Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Gagal Menguasai Diri


__ADS_3

Dengan tangkas, Dhira menangkap tangan Jhon "ini adalah pertarungan ku! Kau tidak perlu tahu alasannya. Sebaiknya kau atau kalian dari keluarga Rabiga keluar dari pertarungan ini! Kau tidak perlu mencari Ara!" Dhira menarik tangan Jhon dan memutarnya.


Jhon berputar juga sambil mengayunkan kakinya. Tendangan keras mengenai perut Dhira. Mana mungkin ia keluar dari pertarungan ini. Sampai mati pun ia akan mencari Ara demi penghormatannya Robert. Apalagi barusan dirinya dipercaya lebih dari apapun atas urusan Ara.


Dhira tidak mau kalah, ia membalas terjangan Jhon. Ujung sepatu pantofel nya menyundul dagu Jhon. Dan itu sangat sakit, karena lidah Jhon tergigit. Lelaki itu meringis dan mengeluarkan lidahnya untuk melihatnya.


"Kalian berdua sama saja! Baiklah mari kita bermain hingga siapa diantara kita yang tidak bisa bangun!" Tantang Jhon.


Belum tertutup mulut Jhon, Dhira sudah melayangkan kaki dan tangannya bertubi tubi. Tidak ada yang ditahannya, semua kemampuannya dikerahkannya untuk memenangkan pertarungan. Ia ingin unggul agar bisa menguasai Ara.


Leo yang sudah lemas masih bangkit dan membantu Dhira. Tapi Dhira tidak memberi kesempatan pada Leo. Ia sendiri yang ingin mengalahkan Jhon.


'Hahhh ternyata gadis ini sungguh bukan gadis biasa. Dia sangat kuat dan terlihat tidak kenal lelah.' Jhon mengeluh dalam hati. Posisinya sudah makin tersudut dan kakinya yang sebelah tidak bisa berpijak. Terasa sakit luar bisa dibagian pergelangan kakinya. Membuatnya makin kesulitan melawan Dhira.


"Hiaaaa...buukkkk...plakkkk...tuukkk...


treeekkk!" Dhira melayangkan kakinya secara beruntun menghantam wajah dada dan perut Jhon. Langsung disusul karate mematikan di leher punggung dan rusuk!


Jhon tumbang dan terngkurap di lantai. Dhira sekali lagi menghantam punggungnya dengan sikut kanannya. Teriakan Jhon terdengar lagi. Itu pasti sangat sakit mungkin sakitnya sampai ke ulu hatinya.


Dhira berdiri dengan nafas cepat cepat. Ia juga lumayan kelelahan. Setelah menarik nafas beberapa kali ia mendatangi Leo yang terduduk di lantai. Dengan tangan kanannya ia menarik kerah baju Leo dan menggeret pemuda itu dengan kasar.


Hari ini,ia bertekad akan menyelesaikan semuanya. Sudah kepalang rusuh, sekalian ia akan membuat Meli tidak berdaya lagi.


Terseok-seok Leo mengikuti langkah Dhira. Dengan satu tangannya menggapai bahu gadis itu namun sangat susah karena Dhira sengaja tidak memberikannya. Tiba tiba Dhira berhenti. Dilepaskannya Leo hingga terjatuh ke tanah.


Ia masuk lagi ke dalam, kembali kepada Jhon. Di dekatinya pemuda yang sudah terlentang namun tak berdaya itu.


Dhira meraba kantong kemeja Jhon. Mencari sesuatu di sana. Dhira mendesis karena tidak menemukan benda yang dicarinya. Lalu ia mengalihkan matanya ke arah pinggang Jhon. Tanpa ragu, ia mengangkat tangannya dan memasukkan tanganya ke kantong celana lelaki itu.


"Heh, kau ngapain? Apa kau ingin memperkos*ku? Jangan sentuh milikku itu! Itu ada banyak kamera pengawas. Jangan macam-macam kau!" Dengan lemah Jhon berusaha mendorong dan memukul Dhira.


"Diam tanganmu itu! Kalau tidak ku patahkan sekalian biar tangan mu bunt*ng!"


Wajah Jhon menciut, ia menaruh ke dua tangannya di bagian selangkan*nnya. Menutupi sesuatu yang sangat di jaganya dari tangan Dhira.


"Cihhh! Siapa yang ingin 'barangmu'! Buang ke laut sana! Atau mau ku patahkan? Ku kasih sama anjing liar!" Kecam Dhira sambil berdiri dan melangkahi perut Jhon. Ia berpindah ke kantong satunya.


"Wanita jahan*m! Kau wanita iblis! Kau sama dengan Meli iblis! Kalian iblis!" Seru Jhon tapi suaranya tidak bisa keluar sepuasnya. Perutnya rasanya sakit sekali.


"Siapa yang butuh 'barang' jelek milikmu! Aku butuh ini!" Dhira menggoyangkan kunci mobil Jhon.


Jhon ingin bicara lagi, tapi Dhira sudah meninggalkan dirinya. Lelaki itu berteriak memanggil Dhira.


"Hei!!! Jangan bawa mobilku!"


"Aaaiuhhhh..." Jhon meringis memegangi dadanya. Sakit sekali saat ia berteriak. Ia hanya bisa memaki dalam hati sembari menatap punggung Dhira yang makin menjauh dari pandangannya.


Dhira menarik Leo kembali. Pria itu sudah parah sampai terbatuk batuk dengan nafas tersendat-sendat. Ia mengalami sesak nafas. Dengan kasar Dhira mendorong Leo masuk ke mobil Jhon.


Leo hanya pasrah dengan perbuatan Dhira. Ia sudah tahu Dhira akan berbuat sesuatu. Menyadari gadis itu diselimuti amarah besar, hingga untuk menyentuh tubuhnya saja terlihat jijik. Terserah mau dibawa kemana ia tidak akan melawan.


Dhira membawa mobil Jhon dengan cepat. Ia membawa Leo ke tempat yang sudah ia pilih untuk menyembunyikannya. Ia akan membuat Meli minta ampun. Tidak ada gunanya berlama lama, ia harus segera menemukan ibunya.

__ADS_1


Ternyata Dhira membawa Leo ke rumah Rendra. Ia menarik Leo dengan susah payah. Ia tidak lagi bisa menggerek tubuh besar itu karena Leo sudah hampir pingsan. Ia berteriak memanggil Rendra dan tiga orang lelaki lainnya.


"Kalian cari tempat lain. Aku mau tempat ini." Ujarnya pada Rendra dan anak buahnya yang lainnya.


"Dia Leo? Astaga Dhira, kamu jangan terlalu nekad. Dia seorang CEO perusahaan terkenal. Kalau dia hilang bisa semua penduduk negara ini mencarinya. Itu terlalu berisiko."


"Diamlah! Kalian pergi! Serahkan ini padaku!" Bentak Dhira. "Itu mobil antarkan ke perusahan ARA!"


Rendra tidak bicara lagi. Ia hanya bisa menuruti Dhira.


Dhira berdiri di hadapan Leo yang duduk bersender di dinding dengan kepala tertunduk. Kaki dan tanganya terikat. Bau yang sangat tidak enak tercium dari tubuhnya. Aroma darah busuk dan yang masih segar bercampur aduk sehingga membuat perut Dhira mual.


Ia keluar dari ruangan itu dan mengambil air seember besar. Lalu menuang air itu ke tubuh Leo. Ia sudah menutup matanya terhadap Leo. Ia harus bisa agar ibunya ditemukan.


"Hsahhh...hah..." Leo mengeluh dan menggoyang goyangkan kepalanya. Perih dan dingin menyerang tubuhnya.


"Meski kau mengerang aku tidak akan mengasihani mu!" Bentak Dhira.


"Iya, lakukanlah. Lakukan sebanyak yang kau bisa. Aku akan menerimanya." Leo masih bisa bicara meski pelan pelan.


"Iya! Itu pasti! Agar ibumu itu tahu rasanya kehilangan. Mungkin hanya Ara yang hilang belum apa-apa baginya. Kalau sekarang putranya juga sudah ku siksa mungkin hatinya akan terbuka."


Leo mengangguk angguk. Dalam hati ia menangis dengan semua yang terjadi. Kenapa cintanya berubah menjadi prahara seperti ini. Rasanya sakit yang dirasakannya berkali lipat. Sakit dalam hati dan sakit di tubuhnya.


Dhira mengambil ponselnya yang sedari tadi merekam. Dan membanting pintu dengan keras dan menguncinya. Ia bersender di baik pintu, memukul dadanya yang terasa sakit dan tanpa bisa ditahan lagi air matanya yang sedari terasa panas karena ditahan kini tumpah. Hatinya sendiri sakit melakukan itu pada Leo. Tapi ia tidak bisa berbuat baik, membebaskan lelaki itu.


"Hiks...haaaa....haaaaa...hiks" Dhira menangis tertahan. Ia tahu yang dilakukannya pada Leo adalah kesalahan. Ia tahu lelaki itu sangat baik dan tulus padanya. Tapi kebenciannya pada Meli menutupi semua pandangannya itu.


"Bertahan lah Leo. Aku mohon, hingga ibuku kembali. Setelah ibuku kembali kamu dan Ara akan bebas. Aku dan ibu akan pergi jauh sekali hingga kita tidak akan pernah bertemu lagi." Ucapnya sambil menyeka air matanya.


Tik tik tik tik


Hanya beberapa detik videonya sudah terbaca. Dan detik berikutnya, ponsel Dhira berdering.


"Ada apa nyonya Atmaja? Apa kau cukup senang?" Tanya Dhira penuh ejekan.


"Kurang aj*r kau! Apa yang kau lakukan? Anakku tidak melakukan kesalahan kenapa kau menyiksanya????" Teriak Meli bahkan Dhira tahu teriakannya bercampur tangisan.


"Itu belum seberapa! Sampai ibuku kembali aku akan terus menyiksanya. Antar ibuku ke rumahku maka anakmu akan selamat tiba dirumamu!"


"Aku tidak tahu dimana ibumu! Sampai matipun aku tidak tahu!" Tangis Meli pecah.


"Hah tangismu sungguh membuat telingaku gatal! Bertahanlah selama mungkin. Agar Leo dan Ara mati kelaparan! Bisa kau hitung sudah berapa lama putrimu tidak makan atau minum. Bisa saja sekarang ini dia sudah tergeletak begitu saja di lantai dengan mulut terbuka dan didalamya telah bersarang semut dan belatung!"


"Aaaa! Tidak!!! Aku mohon! Jangan lakukan itu! Kau salah orang! Aku tidak mengenal ibumu! Aku tidak tahu siapa Amelia."


"Oh, baiklah. Maka cari dia untukku sampai ketemu!"


"Bagaimana aku mencarinya? Wajahnya saja tidak tahu!"


"Oh iya, aku akan mengirim foto ibuku. Ingat! Cari dia sampai ketemu! Satu lagi, jangan coba coba melapor ke polisi dan bilang pada Jhon, jangan coba coba melakukan sesuatu yang tidak ku suka. Atau dua anakmu ini akan mat*!" Dhira memutuskan sambungan telepon. Ia mencari foto ibunya di galery foto dan mencari foto Amelia.


"Ah tidak. Jangan sekarang! Aku harus bisa mengintipnya. Aku ingin lihat bagaimana reaksinya saat melihat foto ibu." Alasannya selama ini tidak memberikan foto ibunya adalah masih ragu benarkah Meli sudah menangkap ibunya. Jika ternyata ibunya belum berada di tangan Meli, takut dengan foto itu Meli malah makin berhasrat menangkapnya.

__ADS_1


Karena awalnya Meli hanya penasaran dengan ibunya. Tapi sekarang, ia sudah tidak takut lagi. Lagian ia sudah sangat yakin Meli adalah pelakunya. Dari pengakuan wanita itu sendiri juga cerita paman Bali.


Esok harinya, Dhira menyamar menjadi seorang lelaki. Ia pergi ke cafe tempat pertemuannya dengan Meli. Ia sudah mengirim pesan mengatakan foto ibunya akan ia berikan langsung di cafe tersebut.


Dhira duduk di bagian dekat kasir dengan sepiring mi goreng dan kopi dihadapannya. Tidak akan ada yang menyangka bahwa dirinya adalah seorang wanita dengan penampilannya. Ia sengaja memilih dekat kasir karena adanya kaca yang menangkap setiap orang yang masuk ke cafe.


Lewat kaca itu, ia melihat Meli memasuki cafe dan memilih duduk dekat pintu. Itu menguntungkan bagi Dhira agar tidak ketara saat menggunakan ponselnya.


Panggilan masuk dari Meli membuat ponsel Dhira berkedip kedip. Ia sudah membuat mode diam sehingga tidak akan keluar nada deringnya. Diabaikannya panggilan itu. Lalu memencet tombol kirim untuk mengirim foto Meli dua buah. Satu saat Meli masih muda dan satu lagi foto beberapa bulan yang lalu.


Meli membuka kiriman terbaru di WA miliknya. Seketika ia terhenyak dengan wajah terkejut. Kedua tangannya bergetar bahkan sampai menjatuhkan ponselnya. Setelah mengambil ponselnya dari lantai, wanita itu segera bangkit di tempatnya dan berlari ke arah mobilnya. Hanya beberapa menit Meli sudah meninggalkan tempat itu.


Dhira segera bergegas. Ia menaiki motor anak buahnya untuk mengikuti Meli. Tapi matanya sekilas melihat ponsel di kantong kemejanya bergetar. Takut ada sesuatu yang penting, ia mengangkat terlebih dahulu ponsel itu.


"Dhira, Leo pingsan. Dia demam tinggi dan darah dari hidungnya banyak banget! Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia mati? Bisa masuk penjara kita semua!" Teriakan panik Rendra membuat Dhira beku.


"Tunggu, aku akan pulang." Dhira tidak jadi mengikuti Meli. Bagaimana pun ia mengkhawatirkan Leo. Ia tidak akan bisa mengampuni dirinya sendiri bila Leo sampai meninggal. Benar ia marah dan benci. Tapi untuk membun*h, itu bukan niatnya.


Dhira tiba di ruko Rendra. Ia berlari masuk ke dalam dimana Leo berada.


Leo terkapar dilantai yang masih berair dengan sangat mengenaskan. Sebagian wajahnya terendam air juga tubuhnya yang terikat.


"Pindahkan dia ke kamar sebelah!" Seru Dhira.


Rendra dan yang lainnya menggotong tubuh Leo ke kamar satunya. Dengan terburu buru ia membuka ikatan tangan dan kaki Leo.


"Ambil air hangat di gelas dan di ember!" Perintah Dhira.


Tidak lama air yang dimintanya datang. Dengan memangku kelapa Leo ia membantu Leo meminumkan air. Leo tidak pingsan hanya lemas seperti orang hampir kehilangan nyawanya.


Perlahan air itu masuk ke kerongkongan Leo walau hanya sedikit. Dhira terus berusaha membuat air itu masuk ke mulut Leo.


Darah Dhira berdesir dan jantungnya berdegup keras hingga nyeri di dadanya melihat air mata yang jatuh dari sudut mata Leo. Pemuda itu menangis dalam diam. Tanpa permisi juga air mata Dhira mengucur membasahi pipinya. Ia sangat sakit melihat kondisi Leo.


"Kalian semua keluar!" Seru Dhira dengan suara parau.


Bahkan Rendra dan yang lainnya ikut sedih melihat betapa sepasang kekasih ini harus menderita.


Begitu pintu tertutup Dhira menangis hingga suaranya keluar. Dadanya terasa dikoyak koyak. Tidak tahan melihat Leo yang sangat lemah. Tubuhnya sangat panas dan bibirnya membiru. Air bening dari sudut mata Leo masih saja mengucur bahkan makin deras.


"Maafkan akuuuu." Bisik Dhira diantara tagisnya. "maafkan aku."


Dipeluknya kepala Leo dan diciuminya dahinya yang panas. Masih sambil menangis Dhira kembali memberi Leo minum.


"Kamu harus ganti pakaian. Ini semua basah. Lalu kita ke rumah sakit." Ujar Dhira setelah agak tenang.


Ia memindahkan kepala Leo ke bantal. Berniat turun mengambil pakaian Rendra. Tapi tangannya digenggam Leo tidak memberinya pergi.


"Jangan." Leo menggeleng "tidak usah ke rumah sakit. Aku...mau tidur." jawabnya terbata-bata.


"Kamu sakit, harus dirawat dokter."


Leo menggeleng lagi. Lagi lagi bulir air dari sudut matanya keluar.

__ADS_1


Itu sangat menghancurkan hati Dhira. 'Benarkah yang ku lakukan ini? Leo menjadi menderita. Aku sungguh kejam.' Dhira merasa menyesal, tidak bisa menguasai dirinya.


__ADS_2