
Araysa meringis sambil berusaha menggapai perutnya. Mulutnya berusaha mengeluarkan suaranya namun begitu sulit kelihatannya.
Wanita itu seperti mengerti keinginan Araysa. Ia membantu mengangkat tangannya dan menaruh ke perutnya. Dengan sangat perlahan ia mengelus perutnya.
Barulah ibu itu sadar bahwa gadis yang ditolongnya tengah berbadan dua. "Nak, bersabarlah. Kita akan meminta pertolongan dari orang yang lewat. Ini jalanan sepi. Apalagi saat hujan begini. Sedangkan rumah penduduk masih jauh dari tempat ini. Aku tidak sanggup menggendong mu. Bertahanlah."
"Hiks huaaa...aaaa..." Barulah suara Araysa keluar. Sejak dari tadi kerongkongannya seperti tersumbat. Terasa sakit dan perih bila berusaha bersuara. "Ayahhhhh...aaaaa...ayah...maafkan aku...huhuhu..." Araysa memanggil ayahnya. Samar-samar ia mengingat ayahnya yang sudah meninggal dengan luka yang sangat parah dibagian kepala dan wajah. Dalam hati Araysa meraung-raung memanggil ayah sehingga tangisnya kembali tidak terdengar. Hanya raut wajahnya dan air matanya yang menunjukkan kondisinya yang sangat memprihatinkan.
"Hei! Tolongggg! Tolonggg berhentiii!" Teriak ibu itu ketika sebuah mobil sedan berwarna merah lewat. Tapi mobil itu tidak berhenti. Melewati mereka begitu saja. Bukan hanya sekali, bahkan empat mobil yang ia panggil tidak menggubris sama sekali.
Sementara Araysa masih terus menangis pilu sembari mengelus perutnya perlahan. Terlihat ia sangat kelelahan dan tak bertenaga sama sekali.
"Stoooopppp! Heiiii! Tolonggg!" Ibu itu berteriak sangat keras sambil melemparkan batu ke jalan saat sebuah truk hampir melewati mereka. Dan alhasil mobil itu berhenti.
Saat itulah paman Bali bertemu dengan Araysa. Orang yang sangat baik yang membantunya hingga bisa melanjutkan hidup.
***
Selama dua Minggu, Meli dilanda ketakutan. Selama itu pula ia tidak keluar di rumahnya. Ia memilih mengurung diri takut menemukan sesuatu di luar sana.
Tapi setelah dua Minggu, ia sudah bisa menguasai dirinya. Ia baru ingat, Abi tidak memiliki sanak saudara. Lelaki yang sudah menjadi almarhum itu hanya punya Araysa. Ternyata ketakutannya terlalu berlebihan.
"Hahhh...ada untungnya juga mereka berdua mati sekaligus. Sehingga tidak ada yang mencari atau dicari. Hummm...mulai hari ini lupakan itu. Bergeraklah agar bisa menjadi nyonya Rabiga." Ia menyemangati dirinya sendiri.
"Tokkk tokkkk tokkkk...
Pintu kamarnya diketuk.
"Ya, siapa?" Tanya Meli.
"Ada Robert nyariin kamu." Terdengar suara maminya dari luar.
"Apa? Robert? Aduh Mami, aku pusing kalau berdiri, apalagi jalan. Suruh pulang aja, aku gak bisa menemuinya.
"Kalau sakit mu parah, sebaiknya berobat Mel. Jangan ditahan terus. Sudah dua Minggu kamu sakit pusing."
"Iya Mi, nantilah kalau makin parah baru ke dokter." Sebenarnya ia sudah tidak tahan ingin melihat Robert. Tapi inilah kesempatannya bisa menarik perhatian Robert. Buktinya, setelah dua Minggu pemuda itu mendatangi rumahnya.
"Semoga aja dia tidak langsung pulang. Aku ingin dia menjenguk ku." Ujarnya sambil memeluk guling.
Permintaanya sungguh terkabul. Lima menit kemudian, suara Robert terdengar memanggil namanya.
"Meli... Mel...ini aku. Aku ingin melihatmu."
"Aaaa! Dia beneran datang." Meli berteriak kegirangan, keinginannya terkabul.
__ADS_1
Ia berlari ke arah pintu dengan penuh semangat. "Aku sedang acak-acakan. Aku malu." Meli membuat suaranya selemah mungkin.
"Ck. Bukalah. Sakit kok malah mengunci diri." Robert menggoyang goyang kenop pintu.
Pintu perlahan terbuka. Nampaklah wajah Meli yang dibuat lemas.
"Kamu kenapa?" Robert menempelkan tangannya di kening Meli. "Tidak panas. Kamu sakit apa?"
"Memang tidak panas. Aku hanya pening. Sakit kepala." Meli beranjak ke ranjangnya. Saat melangkah lima langkah Meli sengaja membuat jalannya oyong dan jatuh ke lantai.
Untung Robert bergerak cepat. Ia menangkap tubuh Meli dan membopongnya ke ranjang.
Dengan senang hati Meli mengalungkan tangannya ke leher Robert dengan mata terpejam. Dadanya berdebar hebat saat saat mereka saling mendekap begitu erat.
"Sebaiknya periksa ke dokter. Siapa tahu ada penyakit serius." Ujar Robert setelah membaringkan Meli.
"He em. Besok lah kalau belum sembuh." Ia memijit keningnya berpura pura meringis.
"Sini ku bantuin." Tiba tiba Robert menyingkirkan tangan Meli dan ganti tangannya yang memijit.
"Terimakasih ya. Malah merepotkan mu."
Robert tidak menyahut, ia memijit kepala Meli dengan tatapan kosong.
"Belum. Entah kemana mereka. Seperti menghilang. Tempo hari aku menemukan rumah barunya. Tapi aku terlambat, mereka sudah pindah."
"Pindah?" Meli spontan duduk.
"Hem. Kata pemilik rumah, ayahnya sempat mengatakan akan pindah setelah Araysa lulus. Namun belum lulus sudah pergi. Menurutnya, mereka sedang ada masalah serius sehingga tiba tiba pindah sebelum waktunya."
"Ooooh. Terus...gimana?"
"Aku sudah ke sekolahnya. Araysa keluar tanpa mengatakan apa-apa."
'Hoh astaga, untunglah aku bergerak cepat. Ternyata Robert akhirnya menemukan rumah dan sekolah Araysa.' Meli merasa lega ia berhasil membuat Robert berpisah selamanya dengan Araysa.
"Kemana mereka lah pergi? Apa kehamilannya yang menyebabkan mereka pergi?" Tanya Robert dengan raut putus asa.
"Mungkin. Soalnya hal begitu tidak bisa disembunyikan. Setelah mendapat masalah dia memilih menghilangkan diri."
"Entah kenapa aku merasa sangat menyesal tidak mendengarkannya waktu itu. Siapa tahu dia datang untuk mengaku dan minta solusi. Atau memang dia tidak salah sama sekali. Sekarang aku seperti orang bodoh tidak tahu pasti apa yang dialaminya sebenarnya."
"Mau gimana lagi? Mungkin memang kalian tidak ditakdirkan bersama. Lagian kalau benar dia hamil olehmu, kenapa dia tidak ngotot mengatakannya padamu?"
"Itulah kadang yang bikin aku meragukannya. Jika dia benar, kenapa harus lari."
__ADS_1
"Sudahlah. Jangan menyiksa dirimu. Lihat, kamu menjadi kurus. Wajahmu nampak lebih tua karena tidak keurus. Jalan kehidupan mu masih panjang. Pikirkan dirimu dan masa depanmu."
Robert menghela nafas berat. "Tanggal tiga hari Kamis, kemarin, aku bermimpi tentang Araysa."
Tiba tiba seluruh bulu kuduk Meli meremang. Ia ingat betul malam tanggal tiga adalah hari dimana Araysa dan Abi terjun ke laut. "Mimpi apa?" Tanpa sadar suara Meli bergetar.
Robert sempat menatapnya dengan tatapan tajam menyelidik. Tapi hanya sekilas, dan lanjut menceritakan mimpinya. "Aku melihatnya berada di tempat gelap dikelilingi awan hitam pekat. Ia menangis memanggil manggil namaku. Dia minta doa dariku agar dia dan bayinya selamat. Aku pun berusaha membantunya dengan membawa sebuah korek. Aku menyalakan korek itu dan berhasil menyingkirkan awan hitam yang menutupinya. Lalu tiba tiba ia menggendong seorang bayi dan bayi itu memanggilku ayah. Saat aku ingin menggendong bayi itu, tiba tiba mereka menghilang dan tinggal aku yang dikelilingi awan. Kami bertukar posisi. Tapi karena aku punya korek, aku bisa pulang ke rumah dengan sendirinya." Tanpa sadar Robert bercerita sambil menitikkan air mata.
Selama Meli mendengar cerita Robert ia sangat ketakutan. 'Mungkinkah Araysa akan menjadi kuntilanak? Ia menunjukkan diri pada Robert yang sudah berubah jadi hantu.'
"Dimana pun dia berada semoga keadaanya baik." Ujar Robert sembari bangkit. "Aku pulang. Kalau belum sehat, nanti ku kirimkan tugas tugas serta jawabannya ke sini. Hari Senin hari terakhir pengumpulan tugas."
"I-iya. Kalau aku udah bisa, nanti malam aku datang ke rumahmu."
Sepeninggal Robert Meli merasa ketakutan sendiri. Ia takut, hantu dari Araysa mendatanginya. Tapi itu tidak berlangsung lama. Ternyata ia hanya terlalu terbawa mimpi Robert. Nyatanya hingga sudah sebulan berlalu, ia nyaman nyaman saja tanpa ada sesuatu yang aneh.
Hari-harinya berlalu dengan indah. Dirinya yang sangat ingin mendapatkan Robert kini hampir terkabul. Ia dan pemuda itu sudah mendekati garis finis, mereka sering bersama dan menghabiskan waktu berduaan saja. Robert makin peduli dan terlihat sayang padanya.
Tapi, siapa sangka masa lalu suram gadis yang sedang menikmati kebahagiaannya muncul dan memuat dunianya jungkir balik. Berawal dari seorang lelaki yang menjadi partner baru Robert. Hari itu mereka baru selesai rapat, dan lelaki itu mengajaknya makan siang bersama.
"Tuan Rabiga, anda masih sangat muda bahkan belum selesai sarjana. Anda begitu beruntung memperoleh kehidupan yang cerah." Pak Handoyo memulai pembicaraan.
"Semua hanya pemberian yang di Atas. Mungkin saya dipercaya untuk menjalankan semua ini."
"Wahhh... Anda sungguh luar biasa. Meski hebat tidak sombong seperti kebanyakan orang. Tapi saya ada sedikit yang mau ditanyakan. Apakah boleh?"
"Silahkan. Apapun itu, akan saya jawab selagi saya sanggup."
"Hehe...ini soal pribadi Anda. Kalau Anda tersinggung maafkan saya. Dan saya akan berhenti bertanya."
"Silahkan." Robert begitu santai. Ia tidak perlu menahan apapun. Ia merasa tak punya hal yang memalukan yang perlu disembunyikan.
"Itu, mengenai pasangan Anda, apakah yakin akan bersamanya?"
"Siapa? Saya merasa masih singel." Robert tertawa ringan.
"Tapi, wanita yang sering berada disamping Anda bukankah dia..."
"Oh Meli Fatin. Kenapa dengannya? Apakah kami terlihat tidak cocok. Sebenarnya sih, aku ada rencana meminangnya."
"Nah itu dia, dia itu istri dari seseorang. Apakah Anda yakin akan merebutnya dari suaminya?"
"Hah? Apa maksudmu? Dia masih gadis. Dia belum pernah menikah." Robert tidak lagi segan untuk berbicara dengan lelaki itu.
"Memang tidak banyak orang tahu tentang itu. Hanya keluarga kedua belah pihak yang tahu soal itu. Dia bahkan sudah punya seorang putra, berusia tiga tahun."
__ADS_1