Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Mulai Nyaman


__ADS_3

Ara mengangguk sopan. Ia begitu terpesona dengan ketampanan pria didepannya.


"Pak Leo? Selamat sore Pak." Vanya yang lebih dahulu menyadari pria itu adalah Leo.


"Vanya? Andhira?" Leo pura pura kaget.


Dhira mengangguk. sambil menampilkan senyumnya.


"Kalian saling kenal?" Tanya Ara dengan wajah tanda tanya.


"Iya. Beliau CEO perusahaan tempat kami bekerja."


"Ohhh...kenalkan Pak saya Araysa." Ara tidak terlalu senang menyebut nama lengkapnya. Menurutnya itu seakan menunjukkan kesombongan karena dirinya putri seorang pengusaha terkenal dan kaya. Selain itu hubungan kekeluargaan Ara terbilang rahasia. Tidak banyak orang yang tahu kalau Ara dan Robert adalah ayah-anak.


"Leo Atmaja." Leo menyambut uluran tangan Ara tapi dengan mata ke arah Dhira.


Bunga yang baru mekar di hati Ara langsung mengicut dan berguguran ketika melihat tatapan Leo hanya berpusat terhadap sahabatnya. Ia tersenyum menutupi hatinya yang tiba tiba garing.


"Berbelanja?" Tanya Leo masih dengan tatapan ke wajah Dhira.


"Main aja Pak." Sahut Dhira. Tiba tiba saja pipi nya merona merah dipandangi terus oleh Leo. Ia merutuki dirinya dalam hati. Kenapa tiba tiba begitu? Sedari hari itu ia tidak menampilkan reaksi seperti ini kok.


"Tolong jangan panggil 'Pak' kalau di luar kantor atau luar jam kerja. Risih dengarnya. Biasa aja panggilannya." Ujar Leo masih dengan tatapan menjurus ke Dhira. "Kamu juga Vanya. Panggil nama atau apalah asal jangan panggilan resmi."


"Baik..." Jawab mereka berdua bersamaan.


"Kebetulan aku sedang sendirian, gimana kalau kita ngopi dan mengobrol."


"E..." Dhira mencari alasan untuk menolak.


"Sambil membicarakan yang menyekap mu hari itu."


"Apakah Ba...eh Anda...ups..." Dhira menutup bibirnya bingung akan memanggil bos nya itu seperti apa.


"Ada sedikit informasi." Leo langsung menjawab, tidak membiarkan Dhira makin kaku.


Dhira dan Vanya saling menatap. Kemudian beralih ke Ara.


"Itu bagus. Mari kita ngopi. Kami sangat penasaran apa motif si pelaku." Ara yang menjawab.


Jadilah mereka pergi ke sebuah restoran yang ditentukan oleh Leo. Ternyata Leo memesan room private dan itu tentu mendukung obrolan mereka.


"Sambil makan bisa mulai kan membahas penjahat itu?" Ara yang paling tidak sabaran.


"Sebenarnya aku merasa tidak enak menceritakan ini pada orang banyak. Mungkin lebih baik membicarakan ini hanya pada yang bersangkutan. Karena sebenarnya pelakunya bukan orang lain."


"Kamu ini bertele-tele! Untuk apa membawa kami semua kalau memang begitu." Ara naik tensi. "Lalu apa maksudnya pelakunya bukan orang lain? Yang menyerangnya masih keluarganya?" Ara menunjuk Dhira. "Atau keluargamu?" Tuduhnya dengan tatapan tajam pada Leo.


"Bukan begitu maksudnya. Makanya biar ini semua jelas, aku harus berbicara dengan Andhira."


Ara menghela nafas kasar. Mulutnya sudah terbuka hendak mengatakan sesuatu, tapi dipotong oleh Vanya.


"Baiklah. Kami mengerti. Setelah makan kami berdua akan undur diri. Masalah itu bisa kami tahu dari Dhira nantinya." Vanya sebenarnya tahu kalau Leo ingin berduaan dengan Dhira. Ia sangat senang. Sejak Dhira bercerita kalau Leo begitu baik dan mengurus sahabatnya waktu penculikan itu, ia sudah menduga kalau Leo ada rasa pada Dhira. Momen ini tentu tidak akan dirusaknya agar sahabatnya bisa makin dekat dengan Leo.


"Tapi..." Ara tidak setuju.


"Sudah, nurut aja dulu." Bisik Vanya pada Ara sambil memainkan sebelah matanya.


Ara tidak bisa protes lagi. Ia mengalah dan mengikuti aturan Vanya.


Kini tinggal mereka berdua. Dhira sejak dari tadi hanya diam menunggu Leo memulai pembicaraan.


"Pelakunya Rendra."

__ADS_1


"Rendra? Pria itu? Serahasia itu sampai tidak bisa di dengar temanku?"


"Bukan rahasia sih. Tapi rasanya terlalu memalukan menceritakannya pada banyak orang. Istrinya bernama Nayla adalah adik angkatku. Kami tumbuh bersama dari kecil. Dia diurus oleh orang tuaku karena dia sudah yatim piatu dari usia dua tahun. Rendra adik iparku." Leo mengambil gelas berisi kopi dan meneguknya perlahan.


"Keluarganya berantakan. Baru menikah setahun tapi mereka tidak menjalani rumah tangga yang bahagia."


"Mungkin kamu sudah mendengar pertengkaran kami pas malam itu. Dia selalu cemburu padaku untuk hal yang sebenarnya tidak terjadi. Rendra tidak menyukaiku karena Nayla menyukaiku sejak remaja. Tapi aku tidak memiliki perasaan khusus apapun terhadapnya selain menyayanginya sebagi adik."


"Sebagai seorang kakak tentu aku menjadi lemah dan selalu mendengar semua keluh kesah Nayla. Dan itu menjadi sumber pertengkaran bagi suaminya."


"Nayla tidak mencintai Rendra. Dia hanya terpaksa menikahinya karena kesalahan yang mereka lakukan hingga membuatnya hamil. Menjalani rumah tangga yang bagai neraka membuat Nayla keguguran sekaligus terdeteksi mengidap penyakit kanker hati. Meski sudah sakit begitu, dia berkeras tidak mau diurus oleh suaminya."


"Pas ketepatan di hari kamu kecelakaan, Rendra tidak terima karena semua uang tabungannya aku ambil untuk biaya berobat Nayla juga untukmu. Aku nggak nyangka bakal menyerang mu."


"Yang menculik mu tempo hari itu Rendra pelakunya. Dia begitu takut aku ikut ke Jepang menemani Nayla operasi sehingga membuat rencana menyekap mu dan menyuruhku mencari mu saat mereka sudah di bandara. Itulah yang terjadi."


Dhira tidak bisa berkata kata lagi. Hatinya juga sedih mendengar nasib Nayla. Tapi masih marah mengingat Rendra yang begitu jahat padanya.


"Pastikan sekali lagi ipar mu itu tidak melakukannya. Atau aku tidak bisa mengontrol diri."


"Iya. Pasti ku sampaikan."


Hening sebentar. Kemudian Leo berdehem pelan "bagaimana soal kamu menjadi pelatihku. Kapan mulai?"


"Aku bahkan belum memikirkannya. Lupa, terlalu banyak kejadian."


"Hem. Tapi kurasa itu tidak sulit memutuskannya. Paling setiap pulang kerja berlatih beberapa jam. Terserah kamu seperti apa menghitung upahnya. Mau harian, mingguan atau bulanan aku setuju aja."


"Jangan langsung membicarakan upah. Kerja aja belum mulai." Dhira nampak berpikir dan memainkan jemarinya diatas meja.


"Apa tidak ada pelatih lain. Aku tidak sepandai pelatih pada umumnya."


"Mereka menyuruhku datang ke pusat kebugaran. Malas kesananya. Terlalu banyak orang." Leo beralasan kosong.


"Hari ini boleh."


"Di mana?"


"Terserah di rumahku bisa, di rumahmu juga boleh."


"Di rumahmu aja. Rumahku terlalu sempit."


"Oke. Aku mau ke kasir bentar."


Merekapun sepakat dan pergi ke rumah Leo.


"Tapi aku masih berpakaian seperti ini. Aku tidak punya ganti."


"Gampang kita beli khusus di rumahku agar tidak ribet harus pulang ke rumahmu."


"Itu pemborosan. Aku punya beberapa setel di rumah."


"Nggak apa-apa. Anggap saja sebagai tanda jadinya kerja sama ini."


Senja ini mereka mulai berlatih. Dhira mengajari Leo dari bagian dasar terlebih dahulu.


Selama beberapa hari meningkat ke tahap penguasaan. Ia cukup paham soal melatih karena waktu SMA ia menjadi asisten gurunya mengajar anak anak di sanggar.


Leo menikmati setiap harinya berlatih bersama Dhira. Sungguh kesempatan indah bisa selalu berada didekatnya. Diam diam dalam hati ia semakin menyukai gadis itu. Setiap mereka bersentuhan atau saling menatap adalah situasi paling disukainya.


Dhira juga sudah mulai nyaman dan menikmati pekerjaannya. Makin berkobar semangatnya bekerja mengingat bulan depan akan bertambah jangan


***

__ADS_1


Sebuah gedung pencakar langit yang sangat terkenal. Milik Robert Rabiga yang tak lain adalah ayah Araysa Rabiga. Sebelumnya nama perusahaan itu adalah RAB group. Namun lima belas tahun yang lalu diganti oleh Robert menjadi ARA group. Sebuah alasan kuat baginya untuk bertahan dalam prinsipnya semenjak memiliki Ara putrinya. Siapa sangka semenjak ia memegang dan mengganti nama perusahaan menjadi awal kesuksesan hingga menjadi sumber kekayaan yang luar bisa baginya. Perusahaan yang bergerak di bidang finansial atau bank ini bagai tiang pencaharian bagi masyarakat karena banyaknya pekerja baik dipusat atau cabang di berbagai daerah di Indonesia.


Usaha Robert sendiri bukan hanya itu, ia adalah investor terkenal dibeberapa perusahaan lainnya sehingga namanya cukup terkenal. Namun ia sendiri tidak pernah memperlihatkan atau mengekspos dirinya karena ia memilih tinggal di Belanda. Ia mempercayakan semuanya pada anak buahnya yaitu Jhon Federick yg ditunjuknya sebagai direktur ARA.


Bahkan tinggal bersama dengan putrinya jarang. Ara yang lebih memilih sekolah di tanah air menjadi jarak bagi mereka. Hanya ketika libur saja Ara tinggal di rumah papinya di Belanda.


Tapi sejak seminggu yang lalu entah apa yang membuatnya memilih kembali ke Indonesia dan akan tinggal bersama putrinya.


Di ruang olah raga yang bahkan luasnya dan peralatannya hampir sama dengan pusat kebugaran, Robert baru saja selesai olah raga. Tubuhnya yang proporsional, tegas kuat menampilkan kekuatan dan kesempurnaan sebagai lelaki meski sudah usia empat puluh tahun.


"Pak, saya sudah periksa nona Ara baru kenal dengan pria itu. "


"Apapun itu jangan biarkan mereka bertemu lagi!" Suara Robert begitu tajam.


"Baik Pak."


"Hari ini biar aku yang mengantar Ara kuliah. Jangan keluarkan mobilnya."


"Iya Pak." Asistennya itu bergerak tangkas saat Robert melempar handuk ke arahnya. "Pak, pekerjaan kantor hari ini agak rumit. Apakah Anda bisa ke kantor?"


Robert menatap asistennya Jhon dengan tatapan tidak suka "Kenapa setelah aku datang ke sini kau mengeluh? Selesaikan setiap masalah dengan baik seperti biasa dengan kemampuan mu. Anggap aku tidak ada di sini."


"Baik Pak." Jhon bukan tidak bisa menyelesaikannya tapi hanya segan kepada Robert.


"Ingat, selalu bekerja dengan bersih. Jangan menyimpang dari aturan ku."


"Iya Pak." Jhon menundukkan kepalanya. Itulah salutnya Jhon pada Robert. Tuannya itu selalu menjaga nama baik semua orang. Tidak pernah gegabah dalam bertindak. Selalu berpegang teguh pada kebenaran. Dan semua pekerja kepercayaannya selalu diterapkan prinsip seperti itu.


Robert menuruni tangga menuju ruang keluarga. Kakinya berhenti saat melihat Ara sedang bersantai menonton televisi sambil mengemil.


"Pagi pagi malas-malasan? Tidak ke kampus?" Robert duduk di samping Ara.


"Papiiii..." Ara memeluk tangan papinya sangat erat tanpa bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Rasanya kayak mimpi bisa tinggal bersama papi di rumah ini. Ku kira momen seperti ini tidak bakal datang."


"Hahaha...benarkah?" Robert mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Dari kecil, bahkan kecil sekali Papi sudah meninggalkan ku. Membiarkan aku sendirian bersama pengasuh dan kak Jhon. Aku sering kesepian dan menangis merindukan Papi."


"Tapi aslinya Papi sayang kan sama kamu. Papi sering pulang membawa banyak sekali mainan dan pakaian baru. Kamu aja yang cengeng."


"Aku tidak cengeng. Wajarlah aku sering menangis karena merasa sendirian tanpa ibu dan ayah. Aku sudah merasakan yang di sebut yatim piatu."


Raut wajah Robert berubah mendung. Bibirnya terkatup rapat tidak bisa mengatakan apapun.


"Aku sering berpikir, kenapa papi lebih memilih mengurus pekerjaan yang di Belanda dari pada yang di kota ini. Padahal seandainya memilih di sini dan mempercayakan pekerjaan yang di Belanda kita bisa tinggal bersama. Aku bisa bermain setiap sore dengan Papi."


"Anak baik...dulu pekerjaan yang di Belanda sulit diatasi. Harus Papi sendiri yang menangani agar bisa berkembang."


Ara menatap papinya dengan tatapan penuh harap, "Mulai sekarang berjanjilah tidak akan meninggalkan rumah lagi. Dan satu lagi aku bukan anak anak lagi. Putrimu ini sudah dewasa."


Robert memencet hidung mancung Ara dengan gemas. Sekarang ia hanya akan berfokus pada Ara, menata dan menempa Ara menjadi pewaris seperti dirinya yang mampu membimbing perusahaannya dengan baik kedepannya.


Pukul sembilan bapak beranak itu sudah bersiap pergi. Robert akan menjadi tukang antar jemput Ara. Ara sempat menolak mengatakan papinya terlalu berlebihan, tapi dengan tenang Robert mengatakan akan menggantikan seluruh waktu kebersamaan mereka yang sudah terlewati. Tidak bisa menolak lagi Ara hanya menuruti permintaan papinya.


Tapi ternyata itu hanya berlangsung selama beberapa hari, terpaksa Robert ingkar karena ada situasi yang harus ditanganinya.


"Jhon tetap awasi Ara. Jangan biarkan dia bertemu dengan sembarang orang!"


"Iya Pak."


"Selesai rapat dengan para dewan, jemput Ara dan kawal kemana dia pergi. Jangan terlalu memaksa, dia bisa marah dan membuat keributan."


"Iya Pak."

__ADS_1


__ADS_2