
"Itulah sebabnya aku datang ke sini. Aku tidak mau Robert mengotori tangannya dengan darah kotor mu itu. Dia akan disebut orang kejam, pembun*h padahal kamulah yang menyakitinya! Demi kebaikan kalian, pergilah! Ajak ayahmu ke tempat terpencil dan hiduplah di sana.
Araysa belum bisa membuka mulutnya. Lidahnya sangat berat untuk menyangkal semua tuduhan itu. Hanya matanya yang semakin mengabur karena air matanya yang makin deras.
Mendengar suara ramai di luar, Abi bangun dari ranjang dan keluar melihat siapa teman Araysa berbicara.
Begitu ia berdiri di samping Araysa, penglihatannya melihat foto putrinya dengan mata terbelalak. Sampai-sampai ia membuang mukanya karena malu dengan tampilan Araysa di foto itu. Sungguh ia tidak percaya itu adalah Araysa putrinya.
"Ayah, aku tidak pernah melakukan ini. Aku hanya sekali bersama Robert. Aku tidak mengenal pria di foto itu. Aku tidak punya teman laki laki. Robert pun tahu tentang itu." Terhadap ayahnya, Araysa masih sanggup bicara walau dengan kedua bibir bergetar.
"Sudahlah Araysa! Itu hanya alasan mu. Ini jelas kamu. Bagaimana mungkin foto ini palsu. Robert akan mengubur mu menyangkal semua ini dihadapannya. Ia sudah bilang ini peringatan terakhir buatmu!"
"Dari mana foto foto ini kamu dapatkan?" Tanya Abi.
"Dari e...Se...itu dari Robert!" Jawab Meli.
Abi menatap Meli. Kedua mata Abi mencari kebenaran di mata Meli. Entah kenapa Abi ragu. Tatapan Meli meragukan. Iris hitam milik wanita itu bergerak gelisah, nampak sekali tidak mendukung yang terucap dari mulutnya.
"Hubungi Robert sekarang juga! Aku ingin dengar dari mana ia dapatkan foto ini!" Hardik Abi sengaja membuat wajahnya angker.
"Eeeee...tidak bisa. Dia sudah bilang tidak ada yang boleh diantara kalian yang menghubungi atau menemuinya! Atau kalian..."
"Apa? Di bun*h? Aku tidak takut. Bukan hanya dia yang bisa membun*h, aku juga bisa membun*hnya! Aku ingin masalah ini jelas!!" Teriak Abi.
Meli berkedip-kedip, tapi hanya sebentar "Aku hanya menghawatirkan kalian. Aku sudah mengenal Araysa dari kecil. Aku kesini hanya memberitahu, agar kalian pergi yang jauh. Aku tidak mau kalian kenapa-kenapa! Dia itu sangat membenci kalian karena ulah Araysa. Itu saja. Kenapa kamu marah padaku?" Dalih Meli.
"Karena kamu bukan wanita seperti yang terlihat! Kamu itu ular! Kamu itu sangat lihai bersandiwara! Kau mengaku masih gadis, dan berusaha mengambil Robert untukmu padahal kau sudah beranak. Itulah aslinya dirimu."
Mendadak Meli melotot dengan mata memerah. Kelihatan ia sangat geram hingga kedua tangannya terkepal erat. "Kamu!!! Tutup mulutmu itu!" Meli berteriak histeris. Saking emosinya sampai seluruh tubuhnya bergetar.
"Kenapa? Apa kamu merasa lebih baik dari putriku? Kamu itu lebih buruk!" Tunjuk Abi. Juga orang tuamu itu! Menyembunyikan identitas anaknya yang sudah menjadi istri orang bahkan sudah memiliki putra. Kalian penipu! Kamu berniat menipu Robert?" Hardik Abi lagi.
Meli tidak tahan lagi. Ia mengamuk mengambil benda apa saja dan melemparkannya. "Kamu tidak tahu apapun! Jangan asal buka mulutmu itu! Siapapun yang tahu tentang itu akan ku bun*h! Salahmu kenapa kamu tidak pura pura tidak tahu!" Meli maju dengan tiba-tiba, didorongnya Abi dengan kuat hingga lelaki itu terpental ke belakang. Lalu ia mengambil kursi dan mengangkatnya ke arah Abi.
Tapi untunglah Abi bergerak lebih cepat, ia merampas kursi itu dan membantingnya ke hadapan Meli. "Pergi! Suruh Robert datang ke sini malam ini juga! Jika dia tidak tiba di sini sebelum fajar, maka habislah riwayatmu juga keluarga agung mu yang terpandang itu! Kalian akan lebih malu dari pada kami! Aku akan mengenalkan putra dan suami mu ke dunia yang luas ini!"
Meli tergagap dan ketakutan juga kaget dengan suara hentakan di kakinya. Kursi itu sampai reyot dan terlepas dari bagian-bagiannya. Ia sungguh tidak mengira Abi bisa sekejam itu. Selama ini, selama bekerja di rumahnya menurutnya Abi hanyalah lelaki lemah dan dipandangnya bodoh.
"Robert tidak akan mau datang. Dia bukan pria bodoh yang mau bertanggung jawab atas hal yang tidak dilakukannya."
"Kamu yakin? Ini bukan tipuan mu? Biar semua jelas, sekarang telpon Robert! Suruh dia datang sekarang juga!"
"Di-dia lagi ke luar kota. Gak bisa sekarang."
"Aku tidak mau dengar ada alasan apapun! Pokoknya sebelum fajar pertemuan harus terjadi. Kalau tidak, lihatlah apa yang bisa kulakukan untukmu!" Tunjuk Abi ke mata Meli. Kedua mata lelaki itu, menatap Meli dengan sangat marah.
Meli terlihat lemah. Dengan terpaksa ia mengangguk. Ia seperti ayam yang kalah tarung. Tiba tiba peok tak bernyali. Abi telah mematahkan lehernya hingga tidak bisa melihat dengan tegak lagi. Bagaimanapun ia tidak akan mau bila rahasianya terbongkar. Itulah yang ditutupinya dengan mati-matian agar bisa menjadi pendamping Robert. Akhirnya dengan kepala tertunduk ia mundur dan pergi dari sana.
"Ingat! Kamu harus membawa Robert ke rumah ini, menemuiku. Kalau kamu tidak membawanya ke sini, lihatlah apa yang akan terjadi padamu!"
__ADS_1
"I-iya. Aku-aku akan mengajaknya ke sini!" Jawab Meli sebelum menghilang dari halaman.
Araysa tidak mengerti apapun. Bukan hanya tidak mengerti, tapi tidak mendengar apapun yang dibicarakan ayahnya dan Meli. Ia hanya menangisi nasibnya sambil mengelus perutnya karena terasa sakit lagi. Bahkan saat suara keras, hentakan dari kursi pun tidak bisa mengalihkan pikirannya.
"Sebaiknya kamu istirahat. Wajahmu itu sudah sangat pucat." Ucap Abi setelah Meli pergi
Abi mendekat pada Araysa yang tak mendengarnya.
"Apa perutmu masih sakit?" Tanya Abi sembari menyentuh bahu Araysa. Sebisanya ia membuat suaranya lebih pelan . Ia sedih juga melihat wajah putrinya yang bagai tak bernyawa lagi.
Araysa tersentak, seperti baru tersadar "Ayah, aku bersumpah tidak pernah melakukan yang foto itu. Aku sudah sangat salah telah melakukan dosa. Selama ini aku terjerat rasa bersalah dan ketakutan. Mana mungkin aku tega berbuat seperti itu. Itupun karena aku yakin, aku tidak hamil, makanya aku menuruti ayah menjauhi Robert. Tapi ternyata malah begini."
"Huuufffff...kacau sudah hidup kita." Keluh Abi.
Araysa tertunduk tidak sanggup menatap wajah ayahnya. "Maafkan aku Ayah, seandainya lebih cepat ku beritahukan, mungkin masalahnya tidak serumit sekarang."
Abi menghela nafas. Yang dikatakan Araysa benar. Seandainya lebih awal sebelum Meli tahu, mungkin membahas persoalan pada Robert tidak terlalu sulit. Ia tahu persis kalau selama ini Meli menginginkan Robert. Ia menduga kekacauan yang terjadi adalah ulah Meli.
"Tidak bisa disesali lagi. Sudah terlanjur terjadi. Jika Robert tidak mau bertanggung jawab, kita bisa apa. Ayah akan tetap mengurus mu. Hanya itu yang bisa ayah lakukan untukmu. "
Araysa terisak. Ia tidak bisa mengatakan seperti apa hatinya sekarang. Antara menghangat dan hancur. Hangat atas kebesaran hati ayahnya, dan hancur karena telah melakukan kesalahan besar.
Esoknya hingga pagi hari, Meli tak kunjung datang. Abi sudah tidak sabar lagi. Dari tadi ia mondar mandir ke kamar dan ke dapur.
"Meli sepertinya mengelabui kita. Jika benar bukan dia dalang penghasut Robert untuk apa dia takut datang. Anak itu sungguh berbahaya. Makanya dari dulu ku katakan kamu jangan terlalu dekat dengannya."
"Kita tunggu sebentar lagi Ayah. Ini masih jam enam."
"Apa kita ke rumah Robert lagi Ayah?" Tanya Araysa.
"Itu tidak akan berhasil. Kita hanya kaan mempermalukan diri kita sendiri."
Araysa membenarkan ucapan Abi dalam hati. Ia sudah melihat kemarahan Robert. Lelaki itu sampai tega memaki dan mengusirnya. Dan ia tidak akan sanggup bila kejadian itu terulang lagi, apalagi bersama sang ayah.
"Terimalah nasibmu. Orang kecil seperti kita bisa apa." Meski ucapan Abi sudah menyerah. Wajahnya begitu diselimuti kekecewaan dan putus asa.
Araysa tidak berani menatap ayahnya. Ia hanya menunduk dan lagi lagi air matanya yang berjatuhan. Bergantian jemarinya menghapus mengusap matanya.
"Jangan menangis terus. Bayimu bisa stres."
Araysa menghapus air matanya dengan ujung bajunya. Ia bangkit pergi ke dapur, mulai membuat sarapan. Sedikit hatinya lega karena ia tidak harus bersembunyi lagi dari ayahnya. Kini tinggal mengikuti apapun yang akan dikatakan oleh ayahnya. Apapun itu ia hanya akan menurut.
Abi tidak jualan hari ini. Ia akan bersih bersih dan menyiapkan bahan bahan dagangan untuk besok. Sedangkan Araysa pergi ke pasar untuk membeli bahan yang kurang untuk membuat batagor dagangan ayahnya.
Baru saja Abi berniat sarapan, tapi tertunda karena sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Ia langsung bisa menduga siapa yang datang. Itu pasti Robert atau Meli.
Ia berlari ke depan untuk membuka pintu. Ia tidak sabar bertemu Robert. Tapi yang turun dari mobil bukan orang yang ia kenal.
Dia orang pria dewasa yang baru turun dari mobil, kini sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Anda di minta Pak Robert ikut. Kami utusannya untuk menjemput Anda."
"Kenapa dia tidak ke sini?"
"Beliau orang sibuk. Jika ada sesuatu yang ingin Anda bicarakan, mari pergi. Kami akan mengantar Anda."
Abi berpikir sebentar. Haruskan ia pergi sekarang?
"Waktunya hanya sedikit. Beliau baru tiba dari luar kota. Jika Anda tidak pergi, beliau akan segera berangkat lagi."
"Iya. Tunggu bentar." Abi masuk ke dalam. Ia mengganti kaos dan celananya. Lalu ke luar mengikuti dua pria yang menjemputnya. Bagaimanapun akan lebih baik jika ia mendengar sendiri jawaban dari pria itu, agar pikirannya tenang.
Setelah berkendara selama dua puluh menit, Abi terheran jalan yang mereka lalui makin sepi dan sisi kiri kanan jalan terdapat perkebunan singkong dan jagung. Merasa ada yang tidak beres, ia protes. "Kenapa kita ke arah perkampungan? Turun kan aku sekarang juga!"
"Heh! Diam mulutmu itu!" Lelaki berkaos yang tak lain adalah Jac, pria sewaan Meli meninju kepalanya dengan keras.
Abi tidak terima diperlakukan kasar, ia membalas pukulan lelaki itu dengan tinjunya juga hingga mereka impas.
"Cihh! Kurang aj*r! Beraninya kamu!" Jac geram.
Pukul memukul terjadi di dalam mobil. Abi tidak mau kalah, ia membela dirinya dengan memukul kuat lawannya.
"Cepetan dikit bro! Ini orang tua ternyata ngajak berantam. Gak seru berkelahi di mobil begini!" Seru Jac.
"Kita udah sampai kok. Geret dia turun. Beri dia pelajaran!" Yang memakai kaos biru yang tak lain adalah Omeng, yang menyetir mobil. Ia membuka pintu. Abi dan Jac turun.
Perkelahian berlanjut lagi. Dua lawan satu tentu tidak seimbang. Abi kalah. Dua laki laki itu menarik tangannya membawanya masuk ke pekarangan sebuah rumah di tengah perkebunan.
Terasa sakit dan pedih di seluruh wajahnya. Luka dan darah memenuhi wajah Abi. Tapi ia belum mau mengalah. Ia berontak dari pegangan lawannya dan memberikan tendangan.
Dua lelaki itu tentu tidak bisa dikalahkannya. Mereka kompak menerjang Abi hingga lagi lagi luka dan lebam bertambah di tubuhnya.
"Kalian mau apa? Di mana Robert?" Teriak Abi. Ia mengambil kayu yang kebetulan ada tergeletak di tanah. Diangkatnya kayu itu siap memukul siapa saja yang mendekat.
"Hahaha...kamu pikir dirimu itu siapa hah, bisa bertemu dengan robert! Dasar tidak tahu diri!" Meli muncul dari dalam rumah.
"Meli! Kau benar-benar iblis! Apa yang mau kau lakukan?"
"Aku? Aku ingin memberi kalian pelajaran! Kalian itu sangat tidak tahu diri! Tidak mengerti di usir secara halus, terpaksa pakai kekerasan!" Meli sudah kehilangan akalnya demi memisahkan Araysa dan Robert. Ia menculik Araysa saat pergi ke pasar dan mengelabui Abi agar datang ketempat yang telah ditentukannya.
Sudah terlanjur berjalan permainannya mengelabui Robert akan perselingkuhan Araysa. Ia harus mengakhiri permainan demi mendapatkan Robert. Sebenarnya akan sangat mudah, jika Abi dan Araysa pergi dengan suka rela, tanpa harus melawannya. Tapi, harapannya tak semudah rencananya. Abi malah mengetahui dirinya yang sebenarnya dan itu merupakan ancaman baginya. Sehingga menyewa dua pria untuk menakuti Abi dan Araysa.
Ia berniat membuat Abi dan Araysa ketakutan sehingga memilih pergi ke tempat yang sangat jauh meninggalkan kisahnya tanpa diketahui oleh siapapun. Juga meninggalkan Robert untuk dirinya.
"Hajar dia hingga babak belur!" Tunjuk Meli ada Abi.
"Kamu sungguh wanita berbahaya! Kamu pikir kau bisa bahagia dengan caramu ini? Kamu akan hancur!"
"Banyak bicara kamu itu! Jac! Hajar dia!"
__ADS_1
Jac dan Omeng maju dan mulai menghajar Abi. Tapi karena Abi memegang kayu dua lelaki itu tidak bisa menyakitinya.