita terima." Rudy menepuk punggung Leo pelan. Lelaki itu terlihat lebih tegar dan sudah tidak terlalu sedih lagi.
Leo tersedu. Banyak hal yang membuatnya sedih. Terlebih atas segala yang dilakukan maminya semasa hidupnya. Ia tidak pernah menyangka kehidupan mereka akan seperti ini. Sangat kacau dan menyakitkan. Ditambah dengan usia maminya yang hanya sebatas empat puluh tiga tahun.
"Inilah pelajaran buat kita. Jangan rakus dan hendaklah punya kasih serta hikmad dalam hati." Rudy menatap Ara yang berdiri di samping Leo. Gadis itu hanya berdiam seribu bahasa. Hanya bola matanya yang bergerak selama prosesi penguburan.
Dipandangi oleh Rudy, membuat Ara berkedip sambil mundur satu langkah. Wajahnya diselimuti kebingungan. Ia belum mengerti apa yang sudah didengarnya. Serasa aneh dan tidak percaya.
"Putriku, ini Papi." Rudy maju.
Ara semakin mundur. Tidak ada sambutan darinya. Justru mimiknya seperti menolak yang diucapkan Rudy.
Leo juga melangkah ke arah Ara. "Iya Ara, kamilah keluargamu. Kita telah dipisahkan sejak kamu lahir." Ucap Leo dengan suara parau. Bahkan air matanya belum kering.
Ara menggeleng keras. Sementara kakinya makin cepat tidak mau digapai dua pria yang tiba tiba mengaku keluarganya itu.
"Ara!" Suara Jhon menyita perhatian mereka. Lelaki itu sudah berada di sana sejak tadi. Dari tempatnya ia menyaksikan Meli yang sudah masuk ke liang kubur, sembari mengawasi Ara juga.
"Kak Jhon..." Ara berlari ke arah Jhon. Tangisnya sangat keras. Tapi tinggal beberapa langkah lagi dari Jhon, ia berhenti dan menatap pada lelaki itu dengan tatapan marah. Otaknya langsung membayangkan Jhon dan Robert telah menipunya selama ini.
Jhon berlari menangkap Ara. Di genggamnya erat tangan Ara agar tidak bisa pergi darinya. "Maafkan aku tidak bisa menemukanmu. Sepertinya mereka telah menyiksamu. Lihat tubuhmu sangat kurus dan pucat."
"Lepaskan!" Suara Ara bergetar di sertai giginya yang gemerutuk. Ia menangis sekaligus marah. Di dorongnya Jhon agar menjauh darinya.
"Nak, jangan kembali lagi ke sana. Kamilah keluargamu. Mari kita hidup bersama menebus semua waktu kita yang telah hilang." Rudy setengah berlari mendekati Ara.
"Stop! Jangan ada yang mendekat. Aku tidak mengenal kalian semua." Ara menatap tiga lelaki itu dengan penuh kebencian secara bergantain. Ia sangat marah hingga hanya tangisan lah yang keluar dari mulutnya.
"Ara, aku berusaha mencarimu kemana-mana tapi mereka sangat licik sampai aku tidak bisa menemukanmu. Sekarang, mari kita pulang. Aku tidak akan membiarkan mereka melukaimu lagi. Kita pulang menemui Papi." Jhon juga berusaha mengajak Ara.
"Aku tidak ikut siapapun!" Teriak Ara. "Kalian semua penipu! Aku tidak mempercayai kalian!" Ara melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
"Ara! Ara! Tunggu!" Mereka memanggil gadis itu. Tapi Ara tidak menggubris mereka. Ia terus berlari keluar dari area pemakaman.
Sedangkan ketiga lelaki itu berlari mengejar Ara yang semakin jauh. Tapi Ara berlari dengan sangat cepat.
Kebetulan saat ia sampai di tepi jalan sebuah mobil lewat dan ia menyetop mobil itu. Lalu hilang dibawa mobil itu.
__ADS_1
Di mobil Ara menangis. Bingung dengan kehidupannya sendiri. Siapa yang harus ia percayai. Siapa sebenarnya dirinya. Sekaligus marah pada Dhira yang ternyata pelaku atas dikurungnya dirinya. Ia sudah menyadari itu sejak tiba di rumah Dhira.