
Dhira berhenti tanpa melihat ke arah Leo.
"Bagaimana keadaan..." Leo tidak melanjutkan pertanyaannya. Yang ingin ditanya nya adalah soal Ara adiknya. Tapi disimpannya dalam hati. Takut pertanyaannya membuat Dhira makin marah.
Dhira menghempas tangan Leo dari lengannya, lalu pergi dari sana. Ia bisa menduga apa yang ingin dikatakan Leo. Untung pria itu memahami dirinya sehingga tidak membuat emosinya makin tersulut lagi.
Leo berdiri dengan nafas panjang dan berat. Ia menepuk dadanya sendiri seakan menyuruh dirinya tetap tenang. Kekhawatirannya tentang Ara disembunyikannya demi tidak makin menyakiti hati Dhira. "Aku yakin kamu menjaganya dengan baik." Ucapnya dan berbalik kembali masuk di mana ibunya sedang di operasi.
"Cinta kalian itu sungguh terlalu rabung, berlebihan seperti di film film. Jelas jelas saling menyiksa tapi masih bertahan. Masalah ini akan semakin cepat selesai bila kalian melepas segala ikatan dalam hati kalian. Kau tersakiti, dia juga pasti tersakiti." Kim mengomel di samping Leo. Jika baru beberapa waktu lalu ia mendukung hubungan Leo dan Dhira, tapi tidak lagi untuk sekarang. Ia sudah melihat bagiamana keadaan Dhira saat bicara dengan Leo barusan. Gadis itu sangat kesakitan dan menyedihkan. Begitupun dengan sahabatnya.
Leo tidak menanggapi Kim. Ia tetap duduk dengan kedua tangan bersilang di dadanya dengan mata terpejam.
"Aku akan membatu mencari ibunya. Berikan aku fotonya!"
"Kamu pikir aku tidak berusaha mencarinya? Sudah dua bulan lebih aku berusaha." Tanggap Leo tanpa membuka matanya.
"Serahkan padaku. Aku akan menyisir seluruh daerah ini dengan bantuan geng Eye Night. Dalam dua hari wanita itu pasti sudah ditemukan."
"Aku sudah melakukan itu. Geng itu tidak menemukan apapun."
Kim cukup terkejut. Tidak menyangka Leo sudah melakukan cara yang dipikirkannya. Lalu wajahnya kembali menampakkan ide lainnya. "Minta bantuan Jordi. Pekerjaannya sebagai reporter bisa lebih teliti menemukan Amelia."
"Sudah. Setiap mayat dan wanita terlantar diperiksanya. Hingga hari ini belum menemukan apapun." Jawab Leo dengan kedua matanya terpejam.
Kim kehabisan kata-kata. Ternyata sahabatnya sudah berusaha semampunya. "Oleh karena itulah kamu lepaskan gadis itu. Bila benar, ibunya sudah meninggal dan itu ulah Tante, itu akan mengerikan." Ujar Kim hati hati setelah menghela nafas.
Leo bergeming. Tetap menutup matanya dengan wajah berkerut.
"Jauhkan dirimu darinya. Toh sudah berapa kali dia minta putus darimu. Saat itulah kesempatanmu bisa jauh darinya. Perkara ibunya biarkan waktu yang menjawab."
"Tidak usah ikut campur! Aku tahu apa yang kulakukan!" Leo membuka matanya dengan sorot tidak suka.
"Lalu bagaimana caramu mengatasi semua ini? Aku hanya memberimu saran. Seandainya benar ibunya telah dilenyapkan Tante, lalu apa yang akan kamu lakukan? Toh tidak bisa menghidupkan wanita itu lagi meski Tante dipenjara seumur hidup. Sementara Tante dan Ara masih butuh perlindunganmu. Jangan hanya memikirkan cintamu. Tapi pikirkan juga keluargamu. Itu juga demi kebaikan Dhira juga. Dengan hubungan kalian, dia hanya akan semakin tersiksa. Berada diantara benci dan cinta terhadapmu."
Leo tidak bisa berkata-kata lagi. Dalam hati ia membenarkan sebagian yang diucapkan Kim. Mungkin dengan mereka putus masalah ini akan cepat selesai. Tapi ia tidak rela melepas cintanya.
'Haruskah melepasnya?'
'Dengan berakhirnya hubungan kami, apakah akan membuat Andhira lebih baik?'
Dalam hati Leo mempertimbangkan saran Kim.
"Pikirkan baik baik. Aku tahu ini keputusan yang sulit. Tapi kamu harus bisa menyelesaikan masalah ini." Kim bangkit dari kursinya saat melihat dokter keluar dari ruangan ICU tempat Meli di rawat.
"Bagaimana keadaan ibu kami Dok?" Tanya Kim. Leo langsung ikut berdiri disamping Kim.
"Pasien sudah melewati masa kritis walau belum sadar."
"Apakah setelah sadar, ibu saya akan sehat kembali Dok? Tidak mengalami depresi seperti kemarin?" Tanya Leo.
"Soal itu belum bisa kami lihat. Setelah sadar, barulah bisa dipastikan."
Leo mundur dengan lemas. Ia sangat berharap saat bangun nanti maminya sudah sehat seperti sedia kala. Tidak berkelakuan aneh lagi. Dengan begitu Meli akan bisa mengatakan yang sudah terjadi.
__ADS_1
***
Di dalam mobil, Jhon tak henti hentinya mengeratkan giginya sambil menunggu Dhira muncul dari dalam rumahnya. Selama dua hari waktunya habis untuk menunggu gadis itu namun tak muncul muncul juga. Semalam ia berpacu ke rumah sakit jiwa begitu mendengar kabar yang menimpa Meli. Tapi ia tidak menemukan Dhira di sana. Ia juga pergi ke rumah sakit tempat Meli di rawat tapi tetap tidak menemukan Dhira.
Ia hanya melihat Leo yang menunggu diluar ruangan operasi. Selama itu, ia mencari informasi mengenai terlukanya Meli. Ia penasaran siapa yang menjadi musuh Meli selain keluarganya. Kabar yang di dengarnya sangat minim, tidak jelas dan memuaskan.
Sebuah motor memasuki halaman rumah Dhira. Jhon langsung bersiaga berharap itu Dhira. Dan harapannya terwujud. Ia melihat wajah Dhira begitu helm yang terpakai dikepalanya terbuka.
Dengan terburu buru ia turun dan berlari ke arah Dhira.
Mendengar derap langkah di belakangnya Dhira menoleh. Ia sangat terkejut melihat Jhon berdiri dengan wajah murka.
"Akhirnya kau muncul juga! Dimana Ara?" Bentak Jhon dengan wajah memerah. Kedua tangannya terkepal erat.
"Apa? Ara? Kenapa kau mencarinya padaku? Emangnya aku siapanya? Apa hubungan kami?" Tanya Dhira. Wajahnya terlihat sangat polos tanpa dosa.
"Kau benar benar wanita kurang aj*r! Kembalikan Ara!"
"Dia tidak ada padaku." Dhira melenggang meninggalkan Jhon memasuki teras rumahnya.
"Berhenti!" Teriak Jhon. "Mulutmu itulah yang bilang Ara ada padamu. Sekarang kau tidak mengakuinya?"
"Oh, hari itu ya. Itu hanya kebohongan, agar kau melepas Leo. Aku sama sekali tidak tahu kemana dia."
"Berengsek! Jangan mempermainkan ku! Jangan memaksaku berbuat diluar batas!" Jhon menarik leher Dhira dan mencengkeramnya dengan kuat.
Bukkk...
"Pergi dari sini! Jangan ganggu aku!" Usir Dhira.
"Kau!!!" Jhon melotot marah. "Kau pikir aku percaya padamu. Kau pasti kaki tangan Leo untuk merebut Ara dari kami!"
"Atas dasar apa? Tidakkah kau tahu, hari ini aku bahkan hampir membun*h Meli. Bagaimana mungkin aku bisa bekerja untuk mereka." Elak Dhira. Ia harus bisa membuat Jhon percaya padanya agar musuhnya tidak bertambah.
Jhon mengernyit. Benar seperti itulah isu yang didapatnya. Tapi, ia tidak mempercayainya. Yang ia tahu Leo dan Dhira adalah kubu yang sama dan sepasang kekasih. "Kau pasti tahu dimana Ara. Katakan! Anak itu tidak ada kesalahan apapun!"
"Aku tidak tahu! Apa kau tidak mengerti bahasa itu?" Gertak Dhira.
Jhon maju beberapa langkah. Matanya menatap Dhira penuh tanya. 'Sebenarnya kau ini siapa? Kenapa terkadang kau terlihat memihak pada keluarga Atmaja, lalu kadang pada kami? Apa sebenarnya maumu? Jika memiliki tujuan tertentu pada Leo, apa itu? Atau ada tujuan terhadap kami? Apa yang ada di kepalamu ini? Apa kau hanya pemburu uang? Tapi dilihat dari kehidupanmu kau bukan wanita matre. Lalu apa?' banyak pertanyaan yang tersimpan di benak Jhon. Ia sangat penasaran dengan Dhira.
Sebelum Jhon semakin dekat Dhira menjulurkan kakinya ke depan menyepak kaki pria itu agar berhenti. Dan berhasil, pria itu terjatuh karena tendangan di tulang kakinya. Karena sedang melamun, ia tidak memperhatikan gerakan Dhira.
Dhira belum puas. Ia melayangkan tangannya meninju pipi Jhon.
Pukulan kedua tidak dibiarkan Jhon mengenai dirinya. Secara tiba tiba ia juga melakukan gerakan membalas pukulan Dhira sambil tangannya menangkis kepalan Dhira. Ia mencoba mengapit tangan dan kaki Dhira agar tidak bisa bergerak.
Namun kekuatan Dhira yang disertai rasa kesal dari tadi membuat tenaganya lebih kuat. Tidak dibiarkannya Jhon menguasai pertarungan. Tangan, kaki dan tubuhnya bergerak lincah dan ringan menyerang Jhon.
Baku hantam pun terjadi lebih sengit. Jhon tidak membiarkan Dhira menang. Sebagai lelaki tidak terima seorang gadis mengalahkannya. Apalagi ia sudah tahu kemampuan Dhira. Tiga kali ini sudah ia melawannya.
Dhira tidak membiarkan Jhon menang. Ia sangat bersemangat membuat lelaki ini kalah telak agar tidak datang lagi mengusiknya. Bahkan berniat membuat lelaki itu mengalami sakit parah misalnya patah tulang. Setidaknya kalau lelaki ini tergelatak sakit, yang akan dihadapinya berkurang.
"Aaahhhh....!"
__ADS_1
Benar saja, detik berikutnya Jhon berteriak keras karena tangannya terbalik. Sepanjang lengannya itu diputar oleh dhira sembari mengkaratenya dengan keras.
Rasa sakit luar biasa dirasakan oleh Jhon. Tangannya serasa mau copot dari pangkal ketiaknya. Bahkan ia berusaha mengangkat tangannya, namun tak berhasil. Lengannya menggantung lemah. Sepertinya sendinya terlepas.
Dhira belum berhenti. Ia masih menyerang Jhon tanpa rasa takut atau bersalah. Pukulan tangannya telak mengenai leher belakang Jhon. Hingga membuat pria itu rubuh ke lantai.
Melihat Jhon tidak bisa lagi melawannya, Dhira berhenti, dan berjongkok disamping Jhon. "Aku bisa saja membun*hmu saat ini. Tapi aku bukan orang kejam. Jangan sekali lagi menampakkan wajahmu dihadapan ku. Atau kesabaran dan kebaikan ku hilang, tanpa sadar mencab*t nyawamu!"
Jhon terbatuk batuk dengan nafas tersengal. Dalam hati ia merutuki dirinya. Sebenarnya ia tidak sungguh sungguh menyerang Dhira. Beberapa kali kesempatannya memukul telak, dilewatkannya begitu saja. Ia merasa tidak tega menghajar seorang gadis. Beberapa kali kaki dan tinjunya menghampiri dada dan perut Dhira. Tapi tangannya seperti segan melakukannya.
Tapi ternyata dirinya lah yang menanggung rasa sakitnya. Dhira benar benar membuatnya kalah. Astaga apa yang ada di otakku ini? Jelas jelas wanita ini tidak bisa di lembutin, malah aku sengaja membuat diriku seperti orang bodoh. Dasar tidak jelas!' Jhon mengumpat pada dirinya sendiri seraya berusaha bangun. Tapi kaki dan tangannya bagia tak bertulang, ia jatuh lagi ke lantai.
"Pergi dari sini! Kalau tidak aku akan membuatmu cacat seumur hidupmu!" Kecam Dhira dengan wajah memerah.
"Huh, kau jangan terlalu sombong! Hanya karena kau seorang wanita makanya aku tidak tega padamu. Coba kau laki laki, sudah terlebih dahulu ku buat kau tidak bisa bergerak!"
"Itu persolan mu sendiri. Sekarang kau pergi!!!" Dhira menyepak pinggang Jhon dengan keras.
Jhon menahan nafas karena sakit di pinggangnya. Serasa tubun nya lumpuh. Dengan tertatih ia bangun dan duduk. Bertahan sekarang ini bukan pilihan baik. Tubuhnya sudah terlanjur banyak luka. Tangan dan pinggangnya pasti keseleo. Bahkan lehernya terasa mau patah. Ia mau melawan seperti apapun hanya akan semakin membuat tubuhnya sendiri terluka parah.
Dhira membuka pintu rumahnya lalu masuk dan menghapuskan pintu itu dengan sangat keras dan menguncinya dari dalam. Membiarkan Jhon yang masih duduk dengan menahan sakit.
"Maafkan aku Jhon. Aku tidak bisa memberitahukan mu tentang Ara. Aku membutuhkannya demi nyawa ibuku." Ujarnya sambil mengusap wajahnya. Ada rasa bersalah di hatinya begitu tega pada Jhon. Ia tahu Jhon menyayangi Ara meski mereka bukan kakak beradik kandung. Dalam hati ia mengakui Jhon mengalah padanya. Ia sudah melihat cara berkelahi pria itu saat melawan Leo. Jhon pria kuat dan lincah.
Jhon bangkit dari lantai dengan perlahan. Seluruh tubuhnya serasa remuk dan hancur. Ia meringis saat sudah berdiri sambil mengusap pinggangnya yang sakit.
"Dasar gadis bagai singa bunt"ng! Galak dan tenaganya berpuluh kali lipat." Umpatnya dalam hati sembari meninggalkan rumah Dhira.
Ia duduk di mobil dengan wajah mengeras. Rasa sakit di pangkal lengannya makin melilit. Akhirnya dibiarkannya saja tangan kanannya itu menggelantung tak berdaya di sisi tubuhnya. Hanya tangan kirinya yang memegang setir. Selama diperjalanan menuju rumahnya tak henti henti ia meringis sambil berteriak kesakitan.
Setelah tiba di rumah, ia langsung diobati dokter keluarga mereka. Saat di jalan ia sudah menelepon dokter itu agar datang ke rumahnya segera. Sebenarnya dokter itu menyuruhnya datang ke rumah sakit. Namun ia ngotot di rawat di rumah saja. Ia paling benci berbaring di rumah sakit.
Terpaksa malam itu,dua orang dokter dan dua orang perawat serta satu orang ahli sangkal putung membantu mengobatinya.
Kini ia sudah mulai tenang setelah barusan berteriak kesakitan saat diobati. Ia terbaring lemah dengan wajah lelah. Ia harus istirahat total selama pemulihan persendiannya.
"Tolong ambilkan ponselku!" Pintanya pada dokter yang masih setia duduk di tepi ranjangnya.
"Usahakan tangannya jangan bergerak dulu. Bila kau bisa menahannya tiga hari kemudian mungkin sendi mu sudah bisa normal kembali."
"Apa? Selama tiga hari aku harus berdiam? Kenapa lama sekali?" Bentak Jhon. Bagaimana ia akan berdiam diri di ranjang sampai tiga hari?
"Begitulah cara menyembuhkannya. Jika pengobatan ini gagal, kemungkinan kau akan menanggungnya seumur hidupmu."
"Aaaa!!! Kenapa jadi begini?" Jhon sangat frustasi. Dengan tangan kirinya ia menghubungi Robert. Namun hingga saat ini, tidak sekalipun ia berhasil menghubunginya.
'Papi, kemana sih? Sudah seminggu lebih Ara menghilang.'
'Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Apa mungkin papi tidak memperdulikan Ara lagi. Apa papi sudah merelakan Ara kembali pada keluarga Atmaja? Apa maunya papi ini. Sangat membingungkan.' Jhon hanya bisa berbicara dalam hati.
'Apa dibiarkan saja begini ya? Nanti aku sok ngurusin semuanya jadi salah pula. Hahhh...papi maunya apa sih?' Lagi lagi dikirimkannya pesan. Itu hanya di baca tanpa dibalas. Semua pertanyaannya juga laporannya hanya di baca tanpa balasan.
***
__ADS_1