
"Aku telah memutuskan." Leo mencium jemari Dhira dengan lembut. "Untuk selalu bersamamu. Walau rintangan apapun akan ku lawan demi dirimu." Tatapan mata Leo begitu hangat dan penuh harap.
"Kamu ini lucu. Orang tuamu berkehendak lain. Untuk apa kamu melawan mereka. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak baik. Sikapmu ini bisa melukai hati mereka." Tampil Dhira.
"Tidak usah memikirkan mereka. Pikirkan saja aku. Aku akan menderita bila kamu menjauh dari ku. Sejak mengenalmu, jantung ini selalu berdetak keras. Hati ini juga selalu merindukanmu. Bahkan demi selalu bersamamu aku sengaja memintamu untuk menjadi pelatihku. Itu semua semata karena aku mencintaimu."
Dhira mengerjap cepat cepat, bingung dengan apa yang barusan diutarakan Leo. Rasanya terlalu mendadak. Apalagi dengan kejadian barusan. "Kenapa disaat kondisi kurang baik seperti ini, kamu malah menyatakan perasaanmu? Itu hanya akan melukai perasaan orang tuamu." Ujar Dhira lagi.
"Aku berhak memilih tentang kehidupanku. Apalagi masalah wanita yang akan menjadi pendampingku. Siapapun tidak bisa menghalangiku. Meski itu orang tuaku sendiri. Lagian yang tadi jangan terlalu dimasukkan ke hati, jika mereka telah mengenalmu lebih dekat, mereka pasti suka."
"Jauh amat ngomongin tentang pendamping mu padaku. Aku tidak punya perasaan apapun terhadapmu selain batas teman. Jadi untuk apa kamu melawan orang tuamu?"
Leo terdiam. Hanya matanya yang fokus menatap ke mata Dhira. Serasa ada benturan keras di dadanya hingga membuatnya sulit bernafas. Apakah rasa sukanya bertepuk sebelah tangan? "Aku tidak memaksamu harus menjawab ku sekarang. Aku sabar menantimu hingga bisa mencintaiku. Sampai kapan pun. Tapi aku minta jangan menjauhiku." Pinta Leo.
"Aku tidak bisa janji. Bagaimana kalau memang besok atau lusa atau bulan depan atau tahun depan jalan kita harus berbeda. Mana mungkin aku bisa dekat padamu lagi."
"Maka aku yang akan mengikuti mu. Kemanapun, aku bersedia mengikuti mu." Ucap Leo tanpa berkedip menandakan ia tidak ragu sedikitpun dengan ucapannya.
"Haha...kamu ini terlalu muluk. Keinginanmu tidak akan mudah. Sudahlah. Lupakan tentang perasaan. Untuk sekarang kita biasa aja seperti sebelumnya. Kamu yakin takdir kan?! Maka ingatlah, jika memang cintamu padaku adalah takdir, maka itu pasti akan terjadi. Jadi, kamu tidak usah galau atau berkeras pada orang tuamu. Itu hanya akan semakin mempersulit mu." Dhira menaruh tangan kirinya diatas tangan Leo yang menggenggam tangan kanannya. Ia tersenyum tulus dan terbukti itu membuat hati Leo sedikit tenang.
"Aku akan selalu berdoa agar kita ditakdirkan bersama." Leo tersenyum dengan binar mata penuh harap.
"Oke, sekarang antarkan aku pulang. Ini sudah jam satu dini. Kita butuh istirahat untuk bekerja besok."
Leo mengangguk. Rasa cintanya semakin besar pada Dhira. Gadis ini begitu dewasa dan mampu mengendalikan situasi agar tetap tenang. Ia semakin yakin untuk mempertahankan Dhira untuk dirinya.
Mereka tiba di depan rumah Dhira. Leo mematikan mesin mobil dan menunduk di lingkaran setir.
"Bukain pintunya. Aku tidak bisa turun." Dhira menggedor pintu yang masih terkunci.
Leo menegakkan tubuhnya. Dan mendekatkan duduknya pada Dhira. "Aku bisa melakukan hal gila demi mendapatkan mu. Jadi, jangan bersikap memusuhiku besok, baik saat di kantor atau di manapun." Ia khawatir Dhira hanya berkata manis malam ini agar bisa menghindarinya.
"Tentu. Aku takut dipecat bila bersikap kurang ajar pada atasan. Tidak mungkinkan aku tidak sopan padamu." Ucap Dhira sembari memalingkan wajahnya ke kaca pintu mobil.
Leo menarik bahu Dhira agar bisa bertatapan dengannya. Jadilah mereka saling menatap dengan jarak yang hampir tidak ada. Begitu dekat bahkan ujung hidung mereka saling bersentuhan. "Aku serius." Ucapnya.
Dhira mengerjap berkali kali. Sangat gugup dengan posisi mereka. Secara alami ia tahan nafas dan lama lama kelopak matanya menutup karena sangat deg-degan. Baru ini ada sedekat ini padanya, juga berbuat berbuat seperti ini. Rasanya sangat gugup hingga menggetarkan seluruh tubuhnya.
Leo tidak bisa menahan dorongan hatinya. Betapa indahnya wajah cantik dihadapannya. Apalagi dengan mata terpejam, begitu mengundang untuk ia nikmati. Dari dahinya yang mulus, alis, mata yang dilengkapi bulu panjang dan lentik, hidung ramping mancung, bibir indah kecil berbetuk seksi, dan dagu sedikit runcing. Sungguh indah, sangat indah dan memanjakan matanya hingga tanpa sadar ia telah memajukan wajahnya dan mencium dahi putih di hadapannya dengan pelan dan lembut.
Dhira membeku dengan sentuhan hangat Leo. Begitu mendebarkan ketika merasakan nafas hangat menerpa wajahnya apalagi saat merasakan sesuatu yang hangat menyentuh dahinya. Tanpa membuka matanya ia tahu itu adalah bibir Leo. Ia seperti tertotok sehingga tidak bisa menunjukkan reaksi apapun. Hanya kedua tangannya terkepal keras untuk mengekspresikan keadaanya saat ini. Apalagi bibir Leo masih berada di dahinya. Hidungnya dengan sangat tajam mencium aroma wangi dari tubuh atau pakaian Leo membuat otaknya bagai tersihir untuk tetap berdiam diri.
Leo menarik wajahnya. Tapi tangannya kini yang naik ke kepala Dhira. Membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang tanpa melepas matanya dari wajah nan cantik Dhira.
"Umm...khemm..." Dhira baru bisa mengendalikan dirinya. Ia membuka matanya dan mendorong pelan dada Leo. Tapi pria itu tidak bergeser sedikitpun.
__ADS_1
"Tunggu. Ini seperti bekas luka?" Leo melihat seperti bekas sayatan halus di pangkal rambut sebelah kiri di dahi Dhira. Tanyanya meraba dan memeriksa hingga menyibak rambut Dhira.
"Eeee...itu, bekas operasi kecil. Dulu waktu kecil aku punya benjolan disana."
"Hem. Ku kira bekas kecelakaan. Aku kadang ngeri melihatmu saat berkendara."
"Sudah! Aku mau turun." Dhira kembali mendorong dada Leo kini dengan kedua tangannya. Leo termundur dan duduk agak menjauh darinya.
Tapi justru tangannya tidak bisa ia tarik dari dada lebar itu. Leo menahan kedua tangannya hingga menempel erat dengan kedua tanganya yang besar. "Rasakan bagiamana ritme jantung ini. Semenjak melihatmu dia selalu berjoget ria seperti ini. Berdetak lebih keras dan lebih bersemangat."
Dhira memang merasakan detakan di dada Leo lewat telapak tangannya. Terasa kuat dan cepat. "Makanya lepaskan, kamu bisa sakit jantung kalau begini terus." Ucapnya pelan dengan pipi merona.
"Oke. Karena sudah malam, aku harus merelakan mu. Selamat malam." Leo menaruh kedua tangan Dhira di atas pahanya.
Dhira manarik tangannya dengan sangat kuat. "Buka pintunya."
"Iya. Hati hati saat di rumah. Jangan lupa mengunci pintu dan jendela. Bagaimana pun kamu seorang gadis yang tinggal sendirian. Takut ada bahaya."
"Kamu yang lebih menakutkan!" Dhira melompat turun dan menutup pintu mobil agak keras. Ia berlari ke teras rumahnya dan masuk ke dalam tanpa menoleh lagi. Ditutupnya pintu dengan rapat dan berdiri di sana dengan bersender sambil memegangi dadanya yang turun naik.
"Huhh...nggak tahu aja dia jantung ini lebih berdetak keras dari miliknya. Dan apa tadi itu, haaaa...aku sudah gila...! Bagaimana mungkin aku memejamkan mata. Ini sungguh memalukan!" Ia memukul pelan dahinya sambil membayangkan saat dahinya di cium Leo. "Mulut dan hati tidak sejalan. Aduhhh malu nyaaaa...!" Ia berteriak kecil menyesali reaksinya saat di mobil. Ia berbalik dan mengintip Leo lewat kaca jendela. Ternyata mobilnya masih di sana. "Haaaa...kenapa denganku? Gila gila gila...!" Sehabis berteriak ia masuk ke kamar tidak memperdulikan Leo lagi. Hatinya terlalu menyesal atas apa yang terjadi barusan.
***
Suasana masih gelap gulita meski sudah pukul lima lewat. Karena musim penghujan membuat hangatnya sinar pagi tidak bersinar. Dhira menggeliat pelan sambil membuka kelopak matanya perlahan.
"Huh mimpi apaan itu. Emang mimpi kebalikan dari kenyataan." Sambil berbicara sendirian ia keluar dari kamar hendak mandi.
"Andhira...apa kamu belum bangun? Kalau sudah tolong bukain pintu."
Daun telinga Dhira bergerak naik mendengar suara Leo dari balik pintu depan. "Parah aku ini! Sampai suaranya pun terngiang-ngiang." Ditutupnya kepalanya menggunakan handuk agar suara itu tidak terdengar lagi.
Tok tok tok
Kini pintu yang terdengar diketuk. Dhira berbalik dan menatap pintu dengan was-was. Siapa yang datang saat masih gelap begini.
"Andhira..."
"Hah? Suaranya terlalu nyata. Ngapain dia ke sini lagi?" Dhira berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Leo? Sedang apa kamu?"
"Heeehhhhh...dingin banget. Tolong berikan aku segelas air panas." Leo duduk di depan pintu dengan kedua tangan dilipat rapat ke dadanya. Terlihat seperti orang yang kedinginan.
"Kamu kenapa?" Dhira menunduk dan menyentuh dahi Leo. "Kamu demam. Kenapa datang ke sini? Ayo ku antar ke rumah sakit."
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku hanya kedinginan. Ssshhh...hehhhh dingin..." Leo menggigil hingga mengatupkan rahangnya dengan kuat.
"Masuklah! Aku akan ambilkan air."
Leo berdiri dengan pelan. Sekujur tubuhnya terasa kaku dan mati rasa. Ia duduk di bangku kayu di ruang tamu. Ia menggosok-gosok telapak tangannya untuk mengurangi ras dingin.
"Ini" Dhira memberikan segelas air putih yang mengebul.
Leo menerimanya dan langsung menyeruput air panas itu dengan kedua tangannya menempel ke gelas. Perlahan rasa hangat mulai terasa di dalam perut dan tangannya walau sedikit.
"Kamu dari mana?" Tanya Dhira. Ia duduk di kursi plastik di depan Leo.
"Nggak dari mana mana."
"Hah? Terus kenapa subuh begini kamu ke sini?"
Leo mengangkat wajahnya untuk melihat Dhira. Kedua matanya menyiratkan jawaban yang bisa di tebak Dhira.
"Kamu nggak pulang?" Tanya Dhira lebih tepat menebak.
Leo mengangguk. "Malas."
"Hah? Kamu pasti masuk angin. Ngapain kayak orang gila begitu? Punya rumah tapi memilih tidur terlantar."
"Kepalaku sakit waktu kamu masuk ke rumah. Tidak yakin untuk menyetir sendiri."
"Telpon siapa kek untuk jemput. Ada Kim atau sopir di rumah kamu."
Leo tersenyum. "Aku senang kamu cerewet padaku. Kamu perhatian. Tapi aku malas melihat mereka semua."
"Nginap di hotel kek!"
"Mau kalau ditemani kamu."
Dhira melotot. "Ck malas bicara sama kamu."
"Hehehe...bercanda. Kalau kamu tidak keberatan, aku mau tidur sebentar di sini. Hanya sebentar agar kuat menyetir lagi."
"Kalau mau tidurlah di bangku itu. Hanya ada satu kamar di rumah ini."
"Iya. Tidur di sini juga tidak apa-apa." Leo menghabiskan air di gelas dan langsung tiduran di bangku dengan posisi miring dan kedua kaki ditekuk agar muat di bangku itu.
Dhira menggeleng tidak percaya. Bagaimana ada orang seperti Leo. Memilih menyusahkan diri padahal bisa hidup jauh lebih enak. Melihat Leo sudah terpejam dan bernafas teratur, menandakan pemuda itu sudah lelap , ia melanjutkan kegiatan mandinya.
Sepuluh menit, kemudian Dhira sudah selesai mandi. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk ia mendekati Leo yang sudah mendengkur halus. Terlihat pemuda itu masih kedinginan. Merasa kasihan, ia ke kamar dan mengambil selimutnya dan menutupi tubuh Leo hingga menyisakan wajahnya aja.
__ADS_1
Cepat cepat Dhira memasak. Sudah sebulan ini ia rajin bawa bekal untuk menghemat keuangannya. Tabungan yang sudah mulai dikumpulkannya jangan sampai habis. Tekadnya untuk membeli rumah sudah di ubun ubun mengingat ibunya makin sering kurang sehat. Jika sudah punya rumah ia akan memaksa Amelia tinggal di Jakarta bersamanya agar bisa diurusnya ibunda tercintanya.