
Merasa terintimidasi dengan tatapan orang yang di sekitarnya, Meli berlari ke arah toilet. Ia tidak bisa sembarangan bicara membahas pembunuhan itu.
Di waktu yang bersamaan, Robert baru tiba di perusahaan. Karena ia melihat Meli, ia tidak jadi turun. Ia lebih baik menunggu di mobil hingga wanita itu pulang. Tapi melihat wajah Meli seperti kebingungan dan berlari ke arah toilet, entah kenapa kakinya ingin turun ingin tahu apa yang dialami Meli.
Ia menuju toilet dan terdengarlah suara Meli dari dalam.
"Dengar, aku bukan mesin uang. Yang bisa memproduksi uang sebanyak banyaknya. Lima juta itu, aku sampai menjual semua perhiasan yang ku miliki dan menguras uang tabunganku. Apalagi lima puluh juta! Kamu sangat tidak masuk akal. Tolonglah, jangan menekan ku seperti ini."
"Aku tidak mau tahu. Pokonya besok pagi letakkan lagi uang sebanyak lima puluh juta di tempat yang sama. Kalau tidak jangan salahkan aku, kamu masuk penjara."
"Heh bodoh! Memangnya kalau aku masuk penjara apa kamu bisa bebas seperti khayalan mu? Aku juga akan menyeret mu ikut ke penjara bersamaku."
"Di rekaman ini hanya ada kamu sebagai pelaku. Tidak ada bukti! Hanya kamu yang akan mendekam di sana. Aku sudah mengatur segalanya agar hanya kamu yang tertangkap."
"Dasar penipu! Tunjukkan wajahmu! Jangan bersembunyi! Enak aja kamu tinggal minta minta uang dariku!"
"Yah udah, kamu tinggal pilih sediakan uang besok pagi kamu bebas, atau pilihlah masuk penjara seumur hidupmu."
"Aku tidak ada uang!" Teriak Meli.
"Itu urusanmu. Bye.. sampai jumpa uang, besok ku tunggu!"
"Tunggu!" Bentak Meli terburu buru. Takut sambungan telepon mati.
"Apa? Katakanlah..."
"Tapi setelah yang ini berjanjilah tidak akan muncul lagi. Tidak akan meminta apapun lagi!"
"Oke...bos. aku berjanji."
"Serius! Setelah lima puluh juta, aku tidak punya apa-apa lagi. Jika kamu masih memintanya lagi, lebih baik aku bunuh diri dan hantu ku akan balas dendam padamu!"
"Itu tidak akan terjadi. Sayang wanita secantik dirimu mati bunuh diri. Aku serius, tidak akan muncul lagi. Lima puluh juta yang terakhir selamanya."
"Oke. Akan ku usahakan uang sebanyak itu. Entah kemana aku harus merampok demi mu!"
Pembicaraan selesai.
Sebelum Meli keluar, Robert berlari keluar dan masuk ke mobilnya.
Lalu ia melihat Meli keluar dan pergi bersama mobilnya dengan terburu-buru. Tidak seperti biasanya, mencari hingga ke dalam dan keruangan nya. Atau menunggu lama di depan perusahaan.
Masih penasaran, ia mengikuti Meli. Mengikuti mobilnya kemanapun. Ternyata perjalanan cukup jauh. Memakan waktu satu jam lebih.
Di sebuah taman, Meli berhenti. Robert juga terus mengikutinya. Ia turun dan ingin tahu siapa yang ditemui Meli. Sebenarnya dalam hatinya, berharap Meli bertemu Araysa. Dan bisa menjadi jalan bagi ya bertemu dengan gadis yang tiap hari makin dirindukannya itu.
Dari balik sebuah rimbunnya bunga, ia bisa mendengar pembicaraan Meli dengan suaminya Rudy.
"Ada apa? Setelah hampir empat tahun berlalu kamu ingin bertemu denganku." Tanya Rudy dengan dingin.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang penting. Ini sangat genting."
"Apa hubungannya denganku? Aku sudah ditunggu putraku di rumah. Aku harus segera pulang."
"Sebentar aja. Aku butuh uang." Ujar Meli tanpa basa-basi.
"Hah? Bukankah orang tuamu orang berduit. Kenapa kamu malah terlihat seperti seseorang yang miskin?"
"Aku butuh lima puluh juta. Tolong pinjemin aku. Dalam dua bulan aku akan memulangkannya."
"Tidak salah? Bagaimana mungkin papi mamimu menelantarkan mu tanpa sepeser uang pun. Bukankah kamu itu emas permata yang paling berharga buat mereka?"
"Jangan banyak cincong. Selama menjadi istrimu aku tidak pernah meminta apapun. Aku hanya minta cerai darimu. Baru inilah aku minta uang darimu!"
"Dengar soal cerai, aku juga ingin menceraikan mu. Tapi orang tuamu yang memohon dengan air mata padaku agar kamu tidak pernah ku lepaskan. Tanyakan pada mereka apa alasannya!"
"Iya aku tahu. Sekarang jawab, bisa nggak kamu meminjamkan uang sebanyak itu?"
"Kalau kamu butuh, ambil ke rumah. Aku tidak bawa uang sebanyak itu."
"Pikirkan caranya! Aku tidak mau ke sana!" Wajah Meli berubah jengkel.
"Huh dasar wanita egois! Untunglah putraku sangat baik tidak pernah bertanya dimana dan siapa ibunya. Seandainya dia bertanya, sangat memalukan memberitahunya ibunya adalah seorang wanita sepertimu!" Tunjuk Rudy ke wajah Meli.
"Terserah apa katamu! Aku tidak peduli. Salahmu kenapa sampai kamu menghamili ku waktu itu!"
"Sungguh wanita gila! Tapi ada baiknya kamu tidak muncul di hadapan putraku. Dia bisa malu punya ibu sepertimu!"
"Pikirkan sendiri! Jika sudah kamu putuskan baru ku kirim." Rudy pergi meninggalkannya.
"Hei tunggu! Lemparkan aja nanti malam jam sepuluh ke depan rumahku! Aku akan menunggu di sana."
"Bodo! Aku tidak sudi lewat depan rumah mu!"
"Pokoknya ku tunggu. Jika uang itu tidak ada, lihat bagaimana aku mengganggu hidupmu yang tentram itu."
"Cihhh...! Wanita gila!" Maki Rudy sembari pergi.
Meli tidak menjawab lagi. Ia memilih diam asal uang yang dibutuhkannya datang. Ia berdiri bersender di batang pohon sambil merenung. Mungkin sedikit banyak ucapan Rudy mampu mengganggu pikirannya.
Di balik pohon, Robert geleng kepala mendengar pembicaraan dua orang itu. Ia makin tidak menyukai Meli dari sifatnya yang sangat egois. Ternyata ucapan Handoyo benar. Meli memang sudah punya suami dan anak. Tapi tidak pernah diakuinya. "Bahkan putra sendiri pun tidak diakuinya. Adakah orang sekejam itu? Sungguh tidak punya hati. Darah dagingnya sendiri pun tidak disukainya. Apa yang berharga dalam hidupnya kalau begitu." Ucapnya pelan.
"Untung belum terlanjur aku memperistrinya. Kalau tidak, hancur sudah hidupku." Ia pergi dari tempat itu. Hatinya sudah lega dan tidak penasaran lagi. Keputusannya meninggalkan Meli adalah hal baik.
Esoknya, Robert bangun dengan wajah segar. Semalam ia bermimpi berpelukan dengan Araysa sehingga ia seperti mendapat semangat baru.
"Araysa, dimana pun kamu berada semoga dalam keadaan baik dan sehat. Aku masih sangat ingin bertemu denganmu. Meski kamu sudah menjadi istri seseorang, aku ingin bertemu denganmu walau hanya sekali untuk meluruskan yang salah diantara kita." Setelah selesai memandang taman bunga di depan kamarnya, ia bersiap untuk ke kantor.
Seperti dapat semangat baru, ia bersenandung mulai dari mandi hingga sudah di mobil. Sambil menjalankan mobil pelan pelan ia masih saja bersenandung ria. Semenjak ia bermimpi tanggal tiga yang lalu ia sudah mengikhlaskan Araysa walau rindunya makin dalam. Bersama siapapun wanita yang dicintainya itu hidup, ia sudah mengikhlaskannya. Mungkin karena itu juga ia merasa seperti berhasil melepas beban berat dari hatinya. Tidak ada lagi dendam atau benci di hatinya. Ia akan menjalani hidupnya dengan hati riang dan berusaha menemukan yang terbaik.
__ADS_1
Saat di lampu merah, ia melihat seorang bapak bapak yang menjajakan batagor. Tiba tiba ia teringat perkataan pemilik kontrakan rumah Araysa mengatakan Abi berjualan batagor dan putrinya suka membantu setiap sore membuat bahan bahan batagor.
Entah kenapa ia ingin membelinya dan tanpa berpikir dua kali ia turun dan memesan seporsi batagor.
"Emmmm...aromanya sungguh menggoda. Apakah rumah Araysa setiap hari wanginya seperti ini?" Ia menepuk jidatnya sendiri dan tertawa kecil. "Aku kok jadi kurang kerjaan gini ya?"
Mamang penjual batagor hanya tersenyum melihat polah Robert. "Ini Mas."
"Makasih." Ujarnya masih dengan senyum terkembang. Ia kembali ke mobil berniat memakan batagornya saat sudah tiba di kantor.
Ia bersiap menjalankan mobil dan kali ini ia akan cepat agar segera bisa melahap batagor yang sudah sangat menggugah seleranya.
Tapi tiba tiba ia berhenti ketika melihat mobil Meli lewat bagai kereta api. Wanita itu seperti di buru setan. Lalu ia teringat dengan masalah yang menimpa wanita itu tentang perjanjian uang lima puluh juta. "Bikin penasaran! Apa sih yang mereka perdagangan kan?" Entah kenapa ia begitu ingin tahu. Ia memutar setir dan mengikutinya.
Ia melihat mobil Meli berhenti di depan sebuah warung nasi. Lalu melemparkan sesuatu berwarna hitam ke tong sampah lalu cepat cepat pergi. Tidak lama kemudian ia melihat seorang laki laki yang menggunakan topi sedang memunguti botol-botol plastik di pinggir jalan mendekati tong sampah tersebut. Begitu mobil Meli pergi jauh, lelaki itu bergerak cepat mengambil yang dibuang oleh Meli. Ia sangat yakin lelaki itulah yang meminta uang itu dari Meli.
Diperhatikannya terus langkah lelaki itu dan diikutinya hingga memasuki sebuah gang kecil. Karena mobil tidak bisa masuk ia nekad turun dan berjalan kaki mengejar lelaki itu.
Tibalah di sebuah rumah, lelaki itu langsung masuk. Sedangkan Robert mengintip dari balik jendela yang tingginya hanya sebatas dadanya.
"Hahaha...Untung beliung ini namanya. Sungguh aku bisa kaya karena telah diajak bekerja sama oleh wanita itu." Jac tertawa sendiri dan membuka plastik hitam pemberian Meli.
"Waooo...uang sungguhan! Tak ku sangka dia memberikan uang sebanyak ini. Dia sungguh kaya rupanya. Upah pertama sudah besar dua puluh juta. Kemarin lima juta, hari ini lima puluh juta lagi. Kipas duit duluuu ahhhh..." Ia mengipas wajahnya dengan uang seratusan yang terikat lima bagian.
"Oke, karena uang sudah cair, tentu harus berterima kasih padanya." Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Meli.
"Apa lagi? Belum puas? Kalau belum sekalian aku membunuhmu menyusul dua orang itu!" Terdengar suara Meli dari ponselnya yang di hidupkan loud speaker.
"Eh tunggu dulu! Jangan ngamuk ngamuk. Aku hanya mau bilang te-ri-ma-ka-sih. Aku sudah menerima uangnya."
"Silahkan dinikmati. Tapi ingat jangan pernah menghubungiku lagi!"
"Oke. Tidak akan pernah lagi." Jawab lelaki itu.
"Sekali lagi kamu ingkar janji, akan ku suruh orang lain membunuh mu dan melakukan hal yang sama dengan dua mayat yang kalian buang itu!" Kecam Meli.
"Ampun bos! Ampun...! Hahaha...tidak mungkin aku mau menjadi Araysa dan ayahnya. Itu mengerikan. Oh iya, bos tahu nggak? Temanku yang satunya, si Omeng, apakah dia pernah menghubungimu? Dia menghilang sejak malam saat membuang mayat Araysa. Sudah ku cari kemana-mana tapi tidak menemukannya."
"Makanya jaga sikapmu! Kalau tidak kamu juga bisa menghilang sepertinya kalau berani sekali lagi menghubungi ku!" Padahal, ia tidak tahu tentang lelaki itu sama sekali.
"Apa? Apa kamu membunuhnya juga?"
"Diam mulutmu itu! Jangan banyak tanya. Matilah sana!" Sambungan telepon terputus.
Sementara Robert yang berdiri di balik jendela, bagai orang tersambar petir mendengar pembicaraan itu. Tidak terlalu jelas namun nama Araysa yang mereka sebut bisa didengarnya. "Aku tidak salah dengar mereka membicarakan mayat Araysa."
Dalam sekali tinju jendela yang terbuat dari papan itu jebol oleh tangan Robert. Ia melompat ke dalam dan langsung menghajar lelaki itu tanpa ampun.
"Auhhh... hentikan! Siapa kamu! Kenapa tiba tiba masuk main kekerasan?" Susah payah lelaki itu mengeluarkan suaranya karena lehernya diinjak setelah terjatuh ke lantai.
__ADS_1
Mata Robert sangat merah digenangi air. Seluruh urat di wajahnya mengeras dengan bibir bergetar. Mulutnya komat-kamit ingin mengatakan sesuatu tapi sangat sulit baginya untuk memulainya. Hanya air matanya yang makin deras membasahi pipinya.
"Hei dasar orang gila! Apa yang kamu lakukan?" Lelaki itu berusaha memindahkan kaki yang menginjak lehernya.