
"Hm ini aku sudah makan." Jawab Dhira pelan.
"Kamu ini seperti bukan dirimu lho. Entah apa yang kamu sembunyikan. Wajahmu itu sangat berkabut. Gairah mu hilang dan sering melamun." Vanya menelisik wajah sahabatnya. Pikirnya apa yang membuat Dhira bersedih? Amelia sudah sembuh, tinggal pemulihan. Padahal itulah yang paling ditakutkan Dhira. Lalu apa lagi sekarang?
"Perasaanmu aja. Aku baik baik aja kok." Dhira tersenyum. Namun itu terlihat dipaksakan.
"Hubungan mu dengan Leo baik baik aja kan?!"
Dhira mengangguk. Tapi sorot matanya tidak terang.
"Hah, aku punya firasat kurang baik ini. Sepertinya aku perlu bicara dengan Leo. Sudah agak lama juga aku melihatnya tidak perhatian padamu. Awas aja dia kalau bikin kamu sedih." Vanya menebak penyebab wajah sahabatnya menud g adalah Leo.
"Hehe kami baik baik aja kok." Dhira berusaha meyakinkan.
"Asal lah. Aku yang pertama menghukumnya kalau berani menyakitimu!"
"Tidak akan. Dia pria paling baik. Aku hampir tidak percaya ada ciptaan Tuhan sesempurna dirinya. Baik, penyayang, dan rela berkorban demi orang yang dicintainya." Menggambarkan karakter Leo dengan suara memuji tapi aura sedih di wajahnya makin kelihatan.
"Terus wajahmu kenapa masih sedih aja walau mengucapkan pujian kebanggan tentangnya?"
"Aih, kamu gak berhenti-berhenti bicara. Nyerocos terus. Udah ah hayo masuk lagi." Dhira bangun dari kursinya diikuti Vanya.
Baru saja keluar dari kantin, seorang pria berpakaian kebersihan mendatangi mereka.
"Mbak Dhira, di suruh ke kantor direktur." Ujar pria itu.
"Ke ruangan direktur?" Bukannya Dhira yang bertanya, tapi malah Vanya. Wajahnya gadis itu penuh kecurigaan.
"Iya. Ibu direktur menunggu." Pria itu berlalu.
"Aku temani." Vanya menarik tangan Dhira.
"Jangan! Biar aku sendirian aja. Jangan konyol. Kamu bisa di bilang mencampuri urusan orang lain."
"Kamu yakin?"
"Iya. Calon mertua, masa gak yakin." Gurau Dhira tapi tidak lucu sama sekali apalagi dengan raut wajahnya yang nampak kaget hingga pucat.
"Okelah. Jangan mau direndahkan." Pesan Vanya.
"Tenang aja. Kami udah sering ketemu kok."
"Wah benarkah? Dia baik nggak? Bisa menerimamu kan?"
Dhira mengangguk ragu. "Aku pergi dulu. Nggak usah bilang Leo. Ini urusan antara aku dan ibunya." Mata Dhira begitu memohon. Dan itu justru membuat Vanya khawatir.
"Iya." Jawab Vanya pelan.
"Berjanjilah."
"Oke. Ini makin membuatku curiga."
"Sssttt...aku jamin semua baik. Sana, kamu pergilah! Aku mau naik." Dhira mendorong Vanya agar terpisah darinya.
__ADS_1
Di perjalanan menuju lantai dua puluh jantung Dhira berdetak lebih keras. Apa gerangan yang akan didengarnya dari ibu direktur tersebut.
Setelah dipersilahkan masuk, ia membuka pintu, dengan perlahan melangkah masuk. Serasa kakinya tidak merasakan tapakan apapun meski lantai yang diinjaknya sangat keras bahkan bisa menahan beban sekian puluh ton.
Kemudian menutup pintu pelan. Kakinya melangkah semakin menjauh dari pintu dan makin dekat ke meja di mana Meli sedang menulis.
"Selamat siang Bu," ucapnya sembari melirik ke seluruh ruangan. Sang direktur tidak ada. Hanya istrinya.
Meli mengangkat wajahnya hingga tegak menatap lurus pada Dhira. Ujung bibir wanita itu terlihat berkedut dengan ujung hidung naik menukik.
"Ada apa memanggil saya?" Tanyanya tetap berdiri.
"Cihhh!! Amit amit!" Meli meludah ke lantai.
"Kesombonganmu sungguh membuatku muak!" Meli bangkit dari kursi empuk suaminya. Berjalan ke arah kaca sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Tak kusangka wajah jelek mu itu bisa menghasilkan uang. Lumayan mahal juga. Dalam tiga malam kau dapat booking satu M lebih." Meli memutar kepalanya melihat ke belakang di mana Dhira berdiri. Tatapannya begitu sinis.
"Atau memang kau sudah menjual tubuhmu sejak lama. Cihh! Kau bagai sampah busuk menempel di kehidupan putraku. Wanita pemuas nafsu para lelaki hidung belang sepertimu tidak pantas jadi pendamping putraku! Dasar pelac*r!"
Wajah Dhira menegang. Ada apa sekarang? Tiba tiba dirinya dihina begitu kasar. "Entah apa yang ibu direktur bicarakan!" Suara Dhira pelan tapi penuh tekanan. Kedua matanya melotot, tak terima dengan perkataan Meli. Kedua tangannya terkepal keras menahan diri dari amarah.
"Tidak usah membanggakan dirimu telah melunasi hutang mu itu. Satu M ternyata begitu gampang bagimu. Nih dua ratus juta lagi ku pulangkan. Begitu larisnya tubuhmu itu, sampai kau rela memberiku uang lebih. Tapi aku tidak butuh uangmu. Aku hanya mengambil hak ku yang satu M." Meli melempar dua ikat uang ke atas meja dekat Dhira. "Cara hidupmu sangat kotor. Segeralah angkat kaki dari perusahaan ini, juga dari kehidupan putraku. Kau sangat menjijikan! Mulai hari ini kau dipecat!"
Dhira mengerutkan keningnya, menelaah ucapan Meli. Bingung arti 'telah melunasi hutang'.
"Pergilah! Jangan pernah muncul lagi dihadapan kami. Ambil uangmu!" Meli mengibas jarinya menyuruh Dhira keluar.
Wajah Dhira dipenuhi kebingungan. Ingin bertanya tapi Meli sudah keburu keluar dari ruangan itu.
Begitu sampai dirumah, Dhira menanyakan paman Bali apakah mengirim sejumlah uang. Tapi bukan paman Bali. Hanya satu kemungkinan yang melakukannya tak lain adalah Leo menurutnya.
"Iya itu pasti Leo?" Lalu diteleponnya Leo menyuruh pemuda itu datang ke suatu tempat.
Setengah jam kemudian, mereka sudah bertemu di sebuah restoran. Dhira memesan sebuah ruangan VIP.
Leo datang dengan senyum manis menghiasi bibirnya. Rasanya sudah lama mereka tidak menikmati waktu berdua. Hanya sekedar bertemu berbicara serius membahas sesuatu. Entah sudah berapa lama mereka tidak berkencan.
"Aku merindukanmu." Leo mengulurkan kedua tangannya ke arah Dhira.
Dhira bangun dari kursinya, menghambur ke pelukan Leo. "Aku juga merindukanmu." Diciumnya pipi Leo sekilas.
Leo mengeratkan pelukannya melebur rasa rindu yang tertahan. Dikecupnya beberapa kali puncak kepala Dhira. Menghirup dalam dalam aroma wangi sampo dan parfum yang selalu bisa menenangkan dirinya.
"Katanya rindu, tapi ciumannya cuma sedikit. Beneran rindu nggak?" Leo bertanya dengan wajah jenaka.
"Hem, beneran. Ku hitung hitung, sudah lama kita tidak kencan. Udah kayak bukan pacaran." Dhira menyentuh hidung Leo menggunakan ujung hidungnya yang runcing.
Tidak tahan dengan wajah imut nan manja sang kekasih, Leo menyerbu bibir indah dihadapannya tapi tetap penuh kelembutan dan mampu membuat Dhira terpejam juga memegang punggung Leo erat erat.
Sedangkan Leo semakin menyelami indahnya perasaan cinta terhadap sang kekasih. Hingga tanpa sadar tangannya terus saja menekan punggung Dhira agar lebih menempel padanya untuk merasakan kehangatan yang lebih dan lebih.
Getar dan debaran cinta berlangsung beberapa lama. Leo tak memberi ruang bagi Dhira walau sesaat. Terus di resapinya seakan tak rela menyudahinya. Mungkin akibat terlalu lama memendam membuatnya begitu kalap.
__ADS_1
Dhira tak mau kalah, ia juga merasakan hal yang sama. Tak lagi malu malu. Dibalasnya setiap ulasan dari Leo dengan penuh penghayatan. Entah karena dorongan kangen, atau saking berterimakasih soal kebaikan Leo, ia juga tak tahu pasti. Ia hanya ingin merasakan cinta. Cinta yang semakin besar.
"Terimakasih." Telaga bening di mata Dhira berbinar. Menatap dalam ke mata Leo setelah pautan terlepas.
"Sama. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku." Balas Leo. Mata tajam bak mata elang itu menatapnya teduh. Tangannya masih menempel dipinggang Dhira.
"Adakah yang ingin kamu katakan lagi?" Tanya Dhira. Sengaja bertanya untuk memancing agar Leo bicara soal uang itu.
"Hm?" Leo menyipitkan matanya "Apa ya? Apa kamu menanti sesuatu?"
Dhira hanya menyunggingkan senyum dengan bibir tertutup rapat. Dalam hati ia ingin sekali bertanya, tapi takut itu bukan Leo. Pertanyaannya nantinya malah membuat semuanya terbongkar. Ia tidak mau Leo marah atau memiliki masalah. Lelaki ini sudah terlalu banyak memberinya bantuan. Tidak tega bila harus membuatnya gelisah lagi karena harus ribut dengan orang tuanya.
"Oh..." Leo seperti mengingat sesuatu "Ada yang mau ku katakan."
"Hem." Dhira mengangguk menantikan suara Leo.
"Aku mencintaimu." Bisik Leo tapi cukup terdengar di ruangan itu.
"Hah? Oh iya." Dhira mengangguk canggung. Sungguh jauh dari apa yang diharapkannya.
Ditatapnya lagi ke mata Leo. Lebih lama dan berusaha menyelami untuk menemukan jawaban. 'Bukan Leo. Bila itu Leo, pasti terlihat dan akan menenangkan aku dengan topik uang. Lalu siapa yang sudah membayar uang itu?'
"Hei, bengong? Ada apa? Apa ada masalah?"
Dhira mengedipkan matanya dan menatap serius lagi ke mata Leo. "Aku juga mencintaimu." Balasnya.
"Manis sekali." Leo mencium dahi Dhira. "Makan yuk, perutmu terlalu kosong sampai suaranya terdengar nyaring."
"Hehe...iya aku memang lapar."
Mereka makan diselingi canda tawa dan kemesraan. Kebahagiaan milik mereka berdua. Waktu yang hilang tergantikan kini meski hanya beberapa jam.
"Oh iya, bagaimana kemajuan tentang Ara. Apa yang sudah kamu lakukan?" Tanya Dhira, teringat Ara adalah adik dari Leo.
"Belum ada apa-apa. Dia seperti menghilang. Tidak masuk kuliah sejak malam itu. Entah kemana dia. Bingung mulai dari mana kalau bertemu aja tidak bisa."
"Dia tidak kuliah? Apa mungkin pindah kampus? Atau ke luar negeri? Tapi pas malam aku tidak pulang dia ada."
"Nggak usah kepikiran tentang itu. Kemarin kemarin masih repot sehingga tidak bisa fokus. Nanti setelah semua aman terkendali, baru diseriusin."
"Aku juga akan membantumu. Akan kulakukan semampuku mencari tahu soal Ara dan keluarga itu."
"Jangan terlalu memaksakan diri. Kita masih ada tugas utama, mencari tahu penguntit ibu. Biar selesai satu satu dulu."
"Mm. Aku mau ngeluarin ibu dari rumah sakit. Kemarin ibu bilang nggak betah lagi di sana." Hanya karangannya saja sebenarnya. Ia hanya tidak mau lagi membuat Leo mengeluarkan biaya lagi karena ibunya harus yang selalu berada di rumah sakit.
"Tapi, apa tidak terlalu berisiko? Kata dokter ibu tidak bisa mengalami kejutan. Sepertinya ibu pernah mengalami trauma berat sampai bisa koma bila terkejut." Ujar Leo.
"Iya. Tapi sampai kapan ibu berada di sana?" Wajah Dhira berubah sedih. Sebenarnya ia juga bingung harus mengantar ibunya kemana. Mengajak ke rumah yang sekarang, ia sendiri takut terjadi hal seperti kemarin. Mungkin satu satunya ia harus menyewa rumah lagi khusus untuk Amelia.
"Jangan sedih terus. Memangnya kenapa kalau ibu di sana. Tempat itu paling aman. Selain itu, pengurusan kesehatan ibu juga terjamin." Telapak tangan Leo mengelus rambut Dhira.
"Nanti ku telpon ibu, nyamannya dimana."
__ADS_1
Leo mengangguk setuju. Ia selalu merasa tidak tahan setiap melihat wajah indah kekasihnya itu bersedih. Apapun dilakukannya untuk menghilangkan kegundahan yang menutupi raut itu.
***