
"Kita memang masih kuliah dan tidak lama lagi mau wisuda. Sejak usia tujuh belas tahun papi mami sudah melatih saya tentang bisnis. Jadi saya dan Meli kuliah sambil bekerja." Sahut Robert.
"Wahhh sungguh membanggakan." Puji Ali dan Aurora.
"Mungkin itu sebabnya mereka mengajariku sedini mungkin. Mereka tidak lama bersama ku. Masih usia muda ini, aku sudah dibiarkan sendirian." Ucap Robert.
"Itu karena Pak robert memang sanggup. Buktinya sudah bisa memimpin perusahaan orang tua Anda." Aurora kelihatan menyesal telah menyinggung orang tua Robert yang sudah tiada.
"Yah semoga aja begitu." Sahut Robert tersenyum.
"Oh iya, Saya ada oleh oleh dari Paris. Sengaja Saya bawa untuk pak Robert. Barangnya sih tidak mahal cuma Saya dan suami sepakat untuk memberikannya pada Anda."
"Apapun itu dengan senang hati Saya terima." Robert mengangguk. Dirinya memang bukanlah pemuja barang antik atau mahal.
"Ternyata benar yang dikatakan suami Saya. Anda bukan pemilih. Sebentar, Saya ambilkan dulu." Aurora bangkit dengan pelan-pelan dengan sebelah tangannya memegangi perutnya. Kemudian berjalan dengan sangat hati-hati ke arah sudut ruangan itu.
Setelah mengambil barang berupa kotak itu, ia kembali ke meja.
Sekilas penglihatan Robert terpanah ke bagian perut Aurora. Lalu ke meja. Tapi kemudian ia melihat kembali ke perut yang terlihat janggal baginya.
"Istri saya sedang hamil. Dia lumayan tersiksa mulai dari awal kehamilannya. Dia muntah muntah ,tidak bisa makan. Makanya badannya masih kurus begitu. Tapi semua baik kata dokter. Hanya bentuk tubuhnya jadi terlihat aneh. Kurus tapi perutnya buncit. Sangat kasihan melihatnya seperti itu." Ali menjelaskan pada Robert. Ia tahu kalau Robert begitu penasaran.
Robert tergugu. Entah kenapa hatinya seperti merasakan situasi yang dikatakan oleh Ali. "Selamat Pak. Apakah ini anak pertama Anda?" Robert segera bisa menguasai keadaan.
"Iya. Makanya kami berdua sangat bersemangat. Minta doanya agar calon anak kami sehat."
"Iya Pak. Doa kami selalu bersama kalian." Kali ini Meli yang menjawab.
"Memang sudah berapa bulan usia calon anaknya, Pak?" Tanya Robert lagi. Ia sangat penasaran.
"Memasuki lima bulan. Harusnya sih perutnya sudah lebih besar sedikit. Tapi karena kondisinya tidak bisa makan sehingga lebih kecil dari ukuran biasanya. Tapi kata dokter itu bukan masalah." Aurora yang menjawab. Kemudian ia tersenyum manis. "Kalian berdua terlihat antusias dengan kehamilan Saya. Apakah kalian berdua ada rencana membina rumah tangga?"
"A...hehehe...belum. cuma senang aja berbincang tentang anak." Jawab Meli dengan pipi merona.
Sedangkan Robert tidak mengatakan apa-apa. Ia malah terlihat termenung.
"Kalian serasi. Tampan dan cantik. Sama sama berbakat lagi. Kalian bisa menjadi satu."
Meli tersenyum malu malu.
"Berarti kalau hamil dua bulan itu masih jauh lebih kecil ya Pak?" Tiba tiba Robert bertanya.
Mereka semua saling pandang sedikit terkejut. Lalu Ali dan istrinya tertawa bersama. "Hahaha...pak Robert sangat penasaran. Jangan jangan sudah ada rencana." Istri Ali masih terus tertawa.
Meli terbatuk-batuk. Ia tahu betul yang dipikirkan Robert. Ia pasti sedang membandingkan perut Araysa dengan perut Aurora.
"Pak Robert, usia kandungan dua bulan itu belum terlihat dari perut. Masih rata seperti biasanya. Tiga empat bulan pun kadang belum terlalu menonjol kalau memang pada dasarnya ibunya gendut. Tapi saat kurus seperti saya empat bulan itu sudah mulai terlihat karena tubuh saya kurus." Aurora menjelaskan.
"Berarti tidak masuk akal wanita hamil dua bulan tapi perutnya sudah menonjol seperti empat lima bulan ya?"
"Ya iyalah. Kalau ada yang seperti itu, pasti ibunya salah hitung. Kalau perut sudah membuncit kandungan rata rata sudah berusia empat lima bulan."
Robert mengerutkan keningnya. 'Perut Araysa sungguh sudah buncit. Sangat jelas terlihat saat ia duduk di tanah. Aku tidak salah lihat. Itu pasti bukan dua bulan lagi. Mungkinkah ia sudah punya kekasih dari empat bulan yang lalu? Kalau tidak salah kami melakukan hubungan empat bulan lalu.' Ia langsung membandingkan perut Araysa yang menurutnya sama dengan ukuran perut Aurora.
"Ini oleh olehnya. Hanya benda kecil." Aurora memberikan sebuah kotak kecil yang sudah dibuka. Di dalam kotak itu terdapat sebuah patung sebesar tinju orang dewasa berwarna kuning.
"Oh, ini indah. Saya suka." Jawab Robert. Ia menerima benda tersebut dengan senyum. Tapi jelas terlihat diwajahnya hatinya entah kemana. Tatapannya kosong dengan dahinya yang masih berkerut.
Makan malam pun berlanjut. Tidak banyak lagi yang diucapkan Robert. Ia menjadi lebih pendiam.
Pulangnya juga Robert selalu diam. Ia menyetir dengan serius seakan hanya dirinya seorang di dalam mobil itu.
"Apa sih yang kamu pikirkan? Tiba tiba diam terus?" Tanya Meli. Ia kesal.
Masih diam.
"Kalau ada yang mengganggumu coba ungkapkan. Jangan di bawa diam terus."
__ADS_1
Masih diam
"Sudah ku bilang jangan memendam masalah sendirian. Aku ada di sisimu. Aku siap mendengar apapun itu. Robert aku sedang bicara denganmu!"
"Araysa bukan hamil dua bulan. Setidaknya itu sudah empat bulan!" Bentak Robert.
"Lho kenapa kalau dia hamil empat atau sepuluh bulan? Itu urusan mereka."
"Ada yang tidak pasti. Aku harus memeriksanya."
"Memeriksa apa? Apa kamu belum cukup disakiti olehnya? Lagian kapan kamu melihat perut Araysa?" Tanya Meli pura pura tidak tahu yang terjadi pagi tadi.
"Apakah kamu tahu dimana dia tinggal?" Robert mengabaikan pertanyaan Meli. Ia malah tidak sabar ingin bertemu dengan Araysa. Ada yang perlu dipastikannya.
"Aku tidak tahu."
"Bantu nyariin alamatnya. Atau begitu kamu melihatnya telpon aku. Aku harus bicara dengannya."
"Ada apa? Apa kau berpikir itu bayimu?"
"Ku hitung-hitung bisa aja itu bayiku."
"Apa? Jadi kalian sudah tidur bersama?" Meli pura
"Jangan banyak tanya! Bantuin aku mencarinya. Dari caranya berpakaian dan waktu yang masih pagi dia menemuiku, dia tidak terlalu jauh dari kota. Kemungkinan dia masih di kota yang sama. Bila perlu periksa sekolah SMK di seluruh kota ini. Pasti dia ada."
"Bodohnya jadi laki laki! Jelas jelas ia tidur dan bermesraan dengan lelaki lain. Tapi kamu masih mau mengakui itu bayimu?"
"Dengar Meli. Jika itu adalah bayiku maka akan aku ambil. Untuk itulah aku harus memastikannya."
"Kamu pikir Araysa itu bodoh? Dia itu licik. Bagaimana kalau laki laki yang telah menghamilinya tidak bertanggung jawab. Bagaimana kalau kebaikanmu itu dimanfaatkan olehnya. Dia mengaku itu anakmu tapi ternyata setelah lahir baru ketauan itu anak orang lain. Bukankah kamu hanya diperalatnya?"
"Jika benar seperti itu, maka jangan panggil aku Robert anak Rabiga. Aku akan bu*uh mereka semua."
"Memb*nuh itu tidak segampang mengatakan. Kamu mau jadi seorang pembu*uh?"
"Hah terserahlah. Cari sendiri! Aku tidak mau ikut campur. Aku yakin itu bukan anakmu. Jika mereka terbu*uh jangan bawa bawa namaku. Lagian belum tentu dia masih ke sekolah. Buang waktu mencarinya di semua SMK kota ini!"
"Aaaaaaa!!! Aaaaa...!!!" Robert berteriak sambil meninju setir. Ia sangat stres. Juga tidak sabar ingin bicara dengan Araysa. Ditambah lagi dialog Meli yang membuat hatinya makin panas.
Setibanya di rumah, Meli tak kunjung bisa tidur. Ia memutar otaknya untuk membatalkan pertemuan Araysa dan Robert.
"Mereka tidak bisa bertemu lagi. Kalau masih bertemu pasti semua terbongkar. Tidak bisa. Mereka tidak bisa bertemu."
"Apa yang harus kulakukan?"
"Menyuruh Araysa pergi yang jauh? Pasti tidak mudah."
"Lalu apa?"
"Hahhh...ayo pikirkan."
"Membun*hnya?"
"Ah tidak. Itu terlalu beresiko."
"Apa ya...?" Tiba tiba ia memukul pelan kepalanya dengan terbitnya senyum kemenangan di bibirnya. Kedua mataya berbinar siap melancarkan aksinya.
"Tidak bisa ditunda lagi. Harus secepatnya, sebelum Robert menemukannya. Aku yang duluan menemuinya." Malam itu Meli langsung bergerak. Ia sudah tahu alamat rumah Araysa beberapa hari yang lalu.
Sementara itu, di rumah Araysa sedang terjadi ketegangan. Kehamilannya terbongkar. Ayahnya Abi, mengamuk dan memukul Araysa.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya, perut Araysa sakit. Tertatih-tatih ia memasuki rumahnya. Ayahnya yang sudah pulang berdagang batagor kaget melihat putrinya sedang meringis memegangi perutnya.
"Kamu kenapa Nak?"
"Ayah, perutku sakit!" Tangis Araysa meledak. Ia tidak kuat lagi menyimpan beban tentang kehamilannya sendirian.
__ADS_1
"Sakit? Ayo periksa ke bidan dulu. Ayah bingung cara mengobatinya."
"Huaaaa...aaaa...Ayah...maafkan aku...aku...aku ha-ha...amil..." Akhirnya pengakuan itu keluar dari mulutnya.
"Apa? Apa maksudmu? Hamil gimana?" Abi melempar panci yang sedang dipegangnya hingga menggelinding ke lantai.
"Hiks maafkan aku Ayah. Rasanya aku mau mati aja..." Araysa bersujud di kaki ayahnya.
"Hah? Kamu...!" Abi berteriak.
Plakkkk
Tidak kuasa menahan amarah tangan Abi melayang.
Pukulan kedua kalinya mendarat di pipinya. Bisa dipastikan bekas tamparan itu pasti biru.
"Dimana otakmu? Sudah berusia tujuh belas tahun tapi pikiranmu belum ada! Aku selalu mengajarimu agar tidak terjerumus! Tapi apa sekarang? Kamu sungguh kamu bikin malu!"
Araysa hanya bisa menangis. Sementara tangannya tak henti henti mengelus perutnya yang masih sakit.
"Mau jadi apa kamu ini? Masa depanmu sudah hancur! Selamanya kamu menjadi ibu ibu. Sungguh tidak tahu malu! Belum juga pelulusan, kamu sudah hancur!" Abi menunjuk-nunjuk wajah Araysa.
"Huhu...hu..." Araysa hanya menangis.
"Mulai sekarang berhenti sekolah! Jangan menampakkan wajahmu lagi di sana atau aku akan malu seumur hidupku!" Teriak Abi. Kenapa ia nekad pindah dan harus ganti pekerjaan? hanya demi mencegah putrinya jangan sampai terjerumus. Tapi kini usahanya sudah gagal total. Yang ditakutkannya itu, tetap terjadi.
"Katakan siapa ayah dari bayi itu?"
"Ro-Robert."
"Sejak awal aku sudah memperingatkan mu. Tapi semua kata nasehatku hanya kau bikin ke bokong mu! Lihat bagaimana jadinya?" Abi membanting kursi kayu hingga remuk.
"Pergilah! Urus sendiri dirimu. Minta sendiri pertanggung jawaban dari lelaki itu!"
"Ma-maafkan aku Ayah. A-aku sudah dari sana. Dia dia tidak mengakuinya...haaahhaaa.aaaaa...hiks hiks..."
Abi makin kalap. Ia sangat marah hingga beberapa perabot rumah mereka rusak dibantingnya. Ia sangat mengharapkan putri semata wayangnya bisa menjunjung tinggi namanya nantinya. Tapi ternyata semua kini semua itu harus patah karena kebodohan anaknya.
"Oh Tuhan...kenapa menjadi begini? Dosa apa yang telah kulakukan, sampai menerima semua ini. Lima tahun aku berumahtangga harus menduda karena istriku meninggal. Lalu sekarang anak ku mempermalukan seperti ini. Seumur hidupku hanya menanggung penderitaan." Suara Abi bergetar.
Mendengar itu Araysa sangat terpukul. Seandainya bisa diulang lagi, ia tidak akan tega membuat ayahnya menangis. Sungguh dada dan jantungnya bagai tersayat-sayat melihat tangisan ayahnya.
Abi masuk ke dalam kamarnya, sementara Araysa masih duduk di lantai dengan sesegukan. Untunglah rasa sakit diperutnya sudah mereda sehingga ia tidak kesakitan lagi.
Suara ketukan di pintu terdengar. Dengan malas Araysa bangkit untuk melihat siapa yang bertamu.
"Meli? Kenapa kamu ada di sini?" Araysa kaget melihat Meli berdiri di hadapannya.
"Aku hanya ada perlu sedikit. Bisa kita bicara?"
"Masuklah."
Meli terheran heran melihat rumah Araysa yang berantakan. Padahal ia tahu dari kecil, Araysa suka bersih dan rapi.
"Ada apa?" Tanya Araysa. Sebenarnya ia ingin bertanya dari mana Meli tahu alamatnya. Tapi karena suasana hatinya, ia malas bertanya.
"Aku sungguh tidak menyangka kamu tega menjebak Robert dengan kehamilan mu itu. Kamu terlihat lemah dan polos tapi sebenarnya kamu ini berbahaya."
Araysa melotot tidak suka. "Apa maksudmu! Tidak usah ikut campur urusan orang lain."
"Huh, kamu pikir yang dilakukan Robert tanpa alasan? Dia sangat marah. Seandainya bisa dia mungkin ingin melenyapkan mu."
"Katakan dengan jelas! Jangan bertele-tele!" Bentak Araysa. Ia naik darah.
"Lihat baik baik! Bagaimana perasaan Robert dengan kelakuanmu ini! Kamu bermalam, bermesraan dengan pria lain hingga hamil. Saat anakmu butuh pengakuan ayah, kau menjerat Robert. Beruntunglah kamu, dia tidak memb*nuhmu. Dia hanya mengusir dan memaki mu. Sadar dirilah! Jangan mencoba muncul lagi dihadapan Robert atau kamu akan sungguh di bunu*hnya. Kemarin dia ingin membawa senjata ke sini untuk menembak mu. Tapi dengan bersusah payah aku meredakan amarahnya. Hingga ia tidak jadi ke sini. Jadi, demi keamanan mu dan bayimu pergilah yang jauh. Sangat jauh hingga Robert tidak bisa melihatmu kemanapun dia melangkah. Bila sekali lagi kalian bertemu aku tidak bisa menjamin keselamatanmu."
Araysa menekan dadanya yang sangat sakit. Tangannya bergetar memegang foto yang sama sekali tidak pernah dilakukannya. Mulutnya ingin menyangkal semuanya, tapi lidahnya kelu dan hanya bisa menangis.
__ADS_1