Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Tidak Tahan Lagi


__ADS_3

Dhira tidak kuasa menahan tangisnya. Ada penyesalan di hatinya kenapa memaksa ibunya ikut bersamanya.


Seandainya ibunya tetap di Lampung, mungkin kejadian ini tidak terjadi. Ia menjadi teringat pembicaraan ibunya dengan bibi Ayunda soal masa lalu ibunya di kota Jakarta. Bisa jadi ibunya begini karena telah terkejut dan tidak siap melihat yang selalu dihindarinya selama ini.


Penyakit ibunya belum teratasi tapi sudah ketiban penyakit lain. Semoga yang dikatakan dokter benar adanya, Amelia kemungkinan akan sadar dalam beberapa hari. Semua tergantung dari diri Amelia sendiri seberapa kuat ia ingin kembali pada kesadarannya.


Awalnya dokter meminta keterangan laporan penyakit Amelia pada keluarga. Tapi Leo mengatakan itu tidak perlu. Lebih baik Amelia mendapat pemeriksaan dari awal lagi. Ia telah menghubungi pihak rumah sakit lama agar tidak membocorkan tentang Amelia kepada siapapun. Sebenarnya ia telah bersiaga soal keadaan Amelia. Ketika di Lampung, paman Bali telah mengingatkan dirinya agar menyembunyikan Amelia bila terjadi sesuatu yang tidak baik.


Beberapa Minggu aman aman saja membuatnya tidak melakukan apa apa.


Tapi sejak tadi saat hilangnya Amelia ia tidak lagi lengah. Ia akan melakukan apapun untuk melindungi Amelia. Dugaannya tentang Amelia memiliki sesuatu yang berhubungan dengan orang orang di kota ini tidak ragu lagi. Ia menyimpulkan Amelia dulunya berasal dari Jakarta.


Dhira dan Leo berubah seperti bukan diri mereka. Dhira berganti pakaian pria sementara Leo dengan pakaian biasa milik sopir taksi. Setelah mengurus semuanya mereka kini sudah duduk tenang di ruangan terpisah dengan Amelia.


"Entah apa yang ditakuti ibu di kota ini. Nyawanya seperti terancam." Tanya Dhira pelan.


"Masa lalu ibu ada di kota ini. Dan sepertinya belum terkubur. Masih timbul dan menjadi pencarian."


"Ibu terlalu rapat menyimpan rahasia ini. Sampai sekarang aku tidak atau apapun." Dhira mengusap wajahnya.


"Pasti ada alasan ibu melakukannya." Leo menggenggam tangan Dhira.


"Mulai saat ini kita tidak bisa sembarangan menemui ibu. Ibu harus bersembunyi agar tidak terlihat oleh mereka."


"Mereka? Siapa? Apa kamu menemukan sesuatu?" Tanya Leo.


"Itu yang mobil ku kejar sore tadi. Mereka mencari ibu. Aku mendengar percakapan mereka."


"Apa kamu mengenal mereka?"


Dhira menatap Leo. "Tidak. Aku baru melihat mereka." Ia merasa perlu merahasiakan Rendra dari Leo.


"Aku sudah menempatkan orang untuk menjaga ibu. Juga perawat khusus yang merawat serta mengontrol perkembangan ibu. Setelah ibu sadar, dan kondisinya sudah stabil, ibu akan menjalani operasi."


"Operasi?"


"Iya. Ibu sudah mendapat ginjal yang cocok dan aman. Semua sudah diatur para dokter. Kita tunggu aja ibu siap dioperasi."


"Benarkah? Oh terimakasih." Wajah Dhira berubah bersemangat. "Sekali lagi terimakasih." Raut wajah Dhira semakin optimis.


"Kamu tidak perlu bicara begitu. Itu sudah tanggung jawabku sebagai keluarga. Aku akan menjadi menantu ibu dan kamu akan menjadi istriku."


Dhira mengangguk dan membalas genggaman tangan Leo. Kemudian mereka berpelukan.


Subuh jam empat Dhira dan Leo pulang. Berat sekali hati Dhira meninggalkan ibunya di rumah sakit. Apalagi dirinya tidak akan bebas mengunjungi ibunya lagi. Tapi demi keselamatan Amelia, Dhira harus rela dan tegar melewatinya. Apalagi situasi saat ini rumah sakit ini adalah tepat aman bagi ibunya.


Tiba di rumah Dhira langsung menelepon Vanya ingin tahu soal ibunya.


Kemarin saat Vanya sudah tiba di rumah, Amelia meneleponnya. Mengatakan agar dirinya di jemput dengan tergesa-gesa.


Saat itu Amelia sedang menyapu rumah. Mendengar ada mobil berhenti di depan rumah, ia kira Dhira yang sudah pulang. Segera ia ke depan untuk membuka pintu. Namun tangannya menutup pintu lagi saat melihat tiga pria sedang melihat lihat ke arah rumah.


Ia mengintip lewat jendela kaca. Melihat gelagat para pria itu membuatnya ketakutan. Pikirannya langsung lari mengamankan putrinya dari dirinya. Ia berlari ke kamar mengambil foto foto dirinya dan Dhira, ponsel, obat dan berkas berkas dirinya serta Dhira bahkan sendal dan sepatunya juga di bungkusnya. Ia pergi lewat jendela samping lalu ke pekarangan tetangga. Untungnya pekarangan tetangganya cukup rimbun dengan bunga bunga sehingga aman dari tiga pria itu.


Tiga pria itu sudah berada di depan pintu rumah Dhira.


"Cari wanita itu. Kita pastikan mendapat sesuatu untuk ditunjukkan pada bos sebagai bukti. Tidak bisa dapat foto wajah wanita itu entah barang apapun yang bisa kita bawa."

__ADS_1


"Gimana memotret wajahnya kalau kita tidak bertemu dengan seorang wanita yang sudah ibu ibu di sini?"


"Iya. Lagian bos aneh. Mencari seseorang tanpa bermodalkan foto atau ciri ciri. Gimana mencarinya coba?"


"Sudah jangan banyak tanya. Sebentar lagi Dhira pulang. Pastikan kita mendapat sesuatu. KTP, kartu keluarga foto di dinding atau surat apapun." Bentak salah satu dari mereka membuat temannya diam.


Seluruh tubuh Amelia gemetar mendengar percakapan mereka. Ini yang ditakutkannya. Kejadian masa lalu yang belum kikis. Bagaimana kalau dirinya tertangkap. Maka identitas putrinya akan terungkap. Lalu setelah itu, apakah mereka akan selamat?


Kepala Amelia berdenging hebat. Rasa sakit yang luar biasa menghantam kepala dan telinganya. Ia mundur pelan pelan dengan kaki bergetar seakan tidak kuat menapak lagi.


Dengan tangan bertolak di pinggang sembari menggendong sebuah tas, ia terus berusaha menjauh dari tempat itu.


Ia berjalan menyusuri pinggiran jalan dengan menutupi kepalanya yang sakit dengan sehelai kain. Bahkan saking sakitnya ia merasa tidak bisa mendengar apa apa lagi. Hanya dengung hebat yang memenuhi telinga dan kepalanya.


Ia sempoyongan tapi terus saja berlari sejauh mungkin dari area itu. Ia mengikuti jalan yang sering ia lewati saat bersama Dhira dan Leo.


Beberapa kali ia terjatuh ke aspal karena kakinya yang lemas. Tapi ia bangkit dan berusaha bangun lagi hingga tanpa sadar ia telah berjalan cukup jauh.


Di depan sebuah restoran Amelia berhenti. Tidak kuat lagi melanjutkan langkahnya ia memilih masuk ke dalam dan langsung menuju ke toilet.


Di dalam toilet, ia duduk di lantai begitu saja. Rasa sakit pinggang nya semakin terasa menyiksa hingga ke punggung. Apalagi sakit di bagian kepalanya sudah tak tertahankan lagi.


Diambilnya ponselnya dari tas yang sempat di bawanya. Hendak menelepon Dhira tapi tidak jadi. Menyuruh Dhira datang sama saja menunjukkan hubungannya dengan Dhira pada orang orang yang mencarinya. Akhirnya menghubungi Vanya.


Ia meminta Vanya datang menjemputnya di restoran yang sempat ia baca. Dengan menyebut nama restoran dan alamat jalan.


Lima belas menit, Vanya tiba. Mereka sudah bersama di toilet. Vanya berniat membawa Amelia ke rumah sakit. Tapi wanita itu berkeras tidak mau. Ia melarang Vanya membawa dirinya keluar dari toilet itu.


Vanya panik melihat kondisi Amelia. Suhu tubuh Amelia sangat tinggi disertai keringat yang berlebihan. Kedua tangannya memegangi kepalanya dan mengatakan semua terasa berputar dan telinganya tersumbat.


Tanpa pikir panjang lagi, ia menelepon Andhira. Takut terjadi hal fatal, ia menyingkirkan larangan Amelia menghubungi Dhira.


Itulah ceritanya kenapa Vanya bisa bertemu Amelia di restoran itu.


Dhira masih bersyukur ibunya bertemu Vanya. Kalau tidak, entah apa yang sudah terjadi. Setelah mengucapkan rasa terimakasih, Dhira meminta Vanya agar tidak membahas sembarangan tentang ibunya di depan orang. Keberadaan ibunya harus dirahasiakan.


***


Rendra duduk di balkon rumahnya dengan tatapan kosong. Pikirannya menerawang kemana mana memikirkan siapa wanita yang menjadi ibu Dhira. Ingin bertanya pada Leo tapi tidak mungkin. Itu terlalu mencurigakan.


"Huuffff..." Asap rokok mengebul keluar dari mulut dan hidungnya membentuk bulatan bulatan di udara gelap.


"Jika bukan karena aku butuh uang, rasanya malas melakukan pekerjaan ini." Saat ini ia sedang terlilit hutang. Ia kesulitan keuangan semenjak mengeluarkan uang banyak untuk biaya perobatan Nayla. Belum lagi saat stres berat karena Nayla meningal, ia kalah judi.


"Haduhhh...komplit sudah penderitaan ku. Udah ditinggal mati istri, hutang segunung pula."


Digerusnya puntung rokoknya kedalam asbak. Dan kembali menyulut sebatang rokok lagi. Berlanjut terus hingga asbak itu penuh. Ia merasa hidup ini tidak adil untuknya. Dirinya bukan orang jahat. Hanya melakukan kesalahan telah memperdaya Nayla hingga bisa disetubuhinya hingga hamil.


Itu karena ia sangat menyukai gadis itu. Beberapa kali didekatinya, ditembak dan diajak kencan gadis manis itu selalu menolaknya dengan angkuh.


Berawal berkeinginan memiliki dan menaklukkan, ia nekad mengambil jalan yang salah. Tapi atas kesalahannya, ia bertanggung jawab penuh.


Dengan senang hati ia menikahi Nayla. Tapi siapa sangka, meski sudah menjadi miliknya, hati Nayla tidak sedikitpun luluh padanya.


Tidak terima selalu dicuekin dan ditolak, Rendra berubah kasar dan menjadi pemaksa. Apalagi soal ranjang. Ia tidak bisa menahan sehingga sering menyakiti Nayla agar keinginannya terlaksana.


Siapa sangka yang terjadi justru lebih parah. Nayla makin membencinya dan sama sekali tidak menganggapnya sebagai suami. Hanya makian dan kata kata merendahkan yang didapatnya.

__ADS_1


Makin hari, sakit hati makin melebar ibarat borok yang tak diobati, menular kemana-mana. Rendra makin kasar. Tak jarang ia lepas kendali sehingga tangannya menyakiti tubuh wanita yang dicintainya itu. Tidak sampai membuat istrinya luka sih, tapi tetap sekarang itu menjadi sebuah ingatan yang menyiksa baginya.


Hingga akhirnya maut lah yang memisahkan mereka.


Maut lah yang menghentikan kelakuannya.


Maut lah yang menyadarkannya kalau cara dirinya mencintai Nayla salah.


Ingin mengulang lagi dari awal, tapi nasi sudah menjadi bubur.


Yang mati tak bisa di hidupkan lagi. Kini tinggal penyesalan di hatinya dan tangis tak bersuara atas apa yang sudah terjadi. Hidupnya kini hanya terbelenggu penyesalan dan air mata.


Saat ini hanya satu keinginannya. Ingin lepas dari jerat hutang. Lalu akan pergi ke pedesaan dan disanalah ia akan memulai hidupnya yang baru.


Kebetulan ada yang menawarkannya pekerjaan mencari informasi tentang ibu Dhira dengan imbalan fantastis. Dengan jumlah yang dijanjikan, ia akan bisa melunasi hutang juga punya modal untuk memulai kehidupannya.


Semua yang dirancangnya tidak pernah mudah. Selalu sulit dan terkendala. Tugasnya pun sudah dua Minggu berlalu tapi belum menemukan apapun. Untungnya meski belum berhasil, ia dapat uang muka dan uang tutup mulut untuk membayar cicilan.


Pagi harinya ia sudah bersiap dengan pengintaian terhadap Dhira. Setiap hari yang dilakukannya adalah mengikuti gadis itu. Ia sudah melaporkan ke bos nya kalau Dhira tidak bersama seorang wanita. Ia hanya sendirian dan terkadang bersama Leo di rumahnya.


Tapi ia diperintahkan tetap mencari siapa yang menjadi ibunya. Harus! Pokoknya harus mendapat informasi!


"Tidak mungkin dia keluar dari bambu! Cari sampai dapat. Dapatkan fotonya dan berikan padaku!" Itulah perintah yang didapatnya.


Dhira sudah tidak tahan lagi dengan Rendra yang selalu mematai-matai dirinya. Ia tidak bisa bergerak selain bekerja, di rumah dan terkadang berkencan secara terpaksa untuk mengalihkan Rendra.


Keinginannya untuk menyamar agar bisa mengunjungi ibunya terlalu beresiko. Karena Rendra tidak pernah lengah disekitarnya.


Dhira turun dari motor Vanya. Ia berpura pura membeli es campur di pinggir jalan. Setelah mendapat dua cup es campur, ia berbelok ke belakang selang tiga ratus meter di belakang motor Vanya.


Tokkk tokkkk


Ia mengetuk kaca mobil Rendra. Hatinya sangat dongkol. Kali ini ia tidak bisa diam lagi. Ia harus memberi pelajaran pada Rendra.


"Ada apa? Kau kan pacarnya Leo? Kenapa? Apa kamu ingin lebih mengenalku?" Rendra menunjukkan wajah santai dengan seringai mengejek.


"Keluar dari mobilmu!" Dada Dhira sudah panas dan bergumpal marah.


"Oke. Baiklah." Rendra membuka pintu dan turun. "Ada apa?" Tanyanya tanpa melihat wajah Dhira. Ia melipat kedua tangannya dengan mata mengarah ke tempat lain.


"Kenapa kau selalu mengikuti ku, hah?" Dhira menarik kerah baju Rendra dengan berjinjit.


"Apa? Siapa yang mengikuti mu? Perasaan amat."


Dhira tidak suka dengan nada dan gaya bicara Rendra. Emosinya tak tertahankan lagi, tangannya melayang meninju wajah pria itu.


"Dasar wanita bar-bar! Kau ingin dihajar hah?" Mata Rendra melotot marah dengan rahang mengeras.


"Seorang penguntit sepertimu tidak bisa dibaikin! Setiap hari matamu mengintari ku! Cih menjijikkan!"


"Heh! Jaga mulutmu! Wanita sepertimu bukan levelku! Apa yang diintai darimu? Uang gak punya, wajah paspasan juga. Perasaan amat diperhatikan orang!"


Bukkk


Tanpa bicara lagi, Dhira memukul dada Rendra dengan karate nya. Dibalasnya yang sudah terjadi pada ibunya. Ingin sekali berteriak mengatakan jangan pernah mencari ibunya lagi, tapi ditahannya.


Ia ingin tahu lebih banyak lagi ada apa sebenarnya dan kenapa ibunya menjadi incaran Rendra.

__ADS_1


__ADS_2