
"Dia benar benar sudah menerima hukumannya. Sempat gila juga."
Amelia mengerjap pelan.
"Jangan takut lagi. Tidak akan ada yang berani menyakitimu. Aku akan menjagamu hingga kita berdua akan mati bersama."
"Lalu kenapa kau tidak gila dan mati juga?!" Tanya Amelia.
"Aku gila. Barusan setelah kamu sadar, aku sembuh dari kegilaan. Semenjak aku tahu kebenaran yang terjadi, aku sungguh gila. Bahkan sampai bunuh diri demi menyusul mu. Sekarang aku tahu kenapa aku tidak mati waktu itu, karena kamu masih hidup. Kita berdua harus hidup dan akan melanjutkan hidup."
Amelia termenung 'ohhhh...syukurlah. setidaknya aku hanya waspada pada orang satu ini.'
'Dan apa katanya? Hidup bersama? Melanjutkan hidup? Dia pikir dia siapa sesukanya menyuruh orang hidup bersama siapa!'
"Sayang...tolong dengarkan aku, aku tidak pernah melakukan itu padamu. Itu semua adalah ulah Meli sendiri demi memisahkan kita."
"Kenapa kau lebih percaya padanya dari padaku waktu itu?" Tanya Amelia dengan nada marah. Kembali air matanya mengalir. Ia masih ingat, bagaimana Robert mengusirnya waktu ia berniat mengungkapkan soal kehamilannya.
"Aku sudah diperdaya Meli. Dia menunjukkan foto foto yang direkayasa demi membuat hubungan kita hancur."
"Hah! Sudahlah. Itu sudah masa lalu. Yang sudah terjadi tidak bisa diulang lagi." Amelia tidak mau lagi mendengar masa lalunya itu.
"Makanya, aku tidak sepenuhnya bersalah. Aku tidak pernah, tidak menginginkanmu atau anak kita. Aku sungguh dibawah pengaruh Meli."
"Huh! Laki laki yang katanya pandai, berpendirian, bisa bisanya tidak memakai logikanya sendiri. Udalah! Aku malas bahas itu lagi!" Amelia sengaja tidak membahas soal Dhira. Ia tidak mau di tipu lagi. Ia tidak akan sanggup hidup bila dipisahkan dari putrinya itu. Ia akan lebih waspada agar hidupnya dan putrinya tetap aman.
"Maka dari itu, mari kita benahi hidup kita. Kita mulai dan kita bangun rumah tangga kita."
"Apa kau berniat merebut istri orang? Aku ini istri dari seseorang." Amelia pikir dengan mengatakan dirinya sudah bersuami akan lebih mudah membuat lelaki dihadapannya menyingkir.
Robert terdiam seribu bahasa. Matanya mendadak sayu dan kehilangan kilaunya. Telaga kemerahan dengan manik silau itu dibendung air. Dadanya turun naik dengan nafas yang tidak teratur. Sakit sekali dibagian dadanya hingga terasa perih dan berat. Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya tentang itu. Tentang Araysa nya adalah milik seseorang. Yang ada di pikirannya hanya akan mengajak Araysa hidup bersama dan layaknya sebuah rumah tangga yang bahagia. Sedikitpun tidak menduga kalau kekasih tercintanya sudah bersuami.
Melihat kondisi Robert, Amelia sangat senang. "Jadi tolong jangan menahan ku. Suamiku akan khawatir dan kata katamu sangat mengancam kebahagiaan rumah tanggaku." Perlahan Amelia bergerak dari ranjang. Momen ini pas sekali untuk dirinya pergi. Robert pasti tidak mau menahannya lagi. Ia terus berjalan hingga membuka pintu agar bisa keluar.
"Katakan di mana rumahmu! Aku akan mengantarmu." Suara Robert menghentikan kaki Amelia.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri."
"Tidak baik bagimu jalan sendirian. Bagaimana kalau kamu pingsan atau jatuh. Belum tentu semua orang baik mau menolongmu."
"Tidak akan. Aku udah sehat."
"Ini hubungi suamimu agar datang ke sini menjemputmu." Robert memberikan ponselnya.
"Tidak perlu." Tolak Amelia.
Robert menghela nafas panjang. "Kalau begitu, biar ku antarkan."
"Tidak usah. Aku bisa jalan sendiri." Bentak Araysa.
"Araysa! Jangan keras kepala! Bagaimana bila terjadi sesuatu yang bahaya padamu?"
"Itu bukan urusanmu. Uruslah dirimu sendiri."
"Kau tidak boleh pergi! Wajahmu aja masih pucat begitu." Robert menarik tangan Amelia. "Lihat aku! Lihat mataku!" Robert memaksa Amelia mendongak.
Amelia tidak mau. Ia takut ketahuan berbohong soal suaminya.
Robert memegangi pipi Amelia dengan kedua tangannya dan membuat mereka saling menatap dengan jarak yang sangat dekat "Lihat aku."
Dag dig dug jantung Amelia. Merasakan dan mencium aroma Robert membuat sekujur tubuhnya meremang. Ia masih mengingat aroma dan sentuhan Robert ketika mereka muda dulu. Amelia menggerutu dalam hati, kenapa ia menjadi kikuk dan merasa berdebar. 'Bodohnya aku ini!' batin Amelia
"Katakan dimana rumahmu!" Tanya Robert tak melepaskan sedikitpun tatapannya dari kedua mata Amelia.
__ADS_1
"Di Jakarta." Jawaban yang lolos begitu saja dari mulutnya.
"Kalau mau pulang, biarkan aku mengantarmu."
Amelia mendorong dada Robert. Ia sudah hampir tak kuat berdiri karena sangat gugup. "Kalau kau mau dimaafkan, biarkan aku pulang dan jangan pernah menemuiku lagi." Amelia membelakangi Robert.
Robert menatapi punggung Amelia. Hatinya makin sakit membayangkan wanita yang dicintainya telah menjadi milik orang lain. Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa arti penantiannya selama ini? Apakah dirinya sudah tidak berhak lagi untuk memiliki kebahagiaan?
"Tapi, aku..."
"Tidak ada tapi! Atau tidak ada maaf bagimu!" Seru Amelia tanpa melihat Robert. Ia melanjutkan langkahnya akan pergi dari rumah itu.
"Bagaimana caramu pergi? Apa kamu punya uang?"
Amelia berhenti, benar yang dikatakan Robert bagaimana ia akan pergi? Jangankan uang, benda apapun yang bisa dijual pun tidak punya.
"Kebetulan aku akan ke Jakarta. Kita barengan. Tapi untuk malam ini istirahatlah. Besok pagi kita berangkat." Wajah Robert berubah dingin. Ia sungguh kecewa,sangat kecewa wanita yang dicintainya telah menikah.
"Harus sekarang! Aku tidak mau tinggal di sini!"
Robert menghela nafas berat. Ia memencet batang hidungnya dengan kening berkerut. Ia sangat lelah dan sedang sakit hati. Saat ini ia tidak bersemangat pergi kemanapun.
Tapi melihat wajah Amelia yang sangat cemas dan pucat membuatnya tidak tega. Akhirnya ia pun memutuskan akan pulang ke Jakarta. Demi Amelia, ia menahan lelah dan menyimpan deritanya di hatinya yang paling dalam. Asal melihat Araysa masih hidup sudah merupakan sebuah kebahagiaan baginya walau dirinya tak bisa memiliknya.
Mereka berangkat menaiki mobil. Amelia menolak naik pesawat. Ia takut dan masih belum berani menaiki benda ajaib yang bisa terbang itu.
Sempat terjadi drama sebelum berangkat. Amelia tidak mau semobil dengan Robert. Ia ingin naik bus atau kereta api. Tapi Robert tidak memberinya uang. Lelaki itu ngotot harus dirinya yang mengantar Amelia.
Tidak bisa melawan lagi akhirnya Amelia mengalah. Ia duduk berdua dengan Robert. Sepanjang perjalanan mereka hanya berdiam.
Tiga kali Robert mengajak Amelia makan atau minum tapi wanita itu menolak. Ia benar-benar ingin segera tiba ditujuan dan berpisah dengan Robert.
Robert merasa perutnya sudah perih. Seharian ia hanya makan sekali yaitu makan siang. Sekarang sudah pukul sebelas malam. Ia ingin makan agar perutnya nyaman kembali. Tapi wanita di sampingnya sepertinya tidak mengerti yang dirasakannya saat ini. Ia pun tidak berniat berkeras, dibiarkannya perutnya menderita lapar.
"Dengar, mataku ini sudah tidak bisa diajak kompromi. Sangat ngantuk dan aku juga lapar. Kita beristirahat sebentar. Paling dua puluh menit. Kita makan dan akan ada sopir yang membawamu nanti ke rumahmu."
"Tidak perlu sopir. Berikan saja aku ongkos secukupnya. Aku akan pulang sendiri."
"Tidak. Kamu harus selamat tiba di depan suamimu."
Amelia tidak menjawab lagi. Ia sangat hafal bagaimana kerasnya Robert. Sekali bilang tidak maka tidak. Ia pun menurut.
Robert membawa mobil lebih cepat. Kebetulan di dekat area itu ada rumah anak buahnya. Ia akan menumpang makan, mandi dan tidur sebentar. Hanya beberapa menit saja.
Di depan rumah, seorang pria sebaya Jhon menyambut mereka.
"Selamat siang Pak." Zaky membungkukkan badannya memberi hormat.
"Suruh istrimu menyiapkan makanan. Aku mau makan. Dan siapkan bubur juga. Terus, jaga dia untukku. Aku ingin istirahat sebentar."
"Robert! Ini sudah dekat ke rumahku. Antarkan aku sebentar. Kalau tidak berikan aku ongkos. Aku akan pergi sendiri!" Bentak Amelia. Ia turun terburu buru hingga kakinya tersandung. Untung Robert dengan tangkas menangkapnya sehingga tidak sampai terjatuh ke tanah.
"Kita masih butuh waktu sejam lagi. Aku hampir pingsan karena lapar dan mengantuk. Sekarang kita makan dulu." Sekalian Robert mengangkat tubuh Amelia dan membawanya masuk ke dalam. Kepalanya tambah sakit mendengar rengekan Araysa.
"Turunkan aku! Robert! Aku ingin ke rumahku!" Amelia berteriak teriak minta diturunkan. Ia sangat marah. Sempat sempatnya mampir padahal mereka sudah tiba di Jakarta. Hanya mengulur waktu saja.
"Hanya setengah jam. Nanti juga kita berangkat lagi." Robert menurunkan Amelia di ruang makan.
Terlihat Zaky dan istrinya sedang sibuk menata makanan di meja. Untung dirinya membuat bubur ayam tadi pagi, sehingga cukup memanaskannya saja. Diam diam mereka tertawa melihat tingkah bos mereka itu. Selama ini yang diceritakan suaminya, Robert adalah lelaki anti wanita. Tapi sekarang mereka malah melihat Robert sedang berusaha membujuk seorang wanita.
"Kita makan terlebih dahulu. Kamu juga pasti lapar. Lihatlah wajahmu makin pucat. Kalau kamu pingsan aku bisa disalahkan oleh suami itu."
Senyum bahagia di bibir Zaky dan istrinya langsung hilang mendengar wanita yang dibawa Robert sudah bersuami. Mereka kira wanita itu adalah kekasihnya. Tapi ternyata istri dari seseorang.
__ADS_1
Amelia mengambil piring yang diberikan Robert. Pikirnya, dari pada berlama-lama, lebih baik menurut saja agar waktu mereka lebih singkat.
Mereka makan dengan diam. Robert makan dengan bersemangat, sedangkan Amelia hanya pelan pelan saja.
Dari dapur Zaky dan istrinya berbisik bisik membahas Robert dan wanita yang dibawanya. Mereka yang sempat senang kini justru penasaran dengan berbagai dugaan terhadap bosnya itu.
Setelah makan, Robert meminta pakaian dan handuk juga alat cukur pada Zaky. Ia tidak lupa menyuruh lelaki itu menjaga Amelia.
Setelah mandi ia tiduran di sofa di ruang tamu. Ia ingin tidur sebentar.
"Kenapa malah rebahan? Aku ingin pulang!" Amelia datang.
Robert membuat tubuhnya terlentang dari posisi miring. Ia bertatapan dengan Amelia.
Amelia membuka matanya lebar-lebar. Wajah Robert yang tertutupi rambut-rambut halus sudah bersih. Sangat bersih sehingga wajahnya kembali ke wajah semula. Hanya saja hidungnya yang menjadi lebih mancung dan dagunya tidak sama dengan yang sebelumnya. Menjadi lebih tampan dan gagah. Sebenarnya saat di Indonesia saja ia memelihara semua rambut di sekitar wajahnya. Sengaja untuk menjauhkan perhatian keluarga Meli darinya. Sekarang ia tidak perlu melakukan itu lagi.
"Aku tidur sepuluh menit aja. Mataku perih." Pinta Robert.
Araysa langsung tersadar dari pandangannya yang menatap Robert terlalu terpaku. Ia membuang muka ke arah lain, "Makanya biarkan aku pulang sendiri! Kau hanya membuat dirimu sendiri kerepotan!"
"Aku tidak repot. Aku senang melakukannya. Aku butuh istirahat sebentar. Kamu boleh menungguku di sini. Duduklah setelah sepuluh menit bangunkan aku!" Robert menarik tangan Amelia hingga terduduk menempel di samping pinggangnya. Entah kenapa, hatinya sedikit riang melihat binar mata Amelia barusan. Wanita itu seperti terkesan dan raut wajahnya lebih bersahabat. Manik matanya juga berkilau indah. Melihat itu, ia menjadi ragu dengan pengakuan Amelia yang sudah punya suami.
"Tolong berikan aku ongkos aja. Biarkan aku pulang sendiri. Kamu tidurlah di sini dengan tenang. Kalau nggak suruh temanmu itu yang mengantarku." Amelia berusaha melepaskan tangan Robert dari lengannya.
Tapi Robert tidak melepasnya. Dengan erat dan menariknya dengan sekali hentakan, tubuh kurus Amelia mendarat diatas dadanya. Wajah mereka saling berhadapan. Ditatapnya mata Amelia dengan sangat lekat. Menyelami kebenaran di sana.
Di pintu masuk, Zaky berdiri dengan bingung. Ia menggaruk kepalanya tanda pusing. "Khem...eh itu Pak, permisi, ada yang mau saya sampaikan." Dengan terpaksa Zaky mengganggu acara bosnya.
Robert menatap Zaky dengan tatapan horor. "Menyingkir sana! Nanti sampaikan itu!"
"Tapi Pak, ini genting." Jawab Zaky.
"Pergi!!!" Usir Robert. Wajahnya memerah. Ia sangat kesal dengan anak buahnya itu. Menggangu saja, padahal ia hampir menemukan kebenaran tentang pengakuan Amelia.
"Terjadi kekacauan di markas, Pak." Zaky ngotot menyampaikan laporannya. "Terjadi kebakaran. Dan sekarang Leo dan Dhira, sedang melakukan kerusuhan di kediaman Bapak. Jhon kewalahan."
"Dua anak kecil aja tidak sanggup mereka tangani?" Tanya Robert dengan nada marah. Sedangkan Amelia sudah berhasil melepas diri dari kungkungan Robert.
"Mereka banyak Pak. Ternyata mereka punya geng."
"Turunkan semua bantuan dan basmi mereka semua hingga habis. Jangan berikan ampun! Berani sekali mereka mengganggu ketenangan hidupku!" Teriak Robert.
"Baik Pak." Zaky mundur dan segera membuat perintah.
"Kau pergilah kesana! Jhon pasti membutuhkan bantuan mu!"
Robert mengalihkan pandangannya pada Amelia. "Ayo berangkat. Aku akan mengantarmu."
Amelia tidak menyahut. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. 'Dhira dan Leo? Apakah mereka adalah...oh tidak! Kenapa mereka bisa berurusan dengan pria ini? Dan apa barusan? Turunkan semua anak buah dan basmi mereka? Hah, apa yang sudah terjadi? Lalu bagaimana nasib putriku?'
"Ada apa? Apa kamu baik baik saja?" Robert menyadari perubahan wajah dan mimik Amelia.
"Apa-apa kamu sedang berperang?" Tanya Amelia.
"Bukan perang. Hanya memberi pelajaran pada orang yang suka usil menganggu ku."
Amelia terdiam. Tapi wajahnya makin nampak bingung dan pucat.
"Si-siapa mereka?"
"Bukan siapa-siapa. Kamu fokus aja memulihkan diri. Zaky dan Jhon akan membereskan mereka."
"Katakan siapa mereka?" Amelia malah sudah mencengkram leher Robert dengan mata yang sudah berair.
__ADS_1