Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Pernikahan


__ADS_3

"Aaauggghhh...!"


Tiba tiba mereka terkejut oleh suara erangan Leo.


"Kak Leo?" Ara memegang tangan Leo.


Leo nampak gelisah. Ia sudah terbangun tapi matanya masih tertutup. Ia seperti mengigau dan kesakitan.


"Leo? Apa kau mendengar kami?" Robert menepuk-nepuk sisi bantal Leo.


Sementara Amelia langsung mencari dokter.


"Leo...Leo...ini Papi." Rudy juga memanggil-manggil putranya.


Dokter masuk.


"Buat keluarga, semua silahkan mundur dulu. Kami akan memeriksa pasien."


Terpaksa mereka mundur. Dengan was-was mereka mengawasi dokter yang sedang berusaha membuat Leo sadar sepenuhnya. Memeriksa matanya, mulutnya, tangannya hingga jantungnya.


"Mas Leo...apakah Anda mendengar saya?" Tanya dokter itu.


Perlahan leo membuka matanya. Sinar mata itu redup dan sangat lemah.


"Bisakah Anda melihat saya?" Tanya dokter itu.


Leo berkedip-kedip. "Kenapa ada dokter di sini? Dan tempat ini bau obat-obatan." Justru Leo bertanya balik. Ia terlihat bingung.


Semua orang di ruangan itu bernafas lega. Mereka tersenyum senang.


"Oh akhirnya kamu sadar juga setelah sebulan tidur dengan tenang. Sekarang katakan, ada bagian tubuh lainnya yang sakit?" Tanya dokter itu.


"Kepalaku agak pusing, dan dadaku rasanya sedikit sempit." Jawab Leo.


"Tidak masalah. Itu hal biasa. Nanti setelah sehari atau dua hari, akan kembali normal. Anda benar-benar kuat dan hebat. Anda bisa menjalani empat operasi sekaligus. Sungguh tangguh!" Dokter itu memuji Leo.


"Operasi?"


"Iya kak, kakak itu mengalami kecelakaan. Dan harus menjalani operasi besar-besaran. Kakak lho udah tidur selama sebulanan." Jawab Ara.


"Ara?" Leo menatap adiknya lalu ke sampingnya ada papinya, Robert dan Amelia. Matanya melebar melihat semua orang itu ada didekatnya.


"Kami semua menantikan sadarnya Kakak. Lihat seluruh keluarga kita menantikan saat Kakak buka mata."


"Hem?" Bola mata Leo berputar mencari ke sisi lainnya seakan masih ada yang di cari.


"Khem!" Robert berdehem agak keras. "Kau pasti sedang mencari Dhira. Dia sedang makan. Dia jarang makan sejak kamu sakit. Tunggu sebentar lagi, bair dia kenyang dulu."


Berhasil, Leo langsung tenang. Raut wajahnya yang sempat kecewa, kini berubah bersahabat.


"Ibu, apakah..." Leo bertanya ragu-ragu.


Amelia tersenyum. Ia mengelus lengan Leo sambil matanya berkaca-kaca. "Kau adalah putra terbaik yang dikirimkan buat ku. Tanpa mu, ibu mu ini tidak akan hidup seperti sekarang ini. Terimakasih sudah hadir dalam kehidupan kami."


Leo tersenyum. Sungguh, ia ingin berteriak dan berlari sambil bernyanyi kalau dirinya sudah diterima oleh Amelia. "Terimakasih Bu." Leo menggenggam tangan Amelia dan mencium tangannya.


"Heh...heh...sudah. Kau pasti masih lemah. Beristirahatlah. Biarkan tenaga mu pulih dulu." Betapa cemburunya hati Robert melihat tangan sang istri dicium seperti itu.


Semua yang di ruangan itu tertawa kecil melihat tingkah Robert.


"Pi, norak ah! Kami anak-anaknya juga, bolehlah mencium Ibu." Ara tertawa-tawa melihat Robert.


Robert hanya tertawa sambil menggaruk kepalanya. Sungguh ia menjadi malu sendiri sampai cemburu pada anaknya sendiri.


"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?" Tiba tiba Dhira sudah masuk. Ia berdiri dibelakang ayahnya sehingga tidak melihat Leo yang sudah sadar.


"Dhiraaaa...kakak telah sadar!" Ara sampai berteriak saking senangnya.


Robert menggeleng. Tadinya ia ingin mengerjai putrinya itu. Tapi sudah terlambat.


Dhira melotot tidak percaya. Ia menyelip diantara ayah dan ibunya menggapai lebih dekat pada Leo.


"Hiks hiks hiks..." Dhira tidak bisa berkata-kata selain terisak melihat Leo sudah membuka mata dan tersenyum padanya.


"Apakah selama aku sakit kamu menangis terus? Wajahmu pucat dan kurus."

__ADS_1


Tangis Dhira makin jadi. Ia terharu, Leo sudah sadar hingga banyak bicara.


"Ku kira kamu akan meninggalkanku selamanya. Pakai pamit yang aneh-aneh pula sama pak sopir. Bikin orang berpikiran sampai kemana-mana." Sungut Dhira.


"Apa iya?" Tanya Leo.


"Iya. Kami semua ketakutan." Timpal Ara.


"Hehehe...aku tidak ingat aku bicara apa. Tapi apapun itu, sekarang aku biak-baik saja. Jadi kalian tenanglah."


Mereka semua tertawa bahagia. Selama sebulan mereka dilanda kerisauan, kini sudah tenang. Tinggal menunggu Leo benar-benar pulih hingga bisa pulang.


Para orang tua sudah sepakat, begitu Leo sehat, mereka akan menikahkan Leo dengan Dhira. Tapi rencana itu masih dirahasiakan oleh mereka. Leo dan Dhira akan diberi kejutan setelah Leo kembali ke rumah.


***


Siang ini Leo sudah bisa pulang. Ia sudah sehat hanya tinggal pemulihan dan kontrol beberapa kali lagi. Sebenarnya sejak seminggu yang lalu Leo sudah minta pulang. Ia sudah bosan berada di rumah sakit. Tapi semuanya melarangnya pulang, apalagi Robert dan Rudy.


Dua orang tua itu sedang mempersiapkan acara lamaran pernikahan Leo dan Dhira. Mereka sengaja membuat Leo dan Dhira tetap berada di rumah sakit agar saat Leo pulang, semua sudah siap dan acara dilangsungkan.


"Kak, gimana rasanya udah bisa pulang? Senang gak?" Tanya Ara sembari menggandeng tangan kakaknya.


"Senanglah. Aku merasa kayak udah lansia berada di rumah sakit terus."


"Hahaha...emang udah lansia. Lihat cara berjalan mu itu harus pake tongkat." Gurau Dhira yang berjalan di sisi kanan Leo.


"Awas ya...kamu berani mengejek ku..." Sahut Leo sambil tertawa.


Mereka tertawa bersama dan meninggalkan rumah sakit.


Ara yang menyetir sedangkan Leo dan Dhira duduk dibelakang.


Leo sempat bertanya ini itu, kenapa bukan sopir yang menyetir, kenapa hanya Ara yang datang menjemput, kemana semua orang. Tapi dengan cerdik Ara menjawab semuanya sehingga Leo bisa tenang.


Leo memperhatikan arah jalan pulang kerumahnya berbeda. Ia mengerutkan kening dan langsung bertanya.


"Lho, kita mau kemana? Ini bukan jalan pulang ke rumah."


"Ade deh. Kakak akan dapat hadiah hari ini." Sahut Ara penuh rahasia.


"Aku ini belum sehat betul Ara. Jangan aneh-aneh."


"Bikin penasaran aja kamu ini. Katakan kita mau kemana? Andhira, apa kamu tahu kita kemana?" Tanya Leo pada Andhira.


"Gak tahu juga. Ara selalu begitu. Ada-ada aja idenya. Kita ikuti aja biar dia senang." Sahut Dhira. Sungguh ia juga tidak tahu apapun.


Ara tertawa. Ia bisa membayangkan reaksi Leo dan Dhira saat tiba di rumah nanti.


"Kenapa banyak orang? Ini mobil siapa aja?" Dhira terheran melihat ada banyak mobil yang terparkir di depan rumahnya.


"Ara, kenapa membawaku ke sini? Ayo kita pulang."


"Ini rumah Dhira. Papi Robert dan ibu sedang melakukan acara. Kita disuruh datang ke sini. Papi kita juga sudah ada di sini. Mungkin acara belum dimulai karena kita belum bergabung." Ara menjelaskan agar kakaknya tidak pulang.


"Acara apa? Ayah ibu tidak mengatakan apa-apa tapi." Dhira juga terheran campur bingung.


"Kita masuk dulu, biar kita tahu ada apa." Ara turun duluan dengan senyum disembunyikan.


Dhira dan Leo juga turun. Mereka bertiga masuk. Ara langsung nyelonong ke dalam.


"Kalian sudah sampai. Sekarang kalian berdua duduk di sana." Robert menyambut putrinya dan menuntun Leo juga Dhira duduk di tempat yang sudah disiapkan. Terdiri dari dua kelompok dengan anggota keluarga masing-masing.


"Bu, bisa bilang ini ada apa? Kenapa banyak tamu?" Bisik Dhira pada ibunya yang berada di sampingnya.


Amelia hanya tersenyum.


"Ibu sama aja dengan Ara. Ditanyain malah senyum-senyum penuh misteri." Bisik Dhira lagi.


"Sssssttt...acara akan dimulai." Amelia mencubit pelan pinggang Dhira.


Seorang pria yang sudah berumur bertubuh gemuk yang merupakan paman dari Leo, kakak tertua rusy, berdiri dan membuka acara dengan menyebut acara yang akan dilaksanakan.


Leo dan Dhira terkejut mendengar acara itu. Mereka berdua terbengong-bengong lalu kemudian senyum-senyum sendiri. Mereka saling menatap dan melempar senyum ternyata acaranya adalah untuk permulaan pernikahan mereka.


Pantesan saja Ara memaksa mereka mengenakan pakaian yang sudah dipilih oleh Ara.

__ADS_1


Mereka berdua menolak memakai pakaian itu dengan alasan terlalu resmi. Kayak mau kondangan. Tapi siapa yang bisa mengalahkan Ara? Mereka berdua tidak bisa menolak. Ternyata semua demi acara bahagia ini.


Acara terus berlanjut, hingga ke acara seserahan. Semua anggota keluarga berbahagia dengan lamaran ini. Dan telah diputuskan, acara pernikahan dilangsungkan sebulan lagi.


***


Sebulan kemudian, waktu yang ditunggu telah tiba. Leo dan Dhira sah menjadi suami istri. Mereka telah diberkati dan terikat jadi satu oleh sumpah dan janji pernikahan dihadapan Tuhan dan masyarakat. Begitu acara pemberkatan selesai mereka langsung merayakan acara resepsi di hotel milik Robert.


Resepsi pernikahan yang sangat meriah dan mewah. Orang-orang terkagum-kagum dengan kedua mempelai yang cantik dan tampan ditambah acara serta pelayanan yang istimewa.


Leo nampak sangat bersemangat dan selalu tersenyum pada semua orang yang datang menyalaminya mengucapkan selamat. Begitu juga dengan Dhira, ia sangat bahagia dan selalu tersenyum.


"Cantiknya sahabat ku ini. Selamat menempuh hidup baru...bahagia selalu dan akurlah selalu." Vanya menciumi kedua pipi Dhira. Ia sudah hamil tua tapi tidak menghalangi langkahnya untuk mengucapkan selamat pada Dhira.


"Terimakasih kawan...kamu cantik banget saat mengandung. Makin manis..." Sahut Dhira.


"Hahaha...tenang aja. Kamu juga bakal menyusul kok. Aku akan bilang sama Leo agar di gas terussss...!"


Wajah Dhira langsung merona karena malu. Sedangkan Leo yang disampingnya tertawa sambil menutupi mulutnya.


"Udah...sanalah kamu! Tuh ditungguin sama si Arga." Usir Dhira. Bila sahabatnya ini masih di sana, bisa makin gawat pembicaraan. Dirinya bisa lebih malu lagi.


"Leo, hati-hati saat beraksi. Dia bisa mengekate mu hingga lumpuh. Awas pertarungan berubah kelain jurusan." Sebelum pergi Vanya masih sempatnya bergurau yang membuat Leo tertawa tertahan sambil mengancungkan kedua jempolnya.


Dhira melotot pada Leo. Ia kesal, bisa-bisanya lelaki itu tertawa.


"Sayang...tidak bakalan seperti itu. Nggak usah takut. Si Vanya hanya bercanda." Leo memainkan sebelah matanya masih dengan bibir melengkung.


"Isss..." Dhira mencubit pinggang Leo hingga membuat pria itu menjerit pelan.


Orang orang dan orang tua mereka senyum-senyum melihat interaksi pengantin baru itu. Amelia bahkan sampai meneteskan air mata bahagia melihat putrinya bahagia bersama Leo.


Robert merangkul bahu istrinya dan mengelusnya pelan pelan. "Terimakasih istriku, telah melahirkan putri kita."


Amelia mengangguk sambil menangis. Ia terharu sampai tidak bisa menahan tangisnya. Ia juga berterimakasih telah dikirimkan suami seperti Robert dan putri seperti Dhira.


Dibagian sudut lain, Ara yang duduk bersama papinya tak bisa mengalihkan pandangannya dari Jhon. Pemuda itu nampak bahagia dan sangat ramah pada siapapun selama seharian ini.


Dari pagi ia sangat mengagumi ketampanan Jhon. Lelaki itu terlibat makin dewasa dan bijaksana. Apalagi saat ia berbicara dengan para tamu khusus dari koleganya.


'Bahkan sampai sekarang, hati ini makin mencintaimu. Rasanya bahagia melihatmu tertawa seperti itu. Wajahmu terlihat berbinar dan penuh semangat.' Batin Ara.


Ia bahkan menitikkan air mata dan cepat cepat mengusapnya agar tidak terlihat oleh siapapun.


Sebenarnya jika ada yang melihat isi hati Jhon akan mengerti betapa lelaki itu hancur. Sempat membiarkan bunga dihatinya bermekaran saat Dhira dan Leo berjauhan. Kini bunga hunga itu layu berguguran.


Sejak hari lamaran Dhira, hatinya sudah sengsara. Tapi sedikitpun ia tidak menunjukkan sisi yang menyedihkan itu. Ia sadar dirinya bukan bagian dari hidup Dhira. Menjadi bagian hidup dari keluarga itu, sudah suatu kesempatan hidup baginya. Ia akan mengubur perasaannya hingga penghujung hidupnya. Ia tidak akan merusak ikatan yang sudah terjadi.


Ia mengalihkan patah hatinya ke hal-hal yang bisa membuatnya sibuk dan bisa lupa dengan perasaanya.


Untuk sekarang memang ia belum berhasil. Walau ia sibuk berbincang dan tertawa tetap saja hatinya kesepian.


***


Acara pun sudah selesai. Sebagian tamu sudah pulang. Yang sebagian lagi, tetap menginap di hotel karena datang dari luar kota.


Dhira dan Leo menuju kamar pengantin.


Sejak dari tadi, Dhira sudah deg-degan memikirkan lanjutan malam ini. Ia berdiri dibelakang Leo, menunggu pintu terbuka.


Pintu pun sudah terbuka. Leo masuk ke dalam. Ia memutar tubuhnya menyadari hanya dirinya yang masuk.


"Kenapa berdiri aja?"


Dhira menggaruk pelan dagunya dengan jari telunjuknya. Wajahnya bersemu melihat senyum Leo. "Eee...benarkah kita akan tidur bareng di kamar ini?" Tanyanya. Matanya berkedip-kedip karena makin gugup.


Leo tertawa pelan. "Iyalah. Capek-capek kita merakan pernikahan yah, agar bisa tidur bareng." Ditariknya tangan Dhira ke dalam, makin tidak sabar melihat Dhira yang menggemaskan.


Gerakan yang sangat cepat. Dalam sekejap, Dhira sudah berada diperlukan Leo dan pintu pun tertutup.


"Selamat bagi kita berdua sayang. Malam ini adalah malam pertama kita." Bisik Leo tepat di telinga Dhira.


Belum ada jawaban dari Dhira, Leo sudah membungkam bibir Dhira dengan bibirnya. Menikmati indahnya bibir yang selalu diinginkannya itu.


Dhira yang sebelumnya gugup, kini sudah mulai tenang. Ia terhanyut dengan 'perbuatan' Leo. Rasanya dunia menerbangkannya hingga ke angkasa tinggi. Kedua tangannya secara naluri mengalungi batang leher Leo. Rasanya masih belum cukup, ia merapat lebih lekat dan berjinjit untuk mengimbangi setiap ulah suaminya.

__ADS_1


Mulai hari ini, malam ini mereka akan selalu bersama, bersatu menjalani hidup. Membina rumah tangga bahagia dan penuh kasih sayang. Menantikan hasil buah cinta mereka untuk melengkapi rumah tangga mereka.


Sekian


__ADS_2