
"Aku sudah tahu siapa adik yang pernah ku ceritakan padamu." Leo memulai ceritanya.
"Oh iya? Siapa? Aku yakin dia sangat cantik. Apakah tinggal di kota ini?"
Leo memalingkan wajahnya hingga berhadapan dengan wajah Dhira. "Ternyata dia tidak jauh dari pandanganku. Dia adalah Araysa."
"Araysa? Maksudmu, Ara?" Dhira mengerutkan keningnya.
"Iya. Nggak nyangka banget ya."
"Darimana kamu tahu?"
"Tiba tiba aja kepikir untuk mencocokkan DNA kita bertiga."
"Bertiga?"
"He'em. Aku Ara dan kamu."
"Kok bisa ada pikiran kesana?"
"Melihat gelagat mami yang berkeras melarang ku menemui kalian berdua. Membuat ku curiga."
"Bagaimana caramu?"
"Aku mengambil sikat gigi kita bertiga. Punyamu dan Ara ku ambil dari kamar mandi mu. Apa kamu tidak menyadarinya?"
"Ku kira Vanya yang membuangnya."
"Seminggu yang lalu aku mengambilnya."
"Terus sekarang apa rencana mu? Sepertinya alasan Jhon melarang Ara menemui kita sudah jelas." Tanya Dhira.
"Aku pastikan dulu siapa yang mengambil Ara. Barulah melanjutkan tindakan berikutnya. Ku rasa sulit memberitahukan Ara yang sebenarnya bila secara tiba tiba. Aku akan menjelaskan padanya secara perlahan."
"Entah menurut penilaian ku aja, dari caranya bercerita, sepertinya dia sangat dekat dengan papinya. Dan hanya papinya lah yang ia miliki, tidak punya ibu."
"Benarkah? Apa kamu pernah bertemu dengan laki laki itu?"
Dhira menggeleng. "Satu satunya yang ku kenal hanya Jhon."
"Misterius sekali."
"Papinya tidak tinggal di negara ini. Ara bilang di Belanda. Bahkan setiap liburan dia ke Belanda."
"Belanda? Artinya mereka hidup terpisah. Dengan begitu akan lebih mudah mendekati Ara."
"Jhon yang dipanggil kakak oleh Ara bukan orang biasa. Sejak aku mengenal Ara pria itu yang selalu ada di belakangnya. Kemanapun Ara pergi Jhon selalu mengawalnya. Aku bahkan lebih menyadari itu dari pada Ara sendiri."
"Maksudmu, Jhon sering memata-matai Ara?"
"Hem. Aku selalu melihatnya kemanapun kami pergi. Dan kalau tidak salah sejak kamu mulai bergabung dengan kami, Jhon makin was-was. Ternyata karena Ara adalah adikmu."
"Dan persahabatan kalian harus di putus karena menganggap berbahaya bagi Ara karena adanya aku. Mereka ternyata cukup licik. Ara di jaga seketat mungkin agar tidak bisa di dekati oleh kami."
"Jika kamu butuh bantuan, aku bersedia membantumu. Jangan sungkan untuk menyuruhku." Dhira menggenggam tangan Leo. Sebagai seorang yang hidup tanpa orang tua yang lengkap ia bisa mengerti posisi Ara dan keluarga Leo.
Bisa jadi selama ini ayahnya juga sedang berjuang mencari dirinya seperti Leo mencari adiknya. Harapannya adalah semoga dengan bantuannya hubungan yang harusnya bersatu itu bisa bertemu. Dan dirinya juga segera dipertemukan dengan ayahnya.
"Aku akan menangani ini. Kamu cukup mencintai ku dan berada di sisiku sebagai penyemangat dan pelita ku."
__ADS_1
"Ah lebay. Gombal. Emang aku menyala seperti lilin menjadi pelita mu." Dhira menarik tangannya.
"Kamu lah yang di sebut orang pancaran cinta. Dengan dirimu ini aku memperoleh kebahagiaan, merasakan cinta juga yang membawa Ara pada ku. Jika bukan karena kalian bersahabat belum tentu aku bisa menemukannya."
"Bukankah kamu bilang yang harusnya dipertemukan bakal bertemu. Setiap anggota keluarga itu adalah satu. Jadi, cepat atau lambat mereka yang terpisah pasti akan bertemu."
Dhira ingat betul kalimat itu. Leo yang mengatakan itu padanya. Berdasarkan itulah, dalam hati ia yakin pasti akan bertemu dengan ayahnya.
"Humm." Leo menarik bahu Dhira membawanya ke dalam pelukannya. Ia juga mengingat kekasihnya yang belum pernah tahu siapa ayahnya.
"Kamu juga setiap ada kesulitan jangan sungkan padaku. Justru aku merasa marah dan sedih bila kamu menanggung segalanya sendirian. Apapun pokoknya jangan bersembunyi dariku."
Dhira mengangguk. Awalnya tidak ada niat untuk menerima Leo jadi kekasihnya. Tapi entah kenapa hatinya justru mengkhianati dirinya. Hatinya begitu menyukai Leo. Sedikitpun hatinya tidak bisa mengabaikannya. Bahkan semakin hari semakin besar cintanya pada pemuda ini. Benar yang dikatakan Vanya. Bila hati sudah suka, maka tidak ada yang mampu memadamkannya. Nyala api cintanya sudah berkobar dan tidak mungkin lagi untuk dimatikan.
***
Jhon berdiri di samping mobilnya yang terparkir. Ia sudah berdiri di sana sekitar dua jam lamanya. Menunggu seseorang yang akan di ditemuinya hari ini.
"Hah akhirnya dia keluar juga. Hampir jadi patung aku di sini." Ia mendesah lega saat melihat wanita yang ditunggunya.
Ia berjalan ke arah mobil wanita itu. "Berhenti!" Serunya saat wanita itu hampir masuk ke mobilnya.
"Siapa?" Tanya wanita itu sambil memutar tubuhnya ke belakang. "Kamu? A-ada a-apa?" Tiba tiba wajahnya memucat saat melihat Jhon.
"Ibu Meli Fatin! Anda semakin tua sepertinya makin bersemangat. Kamu belum melupakan wajah ini kan?!"
"A-e iya."
"Bagus!" Jhon menaruh kedua tangannya di pinggangnya. "Jika benar begitu lalu apa yang telah kau lakukan! Apa sekarang nyali mu sudah kuat? Apa kau tidak takut kalian semua mati ditangan ku?"
Suara Jhon tidak terlalu keras tapi begitu tajam dan mampu membuat Meli ketakutan. "Tidak! Itu tidak benar! Apa yang telah kami lakukan? Semua kendali ada di tangan kalian."
"Oh ya?! Putramu semakin berani. Kamu yakin itu bukan suruhan mu? Kalau begitu," Jhon menggaruk pelan dagunya lalu melanjutkan "Jangan salahkan aku bila tidak lama lagi putri mu pulang mayat ke rumahmu!"
"Diam! Artinya kamu menyadari pertemuan mereka! Kalau putramu masih ingin hidup, jauhkan dia dari kami semua! Ini peringatan terakhir! Besok jika Leo masih berada di sekitar Ara, saksikanlah bagaimana caraku menembaknya hingga mati ditempat!"
"Aaaaa...ampuni kami! Tolong...! Jangan lakukan itu. Kami akan berusaha menjaga putra kami. Tolong sampaikan pada Robert agar mengasihani kami." Meli memohon dengan tangisan atas nyawa putranya.
"Makanya gunakan otak kalian! Bila takut mati jangan coba coba mendatangi kandang singa! Atau kalian akan dicabik-cabik!"
"Iya...aaaa...iyaaaa...kami mengerti." Tangis Meli pecah.
"Buktikan itu!" Bentak Jhon.
Meli mengangguk sambil mengusap wajahnya. Menyingkirkan air matanya yang mengalir deras. "Ke-kenapa? Robert tidak pernah kelihatan?" Tanyanya terbata-bata.
"Apa urusanmu! Apa kau ingin bertemu dengannya?"
"Tidak. Aku hanya tidak pernah melihatnya semenjak mengambil putriku."
"Itu bukan urusanmu! Satu lagi jangan menyebut Ara putrimu!"
"I-iya. Apakah Robert bahagia? Dia menikah dengan siapa? Berapa anaknya? Apakah keluarganya menerima Ara?" Meli mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk bertanya.
"Huh! Sudah diperingatkan jangan mengurusi kami! Bahkan untuk memikirkannya sekalipun dilarang keras! Aku datang bukan untuk menjawab mu! Tapi memperingatkan agar bersiap menerima kematian putramu!" Jhon meninju kaca mobil. Tidak sampai pecah tapi menimbulkan retakan yang sangat jelas.
"Tolong...jangan lakukan itu. Maafkan kami. Aku janji itu tidak akan terulang lagi."
"Ingat janjimu!" Setelah itu Jhon pergi meninggalkan Meli yang masih berlutut di tanah.
__ADS_1
Meli berdiri dengan kaki gemetar. Ia sangat takut sampai membuat dadanya terasa sakit. Cepat cepat ia naik ke mobil dan meraung memuaskan tangisnya.
Setelah puas menangis, ia pergi ke rumah Leo. Ternyata putranya itu tidak ada dan Kim bilang sedang pulang ke rumah utama. Segera ia memacu mobilnya ke rumah agar bisa bertemu dengan Leo. Akhir akhir ini Leo selalu menghindarinya.
Begitu tiba di rumah ia berlari ke kamar Leo. Kemudian ke ruang olah raga lalu ke ruang kerja suaminya. Ia baru bisa bernafas lega setelah melihat Leo sedang berbicara dengan Rudy.
"Leo!" Teriak Meli dengan nafas turun naik. Amarah dan kesedihan bersatu di dadanya. Hendak marah tapi tidak tahu caranya mengungkapkannya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu pucat? Apa kamu sakit?" Rudy mendekati Meli buat memeriksa keadaan istrinya.
"Hiks hiks hiks" Meli justru menangis lagi. Dadanya yang sesak membuatnya tidak bisa menahan diri.
Leo berdiri dengan wajah terheran. "Ada apa Mi? Apa yang terjadi?" Leo juga kini berdiri di sisi maminya.
"Tolong Nak, tolong kami." Di sela tangisnya Meli memohon kepala Leo.
"Tenang Mi. Bicara yang jelas. Ada apa?" Tanya Leo.
"Kamu lebih baik pergi ke luar negeri. Tinggalkan negara ini. Hiduplah dengan baik di sana."
"Kenapa tiba tiba begini Mi? Kenapa selalu mengusirku ke luar negeri?" Tanya Leo dengan nada tinggi. Ia sangat benci dengan trik orang tuanya.
"Pokoknya besok kamu berangkat. Kami juga akan ikut. Setidaknya kami akan menemanimu selama beberapa hari di sana."
"Aku tidak mau. Kalau Papi Mami mau pergi, silahkan. Kali aja ingin liburan. Aku bisa menghandle semua pekerjaan di sini."
"Jangan membantah!" Pekik Meli. Seluruh suaranya dikeluarkannya. Ia tidak tahu lagi cara menekan Leo agar lebih menurut seperti dulu.
"Mi, kenapa marah marah? Apa yang membuatmu begini?" Rudy menarik kedua bahu istrinya dan menatap ke mata sembab yang masih berair itu.
"Suruh Leo pergi Mas. Harus Mas. Harus!"
Melihat ketakutan dan amarah Meli Rudy terkesiap seketika. Ia sangat memahami belenggu di mata istrinya. "Tenang, kontrol emosimu. Kita pikirkan bersama."
"Tapi Mas, Leo, dia-dia sudah..." Meli tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Kegelisahan berat makin nampak di matanya.
Wajah Rudy tegang. Rasanya seluruh darah di tubuhnya seakan membeku mendengar ucapan Meli. Dengan kaku ia menoleh ke arah Leo. Tatapannya begitu tegang.
"Baiklah. Kebetulan sudah membahas tentang 'itu', mari kita bicarakan." Dengan tenang Leo bicara.
"Apa 'itu'? Kau membicarakan apa?" Tanya Rudy.
"Tentang Araysa. Aku sudah tahu semuanya. Tidak ada lagi artinya kalian tutup-tutupi."
Meli dan Rudy bagai tersengat arus listrik. Mereka berdua berdiri tegang dengan wajah pucat pasi. Bahkan Meli limbung dan hampir terjatuh ke lantai. Untung Leo bergerak cepat menangkap maminya dan membawanya duduk di sofa.
"Setiap rahasia ada batasnya akan terungkap." Leo mulai lagi. "Jadi, sekarang kita bahas ini. Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi dariku. Aku sudah tahu. Tapi aku ingin dengar dari kedua orang tuaku secara langsung."
Meli dan Rudy bungkam. Hanya kegelisahan yang makin terlihat dari wajah dan tubuh mereka.
"Benarkah Araysa adalah anak papi dan mami?"
"Jangan aneh aneh Leo. Apa yang kau katakan?" Rudy masih mengelak.
"Aku hanya butuh jawaban. Benarkah Araysa anak kalian?"
"Hentikan!" Teriak Rudy.
"Kenapa Papi berteriak? Baru tahu aku ada orang di dunia ini seperti Papi. Seorang ayah yang rela menyembunyikan kenyataan tentang seorang putrinya."
__ADS_1
"Diam!!!" Rudy berteriak sangat keras sembari memukul meja kaca di tengah mereka hingga hancur. "Jangan katakan apapun! Besok kau pergi ke London! Tinggallah di sana selamanya. Setidaknya sampai kami mati."
"Alangkah pengecutnya kita ini! Entah apa yang kalian tukar dengan darah daging sendiri. Kekayaan? Baru tahu ada orang yang rela menjual anaknya!"