Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Bertarung


__ADS_3

"Mereka anak anak Meli. Mereka mencurigai ku menculik wanita bernama Amelia. Sudah kukatakan, aku tidak melakukan itu. Tapi mereka tidak mengerti malah membuat kekacauan."


"Haaaa....berhenti Robert! Jangan lakukan itu! Dhira anakku. Suruh mereka semua berhenti! Aku tidak akan memaafkan mu bila sesuatu terjadi pada putriku!" Amelia histeris. Kedua tangannya memukuli Robert.


Robert tidak paham dengan maksud Amalia. Ia hanya diam dan rela dipukuli.


"Hentikan Robert! Anakku bisa mati! Dia hanya ingin aku pulang!"


"Apa? Anak itu anakmu?" Tanya Robert setengah percaya.


"Iya! Dia anakku!!! Tolong suruh anak buah mu berhenti! Jangan bunuh anakku!" Tangis Amelia histeris.


"Tapi, itu tidak bisa lagi. Mereka pasti sudah bergerak ke sana. Dan bagaimana bisa anak itu adalah anakmu? Kamu sungguh sudah menikah? Dan gadis itu adalah anak kalian?"


"Ah tidak! Aaaa...aaaa...putriku! Tolong jangan sakiti putriku!" Amelia histeris dan memukuli Robert. Ia sudah tidak mendengar apapun yang dikatakan Robert.


'Ternyata kamu sudah punya anak dari suamimu itu. Kamu sungguh telah menjadi milik orang lain.' Robert malah memikirkan nasibnya.


"Aku harus segara kesana! Tolong bawa aku ke sana! Tolong!!!!" Pinta Amelia. Ia harus menyelamatkan Dhira.


"Itu tidak mungkin. Kesana pun sudah terlambat. Zaky sudah berangkat dan pastinya sudah menyuruh semua anak buahnya menyerang." Robert mengambil ponselnya dan menghubungi Zaky. Tapi ponsel bawahannya itu tidak aktif. Begitu juga dengan Jhon. Telepon anaknya itu tersambung tapi tidak dijawab.


"Hiks uhggs...hiks jangan merenggut anakku!" Teriak Amelia.


"Tenanglah dulu. Hubungi suamimu, suruh dia menjemput anakmu!"


"Tidak bisa. Antarkan aku ke sana!" Amelia uring-uringan, mengacak rambutnya sambil menangis.


"Di sana berbahaya! Mereka sudah tidak bisa dihentikan sebelum menjadi pemenang."


"Apapun caranya hentikan mereka!" Semua suara Amelia dikeluarkannya, berharap Robert mengerti perkataannya.


"Cara yang aman adalah suruh suamimu menjemputnya."


"Kalau kamu tidak bersedia mengantarku, aku akan pergi sendiri!" Amelia berteriak, lalu berlari mencapai pintu keluar.


Robert terpaksa bangun dari sofa. Ia berlari mengejar Amelia. Tidak akan dibiarkannya wanita itu pergi ke tempat perkara. Ia sudah tahu betul bagaimana ganasnya anak buah Zaky terhadap musuh.


"Dengar, disana berbahaya. Itu bukan perang-perangan seperti permainan anak anak! Tidak boleh ke sana!"


Plakkkk


Amelia menampar Robert. Dengan derai air mata ia menunjuk wajah lelaki itu.


"Meski aku harus mempertaruhkan nyawaku, aku akan kesana menyelamatkan putriku!"


Robert termangu melihat Amelia. Sungguh, tamparan Amelia sangat sakit. Tapi yang mengiris hatinya bukan rasa sakit akibat tamparannya, tapi melihat keadaan Amelia. Wanita itu bagai tak berdarah saking pucat nya. Ujung jemarinya gemetar hebat. Juga bibir dan kepalanya. Bahunya turun terlihat sangat lemas.


"Baiklah, kita ke sana." Robert tidak punya pilihan lagi.


Robert tidak tahan melihat kondisi Amelia. Dadanya terasa robek melihatnya. Padahal ia paling malas menampakkan diri jika ada permasalahan seperti ini. Ia cukup memerintah dan menunggu pertunjukan selesai.


Tapi kali ini, ia tidak bisa menolak permintaan Amelia. Ia merasa sangat kesakitan melihat kondisinya. Bahkan jantungnya berdenyut hebat hingga terasa sangat sakit.


"Lebih cepat Robert! Jangan sampai anakku kenapa kenapa! Aku akan membun*hmu! Tidak cukupkah yang sudah ku alami? Aku pernah nyaris mati, dan sekarang haruskah ini terjadi lagi?"


Robert mengemudi bagai pembalap. Apalagi mendengar Amelia, membuatnya bagai kerasukan. Emosinya naik ke ubun-ubun membayangkan, bagaimana dulu Amelia hampir mati. Melihat wanita disamping sudah putus asa, membuatnya tidak sabar segera tiba dikediamannya.

__ADS_1


Terlihat banyak kendaraan di sepanjang jalan memasuki area mansion Rabiga. Mobil Robert tidak bisa lewat karena jalan terblokir mobil dan sepeda motor yang entah berapa banyak jumlahnya.


Amelia membuka pintu dan segera turun.


"Araysa, sebaiknya kamu tunggu di sini? Biar aku yang ke sana. Aku akan membawa Dhira ke sini!"


"Tidak! Aku akan ke sana!" Amelia sudah berlari.


Robert terbirit mengejar Amelia. Ia menggapai tangan Amelia dan menggandengnya. Mereka berlari bersama.


Kemarin setelah Robert pergi meninggalkan Dhira dan Leo, terjadi perkelahian hebat. Mereka berdua nekad melawan lelaki yang jumlahnya berkisar dua puluh orang.


Boni yang tertembak di bagian betisnya, mengirim pesan, meminta bantuan pada gengnya. Hanya sepuluh menit, rombongan tiba. Perkelahian terus berlanjut hingga akhirnya Leo dan Dhira menang. Dan akhirnya mereka tahu kalau lelaki yang menculik Amelia adalah ayah dari Jhon.


"Kita akan menyerang Jhon! Dia sudah terlalu lama merasakan kenyamanan!" Boni yang masih kakinya diperban tidak sabar ingin menyelesaikan masalah penculikan ini. Ia greget, teganya menculik seorang wanita yang tak berdaya.


"Iya. Aku dan Andhira akan menyerang. Ini tinggal menunggu kabar, Jhon sudah pulang belum. Kamu beristirahat aja. Biar kami dan anggota yang ke sana."


"Tidak, aku akan ikut."


"Tidak boleh. Kakimu terluka!"


"Baiklah. Tapi kalau terjadi apa-apa hubungi aku."


"Oke. Kamu udah bisa sendirian kan. Kami akan pergi."


"Iya. Pergilah. Bawalah ibu Amelia kembali."


"Leo aku tahu kau ahli senjata dan kau punya barang itu. Bisakah aku membawanya. Kali ini siapapun yang menghalangi kita harus mati." Tiba-tiba Dhira teringat dengan kemampuan Leo.


"Jangan. Aku yakin mereka tidak ada yang menggunakan senjata api. Karena tidak mudah memiliki barang itu di negara ini. Aku takut, sekali aku menggunakan senjata itu maka akan banyak korban meninggal, dan nantinya permasalahan bisa ke jalur hukum jika banyak korban meninggal."


"Yah udah, kalau begitu." Dhira pun mempercayai Leo dan Boni.


Leo dan Andhira berangkat begitu pesan dari seseorang mengatakan Jhon sudah pulang.


"Andhira, sebaiknya kamu tidak usah ikut. Biar kami para lelaki aja yang pergi." Sebelum mobil melaju Leo meminta Dhira tinggal.


"Apa maksudmu? Aku ingin menyelamatkan ibuku! Jangan melarang ku!" Dhira marah.


"Yah udah, tapi jangan gegabah ya. Tetap waspada dan jangan sampai kenapa-kenapa."


"Udah cepatlah!" Dhira sudah tidak sabar ingin segera tiba di kediaman Rabiga.


Mereka diiringi mobil berjumlah banyak, menuju rumah Jhon. Mereka adalah geng yang di sewa Boni. Begitu tiba di sana, mereka menyerang rumah dan para penjaga tanpa pun.


Sedangkan Dhira langsung menuju rumah yang sudah tahu sedikit seluk beluknya. Ia menuju tangga dan naik mencari Jhon atau R.Ga.


"Jhon!!! Keluar!" Dhira berteriak sambil memukul apa saja yang menghalanginya.


Mendengar deru mobil yang memasuki jalan ke arah rumah, Jhon langsung mendapat firasat tidak baik. Belum pernah ada kendaraan sebanyak itu datang ke rumah mereka. Apalagi ia sudah mendapat kabar bahwa para anak buahnya sudah kalah dengan rombongan Leo. Ia batu tahu kalau Leo dan Andhira meminta bantuan geng. Markas mereka hangus terbakar.


Ia menghubungi Robert. Tapi tidak tersambung. Lalu menghubungi Zaky. Ia harus meminta pertolongan. Mengetahui anak buah Zaky akan datang membuatnya lega.


Sedangkan semua pekerja rumahnya segera disuruhnya pergi mengamankan diri.


Baru beberapa saat, Jhon mendengar suara Dhira memenuhi rumah. Ia bersembunyi menunggu bala bantuan datang. Ia yang sendirian tidak akan mampu mengalahkan orang yang jumlahnya hampir lima puluh orang.

__ADS_1


Di ruangan rahasia ia mendekam dengan sebuah senjata api ditangannya. Sebenarnya ia sangat menyayangkan kenapa pertarungan harus terjadi di rumah. Tapi apa boleh buat lagi, sudah tidak bisa dicegah lagi.


Semua orang mengobrak-abrik rumah itu. Mencari keberadaan Jhon. Mereka yakin lelaki itu masih ada di dalam.


Beberapa menit kemudian, deru mobil terdengar. Anak buah Zaky tiba.


Tanpa butuh panduan, pertarungan langsung dimulai. Mereka saling hantam, saling melukai balas membalas.


Zaky naik lantai atas mencari keberadaan Jhon. Beberapa anak buah Leo menghadangnya di tangga. Tapi Zaky cukup tangguh. Dengan tangan dan kakinya yang kuat dan cekatan, mereka menyingkir dari hadapannya.


Ia terus berlari kearah kamar Jhon. Ternyata di sana juga sudah banyak orang yang saling berusaha mengalahkan satu sama lainnya.


Di ujung lorong ia melihat Jhon. Lelaki itu sedang di serbu orang tiga pria. Tapi bukan hal sulit baginya, ia bisa mengalahkan mereka.


Di ujung lorong yang berbeda, Dhira muncul. Gadis itu sudah dikuasai amarah yang sudah berkobar-kobar. Diterjangnya Jhon dengan kedua kaki dan dan tangannya.


Senjata ditangan Jhon terpelanting dan jatuh entah kemana. Dhira semakin bersemangat, dihajarnya pria pembohong ulung itu dengan ganas.


Jhon yang sudah tahu Dhira, tidak lagi segan untuk melawan. Bila terhadap wanita lain ia tidak pernah kasar apalagi memukul tapi dengan Dhira ia tidak ragu lagi.


Mereka saling pukul dan tangkis. Perseteruan sangat sengit karena mereka berdua sama sama dikuasai amarah.


Zaky sudah sibuk dengan lawan yang datang menyerangnya.


Sedangkan Leo sudah pindah ke bawah, terseret turun bersama lawannya.


Semua sibuk dengan perkelahian. Mempertahankan diri dari lawan, berusaha menguasai keadaan agar menjadi pemenang.


Suara hantaman terdengar dimana-mana. Barang barang sudah banyak yang menjadi korban pecah hingga hancur. Bukan hanya itu, para lelaki yang kurang kuat juga sudah tumbang. Tapi berusaha bangun lagi dan lagi. Bergantian seperti itu. Entah sampai kapan mereka akan terus berseteru.


"Katakan Jhon dimana ayahmu! Dia itu penculik! Dia menculik ibuku!"


"Cihhh!" Jhon meludah. Rasa asin dan amis terasa di lidahnya. "Kau pikir ayahku siapa! Kau menuduh orang sembarangan!"


"Heh! Siapa lagi yang mempercayai kalian? Dari bayi kalian menculik Ara! Lalu ibuku! Entah siapa lagi yang sudah kalian culik! Dasar orang orang aneh! Terlihat bermartabat tapi ternyata seperti hewan! Tidak bermoral, dan suka menindas orang!" Teriak Dhira.


"Ngaco kamu! Asal menuduh orang! Lihat perbuatan mu! Gara gara otakmu itu semua keributan ini terjadi! Begitu senangnya kamu melihat banyak orang yang sakit bahkan mati!" Tuding Jhon ke wajah Dhira.


"Ya!! kalian semua akan mati! Kembalikan ibukuuu!" Dhira melempar asbak antik yang terbuat dari porselen ke arah Jhon.


"Kau benar benar wanita gila!" Jhon sangat marah. Bukan karena asbaknya hancur tapi pipinya luka akibat hantaman asbak. Sudah berusaha mengelak tapi pecahan porselen itu memantul dari dinding dan menembak ke arahnya.


Lagi lagi mereka bertarung. Sama sama dikuasai emosi dan kemarahan membuat mereka seperti dibakar bara api. Keinginan untuk menghabisi makin menggebu.


Yah meski Dhira adalah wanita ahli bela diri, tapi tenaga lelaki tetaplah bukan tandingannya. Beberapa kali ia terhempas dan menjadi sasaran tangan dan kaki Jhon. Tapi ia tidak akan mundur. Masih dengan kobaran api ia melawan dan membalas serangan Jhon.


Semua orang sibuk dengan perjuangan masing-masing. Menerjang tanpa henti. Tidak ada belas kasihan atau pengampunan. Hanya kemenangan tujuan mereka.


Amelia merasa kepalanya berdenging. Melihat kebrutalan disekitarnya membuatnya mengingat yang pernah menimpanya dulu. Ia mundur bersembunyi di balik sofa yang sudah terjungkal. Ia memilin kedua tangannya yang gemetaran sembari memanjatkan doa.


Akhirnya ia memberanikan dirinya untuk bergerak mencari putrinya. Rasa takutnya kalah demi ingin melindungi putrinya. Ia mengendap-endap menyusuri seluruh rumah sambil sesekali bersembunyi saat ada yang dekat padanya.


Robert bagai kebakaran jenggot. Ia kehilangan Amelia sejak memasuki rumah. Matanya mencari keseluruhan ruangan namun ia tidak menemukannya. Ia berjalan sesukanya dan sesekali menghempaskan tangan dan kakinya yang berusaha mendekatinya.


"Araysa kamu dimana? Tempat ini berbahaya. Apalagi kondisimu saat ini." Ujarnya dengan nada khawatir.


Robert telah mencapai lantai atas. Ia berdiri dari sana dan menatap ke bawah mencoba menemukan Amelia. Tetap saja ia tidak melihatnya.

__ADS_1


"Hentikan kalian semua!!!" Teriak Robert. Sekali, dua kali, tiga kali, tidak ada yang mendengarkannya. Semua sudah tidak bisa menahan diri lagi. Atau mungkin suaranya tidak lagi terdengar di ruangan itu.


Dhira mendengar suara itu. Ia menoleh dan matanya seketika melebar orang yang dicarinya udah ada didekatnya.


__ADS_2