
Yang didatangi Dhira dan Alvian bukan lagi masyarakat biasa. Tapi para pengusaha dan pedagang. Ia dan Alvian bekerja khusus di kalangan atas. Ternyata banyak juga pengusaha yang meminjam uang di koprasi ini. Beberapa pabrik kecil, hotel pinggiran kota, restoran, toko toko grosir hingga bar.
Sambil bekerja, Dhira tidak sekalipun lalai tentang ibunya. Setiap tempat dan jalan selalu diperhatikannya. Selalu berharap tiba tiba ibunya ada diantara mereka. Namun harapannya hanyalah khayalan belaka. Selama seminggu ia berputar putar di kota ini, harapan itu tak terwujud.
"Ku perhatikan kamu sering memperhatikan kerumunan orang dan tempat warung makan. Apa kamu sedang mencari sesuatu?" Tanya Alvian yang menyadari gelagat Dhira.
"Hah? Oh tidak. Hanya senang aja memperhatikan mereka." Dhira mengaduk minumannya dan meminumnya lewat ujung sedotan. Mereka sedang makan siang di sebuah restoran. Setelah bekerja dari pagi, Alvian mengajaknya makan.
"Benarkah?" Alvian menatap Dhira dengan tatapan tidak percaya. "Jika kamu ada kemauan atau butuh sesuatu jangan sungkan. Kita sudah saling mengenal, mengalami dan melewati beberapa hal. Siapa tahu aku bisa membantumu." Alvian menunjukkan senyum manisnya sembari memberi sepotong daging ke piring Dhira.
Dhira menatap Alvian. Ia tahu Alvian adalah pria baik dan jujur. Selama mereka bekerja sama ia sudah bisa menilai Alvian. "Sungguh tidak ada apa-apa."
"Ada yang mau aku tanya nih, hanya iseng, kalau mau di jawab silahkan, nggak mau gak apa-apa."
Dhira memicingkan matanya menatap Alvian dengan penasaran.
"Kamu sudah punya pacar belum?" Tanya Alvian dengan wajah bercanda. Bahkan ia main mata berusaha mengajak Dhira tertawa.
"Sudah." Jawab Dhira pendek.
"Oh ya? Siapa? Kenapa tidak pernah terlihat. Seperti menjemputmu atau menelepon mu?" Alvian begitu antusias.
"Mau tahu banget?" Tanya Dhira dengan wajah tak enak dipandang.
"Ah tidak. Hanya iseng. Lanjutkan minumnya. Silahkan!" Alvian cengar-cengir, tidak ingin melihat wajah seram Dhira. Ia sudah berapa kali mengajak gadis itu bercanda untuk mencairkan suasana. Tapi tidak pernah berhasil. Wajah Dhira selalu tegang dan kaku.
Padahal Alvian terkenal lelaki pelawak yang bisa menenangkan suasana. Tapi untuk Dhira itu tidak mempan. Beberapa kali ia mencoba mengambil hati Dhira agar lebih tunduk padanya tapi tidak kunjung bisa. Yang ada justru dia yang disemprot atau dipelototi dengan ancam diajak berantam. Padahal dari segi umur dirinya lebih tua. Dari segi jabatan juga dirilah yang lebih tinggi. Tapi Dhira tidak melihat itu semua. Ia seperti tidak peduli Alvian siapa.
Dhira melanjutkan makan dengan diam. Sepanjang hari ia hanya bekerja dalam diam. Bicara saat diperlukan saja. Tapi sekali bicara bisa sangat pedas dan tajam. Di kantor banyak yang tidak suka padanya terlebih para wanita. Yang menyukainya hanya Dewi dan Alvian. Itupun mungkin karena perannya yang besar dalam koperasi.
'Karakternya sulit diikuti, keras dan kaku.Tapi orangnya menarik, selain cantik, dia cerdas dan kuat.' Dalam hati Alvian menilai Dhira. Tak bosan-bosannya ia menatap wajah gadis itu. Waktu makan dan minum seperti ini adalah saat yang paling dinikmatinya. Menikmati wajah manis nan mulus secara diam-diam.
"Andhira,"
Dhira menjatuhkan sendok nya hingga dentingan sendok ke piring terdengar keras, karena kaget. Bahkan bahunya juga terlihat bergetar. Bagaimana pemilik suara itu tiba tiba ada? Apakah karena barusan ia mengakui Leo adalah pacarnya, tiba tiba pendengarannya seperti mendengar suara khas yang begitu dihafalnya itu. Ia masih menunduk diatas piringnya. Merasa suara itu tidak nyata.
"Dhira, kamu mengenalnya?" Tanya Alvian.
"Hah?" Dhira bertanya dan melirik ke samoingnya. Diangkatnya kepalanya melihat sosok yang menjulang di dekatnya. Ternyata memang benar ada Leo. Lelaki itu berdiri menghadap padanya dengan mimik yang tak bisa dibacanya.
"Kamu kenapa ada di sini?" Tanya Leo degan wajah terheran. Soalnya restoran ini cukup jauh dari rumah Dhira.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh makan di sini?" Tanya Dhira dengan nada angkuh. Walau ada rasa senang dan lega di hatinya telah melihat wajah pria ini, tapi tetap ia tidak bisa beramah tamah.
"Bukan itu maksud ku." Leo memegang lengan Dhira. "Kita perlu bicara."
"Aku lagi makan. Tolong jangan ganggu!" Dhira menghempaskan tangan Leo.
"Ini tentang mami."
Seketika Dhira menoleh. Wajahnya terlihat berubah. Dari kaku menjadi sedikit berseri. "Apa ibumu sudah sadar?" Tanyanya dengan suara pelan.
Leo mengangguk. "Kemarin."
"Kenapa baru mengatakannya sekarang? Apakah kalau kita tidak bertemu saat ini kau tidak akan memberitahuku?" Tanya Dhira. Nadanya naik beberapa oktaf.
__ADS_1
"Bukan begitu. Aku juga belum melihat mami. Aku masih sibuk bekerja di sini." Leo terlihat pasrah dengan bentakan Dhira.
"Segeralah pulang! Selesaikan segalanya. Buktikan omongan mu bahwa kau bisa dipercaya."
"Pulanglah bersamaku." Pinta Leo. Bola matanya menatap Alvian dengan tatapan tidak suka. Lelaki itu dari tadi terlalu memasang mata dan telinganya dengan baik. Terlihat dari air wajahnya yang menyimak pembicaraan Leo dengan Dhira.
"Pulanglah sendiri! Aku masih ada urusan." Jawab Dhira. Tatapannya tidak beralih dari piringnya.
"Bukankah urusan kita lebih penting? Apa kau sudah mulai melupakannya?" Leo menarik tangan Dhira hingga terbangun dari kursinya.
"Jangan pancing aku Leo! Atau kita harus menjadi tontonan di sini!" Dhira marah. Terlebih pertanyaan kedua dari Leo.
"Hei bung. Apakah Anda tidak mengerti bahasa bagus dan sederhana? Dia bilang dia tidak mau pulang. Kenapa Anda memaksanya?" Alvian merasa jengah dengan ulah dan wajah Leo. Apalagi tatapan yang menghujam terhadapnya.
"Kau siapa ikut campur urusan kami?" Selesai bicara, Leo menghantam wajah Alvian. Sebuah bogem mentah mengenai hidung Alvian. Sedari tadi ia ingin sekali menghajar pria yang selalu menatap kekasihnya.
"Kurang ajar sekali! Kau tidak tahu kami siapa? Hayo, kita kenalan terlebih dahulu." Alvian berdiri bersiap melawan Leo.
Tanpa aba aba, Leo menerjang Alvian. Cemburu menguasai hatinya hingga membakar dirinya. Ingin sekali meremukkan Alvian sedari tadi. Ia sudah melihat bagaimana usaha pria ini menggoda kekasihnya dari kursinya sejak dari tadi.
Alvian tidak terima diserang begitu saja. Ia juga mengerahkan kemampuannya melawan Leo. Keadaan restoran yang sepi membuat mereka tidak sungkan.
Dua pria dewasa itu saling baku hantam. Mengadu kekuatan untuk saling mengalahkan. Mereka sama sama kuat dan tidak mau kalah.
Seorang pramusaji datang dengan wajah bingung berusaha melerai mereka. Meja dan kursi sudah ada yang tumbang karena terkena hantaman kaki dan tangan mereka.
"Mbak, pergi aja. Biarkan mereka berdua. Suruh manager mu minta kerugian pada mereka dari semua barang yang rusak." Dhira malah menyuruh pramusaji itu pergi.
Sementara dirinya masih makan dengan tenang hingga kenyang. Setelah selesai membersikan tangan dan mulutnya, ia berdiri dan menarik Alvian. "Berhenti! Aku sudah selesai makan. Ayo kita pergi!"
Leo bagai tersiram air panas melihat tangan Alvian yang memegang tangan Dhira. Tidak terima kekasihnya dipegang oleh pria lain. Tidak mungkin Dhira semudah itu berpegangan tangan dengan lelaki lain. Ia mengeram hingga giginya gemerutuk. Ia juga keluar dari restoran setelah mengeluarkan uang selembar seratus ribuan di meja tempatnya makan.
Ia segera naik ke mobil dan mengikuti mobil Alvian. Ia tidak akan tenang sebelum mengetahui siapa pria yang bersama Dhira.
"Dhi, sepertinya kita diikuti oleh lelaki tadi." Alvian melihat dari spion ada mobil yang mengikuti mereka.
Dhira melihat ke belakang. Itu bukan mobil Leo. Tapi ia bisa melihat wajah lelaki itu dari kaca tembus. "Biarkan saja."
"Dia keluargamu atau..."
"Bukan siapa siapa. Jalan terus!"
Alvian terdiam. Ia menambah laju mobil. 'Aku yakin Leo Atmaja adalah pacarmu. Hum...ternyata gadis ini berhubungan dengan mantan orang kaya. Sebelum bangkrut, Leo cukup terkenal. Apakah Dhira mencampakkan Leo, karena sudah tidak kaya lagi?' Alvian menebak dalam hati. Sambil menyetir terkadang ia mencuri pandang pada Dhira.
"Leo Atmaja merupakan pengusaha sukses. Tapi sayang, beberapa hari ini kabar tidak enak menyebar mengatakan mereka banyak hutang. Perusahaanya diakusisi oleh group ARA. Tak disangka, dunia ini sungguh bisa berputar tiga ratus enam puluh derajat. Sungguh kehidupan yang jungkir balik."
Dhira tidak menanggapi Alvian. Saat ini yang ada dikepalanya adalah tentang Meli dan ibunya. Rasanya tidak sabar segera ke rumah sakit untuk menemui Meli.
"Tolong turunkan aku di sini. Aku ada urusan penting. Aku minta ijin untuk setengah hari ini."
Alvian menoleh tapi tidak berhenti seperti permintaan Dhira.
"Berhenti!" Bentak Dhira.
Alvian mendadak memutar setir hingga kepala mobil otomatis menyimpang ke kiri dengan keras. Mereka berdua terguncang karena pergerakan mobil yang tiba tiba. Ditambah rem mendadak yang diajaknya.
__ADS_1
Dhira membuang nafas kasar setelah mobil berhenti. "Sampaikan ijinku pada Bu Dewi. Besok pagi baru aku bisa masuk lagi." Dhira membuka pintu mobil.
"Tidak usah turun. Katakan mau kemana! Biar ku antarkan!" Ujar Alvian.
"Tidak perlu. Kamu pergilah ke kantor. Aku ada urusan keluarga."
"Urusan keluarga atau mengurus kekasihmu itu?"
Mata Dhira melotot marah dengan ucapan Alvian. "Jaga sikapmu itu. Atau aku tidak memandang mu sebagai atasanku sama sekali!"
"Kayak pernah saja kamu menganggap ku atasanmu. Justru kamu yang suka marah padaku." Gumam Alvian. Kalau bukan karena permintaan Dewi untuk tidak terlalu menekan Dhira agar betah bekerja, pasti ia sudah menggunakan kekuasaannya. Tapi permintaan Dewi membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sungguh membutuhkan Dhira.
Dhira tidak lagi mendengar keluhan Alvian. Ia sudah menjauh dari mobil. Berjalan mencari ojek.
Leo melajukan mobilnya hingga berhenti di dekat Dhira. Ia membuka pintu dan keluar. "Andhira, ayo ikut bersamaku." Mobilnya kini sudah ganti. Dari BMW mahal kini berganti Avanza.
"Tidak usah. Aku bisa naik taksi. Kau pergilah!"
Leo menggeleng. "Jangan keras kepala. Aku juga mau ke rumah sakit. Sekalian kita bareng."
Dhira tidak memperdulikan Leo. Ia naik ke atas motor ojek pesanannya. Meninggalkan Leo begitu saja.
Leo segera masuk ke mobilnya dan mengikuti Dhira. Ternyata benar dugaannya, Dhira ke rumah sakit tempat maminya dirawat.
Seminggu terakhir, Leo terpaksa meninggalkan maminya di rumah sakit. Ia harus mengurus restoran yang sudah dua tahun lalu dibukanya. Saat ini hanya restoran inilah yang dimilikinya. Dulu ia hanya memasrahkan pengelolan restoran pada manager dan bersabar dengan segala yang diputuskan manager tersebut. Tapi sekarang ia sudah tidak bekerja di perusahaan lagi sehingga dirinya sendirilah yang akan mengolah dan mengembangkan restoran tersebut. Selain itu, biaya yang harus disiapkannya juga mulai besar untuk membiayai maminya. Itulah kenapa ia harus meninggalkan Meli, bahkan tidak bisa pulang walau sudah mendengar maminya sudah sadar. Tanggung karena urusannya yang sangat penting tinggal satu hari lagi.
Makanya hari ini ia bisa pulang. Dan justru bertemu dengan Dhira di restorannya sendiri.
Dengan setengah berlari, Leo berusaha mengejar Dhira yang sudah masuk ke dalam rumah sakit.
Dhira menoleh dengan wajah kaku saat Leo sudah berada di sisinya, menyamai langkah kakinya, berjalan beriringan.
"Jangan terlalu menekan Mami. Kata Kim mami sadar dalam keadaan baik."
Dhira menoleh lagi. Kali ini matanya menatap Leo dengan sinis. Tidak suka dengan perkataan Leo.
"Bukan maksud apa-apa. Hanya saja kalau kamu menakutinya, takutnya depresinya malah kambuh. Yang ada kita tidak akan tahu yang sebenarnya yang sudah terjadi." Lanjut Leo dengan wajah lesu. Ia menjadi lebih kurus dan kelihatan kelelahan. Bahkan terdapat lingkaran hitam di bawah matanya. Dan kelopak matanya lebih cekung dengan alis yang sedikit turun.
Dhira hanya melihat sekilas, tapi udah memotret banyak dari wajah Leo. Tapi segera ditepisnya wajah itu dan berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Mereka terus berjalan begitu keluar dari lift dan menyusuri lorong menuju dimana Meli di rawat.
"Mami sudah dipindahkan ke ruangan perawatan. Tidak lagi berada di ICU." Leo menarik tangan Dhira agar tidak berjalan lagi.
Dhira menghempas tangannya. "Tidak usah pegang pegang!" Bentaknya dengan wajah memerah. "Cepat katakan dimana?"
"Ikuti aku."
Dhira mengikuti Leo putar balik ke arah lain. Berjalan beberapa menit lagi mereka tiba di ruangan Meli. Leo sengaja mendiamkan Dhira menuju ruangan maminya sebelumnya agar bisa mengulur waktu berduaan dengan gadis itu.
Leo berdiri di depan pintu dengan tangan menggantung di atas handel pintu.
"Apa kamu mau duluan?" Tanya Leo.
Dhira diam beberapa detik. "Kau saja yang menanyakan dimana ibuku. Mungkin dengan melihat wajah ku, dia bisa histeris sehingga tidak bisa bicara yang sebenarnya." Dhira ternyata masih cukup bijak walau sebenarnya kesabarannya sudah habis.
"Baiklah. Akan ku coba." Suara Leo sangat pelan.
__ADS_1