Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Panik


__ADS_3

Merasa tidak kenal, Dhira mengabaikan mereka. Namun saat ekor mobil berlalu, ia membuka kaca dan mengeluarkan kepalanya, melihat ke belakang.


Ternyata pria yang menyetir dan yang duduk di bagian belakang juga melakukan hal yang sama dengannya. Mengeluarkan kepala dan menatap ke arahnya dengan tatapan yang tidak bisa ditebak olehnya.


Ada perasaan yang tidak enak merayap ke hatinya. Namun tidak jelas seperti apa. Ia tidak bisa mengartikannya.


"Leo menyetir lebih cepat!" Ujarnya.


"Kenapa?" Tanya Leo tapi menambah kecepatan mobil seperti yang diminta Dhira.


"Pengen lebih cepat aja sampainya." Jawab Dhira, kegelisahan makin jelas dimatanya.


"Kita sudah sampai kok."


Dhira tidak menanggapi Leo, ia makin terganggu melihat pagar yang terbuka.


Begitu pintu mobil terbuka, tiba tiba Dhira melompat dari mobil.


Leo sampai terkejut melihat Dhira yang sudah turun dengan tergesa-gesa. "Ada apa dengannya?" Leo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dhira berlari melewati pekarangan dan masuk ke rumah yang pintunya terbuka lebar.


"Ibu..." Panggilnya.


"Bu, Ibu...!!!" Tiba tiba Dhira berlari dengan wajah panik sambil terus memanggil ibunya.


"Leo! Tolong cari ibu di sekitar sini. Kabari aku bila ibu ada disini! Aku pinjam mobil kamu." Dhira merebut kunci mobil dari tangan Leo dan berlari ke luar rumah.


Leo tidak mengerti apa yang terjadi. Dengan wajah penuh tanda tanya ia masuk ke dalam mencari Amelia.


Kini ia mengerti apa yang terjadi. "Oh Tuhan, apakah ibu hilang?" Ia berlari ke kamar mandi tetap tidak menemukan Amelia. Seluruh ruangan diperiksanya. Sekeliling luar rumah juga. Namun Amelia tidak terlihat sama sekali.


Lagi lagi diperiksanya seisi rumah. Tidak ada yang aneh. Seperti berantakan atau hal mencurigakan lainnya. "Kemana ibu?"


Lalu ia sadar, ada yang hilang juga selain Amelia. foto-foto di dinding pada tidak ada.


Diperiksanya lemari, pakaian Amelia juga tidak ada walau hanya sepotong.


"Tidak mungkin ibu pergi tanpa pamit." Leo terheran ada apa gerangan.


Sementara Dhira bagai kesetanan mengemudi mobil mencari mobil yang tadi berpapasan dengan mereka. Ia mencurigai mereka. Sekarang baru disadarinya ada yang tak beres dengan para pria itu.


Hanya beberapa menit ia sudah berada tepat dibelakang mobil itu. Tidak ada yang mencurigakan dari mobil itu. Jalannya santai tidak seperti sedang menculik seseorang. Bahkan kini mobil itu berhenti di depan sebuah pengisian bensin.


Dhira melajukan mobil melewati mereka. Setelah tidak kelihatan ia berhenti. Diambilnya kemeja Leo yang tergantung di belakang serta topi. Kekasihnya itu terakhir ini sering membawa perlengkapan pakaian karena suka mandi dan menginap di rumahnya.


Setelah memakai kemeja dan topi ia turun. Ia berjalan cepat, mundur ke belakang memeriksa mobil dan orang itu.


Terlihat mereka masih di sana sedang mengisi bahan bakar. Dua orang dari mereka sedang merokok di bagian belakang mobil, sedangkan yang satu lagi menunggu dekat pengisian bensin.


Dhira masuk ke toko pemilik mini pom sambil mengawasi mobil yang pintunya terbuka.


"Tidak ada siapa siapa di dalam. Lagian jika mereka membawa ibu, tidak mungkin bisa setenang dan sesantai ini." Dhira masih berdiri membelakangi mobil berpura pura sibuk memilih roti.


"Bu boleh tanya?" Lelaki yang menyetir bertanya pada pemilik toko.


"Iya ada apa?"


"Ibu mengenal Andhira? Yang rumahnya di gang cempaka nomor 4?"


"Em. Nggak terlalu kenal. Mereka penghuni baru."


"Mereka? Emang berapa orang?"


"Tiga. Seorang ibu dengan dua anaknya."


"Oh. Apakah ibunya masih agak muda meski sudah punya anak dewasa?"


"Nggak seberapa tahu Pak. Mereka jarang keluar."


"Terimakasih Bu."

__ADS_1


Lalu pria itu memberi kode pada dua temannya untuk pergi dari sana setelah membayar.


Dhira makin curiga. Kenapa mereka ingin tahu siapa dirinya dan ibunya. Segera ia kembali ke mobil untuk mengikuti mobil para pria itu. Ia harus tahu mereka siapa dan kenapa mencari keluarganya.


Dari jarak jauh Dhira terus saja mengikuti mobil itu. Ia akan berhenti bila mobil itu berhenti.


Dua puluh lima menit kemudian mereka berhenti di depan rumah lama Dhira. Mereka mengelilingi rumah itu sambil berusaha membuka pintu dan jendela.


Lalu seorang wanita, mantan tetangga Dhira mengatakan bahwa penghuni rumah itu sudah pindah.


Lalu mereka meninggalkan tempat itu. Dhira masih setia mengikuti mereka. Hingga di depan sebuah SPBU terlihat tiga pria itu turun dan menemui seorang pria yang ternyata Dhira kenal.


"Rendra? Kenapa dia mencari kami?" Dhira nekat turun. Cepat cepat ia berjalan pura pura masuk ke SPBU.


"Tidak ada siapa siapa di rumah itu bos. Tapi, kata tetangganya ada tiga penghuninya. Seorang ibu dan diduga anak nya ada dua. Mungkin itu Dhira dan saudaranya."


"Dia tidak punya saudara. Aku kenal pria itu."


"Oh. Tapi tidak ada tanda tanda ada seorang ibu di rumah itu. Seperti foto dan yang lainnya.


"Coba periksa lagi. Bila perlu ikuti Dhira kemanapun pergi. Bisa saja kalian mendapat sesuatu. Jika kalian salah maka tidak akan ada bayaran!" Bentak Rendra.


"Baik Bos. Siap. Gampang kalau hanya mengikutinya."


"Begitu kalian melihat ada seorang wanita yang kira kira bisa menjadi ibunya foto dan kirim ke aku!"


"Baik bos."


Dhira begitu emosi dan ingin menghajar mereka saat itu juga. Tapi ditahannya agar ia bisa mencari lebih banyak informasi lagi. Kini masalahnya adalah Rendra ingin tahu siapa ibunya. Tentu saja ia tidak akan membiarkan hal itu.


"Astaga, lalu ibu kemana?" Dhira sangat khawatir. Mana ibunya kurang sehat. Kira kira kemana ibunya pergi.


Dhira menghubungi Leo.


"Bagaimana? Apakah ibu sudah ketemu?" Tanya Dhira begitu telepon tersambung.


"Belum. Tapi semua rumah rapi tidak menunjukkan hal mencurigakan. Apa mungkin ibu pergi ke suatu tempat?"


Itu memang benar. Sejak di Jakarta, beberapa kali Dhira mengajak ibunya keluar untuk berbelanja atau sekadar jalan jalan santai Amelia tidak pernah mau. Ibunya itu memilih mengurung diri sepanjang hari.


"Kamu sekarang di mana?" Tanya Leo.


"Lumayan jauh. Tunggu aja, aku akan segera pulang. Tolong terus cari ibu di sekitar perumahan. Atau ibu ke rumah sakit ya?" Tiba tiba Dhira teringat rumah sakit.


"Aku akan periksa ke sana." Ucap Leo.


"Jangan! Biar aku aja. Kamu tetap di sekitar rumah siapa tahu ibu pulang."


"Iya. Hati hati di jalan."


Begitu telepon terputus, Dhira memacu mobil ke arah rumah sakit tempat Amelia berobat. Bisa saja ibunya tiba tiba merasa sakit dan langsung menemui dokter.


Ternyata harapannya pupus. Ibunya tidak ada disana. Dengan lemas ia pulang ke rumah sambil mencari ibunya di sepanjang jalan.


"Bagaimana?" Tanya Leo begitu mereka bertemu.


Dhira menggeleng. Mereka berdua menarik napas panjang dengan berat. Deg degan menanti apa yang akan terjadi.


"Sepertinya ibu sengaja pergi, karena pakaiannya juga tidak ada."


"Kemana ibu pergi?"


"Apa Ibu tiba tiba pulang ke Lampung?"


"Tidak mungkin. Ibu pasti ngomong dulu kalau mau pulang."


"Iya juga sih. Mana hp ibu mati kayaknya. Tidak bisa dihubungi."


Dhira sampai beberapa kali menepuk dadanya karena segala dugaan berkecamuk di kepalanya.


Apa yang terjadi?

__ADS_1


Apa hubungan Rendra dengan ibunya?


Apa ibunya bertemu masa lalunya, lalu memilih pergi atau melarikan diri?


Apa ibunya baik-baik saja?


Kemana harus mencarinya?


Kring kring kring...


Ponsel Dhira berdering. Cepat cepat dilihatnya layar ponselnya berharap ibunya yang menelepon. Tapi ia mengabaikannya karena itu adalah Vanya.


Tapi lagi lagi ponselnya berdering hingga tiga kali baru diangkat Dhira.


"Apa Van?" Tanyanya dengan malas.


"Dhi, ibu..."


"Kenapa ibu?" Dhira setengah berteriak begitu mendengar kata 'ibu'.


"Ibu ada bersamaku. Kami ada di restoran Padang dekat kantor."


"Ya Tuhan...terimakasih." Dhira bernafas lega begitu mendapat kabar itu. "Apakah ibu baik baik saja?"


"Ibu sangat ketakutan. Dan sepertinya sakit. Tapi ibu tidak mau diajak ke rumah sakit. Malah menarik ku bersembunyi di restoran ini. Kami ada di kamar mandi. Tolong cepat datang Dhi! Aku takut ibu pingsan."


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Dhira berlari ke mobil menuju restoran. Leo juga ikut. Ia duduk di kursi penumpang, sementara Dhira menyetir bagai kesetanan saking ngebutnya.


Ia dan Leo berlari memasuki restoran. Tapi baru beberapa meter Dhira berhenti. "Panggilkan taksi!"


"Pake mobil kita aja."


"Tidak!" Teriak Dhira. Panggil taksi, ku mohon." Wajah Dhira memelas. "Jangan ikut. Kamu pergi bawa mobil menjauh dari tempat ini setelah taksi dapat."


Leo tidak membantah. Ia segera memanggil taksi.


Sementara Dhira berlari ke arah dapur dan mencari sesuatu di sana. Ia menemukan ruang ganti para pekerja restoran. Diambilnya dua pakaian pramuniaga dan membawanya pergi. Ia ke kamar mandi mencari keberadaan Vanya dan ibunya.


Di bilik ke empat ia menemukan mereka. Tangisnya pecah begitu melihat ibunya yang lemas dipangkuan Vanya. "Bu, aku sudah datang. Jangan takut lagi. Kita akan pergi."


"Iya Dhi. Sebelum pingsan ibu ngotot mengatakan kami nggak boleh keluar dari toilet ini. Ibu kelihatan tegang dan ketakutan. Sampai seluruh tubuhnya tegang dan berkeringat.


"Bantu aku mengganti baju ibu." Dhira menunjukkan pakaian pelayan restoran. "Jangan banyak tanya. Lakukan cepat!" Bentak Dhira sebelum Vanya bertanya sesuatu. Ia bahkan sudah berhasil mengganti pakaiannya dengan baju seragam pelayan restoran.


Vanya melakukan perintah Dhira. Tidak lama mereka sudah selesai. "Aku akan membawa ibu dari sini. Jangan ikuti kami. Kamu keluar dari sini setelah beberapa waktu. Bila ada yang bertanya tentang ibu katakan kamu tidak tahu apa apa. Mulai sekarang jangan menemui ibu apapun alasannya. Anggap kamu tidak mengenal ibu. Paham!" Bentak Dhira. Wajahnya yang kebingungan dan tergesa-gesa membuat Vanya mengangguk walau tidak mengerti apa apa.


Ia memutuskan akan menyembunyikan ibunya seaman mungkin. Tidak akan dibiarkannya siapapun melihat ibunya. Dari perbincangan Rendra dan anak buahnya ia simpulkan, Ibunya sedang dalam proses pencarian. Rendra ingin tahu siapa ibunya. Tidak akan dibiarkannya keinginan Rendra terwujud.


"Nanti kita berbicara lewat telepon. Itu pun dilakukan dengan hati hati. Pastikan tidak ada yang mendengar mu saat berbicara tentang ibu."


"Iya." Vanya hanya bisa menjawab pendek. Kebingungan memenuhi kepalanya.


Dhira menggendong ibunya. Ia berlari keluar dari restoran. Begitu ia tiba dibagian depan, sebuah taksi sudah menunggu dengan pintu terbuka. Ia masuk. Menyuruh sang sopir pergi dengan cepat ke rumah sakit. Bukan rumah sakit yang biasa di kunjungi Amelia. Tapi rumah sakit yang lumayan jauh dari pusat kota.


Tapi mobil melaju ke arah yang berbeda. Bukan ke jalur yang di minta Dhira.


"Stop! Ini bukan ke rumah sakit yang ku minta!"


"Tenang Andhira. Ini aku"


"Leo? Kamu?"


"Iya. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu. Aku tahu rumah sakit yang aman untuk ibu. Kita kesana."


"Tapi, bagaimana jika ada yang telah melihatmu?"


"Tidak ada. Aman." Bagaimana keadaan ibu."


"Belum sadar juga. Ini tubuhnya malah dingin seperti es."


"Bertahanlah. Kita tidak lama lagi sampai." Leo membawa mereka ke rumah sakit Royal Taruma. Ia sudah menelepon seorang dokter terkenal dan langsung mendapat penanganan intensif.

__ADS_1


Dokter langsung memeriksa Amelia. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter dinyatakan Amelia mengalami koma. Bukan seperti pasien lain yang mengalami koma karena kecelakaan yang menyebabkan otak cidera. Amelia koma karena mendapat tekanan hebat.


__ADS_2