
"Ada apa Bu? Apa ada yang sakit?" Bunga kebingungan melihat Amelia yang gemetaran.
Amelia menggeleng dengan mulut tertutup rapat. Ia terus berusaha menyembunyikan wajahnya dengan raut wajah ketakutan yang luar biasa.
Merasa ada yang janggal, Bunga memeriksa sekitarnya.
Dan sekitar sepuluh meter dari mereka, dua orang wanita cantik berpenampilan menarik yang tak lain adalah Meli Fatin dan seorang dokter wanita sedang berjalan semakin mendekat pada mereka. Selain mereka berdua tak ada orang lain lagi di sekitar mereka.
Melihat ketakutan Amelia, Bunga berinisiatif membantu pasiennya. Ia berusaha menutupi Amelia dengan tubuhnya. Tak ada yang bisa dilakukannya lagi selain berdiri ditempat. Berlari pun tidak ada guna lagi karena akan semakin menampakkan Amelia dihadapan dua orang tersebut.
Begitu melewati mereka berdua, Meli dan dokter itu sempat menoleh dan menatap Bunga dengan tatapan tajam. Tapi berlangsung hanya beberapa detik karena suami Meli yang tak lain adalah Rudy datang menyapa mereka.
Saat Meli dan dokter menarik pandangannya, Bunga bergegas membawa Amelia kembali ke dalam kamar. Hanya dalam hitungan detik, seluruh tubuh Amelia berkeringat dan seperti kaku. Wajahnya pucat pasi dipenuhi bintik keringat.
"Bu, ada apa? Saya panggil dokter ya." Bunga mengambil ponselnya.
"To-long a-air." Suara Amelia bergetar. Amelia bersusah payah menelan ludahnya. Tiba-tiba saja kerongkongannya sangat kering dan serat.
Bunga mengambil air dari meja dan membantu Amelia minum.
"Sebentar ya Bu, saya panggil dokter."
Bunga menghubungi dokter sembari berjalan ke kamar mandi mengambil handuk milik Amelia untuk mengeringkan keringat sekalian berencana membersihkan tubuhnya karena sudah basah karena keringat.
Belum tersambung ke dokter, Bunga sudah kembali dari kamar mandi. Tapi alangkah terkejutnya dirinya saat melihat ranjang sudah kosong.
Ia berlari ke luar ruangan mencari Amelia namun tidak menemukannya. Takut terjadi sesuatu yang buruk, ia segera menghubungi Dhira. Itulah yang terjadi.
***
'Apa wanita sombong ini belum puas menindas ku? Keterlaluan bila hanya demi memisahkan putranya dariku sampai menculik ibu ku. Sungguh tak masuk akal! Sedangkan dokter ini, apa mungkin ada hubungannya dengan ibu? Huuufffff...aku harus menemukan Rendra untuk memastikan siapa pelakunya.' Dhira menatap foto dua wanita itu dengan pertimbangan kemungkinan.
"Terimakasih informasinya ini. ini sangat membatu. Aku akan menyelidiki kedua wanita ini."
"Iya. Semoga ibu baik baik saja. Segeralah bertindak. Takut kesehatan ibu menurun dan terjadi sesuatu yang buruk. Operasi ibu saja baru tiga Minggu. Itu masih rentan infeksi dan komplikasi lainnya."
"Terimakasih sudah menghawatirkan ibuku. Oh iya, kapan dokter wanita ini masuk? Jam berapa?"
"Dia dokter Kumala spesialis kandungan. Nanti jam tiga sore dia ada jam."
"Baiklah. Kamu masuk sana. Tidak usah takut. Aku jamin kamu akan aman dan tetap bekerja di sini.
"Terimakasih. Tetap jaga kesehatan. Kalau kamu tumbang gimana bisa mencari ibu." Pesan perawat itu.
Dhira mengangguk. Ia masih bersyukur ada yang sayang dan peduli padanya saat susah begini meski orang yang baru dikenalnya.
Dokter Kumala tiba di rumah sakit. Wanita berkepala empat lebih, yang masih kelihatan muda dengan semangat tinggi di wajahnya yang cantik. Ia memasuki lift untuk naik ke gadung bertingkat itu.
Ia tersenyum pada Dhira yang juga masuk. Tidak ada orang lain lagi hanya mereka berdua.
"Selamat pagi Dokter..." Sapa Dhira dengan tatapan menelisik.
"Pagi, apakah kamu mengenalku?" Tanya dokter itu.
__ADS_1
"Baru saja. Aku ada sesuatu yang perlu dengan Dokter."
Kumala menatap wajah Dhira dan turun terus ke bawah dan berhenti di bagian perutnya. Ia menduga gadis di depannya ada masalah dengan perutnya. Ia sering kedatangan pasien seperti itu. "jika ingin berkonsultasi, silahkan mendaftar terlebih dahulu. Nanti kita akan bertemu."
'Dia benar benar tidak mengenaliku. Jika dia pelakunya, dia pasti sedikit gugup atau apalah yang terlihat mencurigakan. Apa ku tanya langsung ya?' Dhira sedang berperang dalam hatinya.
"Apakah kamu sudah menikah?" Tanya Kumala.
Dhira menggeleng.
Dokter itu tersenyum "berbicara lah dulu dengan orang yang bersangkutan dengan masalahmu. Jujur padanya dan ajak dia menikah. Jangan terlalu cepat mengambil tindakan. Bisa penyesalan yang datang esok. Hamil diluar nikah, bukan aborsi salah satu solusinya. Justru besar resiko dan itu ilegal." Nasehat Kumala malah lari jalur.
Mendengar itu, Dhira yakin dokter ini sama sekali tidak ada hubungan dengan ibunya. Ia bisa tahu dari caranya bicara dan mimiknya.
"Terimakasih Dok nasehatnya. Kalau begitu saya kapan-kapan datang lagi." saat lift terbuka Kumala keluar sedangkan Dhira langsung turun lagi.
Fokus Dhira kini khusus pada Meli. Sungguh hatinya sakit dengan perlakuan wanita itu. Ia sudah tidak sabar menemui wanita sombong itu dan membuatnya mengaku tentang masa lalu mereka.
Segera dimatikannya ponselnya tidak mau ada gangguan selama mengintrogasi Meli. Sebelumnya ia telah menelepon Kim menanyakan keberadaan Meli.
Dari informasi yang didapatnya, saat ini Meli dan suaminya sedang berkunjung ke sebuah yayasan sekolah. Ternyata mereka adalah salah satu penyumbang tetap terhadap yayasan terkenal di kota.
Hanya tiga puluh menit, ia sudah berada di yayasan Tunas Bangsa. Kunjungan rutin yang dilakukan Rudy untuk menyapa para pelajar yang kurang mampu yang berusaha menimba ilmu di yayasan sudah tidak asing lagi. Ia dan istrinya terkenal orang baik dan perhatian. Terbukti dari jumlah yang tak sedikit yang mereka keluarkan untuk mendukung yayasan tersebut.
Setelah berpidato di depan barisan para pelajar menengah pertama dan atas, para pengurus yayasan dan guru menjamu suami istri tersebut untuk makan siang.
"Bapak Atmaja dan nyonya Atmaja tetap segar dan makin berbudi luhur. Sudah jarang orang mempertahankan kebajikan di jaman sekarang ini." Puji kepala sekolah dibarengi tawa sopan.
"Ah, hanya bisa seperti ini untuk menenangkan hati. Kerinduan melindungi dan memberi. Pak kelapa sekolah terlalu melebihkan." Rudy yang mempunyai sifat rendah hati.
"Terimakasih." Rudy melirik istrinya yang hanya sibuk dengan ponselnya.
Menyadari suasana hening dan kaku secara tiba tiba, Meli melepas tatapannya dari ponselnya. Senyumnya terbit membuat dirinya nyaman sambil meletakkan ponselnya.
"Bagaimana Pak kelanjutan soal anak berprestasi itu? Apa sudah mulai diproses?" Meli begitu pandai mengubah suasana. Ia mengalihkan pembicaraan.
"Sudah Bu, semua berkas dan persyaratan sudah siap."
"Bagus Pak. Anak berprestasi harus dikembangkan. Meski sekolah ini hanya yayasan, tapi harus bisa menciptakan manusia berilmu dan terdidik."
"Semua berkat Ibu dan Bapak. Tanpa bantuannya, kami tidak akan bisa melakukan semuanya."
Rudy dan Meli mengangguk.
"Mari Pak, Ibu dinikmati makan siangnya." Mereka berserta para guru dan pegawai makan bersama.
Setelah selesai makan, Meli langsung memisahkan diri dari kumpulan. Ia memilih berkeliling gedung dari pada membahas yang sama sekali bukan kamusnya. Tidak bisa menghindar dari suaminya makanya harus ikut.
Sambil berjalan santai ia berbincang ceria dengan seseorang lewat telepon. Terkadang ia tertawa lalu bicara lagi.
Merasa mendesak harus ke kamar mandi, ia kebagian barat bangunan dimana tempat toilet berada. Tidak perlu lama berada di bilik, ia keluar dan mencuci tangannya di wastafel yang ada di bagian luar bilik.
Tak
__ADS_1
Tak
Tak
Suara tepak sepatu terdengar nyaring di lantai keramik.
"Tak kusangka, wanita yang menyandang ibu direktur yang dipuja banyak orang ternyata seorang berkelakuan rendah! Menculik orang demi egonya!"
Meli memutar kepalanya ke kebelakang. Kaget dengan suara apalagi perkataan keras yang merendahkan dirinya. Matanya melotot melihat Dhira berdiri di belakangnya dengan wajah beringas.
"Heh, kau ini kurang ajar sekali! Jilat dulu lidahmu baru bicara! Kau tahu, dengan siapa kau bicara? Cari mati kau ya?!" Hardik Meli dengan wajah memerah. Darahnya langsung naik, tiba tiba direndahkan oleh anak yang sangat jauh di bawah umurnya. Apalagi orang itu adalah Dhira yang sangat dibencinya.
Dhira maju mendekati Meli dengan wajah garang. Setelah jarak antara mereka habis Dhira mendorong dada Meli hingga mentok ke dinding. "Apa kau mengenal Amelia?" Tanya Dhira dengan mata nyalang.
"Hah orang seperti ku kenapa harus mengenal orang biasa seperti mu? Apa kau pikir kalian pantas buat aku kenal? Sadar diri! Dasar anak tidak tahu sopan!" Meli mengangkat tangannya hendak menampar Dhira.
Tapi Dhira tidak memberinya kesempatan, tangannya ditangkap olehnya dan memutarnya. "Katakan! Dimana ibuku? Atau kau akan berteriak kesakitan karena tanganmu ini patah! Aku tidak peduli kau itu siapapun!"
"Oh ya? Kalau begitu katakan itu pada Leo! Apa kau berani? Cihh wanita sepertimu hanya besar mulut. Setelah melihat uang hatimu akan tunduk!" Tunjuk Meli tepat di mata Dhira.
"Leo berbeda denganmu! Kau hanya wanita yang bangga atas harta. Sombong!!"
Dhira makin mempertajam tatapannya ke mata Meli "Aku jadi ragu apakah Leo putramu! Sama seperti caramu membuang putrimu! Kau sungguh tidak menyakinkan sebagai seorang ibu bagi anak anaknya!"
Bagai tergilas benda berat hingga membuat meli gepeng mendengar apa yang keluar dari mulut Dhira. "
Berengsek!!! Aku akan membunuhmu!!! Belum jadi istri Leo saja kau sudah berani kurang ajar padaku! Takkan ku biarkan kau menjadi istri Leo! Kau hanya sampah!!" Damprat Meli dipenuhi emosi. Bahkan seluruh wajahnya memerah hingga ke matanya. Batang leher Meli yang putih mulus dibalut urat yang mengeras berwarna biru.
"Caramu sangat kotor! Katakan dimana ibuku!!" Dhira memutar tangan Meli hingga wanita itu berteriak kesakitan kemudian ia mengarahkan tinjunya ke wajah Meli.
Meli berhenti bernafas melihat kepalan tinju Dhira yang tinggal beberapa inci lagi dari wajahnya. Ia berteriak menantikan rasa sakit yang akan menghantam hidungnya.
Prraaannggg...
Suara riuh karena kaca yang pecah akibat tinju Dhira memenuhi ruangan itu. Tinju Dhira mengenai kaca di belakang Meli. Sengaja dilakukannya tidak mengenai wajah Meli. Hatinya tidak setuju mengingat wanita itu adalah yang melahirkan Leo. Akhirnya ia melencengkan tangannya sedikit, buat melewati pipi mulus Meli.
Meli ngos-ngosan dengan mata melotot, lega ternyata wajah yang dibanggakannya tidak kenapa kenapa. Barusan ia merasa ketakutan hingga membuatnya tegang.
"Dasar orang gila! Berani kamu memukul ku, hah?" Meli berteriak. Ditatapnya mata Dhira dengan amarah yang begitu besar.
"Katakan dimana ibuku!" Mata Dhira berkaca kaca. Tidak tahu lagi bagaimana mengatur emosinya.
"Memangnya kalau ibumu hilang, harus aku yang tahu? Diakan ibumu? Cari sana! Siapa tahu sudah bunuh diri karena tidak tahan punya anak sepertimu!"
"Diam!!!! Ku tanya sekali lagi dimana ibuku?" Teriak Dhira. Ia menekan kedua bahu Amelia dengan sangat keras.
"Tanya kepada polisi bodoh! Orang hilang dilaporkan ke polisi. Kenapa malah mencarinya sama aku?" Dengan berapi api Meli menjawab.
Dhira terdiam. Ia bisa melihat kesungguhan di mata Meli. Tapi hatinya tidak mengakuinya. Ia tidak bisa tertipu.
"Sedikit saja kau melukai ibuku, aku akan memotong motong tubuhmu! Tidak cukup hanya kau, tapi seluruh keluargamu harus membayarnya. Jadi, sebelum aku mulai menggila merusak citra mu juga putra putrimu katakan dimana ibuku!"
"Untuk apa ku Ibumu itu??? Apa dia orang penting? Apa dia rival ku? Siapa dia???Selingkuhan suamiku? Kenapa aku melakukannya?" Meli justru berteriak histeris. Matanya begitu marah dituduh telah menculik Amelia. Ia juga meringis karena perutnya yang ditekan terlalu kuat oleh lutut Dhira. Lehernya bagian belakang terasa tegang. Tensinya pasti naik bersamaan dengan detak jantungnya.
__ADS_1
Takut dirinya sampai tumbang dan dilukai oleh Dhira. Ia meraba raba sesuatu di bawah tangannya yang tertekan di wastafel. Digenggamnya erat lalu, dihantamnya ke arah Dhira.
Srreeekkkk...