
"Hm? Siapa?" Jhon malah bertanya dengan wajah bingung.
"Lelaki yang kau beri tumpangan barusan. Dimana dia?" Teriak Dhira.
Jhon langsung mengerti siapa maksud Dhira. 'kenapa dia kayak marah? Dan kenapa mengejar Papi? Tidak mungkin dia sudah tahu kalau pria yang dicarinya adalah papi Ara selama ini. Otak Jhon langsung berputar memikirkan kemungkinannya.
"Kenapa diam saja! Katakan, kemana dia?"
"Ah pria tinggi berjas hitam?" Tanya Jhon.
"Iya. Dimana dia?"
"Aku menurunkannya di tengah jalan."
"Apa?" Dhira tak percaya hingga ia berteriak.
"Kau ini kenapa? Sangat aneh!" Gerutu Jhon. Aktingnya sungguh murni. Sehingga siapapun tidak akan tahu yang sebenarnya isi dari kepala dan hatinya.
"Siapa lelaki itu? Dimana rumahnya, atau kantornya. Kalau nggak aku minta nomor hpnya."
"Bagaimana caranya aku memberikannya padamu? Aku tidak tahu siapa dia."
"Jhonnnn...!" Pekik Dhira. Wajahnya memerah menahan amarah merasa dipermainkan. "Siapa dia? Dan dimana dia?"
"Dia hanya menumpang di mobilku. Aku tidak sempat bertanya siapa dia." Wajah Jhon begitu polos. Mungkin siapa saja yang melihat ekspresinya tidak akan ragu. Tapi berbeda dengan Dhira. Ia sama sekali tidak percaya. "Memangnya ada apa? Apa kau mengenalnya?" Tanya lagi semakin memperkuat aktingnya.
"Dia memiliki sesuatu milikku. Aku hanya mu mengambilnya!"
"Sesuatu? Ah, cobalah cari di sekitar toserba Famili. Aku menurunkannya di sana. Kalau nggak, di restoran itu. Dia sempat bilang restoran itu adalah miliknya. Dia pasti akan sering berkunjung ke sana." Jhon semakin mengecoh Dhira.
Dhira mengeratkan giginya. Mata serta wajahnya mengeras, menahan diri. 'Kenapa harus berbohong. Memangnya siapa lelaki itu?' Tatapnya tanpa berkedip ke wajah Jhon.
Jhon berbalik dan berjalan menuju rumah. Meninggalkan Dhira yang masih menyimpan emosi.
"Tunggu!" Seru Dhira.
Jhon berhenti tanpa melihat Dhira.
"Kenapa kau santai santai saja, tidakkah keberadaan Ara penting bagimu?"
"Seperti yang kau inginkan dia sudah kembali ke orang tuanya." Jawabnya enteng.
"Ha...ha itu keinginan semua orang. Bukan hanya keinginanku. Ku kira kau akan memperjuangkannya seperti semangatmu saat dia baru hilang. Eh ternyata hanya sebuah bentuk kamuflase. Usaha menutupi kenyataan. Dasar para penipu!" Dhira sengaja memancing Jhon agar marah.
"Siapa kau mengurusi kami?" Mata Jhon melotot, tersinggung mendapat penilaian Dhira.
"Huh, kau pikir aku percaya denganmu?! Kau itu pembohong! Buktinya bisa membohongi semua orang selama dua puluh tahun lebih. Awas saja aku menemukan lelaki itu. Kau akan merasakan akibatnya!"
"Dasar kucing liar! Kerjaannya hanya mengeong tak karuan! Pergi kau! Suaramu itu menggangu ketenangan orang!" Usir Jhon.
Tanpa mengatakan apapun lagi Dhira pergi. Meski Dhira sudah duduk di dalam mobil dan siap melaju, ia masih berdiam dan menatap ke arah rumah Jhon Dafi balik pagar. "Kau pikir aku bisa dibohongi? Lihat bagaimana aku menemukannya! Awas aja kalian ada hubungannya dengan hilang ibuku! Awas sampai kenapa-kenapa ibuku! Ku bakar kalian semua! Perusahaan mu, namamu, dan rumahmu tidak akan cukup membayarnya!" Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, barulah Dhira pergi.
__ADS_1
Dhira tidak lagi kembali ke kantor. Karena tidak ada lagi dari jadwal kunjungan untuk hari ini. Berpikir ingin pergi ke rumah Rendra untuk mengetahui kondisi Ara. Tapi tidak jadi, ia memilih pulang ke rumahnya sendiri ingin tidur yang lama tanpa gangguan.
Sesampainya di rumah, ia langsung melempar tubuhnya ke ranjang. Tanpa membuka sepatu dan pakaiannya. Ia langsung terlelap dengan posisi tengkurap. Matanya sangat berat ingin segera beristirahat.
Leo tiba di depan rumah Dhira jam sembilan malam. Dadanya bergemuruh melihat mobil teman pria Dhira yang ditemuinya makan di restoran tempo hari, terparkir di halaman rumah Dhira. Kecemburuan langsung membakar dadanya. Sepertinya Dhira semakin liar dan sudah tidak seperti dulu selalu membatasi diri dengan orang lain terlebih pria.
Ada rasa ketakutan yang dalam. Takut Dhira bersungguh sungguh sudah tidak mau lagi menjalani hubungan dengan dirinya. Takut gadis itu sudah membuat keputusan untuk meninggalkan dirinya karena sudah menemukan pria lain.
Setelah beberapa menit menormalkan dirinya yang sempat dibakar emosi, ia turun dan nekad akan menyapa Dhira. Di bukanya pintu perlahan, tapi ternyata terkunci. Untung ia punya kunci duplikat sehingga bisa masuk. Dadanya bergemuruh hebat, membayangkan sepasang manusia menutupi diri di dalam rumah.
Jantungnya memompa lebih hebat setelah melihat di ruang tamu tidak ada orang. Segera ia berlari ke dapur. Tapi kakinya berhenti saat di depan pintu kamar Dhira. Pintunya tidak terkunci rapat. Tanpa berpikir dua kali ia mendorong pintu itu dengan keras.
Ia menarik nafas lega saat melihat hanya ada Dhira seorang di tempat tidur. Gadis itu tertidur dengan tengkurap diatas bantal guling dengan wajah menghadap ke pintu. Sementara kakinya masih memakai sepatu lengkap.
"Aku berusaha memikirkan apa? Dia adalah Andhira ku." Ujarnya menyesal telah mempunyai praduga yang aneh aneh terhadap Dhira. 'Jangan memikirkan hal bodoh itu lagi Leo. Bila Andhira tahu tentang kepalamu yang buruk, dia bisa marah.'
Ia mendekati Dhira. Lalu, perlahan dibalikkannya tubuh Dhira agar tidur dengan baik. Membuka sepatu juga kaos kakinya.
"Aku sangat merindukanmu." Leo berlutut di lantai sehingga wajahnya begitu dekat dengan wajah Dhira. Dikecupnya pelan dahi kekasihnya. Perlahan rasa berat dan rindunya hilang. Tak bosan bosan ia menatapi wajah Dhira sambil dikecupnya pelan-pelan. Karena takut kekasihnya terbangun, terpaksa ia berhenti dan memilih naik ke ranjang dan tidur di samping Dhira dengan posisi miring menghadap ke arah Dhira yang terlentang karena barusan di buatnya.
Dhira menggeliat pelan. Entah sudah berapa lama ia tidur. Yang pasti kini ia merasa lebih enakan dan segar. Terdengar adzan dari masjid. Ia mengerjap bingung sambil bertanya dalam hati sudah jam berapa. "Udah adzan, emangnya jam berapa ini?" Gumamnya.
Ia mengulet dengan posisi tengkurap. Ia paling suka tidur tengkurap menimpa bantal guling. Itu sebabnya bantal guling nya lebih besar dari ukuran biasanya agar bisa ditindihnya.
Leo yang berada dibawahnya menahan nafas. Bobot Dhira sangat berat apalagi setelah gadis itu menaikinya seutuhnya.
"Hahhh...rasanya malas bangun." Ia mengantuk-ngantukkan kepalanya ke dada Leo.
"Aaaakkkhhh...! Kau siapa?" Dhira berteriak dan melompat dari atas tubuh Leo. Ia berdiri sudah siap dengan kuda kuda.
"Eeemmm...ini aku. Ini masih subuh. Ayo tidur lagi."
"Kamu? Leo? Kenapa kamu bisa tidur di sini?" Dhira melompat ke ranjang. Di tariknya tangan Leo agar pergi dari ranjangnya. Tapi sedikit pun pria itu tidak bergeser. Sangat berat.
"Nggak tahu. Aku juga bingung." Sahut Leo masih memejamkan mata.
"Pergi! Ngapain tidur di sini?" Usir Dhira.
"Ngantuk banget Andhira. Tolong biarkan aku tidur. Aku baru saja tidur."
"Nggak ada itu! Pergi! Aku ini seorang gadis. Dan sendirian di rumah ini. Apa tanggapan orang padaku nanti. Warga di sini sangat disiplin."
"Biarkan saja. Kalau bisa, kita digrebek aja sama warga setempat. Biar kita dinikahkan segera." Leo mengintip sedikit lalu membuat kedua telapak tangannya seperti toa lalu berteriak pelan "Wiooo bapak-bapak, ibu-ibu kami berdua tidur seranjang! Tolong tangkap kami dan segera adili kami! Nikahkan kami segera!!!"
"Aku tidak bercanda Leo! Pergi nggak sekarang!" Teriak Dhira.
"Iya. Tunggu bentar. Kepalaku sakit. Dan ini tangan sama kaki ku kebas. Sakit di tidurin sama kamu." Keluh Leo sambil menggerakkan tangan dan kakinya pelan-pelan.
"Aku nggak mau tahu! Pergi sekarang juga!" Dhira mendorong Leo agar turun dari ranjangnya. Dan usahanya berhasil. Leo terjatuh ke lantai.
Dhira tidak peduli Leo kesakitan. Ia mengambil selimut dan menutup seluruh tubuhnya. "Cepat pergi!!!" Teriaknya dari dalam selimut.
__ADS_1
Sekitar tujuh menit berlalu, Dhira mengintip dari balik selimut. Ia penasaran. Sangat hening tanpa adanya pergerakan atau suara apapun. Dilihatnya Leo duduk bersandar di dinding dengan air muka sedih. Pria itu melamun.
Seketika, hati Dhira terenyuh. Leo pasti masih sedih sepeninggal Meli. Itu baru tiga hari yang lalu. Lelaki itu masih dalam masa berkabung. Keinginannya untuk mengusir Leo menjadi tersimpan di hatinya. Bagaimanapun pemuda itu baru berduka setelah hidupnya yang jungkir balik.
Dhira duduk dan bersandar di sandaran ranjang. Ia juga termenung. Ruangan itu menjadi sunyi bagai tak berpenghuni. Mereka berdua berdiam seribu bahasa hingga hampir setengah jam.
Leo bangkit dengan pelan dan duduk di tepi ranjang Dhira. Mereka saling bertatapan tapi hanya sebentar karena Dhira memilih menunduk.
"Waktu di rumah sakit, aku tidak melakukan apapun pada Mamimu. Aku hanya bertanya dua pertanyaan. Itupun aku berusaha selembut mungkin agar mamimu tidak syok atau drop."
Leo diam.
"Aku tidak berusaha menekannya. Dia meninggal bukan karena aku. Dia hanya sempat bilang ibuku masih hidup."
Leo mengangguk.
"Aku juga tidak ingin dia meninggal." Suara Dhira bergetar dan berubah jadi isakan. "Jangan kau pikir aku yang membuatnya kehilangan nyawanya," Tangis Dhira makin keras. Ia takut Leo berpikiran buruk padanya. Karena ancamannya selama ini.
Leo meraih bahu Dhira. Ia memeluknya. Sementara Dhira menangis makin kencang.
"Mami meninggal bukan karena mu. Itu sudah kehendak yang Maha Kuasa." Jawab Leo dengan suara bergetar juga.
Mereka sama-sama terisak.
"Mami menyuruh Kim dan dokter berbohong soal kesehatannya padaku saat sudah sadar. Mami mengalami luka dalam yang parah saat terjatuh dari atap. Dan dokter juga sudah tahu kalau mami tidak akan bertahan. Jadi bebaskan pikiranmu. Kamu tidak salah apapun."
"Huuu...uuuu...huuu..." Tangis Dhira makin keras. Jujur saja, sejak kematian Meli ia tidak tenang dan takut dituduh Leo telah sengaja melenyapkan maminya.
"Sudah, itu semua sudah terjadi. Dan itu adalah kehendak Tuhan." Ujar Leo, terdengar lebih tabah. Ia menghela nafas panjang sebelum bicara "Walau perbuatan mami tidak bisa termaafkan karena semua kesalahannya aku tetap menyampaikannya. Maafkan dia. Dia sekarang sudah berbeda dunia dengan kita."
Dhira diam. Ia tidak tahu ingin menjawab apa. Jujur saja hatinya belum bisa menerima permintaan Leo karena dirinya sendiri masih berada dalam keadaan kacau dan takut sehubungan ibunya yang belum ketemu.
"Aku tidak memaksamu. Tapi setelah menyampaikannya padamu hati ini lebih lega. Dan sekali lagi yakinkan dirimu, semua yang terjadi bukan salahmu." Lanjut Leo. Leo menggenggam tangan kedua tangan Dhira dengan hangat.
Dhira mendengar semua yang dikatakan Leo, tapi matanya tidak mengarah padanya. Sengaja menatap dinding kamarnya. Mereka berdiam diri lagi. Leo tidak mengharapkan jawaban dari Dhira atas permintaannya. Ia tahu betul bagaimana saat ini keadaan hati gadisnya itu.
"Hoaamm...rasanya masih ngantuk. Ini masih jam lima Lumayan tidur beberapa jam lagi." Tanpa permisi, Leo membaringkan tubuhnya di samping Dhira. Ia langsung memejamkan mata.
Dhira duduk dengan wajah keberatan. Tapi tidak ada kata apapun yang keluar dari mulutnya. Ia malah mengalihkan matanya ke arah Leo yang berada di sampingnya, menatap dalam ke wajah lelah lelaki itu. Wajah pemuda itu sekarang menjadi lebih tirus juga dipenuhi rambut halus yang mengelilingi dagu dan atas bibirnya. Biasanya wajahnya selalu bersih dan terawat. Mungkin karena kesibukan dan keadaan kacau yang terjadi akhir akhir ini, ia tidak sempat mengurus dirinya sendiri.
Akhirnya Dhira tidak tidur lagi. Ia turun pelan pelan setelah mendengar dengkuran halus dari hidung Leo. Pemuda itu benar benar tidur. Dengan hati hati Dhira menyelimutinya. Hatinya tetap mengalah terhadap pria baik itu. Terlalu jahat dirinya bila selalu marah dan mengusirnya.
Dhira menghabiskan waktunya membersihkan seluruh rumah. Entah sudah berapa lama ia tidak bersih bersih sehingga rumah itu sangat kotor. Tanpa terasa hari sudah terang. Ia membuka seluruh kaca jendela sehingga udara segar memenuhi setiap ruangan.
Setelah semua selesai, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia akan berangkat lebih pagi ke kantor dan akan memeriksa rumah Jhon juga. Ia ingin menangkap basah pria yang disembunyikan Jhon. Ia sangat yakin, Jhon berbohong. Dan lelaki yang menjatuhkan sapu tangannya itu adalah bagian dari keluarga Jhon.
Hingga ia selesai mandi, ia ke kamar untuk berdandan seadanya. Ia lebih tenang melihat Leo masih terpejam. Ia duduk di depan cermin dan mulai memoles wajahnya.
"Nggak usah cantik-cantik. Bikin hatiku tidak tenang." Suara Leo yang serak terdengar.
Dhira menoleh ke ranjang. Ia melihat Leo sudah duduk tanpa baju atasannya. Ia segera menarik pandangannya dengan wajah bersemu.
__ADS_1
Leo tersenyum. Tiba tiba otaknya berdenting ingin melakukan sesuatu. Ia bangkit dari ranjang dan berjalan mendekati kursi Dhira. Tiba tiba ia memeluk Dhira dari belakangan dan menyelipkan dagunya di lehernya.