Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Dhira Hilang


__ADS_3

Dhira tidak sadarkan diri. Selain sudah mulai mabuk, pukulan di kepalanya cukup kuat.


Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi. Bebas melewati jalan yang sepi tanpa ada kendaraan lainnya. Mereka membawa Dhira ke sebuah gedung pabrik terbengkalai. Lalu mengikat gadis itu ke sebuah tiang.


"Gadis ini cukup liar. Pastikan ikatan kaki dan tangannya kuat agar dia tidak bisa bergerak!" Perintah Rendra. Yang menculiknya adalah Rendra. Pria ini sangat benci kepada Leo. Mengira Dhira ada hubungan khusus dengan Leo, membuatnya membuat perhitungan untuk mengancam Leo agar tidak ikut ke Jepang menemani Nayla operasi.


"Baik Bos."


"Aku mau pergi ke luar negeri. Perhatikan dia. Jangan sampai lolos. Nanti ku kabari saat kapan dia di lepas! Jangan berani berbuat aneh aneh! Cukup beri dia minum! Mengerti!" Bentak Rendra.


"Iya Bos."


Lalu Rendra meninggalkan tempat itu. Ia menuju rumah sakit dimana istrinya di rawat dan sedang persiapan berangkat ke Jepang besoknya. "Kau tidak akan bisa ikut Leo. Kau harus sibuk mencari gadis itu."


***


Di lantai sembilan belas, dimana divisi administrasi berada, Vanya dan yang lainnya sedang ribut mempertanyakan keberadaan Dhira. Gadis itu tidak ada kabar. Vanya berkali-kali menghubungi nomornya namun tidak aktif. Kepanikan semakin meningkat saat Bu Faris mencarinya.


"Dia kira ini perusahaan neneknya! Libur seenak hatinya tanpa ijin terlebih dahulu. Tinggal telepon kalau tidak bisa bicara langsung. Dasar karyawan tidak tahu diri. Kalau sudah dipecat baru ngemis-ngemis diampuni!" 'Nyanyian gila' memenuhi ruangan itu karena kemarahan Faris.


Semua hanya diam tidak berani protes. Mereka juga tidak ada yang bisa memberi jawaban karena tidak tahu keberadaan Dhira.


Waktu istirahat, Vanya terburu-buru ke rumah Dhira dengan motornya. Sesampainya di sana, ia terheran heran melihat rumah Dhira yang terkunci dari luar.


"Dimana kamu Dhi?"


"Apa mungkin pulkam dadakan?"


"Tapi masa nggak ngabarin aku?"


Lalu ia menghubungi Ara. Siapa tahu Dhira menelepon ke sana. Tapi Ara juga tidak mendapat kabar apapun.


"Hahhh anak ini...bikin orang kalang kabut. Kemana sih?"


Vanya mengintip ke jendela kaca. Ia sedikit heran dengan lampu Dhira yang masih menyala. Biasanya gadis itu tidak pernah lupa mematikan lampu setiap keluar rumah. Begitu juga dengan lampu teras. Masih menyala.


"Lampunya menyala semua. Artinya Dhira belum pulang ke rumah semenjak keluar semalam ke acara pesta. Dia nyangkut di mana?" Vanya berpikir keras kira kira kemana sahabatnya.


"Tapi dia tidak pernah menginap dimanapun. Haduh semoga aja tidak terjadi sesuatu yang buruk." Vanya sudah mulai risau. Tidak tahu mau mencari Dhira kemana.


"Mbak, mau nanya sebentar." Vanya memanggil seorang wanita yang sedang menjemur pakaian di teras rumahnya.


"Iya ada apa?"


"Apakah semalam Dhira tidak pulang ya? Ini lampunya masih menyala."


"Kayaknya nggak. Dari semalam dia pergi pesta dia belum pulang. Rumahnya hening dan tidak biasanya dia lupa mematikan lampu luar."


"Terimakasih


mbak." Vanya makin tidak tenang mendengar Dhira tidak pulang. Karena waktunya tinggal sedikit ia segera kembali ke perusahaan.


Di kamarnya Leo benar benar dilema. Hari ini Nayla akan berangkat ke Jepang nanti jam dua siang. Ingin menemui gadis itu sebelum berangkat. Tapi, enggan karena Nayla terlalu berharap banyak darinya. Memilih tidak pergi, rasanya terlalu kejam. Memikirkan itu ia bermalas-malasan di ranjang.


Ponselnya sejak subuh berdering terus karena panggilan maminya. Diabaikannya karena malas membahas Nayla. Bahkan tak sadar ia kembali tertidur pulas hingga jam sebelas.


"Huffff...bahkan aku ketiduran lagi." Ucapnya sambil bangkit dan ke kamar mandi. Lima belas menit kemudian ia selesai dan sudah rapi dengan pakaian kantor. Ia memutuskan ke kantor saja dari pada pusing memikirkan Nayla. Biarlah toh mami papinya selalu ada disamping Nayla.


Setelah semua selesai bahkan dengan sepatunya,baru sadar kalau ponselnya ia masukkan ke laci nakas dengan mematikan dering agar tidak mengganggunya.


Diperiksanya beberapa panggilan dan pesan yang masuk. Panggilan hanya dari maminya. Kini beralih ke pesan WA. Semua pesan dari maminya menyuruh dirinya agar datang ke rumah sakit. Lalu pesan yang membuat keningnya berkerut adalah sebuah foto tanpa keterangan apapun dari pengirim nomor baru.


"Andhira?" Ucapnya dengan suara tercekat. Wajahnya begitu memerah campur khawatir. "Apa yang terjadi?"


Bagai kerasukan ia mengemudi ke arah perusahaan. Sambil menyetir ia menelepon Vanya mencari tahu apakah benar Dhira tidak masuk kantor. Tapi vanya tidak mengangkat teleponnya.


Dengan wajah terlihat marah ia memasuki lift menuju lantai sembilan belas. Beberapa orang yang melihatnya segera menunduk tidak berani menatap wajah itu. Setibanya disana, Faris langsung menyambutnya dengan laporan pekerjaan.

__ADS_1


"Apakah semua anggota mu masuk?"


"Kenapa Pak?"


"Jawab! Apa semua anggota mu masuk?" Bentak Leo.


"A-ada ya-yang absen Pak. Satu orang. Saya akan memprosesnya dengan baik." Faris tergagap melihat ekspresi Leo yang sangat marah.


"Namanya!"


"Andhira Pak. Anak yang seminggu yang lalu cuti karena kecela..."


"Panggilkan Vanya sekarang!" Leo memotong pembicaraan Faris.


"Baik Pak." Faris berlari kecil ke arah ruangan anak buahnya.


"Vanya kamu sekarang ikut aku, cepat!" Faris setengah berteriak.


Vanya yang sedang stres memikirkan sahabatnya terlonjak setengah mati. Dengan takut takut ia berjalan mendekati Faris.


"Cepat! Kamu ditungguin di ruangan ku."


Vanya setengah berlari mengikuti Faris yang berlari kecil.


"Di dalam kamu ditungguin pak Leo." Faris dan Vanya masuk.


Mulut Faris baru terbuka hendak bicara, namun Leo membuatnya segera mingkem.


"Bu Faris kau ke luar dulu."


Faris mundur dan menutup pintu.


Vanya mendekat dengan wajah pucat. Entah kesalahan apa yang telah diperbuatnya sampai CEO perusahaan ini bicara berdua dengannya.


"Apa yang terjadi pada Andhira?"


"Saya tidak tahu Pak. Dia tidak memberiku kabar." Jawab Vanya takut takut.


"Semalam kami masih merayakan ulang tahun saya di cafe Happy. Jam satu baru bubar. Dia bilang pulang naik taksi. Tapi..."


"Tapi apa!" Bentak Leo.


Vanya terlonjak. Ia sangat takut dengan aura Leo yang sekarang.


"Tadi saya mengecek ke rumahnya sepertinya dia tidak pulang ke rumah. Tidak tahu dia kemana."


"Apa dia punya musuh atau saingan?"


"Tidak Pak. Hubungannya selalu baik dengan para teman. Dia tidak pernah terlibat permusuhan."


"Pacarnya?"


"Dia belum punya pacar. Banyak yang ingin menjadi pacarnya tapi dia tidak pernah menerimanya."


"Apa mungkin diantara banyak lelaki itu ada yang berniat jahat padanya?"


Vanya menggeleng. "Tidak tahu Pak. Tapi dari kuliah dia tidak pernah terjadi hal yang tidak diinginkan. Mungkin dia tiba tiba pulang kampung."


"Kalau pulang kampung, masih bisa menghubungi atasan atau temannya tidak bisa masuk kerja." Leo memijit keningnya karena pusing. Berusaha menebak siapa yang mengirim foto itu padanya. Jelas di foto itu tertera waktu dan jam pemotretan.


"Dia sedang di sekap. Ini fotonya!" Leo menunjukkan foto Dhira.


"Aaakkk..." Vanya menutup mulutnya sambil berteriak. Matanya sudah berair melihat sahabatnya terikat dengan wajah lemas tidak berdaya. "Kita harus lapor polisi Pak. Ini penculikan."


"Husss...jangan gegabah. Belum tentu polisi langsung bergerak hanya dengan bukti foto ini. Sedangkan nomor sipengirim sudah tidak aktif. Lagian sipelaku tidak akan diam, jika polisi ikut campur."


"Lalu, bagaimana Pak." Vanya tidak bisa membendung tangisnya lagi. Ia sudah tersedu-sedu.

__ADS_1


"Jangan langsung panik begitu. Bekerjalah kembali. Jangan beritahukan siapapun walaupun pada Faris. Biar aku saja yang mengurus ini."


"Tolong Pak selamatkan teman saya. Dia itu bukan orang jahat."


"Iya. Dia pasti akan kembali. Sudah keluarlah!"


Vanya keluar dari ruangan dan Faris masuk.


"Apa Vanya melakukan kesalahan Pak? Biar saya tegur. Bapak nggak usah repot repot turun sendiri ke sini."


"Dia tidak salah. Jangan dipikirkan." Leo bangkit dan keluar meninggalkan Faris yang dipenuhi tanda tanya.


Leo tidak naik ke ruangannya. Ia hanya menelepon sekretaris dan Kim agar menghandle semua pekerjaan. Ia langsung ke apartemen Rendra. Ia curiga lelaki itu yang melakukannya karena terlibat perkelahian sebelumnya.


Setibanya disana, Leo tidak menemukan apapun. Pria itu tidak ada di rumah dan dari keterangan pekerja rumahnya pria itu sejak seminggu jarang di rumah.


Di mobil Leo mengerahkan pikirannya mencari tahu sekeliling yang ikut terpotret bersama Dhira. Tidak ada keterangan apapun. Ia segara menuju cafe Happy ingin melihat rekaman cctv. Dengan penjelasan panjang lebar barulah Leo bisa melihat rekaman itu. Terlihat di depan cafe tepat dipinggir jalan, sebuah mobil hitam mengangkut Dhira. Ternyata itu sudah di rencanakan, karena plat mobil di copot sehingga tidak bisa dilacak.


Leo menggeram kesal. Ia sama sekali tidak punya petunjuk untuk mencari Dhira. Menanyai nomor temannya kepada Vanya dan menelpon mereka. Namun hasilnya tetap nihil.


Tidak ada pilihan lain selain menemui Rendra. Filingnya mengatakan ini ulah pria itu. Diliriknya jam di lengan tangannya sudah pukul setengah dua. Waktunya tinggal setengah jam lagi. Sebelum berangkat ia menelepon rumah sakit apakah Nayla sudah keluar. Ternyata Nayla sudah di bandara. Bagai dikejar setan ia mengebut ke bandara.


Di bandara Leo berlari memasuki ruang tunggu. Ia berharap masih bertemu Rendra. Di sana ia melihat mami papinya yang masih duduk dan mengobrol. Nampak Rudy Atmaja sedang menenangkan istrinya.


"Mi apakah Nayla sudah masuk?" Tanya Leo dengan nafas memburu.


"Kenapa kau datang? Bukankah kau tidak peduli?" Bentak Meli.


"Kenapa Mami tidak ikut? Siapa yang menemaninya?" Nafas Leo masih memburu.


"Rendra mau dia sendiri yang menemani Nayla."


"Baguslah. Itu akan semakin memperbaiki hubungan mereka." Ujar Rudy.


"Kau kenapa ke sini?" Tanya Meli sinis.


"Mau bertemu Rendra."


"Mereka sudah pergi."


Leo tidak mendengar maminya. Ia berlari ke arah pintu masuk dan mencoba mencari Rendra. Ia celingak-celinguk mencari sosok Rendra di antara orang-orang yang masuk.


"Lagi cari siapa Leo?"


Leo berbalik secara spontan mendengar suara Rendra belakanganya.


"Dari mana kau? Kenapa kau hanya sendirian?" Tanya Leo dengan suara dipenuhi emosi.


"Istriku sudah ada di pesawat. Aku keluar sebentar karena ada perlu." Rendra mengangkat ponselnya dan menggoyang goyangkan nya di hadapan Leo dengan wajah dipenuhi kelicikan.


Sorot mata Leo menghujam ke mata Rendra. "Katakan dimana kau sembunyikan gadis itu!"


"Hahaha...gadis apa?" Tanya Rendra penuh ejekan.


"Aku akan membunuhmu kalau dia terluka. Ingat itu!" Tunjuk Leo pada mulut Rendra.


"Hohoho sekarang aku bisa lebih tenang. Ternyata kau sudah punya seorang wanita. Tapi sayang sekali seleramu sangat buruk." Rendra masih dengan tawa di bibirnya.


Tidak tahan lagi dengan gaya Rendra yang seakan mengakui perbuatannya, Leo melayangkan tinjunya tepat pipi kanan Rendra. "Katakan berengsek dimana?"


Dua orang petugas keamanan datang menghampiri mereka. "Pak tolong jangan ada keributan."


Rendra mengangkat telapak tangannya mengatakan tidak ada apapun. Lalu petugas itu pergi.


"Itu belum seberapa. Aku akan membalas setiap tindakanmu memisahkan aku dengan istriku. Bayangkan berapa kali Nayla membuatku kesakitan. Jika tidak mau terjadi apa apa pada gadis itu, enyahlah dari hadapan istriku! Paham!" Bentak Rendra.


"Aku tidak perduli pada istrimu. Bawa dia jauh dari kami. Sekarang katakan dimana dia!"

__ADS_1


"Waktuku tinggal beberapa detik lagi. Nanti ku kabari lewat ini." Rendra menunjukkan ponselnya sembari pergi masuk.


Leo menggeram bahkan memaki Rendra dengan kata kotor saking kesalnya. Rendra begitu membencinya gara gara kelakuan Nayla. Padahal ia tidak pernah melakukan apapun. Nayla lah yang selalu datang mengadu padanya.


__ADS_2