Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Sudah Tenang


__ADS_3

Ara menepis air matanya yang merembes ke sudut matanya. Ia makin sedih setelah sepuluh jam papinya nggak juga nampak. Ia kira setelah ia sakit papinya akan datang melihatnya.


"Percuma uang banyak kalau saat ada keluarga sakit nggak bisa cepat pulang. Punya sahabat baik yang lebih perhatian malah disingkirkan. "Ucapnya pelan.


Jhon yang berada di balik pintu hanya mendesah panjang. Sebenarnya ia juga sangat kasihan pada gadis kesepian itu. Dari bayi hanya diurus seorang pengasuh dan dijaga olehnya. Punya papi yang super sibuk dan memilih tinggal diluar negeri selama ini.


Tambah sedih dengan kebohongan Robert kembali ke Belanda. Aslinya pria itu tidak kembali. Ia ada di kota yang sama dengan Dhira hanya beda rumah saja. Robert sengaja menghilangkan diri agar tidak dituntut banyak oleh Ara. Apa mungkin tidak tega melarang Dhira terlalu keras? Lalu bagaimana dengan Jhon? Ia juga tidak tega.


Empat jam yang lalu ia sudah menelepon Robert memberitahukan Ara yang sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Dirinya hanya dipesankan agar lebih memperhatikan dan memanjakan Ara asal jangan berhubungan dengan Dhira Vanya dan Leo.


"Ck, kepalaku sakit. Lebih mudah mengurusnya waktu anak anak dari pada sekarang ini." Keluh Jhon sambil menguap.


Ia duduk di bangku panjang dan tiduran di sana. Ia berbaring sambil mengingat bagaimana Ara menyukainya. Ia tidak pernah punya rasa suka terhadap gadis itu. Hanya sebagai adik yang harus diurusnya.


Bicara soal cinta, Jhon tidak pernah sungguh sungguh menyukai seorang wanita. Soal pacar ia punya banyak. Dan setiap bulan ia ganti pacar. Ia tidak pernah punya komitmen serius soal hubungan dengan wanita. Hanya sekedar untuk hiburan dan teman bergaul. Bila bukan si wanita yang minta putus maka dirinyalah yang memutuskan. Dan anehnya lagi semua mantan yang dikencaninya tidak ada yang marah atau menuntutnya. Jadi, baginya percintaan bukan hal rumit. Bisa saja ia menjadikan Ara kekasihnya. Tapi ia tidak bisa janji lebih dari sebulan. Tidak mungkinkan ia mencampakkan Ara seperti wanita lainnya. Lebih baik baginya menghindari hubungan seperti itu dari pada nantinya jadi masalah baginya sendiri.


Tanpa sadar Jhon tertidur pulas di bangku itu. Wajah lelahnya terlihat mulai pulih dan tenang. Mimpinya pun datang menjemputnya menggantikan dunia nyata.


"Jhon...hei bangun!"


Entah berapa lama Jhon tertidur hingga sebuah suara membangunkannya. Perlahan kelopak matanya terbuka dan melihat seorang yang berdiri tegap di depannya.


"Oh Pak Robert. Anda sudah datang?"


"Bagaimana kondisi Ara?"


"Lagi diinfus. Dan sekarang nggak tahu dia tidur apa tidak." Jhon berdiri dan berjalan ke pintu ruangan Ara. "Dia tidur sepertinya."


"Aku mau masuk " Robert membuka pintu dengan pelan juga menutupnya kembali. Pelan-pelan ia mendekati ranjang Ara dan duduk di dekatnya kaki gadis itu. Di rabanya kening putrinya lalu mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Untuk apa papi datang!" Suara ketus Ara membuat Robert tersentak. Ternyata Ara tidak tidur.


"Harus datanglah. Aku tidak tenang kalau kamu sakit."


"Yang bikin sakit juga papi!"


"Nak, papi tidak pernah ingin kamu sakit. Papi justru ingin kamu selalu sehat dan bahagia."


"Halah bohong! Lalu kenapa papi melarang ku bahagia bersama sahabatku!"


"Mereka bukan orang baik. Papi sudah periksa sendiri. Justru mereka berbahaya bagimu. Papi tidak mau kamu kenapa kenapa."


"Entahlah. Rasanya aku tidak percaya."


"Kamu harus percaya pada Papi. Tidak mungkin Papi menjerumuskan mu. Jangan sampai kamu menyesalinya karena Papi kurang perhatian padamu. Sudah papi bilang hanya kamu satu satunya yang Papi miliki di dunia ini. Tidak akan kubiarkan apapun membahayakan mu. Ini sudah aku perhitungkan dengan baik."


Ara terdiam. Rasanya makin pusing membahas soal sahabatnya pada Robert. Salah satunya adalah mengalah. Itulah yang bisa dilakukannya. Terserah mau bagaimana papinya membuat kehidupannya. Rasanya capek selalu bertekak dan dirinya juga yang kalah.


"Cepat sehat. Papi tidak bisa lama. Papi harus kembali."


Ara tidak menjawab. Ia juga tahu jarak Indonesia dan Belanda itu jauh. Dan merasa tersentuh juga perjuangan papinya demi melihatnya.


"Katanya sudah mau mantap di Indonesia. Kenapa masih ke Belanda?"


"Hanya sementara waktu. Setelah urusan di sana beres Papi kembali lagi."


"Hm."


"Yah udah papi pergi ya. Jangan bertingkah konyol lagi. Sayangi dirimu."


"Hm "


Setelah mencium kepala putrinya, Robert keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Jangan izinkan dia bertemu mereka. Bila perlu hajar mereka hingga kapok."


"Iya Pak.


Robert mengendarai mobilnya ke sebuah apartemen dimana ia tinggal. Setelah tiba di rumahnya, ia duduk di sofa dengan wajah lelah. Bersender sambil menengadahkan kepalanya ke langit langit rumah.


"Sepertinya wanita itu mulai berani. Keinginannya harus segera dipotong agar tidak makin maju." Ujarnya sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Melihatnya saja membuatku muak dan hendak mencekiknya hingga mati." Geramnya dengan mata sarat amarah.


***


Leo termenung di ruangannya. Pikirannya sedang terganggu atas pemintaan maminya.


"Jangan pernah menemui tiga wanita itu. Mereka bagai ular yang hendak mematuk mu. Kamu bukan pria bodoh. Tahu yang baik dan yang berbahaya. Mereka hanya ingin menghancurkan mu. Jauhi mereka!" Itulah ucapan Meli kemarin. Saat menyampaikan itu Meli berapi api tapi sorot matanya mengandung ketakutan besar.


"Nama Dhira dan Vanya, mami tidak tahu. Tapi Ara? Aku tidak salah dengar. Pertama kali mereka bertemu di rumah, mami menyebut nama Ara. Artinya mami mengenal Ara. Siapakah kira kira Ara ini?" Leo mencoba menebak kenapa dan kenapa membenci tiga gadis ini.


"Mungkinkah mereka bertiga ada hubungan dengan keluarga kami?"


"Soal Dhira hanya dari keluarga biasa sepertinya bukan alasan nomor satu. Soalnya Nayla hanya gadis biasa dan yatim piatu bisa diterima mami. Dan selama ini mami tidak pernah mempersoalkan status seseorang. Bahkan temannya banyak dari kalangan biasa. Iya, pasti ada sesuatu antara Dhira, Ara, Vanya dan kami. Apa ya?" Leo mengerahkan otaknya menebak kemungkinannya.


"Jangan jangan..."


"Oh tidak! Apa mungkin?"


"Aku harus memastikannya." Leo menduga Ara atau Dhira punya hubungan darah dengannya. Mungkin adik yang dicarinya selama ini adalah salah satu dari mereka. Ia mengesampingkan nama Vanya karena menurutnya maminya paling anti pada Ara dan Dhira.


Jantung Leo berdebar memikirkan itu. Bagaimana jika Dhira adalah adiknya? Oh Tuhan ada apa ini? Jika Ara maka ia bisa tenang. Tapi bila Dhira? Bagaimana ia memberitahukan Dhira? kecemasan melanda Leo. Ia memutuskan akan melakukan tes DNA secara diam diam terhadap dua gadis itu.


Ketika ia ke rumah Dhira ia mengambil sikat gigi bekas Dhira dan Ara yang kebetulan ada di kamar mandi. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera menyuruh seorang dokter untuk memastikan DNA mereka bertiga.


Seminggu kemudian, dokter itu meneleponnya untuk mengambil hasil lab. Leo dengan terburu buru keluar dari ruangannya. Tancap gas ke rumah sakit.


"Ini hasilnya." Dokter itu memberikan tiga lembar kertas.


"Bacakan hasilnya! Aku ingin dengar secara akurat!" Ucap Leo dengan wajah tegang.


"Baiklah. Dari hasil ini ada dua yang hampir sama hasil tesnya. Bahkan sembilan puluh sembilan persen."


"Yang beda punya siapa?" Leo makin deg-degan.


Dokter itu menarik lembaran lainnya dan menaruh di atas kertas lainnya. "Namanya, Andhira. Hasilnya sama sekali tidak ada hubungan dengan yang dua ini."


"Oh benarkah?" Wajah Leo langsung sumringah harapannya tidak mengecewakannya.


"Sementara yang dua lagi memiliki hubungan yang sama. Satu atas nama Araysa. Tapi satunya lagi hanya inisial X. Kalau boleh tahu, X ini milik siapa?" Tanya dokter itu.


"Ini rahasia. Kamu tidak perlu tahu. Berikan semuanya. Jangan ceritakan soal apapun ke pada papi mami!"


"I-iya." Dokter itu hanya menjawab dengan dahi berkerut.


Dengan langkah semangat Leo meninggalkan rumah sakit dan menelpon Dhira.


"Halo" sahut Dhira dari seberang.


"Aku sudah minta izin pada Faris. Keluarlah! Temani aku ke suatu tempat."


"Hah? Apa maksudnya?" Dhira bertanya.


"Aku ingin mengajakmu ke luar. Sekarang juga."


"Tapi..."

__ADS_1


"Nggak ada tapi. Ini sangat penting. Tenang aja, Faris tidak akan reseh. dia sudah ku bekab agar tidak cerewet padamu."


"Apa nggak bisa nunggu pulang kerja?"


"Nggak bisa. Harus sekarang."


"Ada apa sih? Yah udah tunggulah. Kamu dimana?"


"Depan loby."


"Jangan di sana! Keluar agak jauh sana. Kalau nggak aku tidak mau datang."


"Oke. Cepatlah turun. Sekarang juga aku jalan ke luar."


Lima menit kemudian, Dhira sudah ada di mobil Leo.


"Ada apa? Kok mendadak banget?" Tanya Dhira. Ia terheran dengan wajah bahagia Leo. Senyum pria itu terkembang sempurna.


Leo tidak menjawab. Ia membungkuk ke arah Dhira dan memasang sabuknya. "Kita akan berkendara agak jauh. Jadi gunakan sabuk dengan benar."


"Mau kemana?"


"Kemana ya? Atau kita ke kampung mu?"


"Gila. Tiba tiba pulang?"


"Nggak papakan?"


"Ah nggak. Jangan aneh aneh. Kemana aja asal jangan ke Lampung. Ibuku bisa jantungan melihat anak perempuannya datang bersama seorang pria tanpa pemberitahuan."


"Benarkah? Yah udah kita ke suatu tempat aja. Mungkin aku harus sering menyapa ibu agar bisa ikut pulang."


Dhira menatap Leo dengan terheran heran. 'Ada apa dengan pria ini?' batinnya.


"Jangan menatapku begitu. Aku sedang bahagia saat ini. Aku ingin berbagi kebahagiaan ini bersamamu."


"Emm...emangnya ada apa?"


"Makanya aku ingin membawamu ke suatu tempat. Aku ingin bercerita sesuatu padamu."


"Terserah deh. Tapi jangan senyum terus. Fokus tuh ke jalan. Ntar nabrak gara gara senyummu itu."


Senyum Leo makin lebar bahkan ia tertawa pelan. Di raihnya tangan Dhira dan digenggamnya erat sepanjang jalan.


Ternyata Leo membawa Dhira ke sebuah vila milik keluarganya yang ada di tepi pantai terkenal di kota Jakarta Barat. Tempat indah yang ramai pengunjung dari mancanegara maupun domestik. Pantai yang terkenal dengan olahraga surfing karena ombaknya yang dahsyat.


Dhira merentangkan tangannya menghadap laut menghirup udara yang menyapu wajahnya hingga menerbangkan rambut pirangnya mengikuti arah angin.


"Belum pernah ke sini ya?" Leo berdiri di samping Dhira.


"Belum."


"Mulai sekarang setiap kepingin ke sini ngomong aja. Aku akan selalu ada untukmu."


"Hehe, enaknya punya pacar." Dhira terkekeh.


"Iya dong." Leo menarik tangan Dhira sehingga menempel padanya. Segera diambilnya ponsel pintar dari kantong celananya dan memotret mereka beberapa kali. Bahkan Leo meminta tolong pada salah satu wanita yang kebetulan lewat dari sisi mereka untuk memfoto mereka dari jarak yang agak jauh. Kesempatan itu tidak disia-siakan Leo. Di peluknya Dhira dengan berbagai pose bahkan menciumnya juga.


"Ihhh...pamer kemesraan!" Celoteh Dhira sambil mencubit pinggang Leo.


"Biarin. Kekasihku kok. Siapa yang keberatan?" Leo malah mengangkat tubuh Dhira dan membawanya berputar putar. Dhira tertawa tawa dengan perlakuan manis Leo. Wajahnya yang putih sampai memerah. Membuat Leo makin bahagia dan beberapa kali mencuri cium dari pipi ke bibir Dhira.


Setelah puas bermain di pantai, Leo mengajak Dhira ke vila yang terletak beberapa ratus meter dari bibir pantai. Ternyata semua sudah disiapkan Leo. Bahkan pelayan disana sudah menyiapkan makan siang untuk mereka. Tanpa menunggu waktu lagi mereka makan siang dengan lahap.

__ADS_1


Kini mereka telah duduk santai di balkon lantai tiga memandang hamparan luar air biru yang berlenggak lenggok menghantam pinggiran karang. Deru gemuruh ombak terdengar bising tapi membuat hati damai mendengarnya.


__ADS_2