
Karena waktunya sudah hampir habis, mereka mengantar pasangan baru itu ke bandara. Acara berpelukan yang mengharukan menghantar langkah Vanya dan Arga. Dhira dan Ara tersedu-sedu sembari melambai pada Vanya.
Semakin sepi yang dirasakan Dhira. Sahabatnya yang paling baik kini harus pergi menata kehidupan rumah tangganya. Entah kapan kesepian ini akan berakhir. Yang pasti selama Amelia belum ditemukan hanya kesepian yang menyelubungi hidupnya. Tolong, segeralah kabut kesepian menyingkir, gadis ini sudah terlalu lama berada dibawah selimut kesedihannya.
Setelah berpamitan pada kedua orang tua Vanya, juga pada Ara dan Leo, Dhira bersiap menaiki sepeda motor miliknya.
Leo menghampirinya, "Biar aku yang bawa. Kamu duduk dibelakang."
"Nggak usah. Aku bisa sendiri." Tolak Dhira. Entah sudah yang keberapa kalinya ia menolak Leo. Tapi lelaki ini tak bosan-bosannya menawarkan diri.
"Aku ingin bicara denganmu, Andhira." Leo menahan datang motor. Matanya sangat mengharapkan Dhira menurutinya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Awas tanganmu!" Dengan kasar, Dhira menyingkirkan tangan Leo.
Ingin sekali rasanya Leo menggendong Dhira membawanya masuk ke dalam mobilnya. Tapi masih ditahannya, terlalu banyak orang. Lagian, ia yakin Dhira pasti akan melawan dengan kemampuan bela dirinya. Bisa-bisa mereka jadi bahan tontonan orang orang. Dengan terpaksa, ia membiarkan Dhira pergi. Kedua tanganya terkepal keras karena menahan diri.
"Kak, pergi kejar dia. Aku akan pulang naik taksi." Ara menyemangati sang kakak.
Leo menatap adiknya dengan ragu-ragu.
"Sana...keburu dia hilang. Tenang aja, aku tidak akan kemana-mana. Aku pasti pulang ke rumah kita." Ara mendorong kakaknya.
Senyum Leo terbit melihat kesungguhan adiknya. Sebelum masuk ke mobil, ia menyempatkan diri mengusap kepala Ara.
Leo tancap gas ke arah jalan yang dilalui Ara. Melewati kendaraan lainnya berusaha menemukan motor gadis itu.
Hanya beberapa menit, Leo sudah menemukan motor Dhira. Gadis itu mengemudi dengan santai. Demikian pula dengan Leo. Ia memelankan laju mobilnya, dengan setia mengikuti Dhira. Diikutinya kemapuan gadis itu pergi.
Setengah jam perjalanan, akhirnya Dhira tiba di pantai. Pantai yang sama, yang sering dikunjungi oleh Robert. Tempat dimana Jhon dan Robert menyelamatkan dirinya. Tempat ini menjadi tempat favoritnya. Setiap ada waktu dan merasa butuh ketenangan ia akan datang dan menghabiskan waktu di sini.
Ia menyelusuri sisi pantai yang sangat panjang. Sengaja mencari tepat sepi yang tidak ada orang. Karena hari Minggu, pantai ini jadi ramai pengunjung. Ia harus lebih ke ujung lagi agar terpisah dari keramaian.
Ia menyenderkan motornya ke sebuah batang kelapa. Lalu berjalan kaki ke arah bibir laut. Ia duduk di pasir tanpa alas. Menikmati angin yang bertiup kencang dan suara ombak. Ditatapnya hamparan air yang terbentang luas tanpa batas di hadapannya. Pikirannya bagai terbang dan membaur masuk ke dalam air membuatnya tatapannya kosong. Tiupan angin yang lumayan kencang, memainkan rambutnya dan melambai-lambai menutupi dahi dan pipinya.
Leo berdiri agak jauh. Ia ingin membiarkan Dhira sebentar.
Dhira mengusap air matanya. Setiap kali ia mengingat ibunya ia akan menangis. Kesedihan dan ketakutannya akan membuatnya terisak.
"Ibuuuuu...." Panggil Dhira dengan suara yang sangat keras.
"Kembalikan ibukuuuu!!!!"
"Aku mohon...kembalikan ibukuuuu!!!"
Ia terus berteriak sambil mengusap air matanya. Saat merasakan kesesakan yang sangat dalam seperti sekarang, berteriak adalah obat pilihan terbaik baginya. Meski tidak ada jawaban atau sahutan, ia terus melakukannya hingga lelah. Setidaknya setelah ia lelah, ada sedikit keringanan telah mengeluarkan beban hatinya.
"Tolongggg...kembalikan ibuku...aku hanya ingin ibuku." Suaranya sudah pelan. Tapi air matanya masih saja mengalir.
Dhira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Membiarkan lama seperti itu. Memikirkan dengan cara apa lagi yang harus dilakukannya agar bisa menemukan ibunya. Ada penyesalan di hatinya kenapa ia harus membawa ibunya ke Jakarta. Seandainya ke kota lain mungkin saat ini ia masih bersama ibunya. Seandainya tidak menerima uluran Leo, seandainya dan seandainya. Andhira hanya bisa berandai-andai.
"Aaakhhh...!" Tiba tiba Dhira tersentak kaget, merasa sesuatu melilit tubuhnya.
"Ini aku." Ternyata Leo yang memeluknya dari belakang.
"Hahh lepasin!" Dhira mendorong dada Leo dengan sikutnya.
"Aku sangat tersiksa melihatmu seperti ini." Leo mengeratkan pelukannya. Ia menciumi kepala Dhira. Entah sudah berapa lama mereka tidak sedekat ini. Kerinduannya sangat dalam.
"Sebaiknya tinggalkan aku Leo. Aku tidak bisa melanjutkan apapun lagi bersamamu." Dhira berontak dengan mendorong Leo sekuatnya.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa tanpa mu." Sedikitpun Leo tidak bergerak meski Dhira terus saja berontak. "Hanya bersamamu aku hidup. Tanpamu aku tidak bisa melanjutkan hidupku."
"Leo!!! Apa kau tidak mengerti sedikitpun tentang keadaanku?" Intonasi Dhira naik bahkan terdengar membentak.
"Aku sangat mengerti. Karena itulah sedikitpun aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu ada untukmu." Sahut Leo. Ia mengurai pelukannya dan memutar Dhira agar berhadapan dengannya.
Dhira membuang muka begitu mereka berhadapan.
Tapi Leo sangat sabar menghadapi sikap Dhira. Ia menarik dagu Dhira dan memaksanya agar tetap berhadapan dengannya. "Bersabarlah sebentar lagi. Aku akan menemukan ibu."
Spontan manik mata Dhira berbinar. Ia melihat pancaran keyakinan dari mata Leo. "Kamu tahu dimana ibu? Katakan dimana? Apakah ibuku baik? Tidak terjadi apa-apa kan?" Bertubi-tubi pertanyaan yang terlontar dari mulut Dhira. Tanpa sadar ia memegangi lengan Leo dengan kuat.
"Baru sebagian informasi. Makanya tunggu sebentar lagi. Aku akan menyusut terus masalah ini."
Kedua mata sipit Dhira berbinar. "Katakan informasi apa yang kamu dapat." Semua kekakuan dan wajah dingin Dhira luntur seketika. Aku sangat ingin tahu."
Leo mengangguk, "Tapi berjanjilah satu hal."
"Iya. Katakan..."
"Jangan menjauhiku lagi. Dalam kondisi apapun, kita akan bersama."
"Iya. Aku berjanji asal ibuku kembali. Katakanlah apa yang kamu ketahui." Dhira tidak sabar ingin mendengar tentang ibunya.
Leo mendudukkan bokongnya di pasir, duduk sejajar dan berhimpitan dengan Dhira. "Selama ini aku selalu mengunjungi rumah sakit dan memeriksa tentang kejadian hilangnya ibu. Meski tidak pernah mendapat jawaban, aku masih rutin kesana menanyai siapapun yang pernah melihat ibu."
"Lalu semalam saat aku bertanya pada seorang perawat, seseorang memberiku sebuah petunjuk."
"Petunjuk?"
Yang dikatakan Leo memang benar adanya. Ia tidak pernah bosan mendatangai rumah sakit dan bertanya pada siapapun dan menunjukkan foto Amelia. Dan usahanya pun membuahkan hasil.
Wanita itu memperhatikan foto Amelia. Lalu menggeleng. Entah sudah yang kesekian kalinya ia selalu mendapat jawaban seperti itu.
Lalu bertanya lagi pada seorang wanita lainnya. Dan jawabannya masih sama.
Hingga seorang remaja yang duduk duduk di kursi tunggu memperhatikan Leo. Ia melirik ponsel yang ditangan Leo dan ia seperti memutar otaknya. Terlihat dahinya mengerut dan telunjuknya menekan keningnya beberapa kali.
"Om, wanita itu pasien di sini kan?"
Pertanyaan remaja itu bagai hadiah yang tak ternilai bagi Leo. "Iya. Dia ibuku. Beliau menghilang dari rumah sakit ini lima Minggu yang lalu. Apakah adik pernah melihatnya?"
Remaja itu mengangguk.
"Benarkah? Saat kapan dan berapa kali?" Tanya Leo. Dadanya berdegup kencang menantikan jawaban sang remaja.
"Sekali ketika memasuki ruang operasi. Setelah nenek saya keluar dari ruangan itu, ibu Om kulihat dibawa masuk ke dalam. Sepertinya dia juga hendak dioperasi."
"Oh iya, itu benar. Ibu ku waktu itu operasi transplantasi ginjal."
"Oh. Pantesan ibu itu lumayan lama di rumah sakit ini."
"Kamu melihatnya saat kapan lagi?"
"Hanya dua kali. Yang kedua saat dia..." Remaja itu berhenti dan nampak seperti memikirkan sesuatu.
Sementara Leo dengan sabar menunggu lanjutannya. Ingin sekali menyuruh remaja itu bicara cepat, tapi ia menahan diri demi membuat remaja itu nyaman dan bisa berbicara dengan yang sebenarnya.
"Dia sepertinya pingsan. Seorang lelaki sedang membopongnya dan membawanya pergi."
__ADS_1
"Seorang lelaki?" Tanya Leo. Kulit wajah Leo serasa sangat kencang, seakan saling tarik menarik karena tegang dengan ucapan anak remaja itu.
"Hum. Dia kelihatan panik dan berlari menuruni tangga darurat sebelah situ." Remaja itu menunjuk sudut yang merupakan tangga darurat turun naik gedung rumah sakit.
"Kenapa kamu bisa melihat mereka?" Tanya Leo hati hati. Ia tidak ingin membuat remaja itu menjadi takut sehingga tidak bisa menjelaskan lebih detail lagi.
"Waktu itu, aku sedang bosan berada di dalam. Saat nenekku tidur aku duduk di sana sambil bermain hp."
"Bisa jelaskan seperti apa lelaki yang menggendong ibuku?" Tanya Leo lagi.
"Eeee...dia belum seberapa tua. Tapi juga tidak muda lagi. Mungkin usianya sekitar empat puluh ke empat puluh lima. Ia menggunakan jam tangan mahal Richard Mille berwarna White Ceramic. Kalau wajahnya aku tidak seberapa melihatnya karena dia sudah keburu pergi."
"Apakah lelaki itu pernah datang lagi ke sini? Atau sebelumnya kamu pernah melihatnya?"
Remaja itu menggeleng. "Lelaki itu baru kali itu pernah ku lihat."
"Menurutmu lelaki itu orang lokal atau luar?"
"Dari tinggi badan, warna kulit, rambut dan posturnya sih iya. Dia sama dengan pria kebanyakan di sini."
"Begini, ini kartu namaku hubungi aku kalau kamu melihatnya lagi. Baik yang lelaki itu atau ibuku. Tolong ya dek, ini sangat penting!"
Remaja itu menerima kartu nama Leo.
Begitulah ceritanya bagaimana Leo mendapat informasi tentang Amelia.
Dhira bagai tertohok, kerongkongannya terasa serat dan sulit mengatakan sesuatu. Ia tidak bisa berkata-kata. Senang sekaligus takut. Itulah dirasakannya. Senang ada sedikit kabar tentang ibunya. Tapi takut akan pria yang membawa ibunya.
"Aku akan mencari pria pemilik jam tangan itu. Itulah saat ini petunjuk kita." Lanjut Leo.
"Ya Tuhan...semoga ibu baik baik saja. Aku sangat takut ibu sudah..."
"Sssttt...yakinlah ibu masih bersama kita. Kita pasti bertemu dan kembali berkumpul seperti dulu." Leo menyemangati Dhira. Feelingnya mengatakan Amelia masih hidup. Ia yakin itu.
"Aku mohon Leo, lakukan semampu mu agar ibuku kembali. Hanya kamu yang ku punya dan yang ku percaya." Tangis Dhira kembali tumpah.
"Iya sayang. Tanpa kamu minta pun, aku pasti akan melakukannya. Makanya kamu harus semangat dan menjaga kesehatan agar aku bisa fokus." Leo merengkuh bahu Dhira dan memeluknya. Diciumnya beberapa kali puncak kepala gadis itu.
"Dari penjelasan remaja itu, sepertinya yang menculik ibu bukan orang biasa. Jika dia menggunakan jam tangan yang sangat mahal, artinya dia adalah orang berkedudukan tinggi. Siapa sebenarnya yang mengincar ibu?" Dhira mengusap wajahnya.
"Itulah yang sedang ku selidiki. Kita tunggu sehari lagi, orang suruhan ku pasti sudah dapat informasi."
"Selalu kabari aku. Sekecil apapun itu infonya aku perlu tahu. Karena aku juga punya sedikit petunjuk."
"Petunjuk?"
"Iya." Dhira menceritakan saputangan yang ditemukannya dan kecurigaannya terhadap Jhon."
"Tunggu, alasan yang kurang tepat bila hanya secara kebetulan Jhon membantu lelaki itu. Kecuali lelaki itu terjebak dijalan atau posisi sakit. Dia patut dicurigai." Leo menelaah cerita Dhira.
"Aku sudah mengikutinya dan memeriksa kemanapun dia pergi. Tapi aku tidak menemukan apapun. Lelaki itu tidak pernah muncul."
"Kamu ingatkan wajahnya bagaimana?"
Dhira mengangguk.
"Bagus. Itu sangat membantu kita. Semoga salah satu dari wajah yang ditemukan anak buah ku, lelaki yang kami lihat itu ada." Ia menyuruh orang suruhannya memotret siapa saja yang memakai jam tangan mahal itu.
Rasanya Dhira tidak sabar lagi menunggu. Kali ini sungguh menggantungkan harapannya pada Leo.
__ADS_1
***