Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Bertengkar


__ADS_3

"Oke boy, selamat pada kita berdua." Robert memeluk Jhon dan menepuk-nepuk punggung putra angkat itu. "Aku tidak bisa lama. Aku harus segera pergi."


"Baik Pi." Kedua kalinya Jhon menyebut Robert papi dengan terharu.


"Selain Ara yang hilang tidak ada kendala lain kan?!"


"Tidak ada. Ah itu, soal Andhira. dia sudah bekerja."


"Oh gadis itu! tetaplah waspada padanya. jika dia mulai mencurigakan atau membuat masalah bagi kita, langsung pecat dia!"


"Iya Pi."


Pria dewasa itu pun pergi meninggalkan Jhon.


"Astaga ada apa dengan papi Robert? Di waktu genting begini masih bisa berdrama haru-haruan begini. Apakah benar karena sudah mempercayaiku seutuhnya maka tingkahnya seperti ini? Baiklah, aku harus memutuskan sendiri apa yang kulakukan demi menemukan Ara." Kebahagiaan melingkupi perasaannya.


Meli tergopoh-gopoh menuju lift. Terlihat wajahnya yang kebingungan menunggu lift terbuka. Tangannya sedang sibuk memencet-mencet layar ponselnya.


Begitu lift terbuka, ia masuk.


belum tertutup pintu lift, Dhira juga masuk.


Mereka bertatapan dengan sorot mata sinis mengisyaratkan permusuhan.


"Berani sekali kau menunjukkan wajahmu itu!" Pekik Meli begitu pintu tertutup. Hanya mereka berdua di dalam. Kedua bola matanya seperti mau keluar saking lebarnya melotot pada Dhira.


"Heh! Kalau cuma wajah setan seperti wajahmu itu, kenapa takut?" Sahut Dhira tanpa menoleh. Ia berdiri dengan tegap menghadap pintu.


"Setannn! Kau itu ingin mati apa?!" Meli mendekat lalu mendorong Dhira hingga tubuh gadis itu terpental ke dinding.


Dhira membenarkan cara berdirinya yang oleng. "Kau itulah yang sedang dihantui kematian! Bagaimana rasanya bangkrut? Dan bagaimana rasanya kehilangan anggota keluargamu satu persatu? Bayangkan hidupmu akan melarat! Semua kemewahan itu akan meninggalkan dirimu! Semua keluargamu akan menjadi tumbal kejahatan mu! Makanya sebelum semuanya hilang darimu, katakan dimana ibuku!" Dhira melotot dan menatap wajah Meli begitu dekat.


Wajah Meli mendadak berubah pucat. Dadanya bahkan bergerak cepat dengan nafasnya yang pendek-pendek. Rahangnya mengeras disertai matanya yang berkilat karena menahan amarah. Lagi-lagi ancaman itu yang didengarnya.


"Duniamu akan jungkir balik. Persiapkan dirimu menerimanya!" Kecam Dhira.


Tangan Meli terangkat untuk menampar Dhira. Tapi tangannya tidak sampai mengenai sasaran karena Dhira menahannya dan memutarnya.


"Kau sungguh ingin hancur! Beraninya kau menyentuh anak-anakku!!! Kau akan ku bun*h!!!" Meli menyerang wajah Dhira dengan tangan satunya. Berusaha mencakar demi melampiaskan emosinya.


"Itu belum seberapa! Lihat besok kelanjutan perang ini! Makanya sebelum hidup dan keluargamu hancur, katakan dimana ibukuuu!" Teriak Dhira.


"Aku sungguh menyesal tidak menusuk jantungmu waktu itu! Harusnya kau sudah mati bersama ibumu itu!"


"Apa katamu?" Dhira bagai terpukul benda keras, ia mengartikan ucapan Meli, bahwa ibunya sudah meninggal.


"Meliii!!!" Teriak Dhira.


Lift pun terbuka, Melihat Dhira seperti syok, Meli mendorong gadis itu dengan keras. Lalu ia berlari kecil menjauh dari lift sembari sibuk menelepon Leo.


"Leo, kau ada dimana?" Tanyanya begitu suara telepon tersambung.


"Mami, ada apa?"


"Kau dimana sekarang?"


"Eeee...itu, aku..."


"Di rumah sakit mana kau berada?" Suara Meli meninggi hingga terdengar keras.


"Kok mami tahu aku ada di rumah sakit?"


"Leoooo...katakan dimana kau!" Setengah menangis Meli membentak Leo.


Dhira juga berlari menyusul Meli. Tapi tidak jadi melihat seorang scurity memperhatikan dirinya dan Meli. Ia akhirnya berbelok ke meja resepsionis dimana tempatnya berada.


"Hei, kamu mengenalnya? Kenapa kau menatapnya seakan kau ingin menelannya?" Zahara menyenggol Dhira yang masih tegang.


"Tadi juga kelakuan mu aneh sekali. Ngapain kamu naik ke atas menggunakan lift itu?" Tanya Zahra lagi. "Kamu turun bersama wanita itu juga."

__ADS_1


Dhira tidak menjawab. Ia sedang berusaha menguasai dirinya agar tidak meledak saat itu juga. Ia yakin itu hanya ancaman Meli karena wanita itu sudah dikuasai ketakutan karena sudah bangkrut ditambah kecelakaan Leo.


Tidak lama kemudian, Robert pun lewat.


"Zahra, kamu mengenalnya nggak?" Tanya Dhira sambil matanya mengawasi Robert yang hampir mencapai meja mereka.


"Hanya kenal wajah dan nama. Persisnya nggak tahu."


Entah kenapa ia sangat penasaran dengan lelaki itu. Tadi ketika lelaki itu masuk ia masih ingin menguping tapi ketika melihat Meli masuk ke lift ia memilih mengajar wanita itu.


Ia duduk termenung memikirkan cara membuat Meli bisa jujur dan mengatakan dimana ibunya.


Di rumah sakit, Leo masih terbaring. Bukan sakit parah lagi tapi ia masih butuh infus dan perawatan lainnya agar luka jahitan dan benturan ditubuhnya berkurang dan cepat sembuh.


Dari kemarin ia sudah sangat kesal karena menunggu Dhira yang tak kunjung nongol. Hatinya kembali hampa hingga siang Dhira tak muncul muncul juga.


Ia sangat gelisah Dhira sungguh akan putus darinya. Ia tidak rela bila gadis itu harus pergi darinya. Ia sungguh sudah menyerahkan segala hatinya pada gadis itu. Tidak ada yang tersisa lagi di hatinya untuk bisa jauh darinya.


Beberapa kali dihubunginya tapi ponselnya tidak aktif. Rasanya saat ini ia ingin segera pergi dari rumah sakit untuk mencari Dhira. Ia sangat takut Dhira dibutakan oleh Jhon. Ia takut wanitanya itu malah menyukai Jhon dan meninggalkannya.


"Aakkhhh tidak! Itu tidak boleh terjadi. Dhira jangan lakukan itu! Jangan!!"


"Leo, ada apa? Kenapa kamu berteriak? Apa ada yang sakit?" Meli sudah tiba di kamar Leo. Ia terkejut begitu tiba putranya berteriak.


"Mami? Tahu dari mana aku di sini?"


"Dari Kim."


"Ada apa? Kenapa kau berteriak?" Meli meraba kepala, kening, wajah dan leher Leo. "Apa ada yang terasa sakit?"


Leo tak bersuara. Ia hanya menatap maminya dengan intens.


"Kamu baik baik saja kan Nak?!"


"Tidak. Aku sakit hati. Sakit hati pada kalian semua!"


"Apanya yang jangan! Kalian semua sangat misterius. Rasanya aku tersesat hidup bersama kalian!"


"Leo, apa begini caramu menghargai kami? Kau kecelakaan tapi tidak mengabari kami. Sekarang bicara yang aneh aneh!"


"Kalian itulah yang aneh! Mi, jujurlah padaku sekarang, luka yang mami alami ketika di kamar bersama Andhira adalah perbuatan Mami sendiri kan?!"


"Ini semua pengaruh gadis sialan itu!" Pekik Meli. Baru berencana membicarakan tentang perusahaan yang katanya sedang bangkrut, malah mendengar hal yang membuatnya murka.


"Stop! Jangan mengatai Andhira seperti itu. Sebelum aku mengenal Andhira kalian memang sudah aneh. Apalagi Mami." Leo marah.


"Setiap hari kerjaan mu hanya marah pada mami gara gara dia. Apa namanya kalau bukan dia membawa pengaruh buruk padamu."


"Mami yang tidak bisa ku pahami. Asal mami tahu aku kecewa banget pada mami karena mengambil uang 2m itu dari Andhira. Apa dengan mengeluarkan uang segitu, mami langsung jatuh miskin? Lihat lah uang itu sudah kembali, apakah bisa menjamin keberhasilan usaha kita? Justru saat ini kita diambang kehancuran. Pabrik sudah tidak berproduksi lagi. Tidak lama lagi perusahaan kita bangkrut. Itulah yang disebut keserakahan Mi. Orang serakah dan sombong hanya bisa bertahan sebentar."


Plaakkk...!!!


Tanpa sadar Meli memukul wajah Leo. Sangat kuat hingga Leo merasa pipinya kebas, tanpa rasa.


"Lihatlah kelakuan Mami. Aku pun jadi meragukan Mami soal ibunya Andhira! Jangan jangan Mami lah pelakunya." Tak tanggung tanggung Leo langsung ke inti yang ingin sekali dibahasnya dengan Meli.


Meli terhenyak. Matanya bergerak gelisah membuat Leo yakin dengan tuduhannya.


"Jangan bertindak merugikan diri sendiri Mi, lepaskan Bu Amelia. Beliau itu belum sehat betul. Kalau terjadi sesuatu pada ibu itu, entah aku bisa memaafkan Mami, apalagi dengan Andhira. Sebelum semuanya makin parah lepaskan Bu Amelia."


"Aaaaaa...!!!" Meli berteriak. "Ara menghilang Leo, adikmu menghilang! Malah kau sibuk memikirkan orang lain dan menuduh Mamimu sendiri!"


"Itu karena Mami tidak bisa dipercaya lagi. Mami berkelakuan aneh bahkan sampai menusuk diri sendiri. Apa itu normal?"


"Diamm! Itu kulakukan demi kalian semua."


"Oh jadi benar, Andhira ternyata tidak berbohong. Tega sekali Mami berbuat seperti itu!"


"Dengar Leo, kau tidak tahu duduk persoalannya seperti apa."

__ADS_1


"Lepaskan ibu Andhira Mi! Kalau tidak aku yang akan mengadukan Mami ke pihak berwajib!"


"Dasar anak tidak tahu di untung!" Teriak Meli. "Kau tega berbuat seperti ini pada Mamimu?!"


"Jika Mami bersalah kenapa tidak? Makanya sebelum ini menjadi urusan polisi lepaskan Bu Amelia."


"Aku tidak melakukan itu! Siapa dia? Aku tidak kenal! Jaga mulutmu itu!" Tunjuk Meli ke wajah Leo. Mata wanita itu memerah saking emosinya. Hatinya sakit. Putranya saja tidak berada di pihaknya.


"Bukannya kau menghawatirkan Ara yang disekap gadis gila itu! Malah menuduh aku dengan hal yang tak benar. Ara bersamanya. Aku melihat sendiri bagaimana Ara diikat oleh gadis gila itu."


"Semua dimulai dari Mami. Makanya lepaskan Bu Amelia agar Ara bisa dikembalikan pada kita."


"Dia tidak ada bersamaku!" Meli kekeh tidak menyekap Amelia.


"Biar aku yang mengurus Andhira. Sebelum keluarga Robert menemukannya aku harus mengambil Ara darinya." Lanjut Meli lagi.


"Jangan lakukan apapun! Biar aku yang menangani ini. Katakan saja dimana Bu Amelia Mami sembunyikan?" Leo tidak akan membiarkan maminya melakukan itu. Ia yakin Ara adiknya tidak akan kenapa-kenapa bersama Dhira.


"Apa kau bodoh Leo! Aku tidak menyekapnya! Aku tidakkkk melakukannya!"


"Baiklah kalau begitu, jangan melakukan apapun. Mami sebaiknya berdiam diri di rumah aja."


"Jangan berlagak hebat. Kau baru saja mengalami hal tragis. Kau pikir itu kecelakaan? Itu konspirasi Robert, Jhon dan Andhira. Mereka sendiri yang bilang padaku!"


"Karena itulah Mami jangan ikut campur! Biar aku yang menangani ini!"


"Kau dibawah perintahku Leo! Kau tidak sopan pada mamimu! Jaga perilaku mu itu!" Meli malah histeris.


Leo sangat kesal hingga ke ubun-ubunnya. Ia bangkit dari kasur dan mencabut dengan kasar jarum ditangannya.


"Leo sedang apa kau? kau masih sakit! Kau mau kemana?" Meli histeris melihat tingkah Leo.


Leo tidak menyahut. Dilemparkannya tiang infus hingga menimpa meja. Suara berisik sedari tadi mengundang para suster masuk ke dalam kamar itu.


"Mas...ada apa ini? Anda belum sembuh total. Anda masih butuh perawatan. Jangan pergi dulu. Itu dahinya berdarah lagi." Seorang perawat berusaha menahan leo.


Tapi Leo tidak memperdulikan mereka, ia menarik kasar pakaiannya yang masih berlumuran darah dan membawanya ke kamar mandi. Ia berganti di sana lalu keluar.


"Leo!!! apa-apaan kau ini? Keluarlah. Kau masih butuh perawatan!" Meli memukul-mukul pintu kamar mandi.


Brakkkk...


Leo keluar dari kamar mandi. Tanpa menghiraukan maminya, ia keluar dari ruangan itu.


Meli dan para suster mengejar Leo dari belakang.


Di bagian informasi ia menelpon Kim agar datang menjemputnya dan melakukan pembayaran rumah sakit.


"Nak, kau mau kemana? kau itu masih sakit. Kembalilah lagi. Tunggu dua atau tiga hari lagi baru keluar rumah sakit."


Leo memutar tubuhnya hingga saling berhadapan dengan Meli. "Sekali lagi jawab aku Mi. Dimana ibunya Andhira?"


"Aku bisa mati mendadak karena pertanyaan mu ini Leo! Aku tidak tahu!"


"Baiklah! Tapi begitu aku menemukan bukti kalau Mami adalah pelakunya, jangan salahkan aku!"


"Aaaaa! Dasar kau anak durhaka! Tanyakan pada Rudy papimu itu, tanpa aku mami ini, kau tidak akan hidup menikmati hidupmu seperti sekarang! Jadi jangan belagu kau! Turuti kata-kata ku!"


Mulut Leo hampir terbuka untuk menjawab Meli Tapi tidak jadi, ia merasa percuma bicara dengan maminya itu.


Setelah semua beres Leo mengambil mobil Kim dan meninggalkan asistennya itu seperti orang bodoh.


Sementara Meli terus saja mengoceh sambil berteriak berupaya menghentikan Leo.


Kim masih syok dengan keadaan Leo. Luka luka dan perban ditubuh apalagi pakaiannya yang berwarna merah dan bau amis juga busuk. Tapi pertanyaannya hanya dicuekin Leo. Ia menggeleng geleng kepala terheran dengan kondisi keluarga Atmaja terakhir-akhir ini.


'Kemarin ibunya terluka tusukan, sekarang putranya yang bagai mayat hidup.' Ucapnya dalam hati. Ia menoleh menghadap ke arah Meli. Tapi ternyata wanita itu sudah tidak ada. Meli sudah masuk ke mobilnya.


"Kacau! Belum lagi perusahaan yang makin terpuruk."

__ADS_1


__ADS_2