
Ia selalu menjaga Ara dengan ketat. Jangan sampai bisa didekati keluarga Atmaja. Itu sebabnya Ara tidak bebas berteman dengan siapapun.
Seperti itulah masa lalu yang terjadi. Kisah Robert dan Araysa, juga Ara yang seharusnya tumbuh ditengah keluarga Atmaja malah berada dibawah kekuasaan Robert.
#Flashback of#
Sepanjang Robert bercerita Ara hanya menangis dan menangis. Yang dialami papinya sudah seperti di film-film yang suka ditontonnya di bioskop. Ternyata bukan hanya di film ada kejadian seperti itu. Dirinya bahkan sungguh mengalaminya. Meski cerita telah usai, tapi tangis Ara belum bisa berhenti.
"Sudah...aku tahu kamu terguncang. Tapi bagaimanapun kamu harus tahu yang sebenarnya." Ucap Robert. Lelaki itu tidak menunjukkan sikap seperti biasa saat membujuk Ara. Robert terkesan dingin dan nampak membatasi diri.
"Sungguh aku tidak menyangka wanita itu adalah yang melahirkan ku." Ara masih tersedu-sedu.
"Lupakanlah semua yang terjadi. Jalani hidupmu dengan baik. Kamu adalah anggota keluarga Atmaja. Rudy adalah ayahmu dan Leo adalah kakakmu. Mereka pasti menunggumu. Selama dua puluh tahun mereka kehilanganmu. Kembalilah ke sana. Maafkan aku yang harus melakukan itu padamu."
Ara merasa dinding hatinya retak. Ia merasa di usir secara halus. Setelah kematian ibunya, Robert seperti tidak menginginkannya lagi. Dendam itu telah usai sehingga dirinya tidak dibutuhkan lagi. Tak terbendung lagi, air matanya tumpah kembali. Ternyata dirinya hanya sebagai transaksi pelunasan dendam antara Robert dan Meli.
"Jangan menangis terus. Aku sungguh minta maaf telah membuatmu mengalami semuanya."
Tangis Ara makin pecah. Ia merasa jaraknya dengan Robert sudah makin jauh. Kata maaf yang didengarnya seperti dari seorang yang bukan dikenalnya yang memasang pembatas terhadap dirinya.
"Aku sungguh tidak bisa berlama-lama. Ada hal serius dan sangat penting yang harus ku urus. Setengah jam lagi aku harus terbang. Ku harap kamu bisa mengerti keadaanku." Sambung Robert. Ia berdiri dan bersiap pergi.
Ara merasa Robert terang-terangan menjaga jarak. Cara bicaranya, juga sikapnya. Semakin hancur perasaanya. Bagiamana pun hatinya hanya mengenal dan menatap Robert sebagai keluarganya. Lelaki itulah satu-satunya yang menjadi pusat kehidupannya. Hanya lelaki itulah yang dikenalnya dengan baik dalam kehidupannya selama ini.
Robert berdiri dan menatap Ara sebentar. Tidak ada pelukan atau pamitan seperti biasanya. Lelaki itu berbalik dan meninggalkan Ara dalam diam.
Tik tik tik
Beberapa detik setelah pintu tertutup tangis Ara meledak.
"Haaaa...haaaaa...aaaaa..." Tangis gadis itu begitu memilukan. Ia merasa hidupnya hilang. Perginya Robert sungguh meninggalkan rasa berat yang luar biasa baginya.
Sementara Robert terus saja melangkah hingga terbawa lift turun ke bawah. Lelaki itu nampak biasa saja. Sangat jauh berbeda dengan keadaan Ara.
"Jhon, tangani semua hal di sini. Aku langsung pergi saat ini juga. Jangan lagi mengurusi Ara. Biarkan dia pergi. Jika kau masih mengurusnya, akan sulit baginya kembali ke keluarganya yang sebenarnya." Ucapnya di sambungan telepon.
Malam itu juga ia kembali ke Bali. Kota itu menjadi kota tempatnya yang paling betah ditinggalinya. Sampai semua pekerjaannya ditinggalkannya demi tinggal di kota itu.
Di hotel, Ara memutuskan untuk tidur di sana. Ia malas keluar. Mengurung diri sendirian lebih baik rasanya agar bisa lebih tenang.
***
Pagi harinya, Ara keluar dari hotel. Ia bingung akan melangkah ke mana. Kembali ke rumah Rendra hatinya malas, begitu juga ke rumah Dhira. Sementara ke rumah Leo rasanya janggal.
Sementara tempat lain ia tidak tahu sama sekali. Rumah bibi, paman, atau saudara yang lain. Ia tidak pernah bertemu dengan famili yang seperti itu.
Sedangkan uang sepeserpun ia tidak punya. Sungguh miris nasibnya saat ini. Baru tersadar untuk ongkos saja pun ia tak punya. Hatinya hancur meratapi nasibnya saat ini. Biasanya ia selalu bergemilang uang dan harta benda lainnya. Lalu tiba tiba semua itu menghilang dan benar benar merasakan tidak punya apa-apa.
Kemanakah ia harus pergi? Ingin menelpon pun tak ada ponsel. "Beginilah yang disebut hidup hampa? Tak punya apapun untuk bertahan hidup." Ujarnya dengan senyum getir. Kakinya melangkah tanpa tujuan. Bisa saja sih ia bertahan di hotel demi mendapat makan dan minum atau tempat menginap, setidaknya sampai dirinya benar-benar pulih dari guncangan. Tapi setelah putusnya hubungannya dengan Robert, ia merasa sudah terbuang dan tidak mau bergantung pada lelaki itu.
Di arah yang tidak terlalu jauh, Jhon yang berada di mobilnya mengikuti Ara. Ia sangat khawatir akan kondisi gadis itu. Sejam lalu Robert menyuruhnya memperhatikan Ara tanpa mengulurkan apapun. Lelaki yang menjadi ayahnya itu sebenarnya masih mengkhawatirkan Ara.
__ADS_1
"Lihat saja dia dari jauh. Selama dia tidak tersudut atau mengalami hal buruk, biarkan saja. Dia bukan tanggungan kita lagi."
"Tapi Pi, dia pasti sedih tiba tiba tidak lagi diterima di rumah kita lagi."
"Biarkan saja. Bagaimanapun dia harus kembali ke tempatnya. Hanya dengan begitu ia bisa cepat kembali."
"Dia tidak akan mudah masuk ke sana Pi, biarkan dia menjalaninya secara pelan pelan. Untuk sementara biarkan seperti semula. Dia syok dan takutnya tidak ingin kembali ke keluarga Atmaja."
"Yang terbaik untuknya adalah kembali. Semakin cepat semakin baik. Itulah keputusannya. Laksanakan dan jangan membantah."
"Apakah karena dia bukan anak kandung Papi, sehingga semudah itu melepaskannya?" Tanya Jhon. Ada terselip nada sedih di kalimatnya.
"Bukan. Bagaimanapun dia sudah menjadi bagian dari hidupku. Tapi, dia tidak bisa bersama kita lagi, Jhon. Semua sudah berubah. Ada yang lebih penting bagiku dari pada Ara. Ara masih punya keluarga yang bisa membahagiakan dia. Aku juga punya hidup yang perlu diperjuangkan. Kau adalah putraku. Ku harap kau mengerti maksudku." Tegas Robert.
"Baik. Maafkan aku Pi, bila membuatmu tersinggung."
"Sudahlah. Jadilah putraku yang seperti selama ini. Percayalah, aku sangat menyayangi kalian berdua. Doakanlah yang terbaik untukku, agar Papi bisa pulang secepatnya ke rumah." Suara Robert terdengar lirih.
"Iya Pi." Jhon jadinya merasa tidak enak hati. Belum pernah papinya bicara seperti orang lemah hingga minta di doakan. Ia merasa papinya sedang mengalami hal berat di Bali. Tapi ia tidak tahu itu tentang apa.
Jhon terus mengikuti Ara. Terlihat gadis itu berjalan tanpa semangat. Sudah empat jam ia mengikutinya. Tapi gadis itu tidak menemukan tujuan apapun.
Jhon berhenti saat Ara berhenti. Gadis itu berteduh di bawah sebuah pohon kemudian duduk bersandar.
Melihat itu, Jhon tidak tahan lagi. Ia sangat kasihan melihat kondisi Ara. Tidak bisa menyaksikan gadis itu lebih lama lagi, ia memutuskan untuk memberitahukan Leo. Ia takut bila lebih lama lagi, Ara mengalami hal buruk.
Dikirimkannya pesan pada Leo. Sangat singkat hanya mengetik beberapa kata.
Hanya itu lalu mengirim posisi Ara.
Dua puluh menit kemudian, ia melihat mobil Leo sudah datang.
Leo turun dan berlari ke arah Ara. Dadanya bergemuruh melihat Ara yang terpejam dengan pipi yang basah.
"Ara..."
Suara Leo yang pelan tidak bisa membangunkan Ara. Akhirnya Leo menggendongnya.
"Aaaa...lepaskan!" Teriak Ara begitu sadar ada yang menggendongnya.
"Ara. Ini kakak. Kenapa kamu tidur di jalan?" Tanya Leo.
"Kakak?" Tanya Ara. Ia berusaha turun dari gendongan Leo.
"Iya. Ayo kita pulang ke rumah!"
"Benarkah kau kakakku? Rasanya sulit untuk ku percaya." Ara merasa tidak yakin lagi. Yang mengaku ayahnya sudah mencampakkannya. Bagaimana bila yang mengaku kakaknya ini mencampakkannya juga suatu saat.
"Sangat benar. Kamu tidak boleh kemana pun lagi. Kamu adalah putri Rudy Atmaja dan adik Leo Atmaja. Kita satu keluarga. Dan tidak akan terpisahkan selamanya." Leo meyakinkan Ara. Ia tahu pasti adiknya itu terguncang dengan semua yang terjadi. Ia sudah menduga kalau adiknya sudah dilepas oleh Rabiga sehingga Jhon memberitahu kondisi Ara.
Tangis Ara tidak bisa ditahannya lagi. Ia memeluk Leo bagai seorang anak kecil yang takut ditinggalkan.
__ADS_1
Dari mobil, Jhon merasa lega walau pun tak seutuhnya. Melihat Ara memeluk Leo membuat hatinya kehilangan. Bila sudah begitu, maka seutuhnya, Ara akan menjadi milik keluarga Atmaja. Tiba-tiba ada yang terasa kosong dihatinya. Rasa kehilangan akan adik yang selalu membuatnya repot dari bayi hingga besar. Kini mereka sudah bukan lagi satu keluarga. Setelah mobil Leo meninggalkan tempat itu, ia pun pergi.
***
Seminggu sudah Ara berada di rumah Atmaja. Dirinya tak kalah dimanja dan disayang. Leo dan Rudy sangat menyayanginya dan sungguh mencurahkan segala kasih sayang mereka yang terhambat selama dua puluh tahun lalu.
Dan ia sendiri pun sudah menerima dirinya sebagai salah satu dari bagian keluarga Atmaja. Ternyata memiliki ayah dan kakak kandung itu berbeda rasanya. Ia lebih merasakan ketulusan yang dalam sehingga hatinya benar-benar damai.
Tak terasa waktu terus bergulir. Tatanan kehidupan sebagian orang sudah sesuai dengan keinginannya masing-masing. Seperti keinginan keluarga Atmaja bisa hidup bersama Ara.
Namun bagi sebagian orang kehidupan tetap tidak adil. Seperti Andhira yang belum juga menemukan ibunya. Ia terus melakukan pencarian sambil bekerja untuk melanjutkan hidup.
Hubungannya dengan Leo tidak baik. Ia tidak bisa menjalani hubungan yang manis dna mulus. Hatinya masih belum menerima hilangnya ibunya. Tapi Leo tak ada lelah dan bosan menemuinya. Segala perhatiannya dicurahkan padanya. Bukan hanya Leo, Rudy dan Ara pun demikian.
Malam Minggu, Dhira terkejut. Vanya tiba tiba datang mengenalkan suaminya Arga. Dan lebih kaget lagi, ternyata sahabatnya itu sudah hamil dua bulan.
Bukan hanya kejutan itu, ia juga kaget saat melihat Leo dan Ara juga datang.
Vanya merencanakan pertemuan itu karena ia tahu betul, Dhira tidak akan mau jika diundang ke rumahnya. Padahal acara ini penting baginya karena ia akan pergi ke Jayapura mengikuti sang suami. Akhirnya ia dan Ara sepakat akan ke rumah Dhira.
"Kamu menikah diam-diam aja. Tahu tahu sudah melendung." Gurau Dhira. Ia masih berusaha mengikuti suasana meski terlihat terpaksa.
"Gimana lagi lah. Keadaan yang bikin." Vanya memelototi suaminya. Sedangkan Arga hanya senyum-senyum malu.
"Hehe...habis kalau nggak gitu kamu nolak terus di ajak nikah!" Cicit Ara.
"Tadinya sih pengen nikah yang meriah. Bisa dihadiri saudara dan teman teman semua. Tapi...ah sudahlah, nggak usah dibahas lagi. Sekarang sebaiknya kita makan." Wajah Vanya memerah. Ia malu mengingat bagaimana dirinya bisa menikah secara mendadak.
"Gak apalah. Yang penting sudah sah." Celutuk Leo. Ia kelihatan betul mendukung Arga yang berhasil membuat Vanya menjadi miliknya seutuhnya.
"Iya. Terkadang harus melakukan yang ekstrim juga baru bisa mendapatkannya. Dari setahun yang lalu diajak nikah gak nurut-nurut juga. Pas sekali bikin jurus...hahaha...dia langsung memaksa ku harus nikah." Tawa Arga diikuti oleh Leo dan Ara.
Leo melirik ke arah Dhira yang hanya senyum masam.
"Dhi, kamu jangan seperti Vanya ya. Jadikan pengalaman, coba dia menuruti ku pasti keturutan keinginannya menikah megah dan disaksikan orang banyak." Ujar Arga.
Dhira mendelik. Apa coba maksudnya itu?
"Iya Dhi, ini harus dibikin pengalaman. Pokoknya seperti apapun rayuan lelaki jangan sampai terhasut. Mereka itu sangat pintar dan licik. Membuat keadaan menjadi tidak bisa ditanggulangi. Terpaksa deh menikah. Padahal aku masih ingin bebas. Bebas kerja, bebas jalan, bebas main, bebas pacaran juga." Mereka semua tertawa. Vanya sangat lucu saat mengatakan itu. Wajahnya yang chubby sangat menggemaskan. Ia baru hamil dua bulan sudah mulai gemuk. Bawaan auranya pun sangat enak dipandang. Ia semakin cantik dan bercahaya.
Mereka berbincang sangat lama. Sudah lama mereka tidak melakukan ini. Itupun kalau Vanya tidak pamit pergi, mungkin hal ini tidak terjadi. Karena Dhira sangat sulit diajak keluar rumah.
Suasana menjadi lebih hangat dan hidup. Itulah harapan Vanya dan Ara. Mereka berdua sebelumnya sudah membahas kekakuan persahabatan mereka. Kebetulan sekali ada momen ini, Vanya dan Ara pun merencanakannya.
Leo dan Arga berbincang banyak. Sesekali mereka tertawa dan kembali bicara serius.
Hingga malam semakin larut, para tamu Dhira pamit pulang. Ara sempat ngotot ingin menginap. Tapi ditolak mentah-mentah oleh Dhira. Ia tahu itu hanya akal-akalannya saja untuk mendekatkannya dengan Leo.
Dhira kembali merasa sepi. Sesaat ketika ada para sahabatnya ia merasa cukup terhibur. Ia bisa melupakan beban pikirannya untuk sementara.
Sebelum tidur pun, ia tak lupa berdoa akan keselamatan ibunya dan meminta segera dipertemukan. Bahkan ia sampai bernazar, jika dalam waktu dekat ibunya kembali dalam keadaan baik dan sehat, ia akan menyumbangkan empat bulan gajinya ke panti jompo sebagai ucapan terimakasih.
__ADS_1
Esok harinya ia ke rumah Vanya memberangkatkan sahabatnya ke Jayapura. Mereka menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu yang tersisa sebelum berangkat. Setengah jam kemudian datang Ara dan Leo.