Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Tidak Terbukti


__ADS_3

Kening Leo berkerut mendengar ucapan Dhira. Sedikit canggung dan bingung dengan arti kata yang di dengarnya. Tapi segera ditepisnya dari kepalanya melihat Dhira sudah bersiap.


"Andhira, bawa mobilku aja. Dengan menyetir sendiri akan lebih cepat aman."


Dhira berpikir sebentar "Oke. Terimakasih atas segalanya. Kuncinya mana?" Biasanya Dhira selalu menolak. Tapi kali ini ia menyambut langsung bahkan dengan wajah ringan. Tak lupa ia melirik Meli.


"Tunggu. Kuncinya sepertinya ada di kamarmu. Biar ku ambilkan sebentar."


Sepeninggal Leo, Dhira mendekati Meli yang memasang wajah buram. Wanita itu sangat kesal melihat interaksi putranya dengan Dhira.


Dhira berbisik tepat di dekat telinga wanita itu. "Bersiaplah kau! Waktumu tinggal setengah jam lagi. Bila ibuku tidak kembali, habislah kalian!"


"Kau menuduh orang yang tak bersalah! Rupanya ini sifat aslimu. Merasa barang mewah orang lain seperti milik sendiri. Huh, jangan jangan soal hilangnya ibumu hanya akal-akalan mu aja demi bisa menguras putraku!" Wajah Meli memerah dengan emosi. Namun ia menahannya.


"Ini belum seberapa nyonya Atmaja, lihat bagiamana menjengkelkannya aku nanti setelah rahasia keluargamu terkuak. Bersiaplah menghadapi dunia ini! Anak-anakmu akan menjadi musuh mu! Barulah kau tahu siapa gadis yang kau hina ini!"


"Aku tidak tahu dimana ibumu brengsek! Berikan aku fotonya biar aku tahu ibumu seperti apa!"


"Mata dan tangan serta semua ditubuh mu ini adalah kepalsuan. Kau datang kesini memperlihatkan empati? Kau pikir aku percaya. Kita buktikan beberapa waktu lagi, apakah kau asli atau palsu. Hati hati jika kau dalangnya. Ku hancurkan kalian sekeluarga! Tunggu aja...tik tik tik tik..." Dhira menirukan suara detik jarum jam dengan jarinya. Matanya terlihat tidak main main.


Kelihatan sorot mata Dhira yang seperti sudah menemukan sesuatu sehingga mata itu dipenuhi harapan dan kemenangan.


Meli tergugu ditempatnya. Kelihatan bibir dan matanya bergetar ketakutan. Tapi tidak lama, ia langsung bisa menguasai dirinya. "Buktikanlah! Kau akan menyesal telah melakukan ini padaku. Juga pada Leo."


Dhira tidak menjawab lagi. Ia menjauh tiga langkah karena Leo sudah datang.


"Hati-hati ya, jika terjadi sesuatu hubungi aku!"


"Pasti." Dhira pergi setelah tersenyum pada Meli.


Tapi bagi Meli senyuman itu bagai hujaman yang menyelekit di hatinya. Apalagi pancaran mata Dhira. Penuh tuduhan.


Dengan mobil Leo, Dhira ke suatu tempat yang lumayan jauh dari perkotaan. Tadi orang suruhannya telah berhasil menemukan Rendra. Ia bagai dapat baterai baru, mendengar kabar ini. Ini akan makin jelas. Sebentar lagi ia akan tahu siapa yang menginginkan ibunya.


Ia mengemudi bagai kesetanan. Bagaimana seorang pembalap ahli ia menyapu jalanan tanpa ragu ragu meski banyak kendaraan. Bahkan ia tidak memperdulikan rambu lalu lintas lagi. Semua diterobosnya begitu saja.


Sementara, di belakangnya sebuah mobil yang sama dengan yang dinaiki Dhira sedang berusaha mati-matian mengejar Dhira.


Ia adalah Kim. Saat Leo ke kamar bukan mengambil kunci tapi bicara dengan Kim agar mengawal Dhira.


"Gilaaaa! Dia sedang menyetir atau sedang terbang! Leo...kau dapat pacar seperti apa? Dia hantu terbang! Aaaaaa...mammpusss...!" Kim mengoceh terus dan berakhir berteriak.


Seluruh rambutnya serasa berdiri menahan hantaman mobilnya ke sebuah gerobak pedagan jajanan. Ia mengerahkan kemampuannya menghindar sembari berteriak. Dan hasilnya bagus. Ia bisa lolos dari gerobak itu.


"Oh Tuhan, ini sudah seperti yang di film film. Sungguh aku mengalaminya sekarang! Hahaha...hahaha....!" Kim terbahak memegahkan diri karena kemampuannya. Ia tidak mengira bisa menyetir sehebat ini. Mengelak dengan melakukan tikungan hebat sehingga terhindar dari tabrakan.


"Hah? Kemana dia?" Tiba tiba ia melongo menghadapi tiga persimpangan. Kepalanya melenggak-lenggok mencari mobil Leo tapi sudah tidak terlihat.


"Matilah! Aku kehilangan dia. Lurus? Kanan? Kiri? Aduhhh...kearah mana ini?"


Kim menepuk-nepuk kepalanya. "Hah siapa yang bisa menirunya. Dia menyetir seperti orang kesambet. Iya dia memang kesambet itu."


"Harus bilang apa ini pada Leo. Dia pasti marah."


"Halah...pusing dengan sepasang kekasih ini. Entah masalah apa yang terjadi. Mereka seperti mencari sesuatu."


"Los lah. Dia mau marah, biarin. Aku pulang aja. Mau lanjut juga nggak tahu arah kemana." Akhirnya Kim menyerah.


***

__ADS_1


Di depan bangunan ruko berjejer panjang, Dhira berhenti. Ia turun dan langsung mencari tempat yang disebutkan oleh preman suruhannya.


"Toko Roti Nongkrong." Dhira membaca pamflet di depan ruko. "Ini tokonya." Ia mengetuk door rolling yang tertutup rapat.


"Siapa?" Tanya dari dalam.


"Aku wanita Dhira!" Jawab Dhira.


Pintu terbuka. "Oh Nona sudah sampai." Mereka langsung mengenali Dhira.


"Dimana dia?"


"Di kamar mandi. Kami mengikat dia di sana. Mulutnya berisik sekali. Takut terdengar tetangga jadi kamu masukkan dia ke kamar mandi."


Dhira langsung ke arah yang ditunjuk. Di depan pintu kamar mandi ia berdiri sambil menarik nafas panjang.


Dibelakang Dhira tiga orang pria suruhannya hanya bisa berspekulasi yang terjadi antar dua manusia ini. Mengira Rendra dan Dhira adakah suami istri yang terkait perselisihan. Bahkan sempat menggosip tentang majikannya.


Mengatakan Dhira istri kaya yang sewenang-wenang dengan suaminya. Karena tidak tahan dengan perilaku istrinya Rendra melarikan diri dan memilih hidup sendiri sebagai orang sederhana sebagai pembuat roti.


Tapi beberapa saat kemudian, mata mereka terbelalak sempurna saat melihat Dhira yang mengamuk sambil menangis bertanya soal ibunya.


"Katakan dimana ibuku!" Teriak Dhira sembari meninju pipi Rendra.


"Sungguh aku tidak tahu. Summpahhh." Rendra bahkan meringkuk di sudut kamar mandi menahan sakit akibat pukulan yang menghantam wajah dan kepalanya.


"Aku akan memb*n*hmu!" Dhira menarik selang shower yang terbuat dari besi yang bisa melar dari gantungan di dinding. Lalu menggulungnya ke batang l*her Rendra.


"L*hermu ini akan patah. Jadi, katakan dimana ibuku!"


"Dhira, aku bersumpah atas nama istriku Nayla. Aku tidak tahu." Mata Rendra menatap mata Dhira dengan berkaca kaca. Kedua matanya kebingungan disertai ketakutan.


"I-iya. Ak-ak-kan ku kat..."


Dhira mengulur selang. Ia bernafas lega. Ancamannya ternyata ampuh.


Rendra menarik nafas cepat cepat. Ia benar benar merasa sangat sesak. Sempat tidak bisa bernafas beberapa menit. Kedua tangannya memegangi batang lehernya yang sudah memerah bahkan mulai membiru.


"Katakan! Jangan memberiku jawaban tanpa bukti! Buatlah aku percaya dengan mulutmu itu! Kalau tidak inilah terakhir kau hidup."


"Meli. Meli Fatin ibunya Leo. Aku aku ada buktinya." Jawab Rendra dengan wajah memucat. Bahkan air matanya berjatuhan beberapa tetes. Tubuhnya bergetar karena sungguh saat ini ia akan berada dalam bahaya.


"Berikan buktinya!"


"I-iya. Ada di ponselku."


Dhira minggir dari hadapan Rendra. Memberinya jalan.


Dengan terseok-seok ia keluar dari kamar mandi. Pergi ke kamar mengambil ponselnya.


"Aku hanya punya bukti ini." Beberapa nomor Meli menghubunginya.


"Apa ini? Tidak ada apa apa! Hanya mengubungi nomormu!"


"Hanya itu yang kupunya."


"Ini tidak membuktikan apapun!" Dhira melempar ponselnya hingga terbentur ke lantai. "Bukti lain?"


"Pesan pesannya sudah ku hapus karena ponsel itu mau ku jual." Rendra memandangi ponselnya yang hancur.

__ADS_1


"Aaaaa!!" Dhira berteriak frustasi. Satu satunya yang diharapkan sudah sirna. Membuktikan Meli menguntit ibunya kepada Leo sudah gagal. "Kau harus bersaksi untuk mengakui kalau kau jadi kaki tangan Meli untuk menangkap ibuku!"


"Aku mohon jangan libatkan aku. Ini aja aku dalam persembunyian. Bila Meli melihatku pasti aku akan dib*nuhnya."


"Kau pengecut! Segitu takutnya kau padanya? Percuma kau laki laki! Kau harus melakukannya untukku!"


"Dia bukan manusia. Dia itu pemb*nuh. Kalau dia sudah mengatakan akan memb*nuhmu maka itu pasti akan terjadi. Kau tidak tahu dia itu siapa."


Dhira terdiam tapi biji matanya menatap menelisik ke wajah Rendra.


"Sekalipun aku bersaksi, dia tidak akan bisa kau kalahkan. Dia sangat licik dan kejam."


Dhira berpikir sebentar, "Aku membiarkan mu kali ini bukan berarti aku memaafkan mu. Jangan pernah mengabaikan telepon dariku. Jangan coba coba pindah dari sini. Aku akan membutuhkanmu lagi!" Dhira mengancungkan tinjunya ke leher Rendra.


"Iya. Tapi ku mohon jangan bocorkan pada Meli keberadaan ku. Bila wanita itu menemukanku, aku tidak akan hidup lagi." Rendra memohon dengan sangat.


"Bisa kau katakan siapa Meli itu?" Tanya Dhira.


"Dia wanita tempramental. Bahkan sangat buruk. Kalau sudah marah tak segan segan melukai orang. Tapi dia itu punya penyakit. Dia bisa mimisan parah hingga pingsan kalau sedang mengalami stres hebat. Dia juga pernah memb*nuh sebelumnya."


"Memb*nuh siapa?" Tanya Dhira. Tatapannya tidak mempercayai Rendra.


"Pelayan mereka. Pelayan itu tahu rahasianya yang dijaganya mati-matian. Demi keamanan dirinya ia memb*nuhnya dan membuang mayatnya ke laut."


"Dari mana kau tahu?"


"Aku ini menantunya. Terserah kau percaya atau tidak. Yang penting bila bisa, menghindarlah dari wanita gila itu."


"Kau tidak perlu memerintah ku!"


Dhira mengernyit sambil berjalan bolak balik di hadapan Rendra. "Ikuti dia untukku. Terserah bagaimana caramu. Laporkan setiap tindakannya padaku. Jika dia menyekap ibuku pasti dia akan menemuinya. Saat itulah kau pastikan memberitahukan aku. Jangan bertindak gegabah apalagi membuat ibuku terancam."


"Tapi, bagaimana? Aku saja dalam buruannya."


"Gunakan otakmu! Setiap hari kau harus melapor padaku apa yang dilakukannya!" Tegas Dhira. "Kalau tidak, aku yang akan memb*nuhmu!"


"I-iya."


"Jangan coba mengelabui ku. Atau lehermu akan p*tus!"


"Baiklah." Rendra mengangguk sambil meringis merasa sakit dibagian lehernya.


"Tunggu!" Seru Dhira melihat Rendra bergerak dari tempatnya.


Rendra berdiam. Ia tidak berani menatap Dhira.


"Leo orang seperti apa?"


"Dia baik, tidak seperti maminya. Hanya saja jika sudah marah dia juga bisa kejam. Dia cukup lama bergaul dengan para mafia waktu di Inggris. Dia ahli bela diri dan senjata. Tapi selama dia pulang dia tidak pernah berbuat hal buruk. Dia bersih dan sangat menyayangi keluarganya."


Dhira menelaah kata kata Rendra. Soal sifat Leo penyayang ia tahu. Tapi ahli senjata? Ia sungguh tidak menyangka. Seandainya benar Maminya terbukti bersalah apakah Leo akan tegas pada wanita yang melahirkannya itu atau justru melawan dirinya?


Pertanyaan itu kini bersemayam di kepalanya.


Ada kekhawatiran di hatinya. Kenapa semua ini harus terjadi. Haruskah ia mundur dari hubungan yang sudah terjalin? Jika tidak, bagiamana ia akan menyikapi masalah ini.


Saat Dhira tiba di rumah, Meli dan Leo sudah tidak ada. Ia duduk di sofa dengan memijit dahinya. Kepalanya terasa berdenging dan matanya sayu karena kelelahan.


Baru berpikir bagaimana mengawali melancarkan ancamannya terhadap Meli, matanya sudah tidak kuat melotot. Perlahan kelopak matanya menutup dan ia tertidur dengan posisi duduk bersender. Ia melupakan dunia hingga pagi harinya. Tidurnya begitu nyenyak bahkan tak sadar ia sudah tidur terlentang di sofa. Mungkin karena sudah tiga malam ia tidak tidur dengan baik.

__ADS_1


***


__ADS_2