
"Paman tahu saat ibu mengandungku?" Tanya Dhira dengan mata berbinar. Ia sangat ingin tahu tentang masa lalu ibunya. Dari kecil ia sudah sering bertanya pada Amelia tapi, tidak pernah dapat jawaban.
Paman Bali mengangguk.
"Paman tahu siapa ayahku?" Tanyanya menggebu.
Paman Bali menggeleng.
"Aku mohon paman, jangan sembunyikan apapun dariku. Ini membuatku sangat takut."
"Paman tidak tahu soal itu. Ibumu tidak pernah menyebut namanya. Tapi dia menceritakan nama seorang wanita bernama Meli Fatin. Wanita yang gagal membunuh Amelia atas suruhan ayahmu."
"Apa? Meli Fatin? Dia pernah berusaha membunuh ibu? Ya Tuhan, saat ini ibu ada bersamanya." Dhira begitu histeris. Serasa dunia runtuh dan menenggelamkannya.
Paman Bali dan Ayunda sangat terkejut. "Ah bagaimana ini? Itulah kenapa ibumu selalu menolak datang ke kota ini. Ia takut pada wanita itu. Entah seperti apa kejamnya wanita itu!"
"Tolong ceritakan apa yang paman ketahui. Aku ingin tahu." Pinta Dhira.
Paman Bali duduk lemas dan wajahnya menerawang.
"Saat itu tepat tanggal lima Maret 1999 aku bekerja sebagai sopir, mengangkut pisang dari Lampung-Jakarta. Malam itu aku waktunya pulang ke Lampung, hujan lebat dan air menggenangi aspal. Karena kabut dan derasnya hujan aku tidak bisa berkendara cepat. Jalan aspal yang berlobang membuat ku harus berhati hati."
"Saat melewati tikungan, aku melihat seperti ada bayangan orang yang melambai lambai. Aku berhenti memastikan penglihatan ku. Dan ternyata benar. Seorang wanita sedang berusaha menyetop kendaraan yang lewat."
"Karena penasaran aku minggir ke tepi dan membawa plastik sebagai payung melindungi tubuh ku dari hujan. Ternyata wanita itu bersama seorang wanita juga yang terbujur di pangkuannya. Wanita itu, terlihat tidak sehat."
"Wanita itu masih sadar tapi sudah sangat lemah. Ia minta tolong agar diselamatkan dan dibawa ke tempat yang sangat jauh. Ia sampai bersujud di kakiku dan memohon. Wanita itu adalah Amelia, ibumu."
"Tanpa pikir panjang, aku membawa ibumu ke klinik terdekat. Barulah ku ketahui ternyata tubuhnya penuh luka darah. Dari pemeriksaan dokter Amelia ternyata hamil empat bulan. Belum selesai luka lukanya diobati, Amelia memaksaku membawanya pergi ke tempat yang jauh bila perlu keluar pulau Jawa."
"Amelia terlihat sangat terpukul dan dalam ketakutan hebat. Melihat kondisinya aku membawanya malam itu juga ke Lampung ke rumah kami. Kami merawatnya dari luka fisik dan mental. Cukup lama membuatnya tenang dan normal. Traumanya sangat dalam. Dia takut dengan suara mesin apapun, bahkan naik mobil pun dia takut. Tapi perlahan sebagian traumanya bisa sembuh. Setelah dia sehat, barulah kami tahu kalau dia berusaha dibunuh oleh sahabatnya bernama Meli Fatin dan pacarnya yang menghamilinya. Ternyata Meli dan pacar Amelia menjalin hubungan dan berniat menyingkirkan ibumu karena ibu terlanjur hamil. Lelaki itu tidak mau bertanggung jawab."
"Hanya sesimpel itu ibumu menceritakannya. Itupun ibumu meminta kami, agar tidak memberitahumu karena dia takut kamu marah dan nekad mendatangi Meli. Dia takut identitas mu terungkap. Karena Meli tidak akan membiarkan kalian berdua hidup." Paman Bali sampai terisak menceritakan sedikit kisah Amelia yang diketahuinya.
"Jadi alasan itulah ibu anti dengan kota ini? Kenapa ibu tidak menceritakan itu padaku sejak awal? Kalau aja aku tahu, aku tidak akan memaksa ibu. Ibuuu...maafkan anakmu ini. Aku tidak mengerti keadaan Ibuuuu..." Dhira menangis. Kini ia dipenuhi penyesalan.
"Sudah, jangan menyalahkan dirimu. Sebenarnya Amelia yang memutuskan untuk ikut ke sini. Katanya, sudah waktunya dirinya dan putrinya muncul untuk menghukum dua manusia jahat itu. Aslinya ibumu juga sangat tersiksa menyimpan dendam itu selama ini. Bahkan dari kamu lahir Amelia sudah menempa mu menjadi seperti sekarang, menjadi wanita tangguh agar bisa melindungi kalian berdua. Salah satu harapannya adalah kamu akan menghukum mereka. Untuk itulah ia membulatkan tekadnya kembali menginjak kota ini."
"Hiks hiks kenapa baru sekarang aku tahu semua ini. Coba lebih awal, mungkin hal ini tidak terjadi. Sekarang apa yang harus ku lakukan?"
"Selama ini ibumu takut kamu melakukan hal diluar batas. Mereka bukan orang yang mudah dihadapi. Mereka orang kaya dan berkuasa. Hanya Amelia yang tahu bagaimana ganasnya mereka."
"Tapi kenyataan itu tidak akan bisa selamanya dikubur. Pasti ada yang menyebabkan kisah itu muncul lagi. Dan aku benar benar terlambat mengetahui semua itu."
"Kita harus mengerti posisi ibumu. Dia mengalami ketakutan yang sangat hebat dan beruntung bisa hidup normal lagi setelah guncangan itu." Paman Bali menepuk punggung Dhira pelan-pelan. Mencoba memberi gadis itu pengertian.
"Haaaaa! Tak ku sangka mereka adalah orang yang selama ini ku kenal! Paman tahu siapa Leo? Dia adalah putra dari Meli Fatin! Apa yang kulakukan selama ini? Aku malah bersenang senang dengan mereka! Aaaaa!" Dhira berteriak. Ia sangat benci dengan keadaan hidupnya saat ini. Ia merasa bersenang senang diatas penderitaan ibunya.
"Apa??" Paman Bali sangat terkejut. Ia sampai hampir terjungkal dengan mata hampir keluar.
"Apa yang bisa kulakukan? Ibu sudah terlanjur ditangan Meli." Dhira melemas tak berdaya. Kini ia mengerti kenapa Meli sangat menginginkan ibunya sebelumnya.
"Jangan putus asa. Pasti ada caranya. Makanya paman dan bibi mu datang ke sini. Kami siap membantumu."
"Jangan paman! Itu berbahaya bagi Paman dan Bibi. Kalian sebaiknya pulang ke Lampung. Jangan melibatkan diri dalam perang ini. Biar aku sendiri yang menangani ini. Meli dan keluarganya sangat berbahaya. Aku tidak akan sanggup jika terjadi sesuatu yang buruk pada Paman dan Bibi. Aku harus bebas dari siapapun agar bisa melakukan semua rencana ku tanpa terbatas. Mereka bisa saja menyandera siapapun yang dekat padaku untuk melemahkan ku."
"Tapi kami ingin membantumu. Mana mungkin kami bisa tenang melihat kalian dalam bahaya." Sela Ayunda.
"Tidak Bi, beda ceritanya kalau ibu masih bersama kita. Kemarin aku diancam oleh Meli akan menyakiti ibu bila kita berbuat hal yang tak diinginkannya. Jadi, aku mohon jangan melakukan apapun. Aku harus berhati-hati, kalau tidak ibu bisa tidak kembali pada kita."
Paman Bali dan Ayunda lemas.
__ADS_1
"Kalian pulang aja. Jangan sampai wanita jahat itu tahu kalian ada hubungan dengan ku. Malam ini segeralah kembali. Biar aku yang menangani ini."
"Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?" Paman Bali masih berusaha menyampaikan niatnya.
"Tidak Paman. Aku dan ibu akan baik-baik aja. Aku akan membuat Meli tidak bisa menyakiti ibu."
Paman Bali mengernyit melihat tatapan Dhira yang melayang dan ematan sedang memikirkan apa.
"Nak, berhati hatilah. Kami tahu kau gadis tangguh. Semoga kau selalu dilindungi Tuhan. Jika butuh bantuan apapun, beritahu kami. Kami tidak akan pulang ke Lampung. Kami akan tinggal di Depok untuk sementara. Kalau ada apa apa, kami bisa segera datang."
"Paman punya rumah di sana?"
"Iya. Rumah mertua Paman. Sudah kosong sejak dua tahun lalu."
Dhira nampak berpikir "sepertinya aku butuh tempat itu. Nanti ku kabari. Paman bersiaplah di sana." Tiba-tiba Dhira kelihatan sedikit bersemangat.
"Oke. Kami akan selalu bersiap."
Malam itu paman Bali dan bibi Ayunda pergi ke Depok. Mereka bersiap dengan apapun yang akan dibutuhkan Dhira. Mereka akan membantu Dhira melawan Meli.
***
Dhira sudah tidak sabar ingin bertemu Meli dan keluarganya. Namun ditahannya demi menyusun sebuah rencana. Seperti hari kemarin ia masuk ke perusahaan ARA sebagai resepsionis. Tidak ada yang sulit baginya karena teman sekerjanya cukup ramah dan mengajarinya dengan baik.
Dan kali ini ia juga berharap rencananya akan berjalan lancar.
Baru ia tahu kalau ternyata Jhon adalah seorang direktur. Ia kira direkturnya adalah papi Ara. Ternyata bukan. Jhon begitu disegani dan ditakuti para karyawan. Pria itu sangat dingin tak pernah menunjukkan wajah ramah.
Padahal ia sangat penasaran seperti apa wajah orang yang disebut Ara Papi itu. Dengan melihatnya, ia bisa memperhitungkan kemungkinan akibat dari rencananya.
Untuk membuat semua normal, Dhira tetap bekerja seperti biasa. Menyimpan rapat-rapat isi hati dan kepalanya agar tidak ketahuan siapa pun.
"Selamat pagi, Pak..." Dhira dan temannya berjaga menyapa sambil menundukkan kepala.
Jhon mendekati meja dan berdiri bersandar dengan menopang tangan kirinya diatas meja. Ia menatap Dhira dengan tatapan tajam tanpa berkedip sedikitpun. Itu berlangsung hingga tiga menit.
Dhira yang ditatap seperti itu, menundukkan kepalanya. Bukan karena takut tapi merasa perlu melakukannya mengingat dirinya hanya bawahan Jhon. Ia tahu di mata Jhon itu ada sesuatu yang ingin diungkapkan. Tapi sepertinya pria itu tidak berniat mengatakannya.
Derap sepatu dan aroma parfum dari Jhon sudah menjauh. Barulah Dhira dan Zahra mengangkat kepala. Mereka saling pandang untuk bertanya ada apa .
"Pak Jhon menyeramkan. Beliau sepertinya menyimpan amarah. Apa kita melakukan kesalahan?"
Dhira menggeleng namun dengan wajah cuek.
"Hooohhh...ku kira kita bakal dimarahi. Ada apa ya, nggak biasanya beliau mampir ke sini." Zahra bernafas lega.
"Nggak tahu."
"Tapi sepertinya pak Jhon tadi melihatmu. Kalian saling kenal?"
"Tidak."
"Tapi raut wajahnya terlihat tidak senang. Jangan jangan kamu ada kesalahan." Tebak Zahra.
Dhira hanya menghendikkan kedua bahunya. Dipikirannya sendiri saat ini bukan soal pekerjaan atau Jhon. Dari semalam otaknya hanya berperang bagaimana caranya membuat Meli melepaskan ibunya.
Baru sekitar lima belas menit berlalu ponsel Dhira berdering dengan nomor tanpa nama.
"Halo" sapanya.
"Kau naik ke ruangan ku."
__ADS_1
Dahi Dhira berkerut menebak siapa yang sedang berbicara. "E iya Pak." Sahutnya, begitu ia mengenali suara itu.
"Zahra, pak Jhon berada dilantai berapa?" Tanya Dhira.
"Di lantai tiga puluh. Kenapa kamu ingin tahu?" Tanya Zahra penuh selidik.
"Aku ada perlu ke sana."
Zahra melotot sempurna. Mulutnya siap terbuka untuk bertanya lagi, tapi Dhira sudah tinggal bayangan. Gadis itu sudah masuk ke lift meninggalkannya yang bertanya tanya.
Di lift Dhira berdiri dengan tatapan terpaku ke bawah. Meski akan menghadap ke direktur, ia tidak sedang memikirkan itu. Jika memang dirinya tidak bekerja lagi bukan persoalan baginya. Di kepalanya sekarang adalah sebuah rencana yang mungkin akan sulit dan berbahaya.
Tiba di ruangan Jhon, Dhira berdiri dengan tegap dengan kepala tertunduk.
"Anda memanggil saya, Pak?" Tanyanya.
Jhon yang sedang memeriksa berkas menoleh tanpa menaruh kertas ditangannya. Kemudian melanjutkan kegiatannya tanpa menggubris Dhira.
Awalnya Dhira bersabar diabaikan. Tapi hingga sepuluh menit dirinya tetap tak dihiraukan, ia mulai menggerutu kesal. Dalam hati Dhira mengomel dengan keangkuhan Jhon. Untuk apa memanggilnya kalau tidak ada perlu. Kalau saja ia tak sedang merencanakan sesuatu ia sudah pergi dari tempat itu.
"Katakan apa hubunganmu dengan keluarga Atmaja." Tiba tiba Jhon buka suara.
Untunglah pria itu mulai bicara, nyaris saja Dhira pergi tanpa permisi.
Namun ia tidak menyangka yang dibahas adalah tentang Leo. Membuatnya tidak bisa segera menjawab.
"Haruskah bertanya dua kali?" Tanya Jhon. Nadanya penuh tekanan walau terdengar pelan.
"Tidak ada hubungan apapun." Jawab Dhira. Ya, ia memang sudah berniat memutus hubungannya dengan Leo. Ia tidak bisa melanjutkannya lagi.
"Apa kau kira semua orang bodoh?"
"Jika yang Pak Jhon bahas adalah hubungan saya dengan Leo, maka dengan jelas saya katakan kami tidak ada hubungan apapun lagi." Jawab Dhira tegas.
Jhon mengalihkan wajahnya dari layar laptop ke wajah Dhira. Mungkin ia tidak percaya dengan ucapan Dhira.
"Ku kira sudah akan hampir meresmikan hubungan kalian. Tapi apa yang ku dengar sekarang?" Komen Jhon. "Bisa katakan kenapa?" Tanyanya lagi.
"Maaf Pak ini sudah menjurus soal pribadi. Apakah di perusahaan ini hal pribadi dipertanyakan? Jika memang begitu, maka akan saya jawab."
Jhon mengeraskan wajahnya. "Tidak harus dijawab." Jhon menarik kedua tangannya dan melipat ke dadanya. Matanya menatap Dhira dengan seksama.
Bahkan saking lekatnya Dhira sampai merasa jengah. "Yang mau ku katakan, bila ingin terus lanjut bekerja di sini akhiri hubungan apapun dengan keluarga itu. Itu saja." Lanjut Jhon.
"Soal itu Pak Jhon tidak perlu khawatir. Saya sudah melakukannya."
"Bagaimana dengan ibunya? Ku lihat kalian cukup akrab."
Dhira menajamkan telinga dan pikirannya. Apa maksud perkataan Jhon. "Tidak ada hubungan apapun."
"Oh ya? Tapi hari itu, ku lihat kalian berbicara cukup akrab. Kenapa kau mengkhianati mereka?"
"Tidak seperti itu Pak. Saya hanya merasa tidak perlu berhubungan dengan mereka. Cukup tahu diri siapa diri saya."
"Bisa ku pegang kata katamu?"
"Iya Pak. Saya hanya ingin fokus bekerja."
"Baiklah. Bisa kau jelaskan soal uang yang diberikan Ara?"
"Saya janji akan saya bayar Pak." Dhira menunduk. Sudah diduganya Jhon pasti tahu soal itu.
__ADS_1
"Kami juga bukan orang baik yang rela memberikan uang begitu saja pada orang lain. Kami orang kaya bahkan lebih kaya dari keluarga Atmaja. Apakah kau akan melarikan diri dari kami seperti kau melarikan diri dari sana? Kami lebih sombong dari mereka." Mata Jhon bagai pisau mengejek kesetiaan Dhira. Sengaja dilakukannya untuk mengecoh Dhira.