Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Sampai Mabuk


__ADS_3

Ternyata Leo menyewa ruangan VIP. Begitu pintu terbuka mereka di sambut oleh suara musik dan hidangan makanan serta sebuah kue mirip kue ulang tahun yang berukuran besar. Juga bunga bunga indah yang di pajang di tiap sudut ruangan.


"Ayo duduk!" Leo merangkul bahu Dhira dan membawanya ke sofa.


"Pesta apa ini?" Tanya Dhira memperhatikan kue tart berukuran jumbo tanpa lilin atau nama.


"Nanti juga kamu tahu. Sekarang kita duduk."


"Kamu cepat cepat membawaku dari pesta pernikahan Nia untuk ke sini, Memangnya ada apa ini?"


"Hari ini ultahku."


Dhira menoleh dan menatap ke wajah Leo.


"Dari dulu aku tidak pernah mau dirayain ultah. Baru kali ini. Aku ingin merayakannya denganmu."


"Benarkah? Maaf, aku tidak tahu. Jadi, nggak enak, nggak bawa kado apapun." Aslinya Dhira terkejut. 'Masa baru ini peran merayakan ultah?'


"Kamu ada di sampingku saat ini sudah jadi kado terindah bagiku." Leo menggenggam tangan Dhira dan menatapnya penuh kehangatan.


Dhira terbengong. Ia tidak tahu mau bicara apa. Otaknya serasa ngebleng mendapat perlakuan Leo.


"Tidak ada pesta meriah seperti orang lain merayakan ultah. Aku hanya butuh ditemani olehmu makan dan minum. Itu aja udah cukup."


"Kenapa tidak merayakannya bersama keluargamu?"


"Malas. Bersama mu udah bikin aku bahagia kok."


Dhira terdiam.


"Sekarang aku potong kuenya. Dan akan ku suapi kamu." Leo mengambil pisau kue yang sudah tersedia dan mengambil sepotong kue dan mengangkatnya ke depan mulut Dhira.


Dhira menatap wajah Leo dengan ragu ragu.


"Buka mulutmu. Setidaknya aku pernah melakukan ini." Ucap Leo dengan senyum.


Dhira membuka mulutnya dan menerima kue. mengunyah pelan dan menelannya. Hatinya tiba tiba sedih. Ternyata dibalik wajah sempurna Leo, ada sisi sedihnya.


"Sekarang aku yang menyuapimu." Dhira berinisiatif mengambil sepotong kue dan menyuapkannya ke mulut Leo. "Selamat ulang tahun. Panjang umur, bahagia dan sukses selalu."


"Hem makasih. Selesai. Sekarang waktunya makan minum." Leo menyendok makanan dan memberikan ke pada Dhira.


Merasa tidak enak merusak kesenangan Leo, Dhira menurut aja. Ia makan dan minum bersama Leo.


"Kamu tahu, aku adalah orang yang paling tertutup. Tidak suka berbicara hal pribadi dengan siapapun. Sekalipun itu pada keluargaku sendiri. Tapi," Leo mengambil jemari Dhira dan menggenggamnya "bersamamu aku ingin banyak bicara. Mengatakan hal apapun, dan berbagi apapun."


Dhira tersenyum kaku. Selama latihan ia sudah biasa sebenarnya bersentuhan fisik dengan Leo. Tapi kali ini rasanya sangat canggung.


"Maukah kamu selalu mendengarkan ku? Menemaniku dan menjalani banyak hal denganku?" Tatapan Leo begitu dalam dan penuh harapan.


"Bukankah beberapa hari terakhir kita melakukan itu? Berlatih bersama, makan bersama, minum bersama, bahkan aku selalu setia mendengar semua ceritamu." Sekuatnya Dhira memutar otak cara menjawab Leo.


"He'em." Leo mengangguk dan tersenyum. "Aku berharap ini berlangsung lama bahkan untuk selamanya."


"Iya. Selama masih bernafas dan bisa saling tatap tentu akan begitu."


"Terimakasih." Kali ini Leo merangkul Dhira dan memeluknya.


Sementara di dalam pelukannya, Dhira seperti anak kucing yang baru ketemu oleh tuannya. Mau tapi takut takut. Ingin menolak tapi tidak tega merusak hari bahagia Leo.


Acara mereka berdua berlanjut terus hingga mereka minum banyak. Tak tanggung tanggung, mereka menghabiskan hingga tujuh botol wine.


Jam satu dini hari, pelayan restoran terpaksa masuk dan menyuruh mereka pulang. Tapi mereka sudah teler dan tertidur di sofa. Tidak mau menjadi penjaga hingga pagi harinya, pelayan itu mengambil ponsel Leo yang tergeletak di meja dan membuka dengan menempelkan jarinya ke bagian kamera. Kemudian menelepon asisten Kim.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian Kim sudah ada di ruangan itu.


"Hei Leo! Bangun!" Ia menggoyang goyang tangan Leo.


"Hem...mm...awas!" Leo menyingkirkan tangan Kim.


"Tidur di rumah! Cepat bangun! Mabuk-mabukan segala lagi! Hei pulang!"


"Hah...aaa berisik banget! Diam!" Leo mendorong Kim.


"Kamu ini kenapa sih! Biasanya juga kalau mau minum di rumah. Ini di restoran segala. Hayo!" Kim membuat Leo berdiri dan memapahnya keluar.


"Andhira. Itu! Bawa dia juga." Ujar Leo dengan gaya orang mabuk.


"Tumben kamu peduli dengan cewek. Dia siapa?" Tanya Kim.


"Andhira."


"Andhira Andhira. Iya tapi siapamu?" Bentak Kim.


"Ahhh lepasin! Aku mau menggendongnya." Leo melepaskan diri dari tangan Kim.


"Gendong gimana? Kamu aja teler begini."


"Ssssttt Diamlah. Jangan berisik! Dia lagi tidur." Leo menatap Kim tidak suka.


"Ah terserahlah. Gendong sana! Cepat! Biar kita pulang."


"Iya. Pulang sama Andhira juga."


Tertatih tatih Leo membopong Dhira. Ia berjalan dengan tubuh tidak bertenaga dan hampir jatuh.


Tidak tahan melihat dua orang itu Kim akhirnya memapah mereka dengan dirinya berjalan di tengah. Dibagian kirinya Leo sementara dibagian kanannya Dhira.


Saat mendudukkan Dhira di dalam mobil, ia baru sadar gadis itu adalah seseorang yang pernah ia lihat.


Plakkk


Kim memukul paha Leo yang masih menggantung di pintu mobil. "Enak ya nyusahin orang!" Ucapnya sembari mendorong dan mengangkat kaki Leo ke dalam. Sedangkan yang dipukul hanya menggerutu tidak jelas.


Setibanya di rumah Leo, Kim tidak kuat mengantar Leo ke dalam kamar. Ia menidurkannya begitu saja di karpet lantai di dekat sofa. Sementara Dhira ditaruhnya di sofa. "Uggghhh...wanita ini berat sekali padahal kelihatannya kecil." Kim menundukkan kepalanya memperhatikan wajah Dhira.


"Dia terlihat bukan hanya cantik. Tapi nampak memancarkan sesuatu yang begitu menarik di wajahnya. Ternyata Leo punya karyawan secantik ini." Kim masih menunduk terus menatapi wajah Dhira.


"Heh! Kamu ngapain di sana? Menjauh! Menjauh!" Leo yang setengah sadar berteriak melihat wajah Kim begitu dekat dengan wajah Dhira. Tangannya menarik-narik kaki kaki Kim.


"Kenapa?" Tanya Kim melirik Leo yang tepat berada di kakinya.


"Jangan macem macem! Ku kubur kamu hidup hidup!"


"Hah, kenapa marah marah?" Kim tidak juga beranjak dari tempatnya. Masih setia menunduk dengan posisi saling berhadapan dengan wajah Dhira.


Diantara kesadarannya Leo sangat jengkel dengan kelakuan Kim. Asistennya itu begitu kurang ajar menatap Dhira terus terusan. Ia berguling dan menarik kaki Kim. Sekali tarikan Kim terjatuh menimpa Dhira.


Melihat itu Leo makin kalap. Di depan matanya sendiri Kim menaruh kepalanya di atas dada Dhira. Ditariknya lagi kaki Kim hingga pria itu terseret ke bawah. Tapi Dhira yang terganggu dengan gerakan Kim menggeliat sambil bergeser hingga terjatuh diatas tubuh Kim.


Leo merangkak menarik Dhira hingga berpindah kedekapannya. "Awas kamu! Besok terima hukumanmu!" Tunjuknya ke wajah Kim.


"Hehehe...aku yakin kamu lupa apa yang terjadi. Tidurlah. Aku mau pulang. Diam diam kencan sama dia. Pantesan hari itu tingkahmu aneh."


"Pergilah. Kamu itu gangguin orang pacaran aja."


"Wek pacaran apaan? Pada teler begini!"

__ADS_1


"Husss...jangan berisik! Andhira lagi tidur. Pergilah sana!"


Kim keluar meninggalkan sahabatnya yang sedang berpelukan dengan Dhira.


Pagi harinya, Leo merasa tangan kanannya kebas dan sulit digerakkan. Seperti ada beban berat yang menimpanya. Sehingga untuk menggerakkan kaki atau tangan saja sangat sulit.


Haaciemmm...!


Haaciemmm....!


Ia bersin dua kali merasa geli di lobang hidungnya. Ujung anak rambut Dhira mencolok hingga ke dalam hidungnya.


Ia terlonjak saat melihat dirinya tidur begitu intens dengan Dhira.


Di waktu yang bersamaan, Dhira yang masih berkelana di alam mimpi tersentak sekaligus terbangun. Merasa yang dipeluknya adalah guling, semakin digulatnya dengan kuat kemudian merenggangkan seluruh tubuhnya.


Sementara Leo yang setengah mati menahan kaget menyadari yang menimpanya adalah Dhira, menahan nafas berusaha agar tidak ketahuan. Tapi itu tidak mungkin.


"Kenapa aroma bantalku ini berubah?" Dhira meraba raba pangkal lengan hingga dada Leo dengan mata tertutup. "Kok keras begini? Juga hangat?"


Mengetahui Dhira akan membuka mata, Leo berpura pura tidur saja agar tidak disalahkan.


"Aaaaaaa...!" Dan benar saja, begitu Dhira membuka mata gadis itu berteriak histeris menyadari ia tidur berpelukan dengan tubuh seseorang. Cepat cepat diperiksanya pakaian yang masih utuh menempel ditubuhnya dan Leo. Langsung bernafas lega saat tidak ada yang aneh dan salah.


"Hemm...berisik banget. Aku masih ngantuk." Gumam Leo pelan tapi cukup terdengar jelas.


"Leo! Hei! Kenapa kamu tidur di sini?" Dhira memukul mukul dada Leo.


"Haduhhh...siapa sih?" Leo memincingkan matanya sembari mengangkat kepalanya melihat ke arah Dhira. "Andhira?" Ia berpura pura terlonjak dan duduk.


"Kita mabuk berat sepertinya." Ucap Dhira pelan. Betapa ia malu saat ini. Apalagi setelah sadar mereka berada di rumah Leo. Tapi masih sedikit lega karena menurutnya Leo tidak sempat melihat dirinya memeluk tubuh bosnya tadi.


"Iya. Tapi untung kita masih bisa pulang. Coba kalau kita tidur di jalan." Leo memukul pelan kepalanya berusaha mengingat bagaimana mereka pulang. Samar samar ia mengingat bayangan Kim. 'pasti dia yang membawa kami ke rumah.' batinnya.


"Aku minta maaf, harusnya bisa menahan diri jangan sampai mabuk." Sesal Dhira.


"Tidak apa-apa. Kita memang lagi seru seruan." Jawab Leo.


Dhira menunduk. Dalam hati merutuki dirinya yang sangat bodoh. Kenapa dirinya sampai tidak sadar. "Aku pulang dulu. Sudah jam tujuh."


"Hm..." Leo menggaruk kepalanya pelan sambil berpikir. "Tunggu aku bentar. Jangan kemana-mana. Oke! Hanya lima belas menit." Leo bangkit dan berlari ke kamarnya. Cepat cepat mandi dan langsung berpakaian rapi.


Dhira bangkit dari karpet. Ia ke arah dapur dan masuk ke kamar mandi. Mencuci muka dan berdiri di di depan cermin. "hah, aku benar benar sudah gila. Apa yang ku lakukan? Iiihhhh" Dhira bergidik membayangkan bagaimana dirinya menempel pada Leo. "Haaaa...dasar kamu Dhira. Bodoh! Bodoh!" Dhira menutupi wajahnya yang memerah.


"Tenang Dhira, dia tidak melihatnya kok. Iya, tidak perlu terlalu malu." Dhira berusaha menenangkan dirinya.


Tok tok tok


"Andihra, kamu ada di dalam?"


Dhira tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Leo.


"Iya. Tunggu bentar."


Ceklek


Pintu terbuka. Ia melihat Leo sudah rapi seperti biasanya. Rambutnya juga masih basah tapi sudah disisir rapi.


"Ayo aku akan mengantarmu."


"Kemana?" Tanya Dhira cengo.


"Ke rumahmu. Apa kamu mandi di sini aja? Dan berangkat kerja dari sini?"

__ADS_1


"Hah? Jangan! Eh maksudku, pulang ke rumah ku aja. Aku pulang sendiri aja."


"Aku antar aja. Hayo!"


__ADS_2