Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Bagai Tersambar Gledek


__ADS_3

"Lebih baik menjual harga diri pada orang lain dari pada kepada mereka." Sahut Dhira disertai emosi tersembunyi.


"Apa maksud perkataan mu? Seakan kami pembeli harga dirimu."


"Maksud saya, lebih baik mengabdi di perusahaan ini dari pada di perusahaan mantan saya Pak."


Jhon tidak bertanya lagi. Rencananya adalah tidak berbicara banyak sudah gagal. Dhira begitu pandai membuatnya selalu bertanya.


"Apakah sudah selesai Pak, saya sudah bisa keluar?"


"Satu lagi. Katakan apa tujuanmu masuk ke perusahaan ini!"


"Tujuan saya adalah bekerja agar bisa membayar hutang. Dan sisinya untuk biaya kehidupan saya sendiri."


"Benarkah?" Tatap Jhon penuh kecurigaan. Menurutnya Dhira asal menjawab.


"Tidak ada kebohongan apapun?" Jhon berdiri dan melangkah mendekati Dhira, dan bejalan pelan pelan mengitari gadis itu.


"Tidak ada, Pak."


"Kalau begitu, ada persyaratan agar kau tetap bisa bekerja."


"Apa itu Pak?"


"Jangan dekati Ara! Jangan menghubunginya atau menjawabnya! Menjauh lah darinya sejauh mungkin! Itulah kesombongan kami. Kami sangat membedakan setiap orang yang bisa dekat padanya. Bagaimana?"


"Baik Pak." Dhira memberi hormat dengan menundukkan tubuhnya.


"Pergilah. Ingat janjimu. Atau kau akan terkena sanksi."


"Iya Pak." Dhira keluar.


Jhon berdiri di dekat mejanya dengan tangan di kedua sisi pinggangnya.


"Dia pikir aku percaya dengan kata yang keluar dari mulutnya. Huh! jelas jelas kemarin kalian masih bersama. Berani sekali kau berbohong." Jhon baru melihat beberapa yang hari lalu Dhira dan Leo masih bersama dan bergandengan tangan dengan mesra.


Ia sangat kesal dengan mulut pembohong Dhira. Tapi dibiarkannya dahulu, nanti saat waktu tepat barulah ia akan bertindak. Dan pastinya sesuai perintah Robert.


Mendapat peringatan dari Jhon, Dhira berpikir harus lebih cepat. Berlama lama hanya akan membuat ibunya semakin terancam.


Kini ia sedang mondar mandir di dapur rumahnya menanti kabar dari orang suruhannya untuk menangkap Ara. Terpaksa ia menggunakan Ara sebagai alat untuk membuat Meli melepas ibunya. Ia harus memiliki senjata agar Meli tidak berani menyakiti ibunya.


Dan yang ditunggunya pun datang. Lewat ponsel ia di kabari, Ara sudah aman dan terkendali.


Barulah ia lega. Kini tinggal melancarkan rencana selanjutnya agar Meli mengalah. Pasti tekanan dari pengasuh Ara tidak akan membuat wanita itu bertahan. Dengan begitu, ia akan menggunakan Ara sebagai jaminan ibunya.


Ia yakin, Meli akan kalah. Dan segera melepaskan ibunya.


"Maafkan aku Ara. Aku tidak punya cara lagi. Aku hanya ingin ibuku baik baik saja. Meli harus menerima balasan perbuatannya. Dia adalah wanita jahat yang tega menyakiti orang. Maka akan ku buat dia merasakan yang dialami ibuku." Ia menggeram dengan kedua tangan terkepal kuat. Ia sudah tidak peduli apapun lagi saat ini.


Bahkan melawan semua orang yang berusaha melindungi Ara, sudah tidak ditakutinya. Sekalipun pun itu Leo. Itu sebabnya ia tidak membutuhkan hubungan itu lagi. Memutusnya adalah yang terbaik.


***


Hampir seminggu ia menghindari Leo. Entah berapa ratus kali panggilannya diabaikannya. Bahkan pemuda itu, datang setiap malam tapi ia berpura pura tidak sedang di rumah. Bahkan kini kebenciannya sudah meliput seluruh keluarga itu. Membayangkan wajah Leo saja membuatnya sakit hati, apalagi sampai melihatnya.


Tapi malam ini ia sudah memantapkan hatinya. Ia bersiap dengan segala yang akan dilakukannya. Ia berangkat ke rumah Leo. Ia akan menunjukkan pada Meli siapa dirinya. Ia akan memulai perhitungan pada mereka.

__ADS_1


Untuk yang ke dua kalinya ia menginjak tanah tempat berdirinya rumah megah keluarga Atmaja. Di malam hari rumah itu terlihat lebih indah dengan segala furniture disertai lampu yang gemerlap. Dhira berdiri di depan pintu rumah. Sebelum memencet bel ia menarik nafas panjang.


Tapi belum sempat jarinya menyentuh alat itu, pintu sudah terbuka. Sosok tinggi besar berdiri di tengah pintu dengan wajah sumringah.


"Andhira, akhirnya kamu datang sendiri ke sini." Mulut Leo megap-megap dengan wajah berhias senyum yang terkembang. Ini merupakan surprise yang tak terduga baginya. Sudah dari sejak awal ia mengajak Dhira ke rumah tapi selalu di tolak. Tapi kini justru kekasih hatinya itulah yang datang dengan sendirinya.


Dhira tidak membalas reaksi Leo sedikit pun. Justru wajahnya tegang dan dadanya terasa terbakar. Ingin sekali merob*k wajah dihadapannya. Kebencian sudah menguasai dirinya. Siapapun yang berhubungan dengan Meli seperti setan dimatanya.


Semenjak malam dimana paman Bali menceritakan kisah ibunya, hatinya sudah terbakar amarah dan dendam.


"Hem, kenapa dengan wajahmu? Kenapa kamu terlihat marah?" Leo menarik tangan Dhira pelan hingga masuk ke dalam rumah.


"Aku ingin bertemu dengan Bu Meli." Ujar Dhira dengan aura dingin. Ia sudah tidak bisa menutup-nutupi perasaannya lagi.


"Kebetulan mami ada di atas. Mari ku antar. Papi juga ada. Kami sedang berkumpul." Leo penuh kesabaran menyikapi kesan dari Dhira. Ia berjalan menaiki tangga dan diikuti oleh Dhira.


Setibanya di lantai dua, Dhira bisa mendengar suara tawa renyah Meli. Dadanya bergemuruh hebat. Kedua tangannya terkepal kuat menahan diri. 'Tertawa lah sepuas mu, sebentar lagi, tawamu akan berubah tangisan!' Batin Dhira dengan rahang mengeras.


"Pi, Mi, ada Andhira." Leo memanggil Rudy dan Meli yang duduk berdampingan menghadap televisi. Mereka sedang menonton acara televisi sambil bersenda gurau.


Mendengar suara putranya yang memanggil, Rudy bangkit dari duduknya dan datang ke arah Leo, meninggalkan istrinya yang masih serius menonton.


"Oh, Andhira. Mari bergabung kebetulan kami sedang bersantai." Dengan ramah Rudy menyambut Dhira.


Lelaki itu terlihat begitu berwibawa. Wajahnya yang sudah mulai menampakkan guratan ketuaan tidak sedikitpun mengurangi ketampanannya.


Jantung Dhira bagai diremas melihat senyum Rudy yang sangat bahagia. Apalagi saat lelaki itu memberikan tangannya ke hadapannya untuk berjabat tangan.


Dhira tidak menyambut tangan itu. Ia justru menatap Rudy dengan tatapan lekat, menyelidiki setiap ukiran yang terpahat di wajah itu. Di kepalanya saat ini ada pertanyaan 'apakah lelaki ini ayahku?'


Dhira belum membuka mulutnya. Ia tidak tahu dari mana akan memulai ucapannya. Tiba-tiba saja dadanya sesak dan ingin menangis. Tapi ditahannya, ia tidak akan menitikkan air mata di hadapan para musuh Ibunya. Kedatangannya adalah membuat perhitungan dengan mereka yang sudah menyakiti ibunya.


Meli yang dari tadi pura-pura tidak mengetahui adanya tamu, akhirnya memutar tubuhnya, ikut bergabung dan alangkah terkejutnya dirinya melihat siapa yang berdiri diantara suami dan putranya.


"Ayo duduk." Leo menuntun Dhira agar berjalan ke sofa. Mungkin ada yang penting yang ingin disampaikan Dhira. Dan ia bingung dengan cara Dhira menatap papinya.


Dhira menguatkan kakinya. Ia tidak mau mengikuti ajakan Leo.


Leo berhenti. Ia memperhatikan baik baik ke wajah Dhira. Kedua mata gadis itu berkaca kaca sementara kedua daun hidungnya kembang kempis.


"Ada apa sayang?" Leo yang terkejut tanpa sadar menyebut sayang pada Dhira dihadapan kedua orang tuanya. Darahnya seperti memanas melihat orang yang ia sayangi seperti menderita.


"Hentikan Leo! Kita sudah tidak ada hubungan apa apa lagi!" Raung Dhira. Ucapan pertamanya justru tentang hubungannya dengan Leo.


"Andhira, kamu kenapa? Apa ada masalah?" Suara Leo masih datar. Tapi matanya terlihat marah. Tak disangkanya kedatangan Dhira justru mencampakkan dirinya.


"Awas, menyingkir!" Dhira mendorong Leo. Ia maju dengan gesit dan langsung berdiri dihadapan Meli dan Rudy.


"Gadis kurang aj*r! Kau di kasih hati malah minta jantung! Putraku begitu menghargai mu sebagai orang yang dikasihi, tapi lihat perangai mu. Sungguh kelakuan orang brutal primitif!" Serang Meli berapi-api.


"Katakan dimana ibuku!" Teriak Dhira sekaligus tumpah air yang ditahannya dari tadi. Suaranya menggelegar bahkan bergema di ruangan itu. "Kalian bersekongkol ingin memb*nuh ibuku!" Dhira tidak lagi perduli selain tentang ibunya.


"Dasar wanita gil*! Kenapa kau datang ke sini! Harusnya kau dikurung di rumah sakit jiwa!" Balas Meli berapi-api. Wanita itu begitu gelisah dan kelihatan takut.


"Kalian yang harus dikurung di penjar*! Apa kalian sudah tidak ingat bagaimana kalian membun*h seorang wanita hamil di masa pacaran kalian, hah? Sekarang sudah waktunya bagi kalian membayarnya!" Teriak Dhira tak kalah berapi. Kedua matanya yang berkabut memancarkan kebencian.


"Andhira, apa yang kau katakan? Bila ada masalah mari bicarakan baik baik. Tidak bagus mengatakan hal seperti itu." Rudy dengan bijak berusaha mengajak Dhira berbicara.

__ADS_1


"Kau laki-laki pengecut!!" Tunjuk Dhira pada Rudy. "Apa kau tidak mengingat soal perilaku mu terhadap Amelia! Kau menghamil*nya tapi kau tidak mau bertanggung jawab! Kau Malah ingin membun*hnya! Lihat bagaimana anak yang kau bun*h itu masih hidup! Anak itu sekarang dihadapan mu untuk membalas semua perbuatan kalian!" Seru Dhira dengan semua urat di wajah dan lehernya menegang. Tidak ada yang perlu ditutup tutupi lagi. Semua sudah harus diungkapkan.


Rudy tersentak hingga mundur ke belakang. Tudingan Dhira, membuatnya hilang kendali.


Sementara Leo, berdiri dengan kaku disertai wajah memucat. "Tidak, tidak mungkin." Ujarnya sambil menggeleng.


"Heh! Kalau kau mengigau kenapa datang ke rumah ini? Memangnya siapa Amelia? Jika ibumu hamil dan melahirkan mu tanpa pertanggung-jawaban laki laki, apakah itu perbuatan suamiku! Kau akan kami tuntut melakukan pencemaran nama baik! Leo! laporkan gadis ini ke polisi sekarang juga!" Meli berteriak tidak terima dengan tuduhan Dhira.


"Rudy Atmaja! Lihat aku baik baik!" Dhira menepuk dadanya dengan keras. "Amelia masih hidup bahkan telah melahirkan ku! Niatmu membun*h kami tidak kesampaian! Selama dua puluh dua tahun kau menikmati hidupmu sekarang kau akan membayar kejahat*n mu! Sekarang katakan dimana ibuku kalian sekap!" Teriak Dhira. Kedua tangannya mengejang ingin memukul Meli dan Rudy.


Rudy menepuk kepalanya pelan. Pria itu terlihat tenang setelah berusaha memahami yang dikatakan Dhira. "Kamu salah orang Andhira, aku tidak pernah melakukan hal serendah itu. Aku juga tidak mengenal ibumu yang bernama Amelia."


"Sekarang bukan lagi waktunya menutupi yang sudah terjadi di masa lalu! Aku tidak akan pernah meminta pertanggungjawaban darimu! Aku tidak sudi punya ayah sepertimu! Aku hanya mau lepaskan ibuku!!!"


"Apa yang kamu bicarakan?" Leo mengguncang bahu Dhira. Kedua mata Leo melebar sempurna. Tidak percaya Dhira melakukan itu. Dan tidak percaya pada apa yang didengarnya.


"Menyingkir kau! Kau hanya anak yang tak tahu apa apa!" Dhira mendorong Leo sekuat tenaga hingga pemuda itu terjungkal.


Dhira bergerak maju selangkah lagi hingga tepat berada di hadapan Rudy dan Meli. "Malam tanggal tiga Maret seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan adalah malam dimana kalian berdua ingin membun*h ibuku! Kalian tidak mungkin melupakannya! Malam itu, ibu ku Amelia, wanita yang tengah mengandung itu selamat!"


Dedarrrrr


Bersamaan dengan kalimat terakhir Dhira, suara guntur di langit menggelegar hingga menciptakan kilat. Memang cuaca sedang mendung dari sore tadi.


Mereka semua serasa tersambar gledek.


Bersamaan itu pula, Meli yang berdiri kokoh tiba tiba lunglai, tapi tidak sampai terjatuh karena ia berpegangan pada sofa. Wajah wanita itu memucat dengan tubuhnya yang bergetar samar.


"Aku masih sabar menghadapi mu Nak, sebelum aku marah hentikan perilaku mu. Kau sedang mengarang apa?" Rudy membantu Meli untuk duduk di sofa, menyadari istrinya itu sedang lemas.


Tapi Meli menolak, ia menepis tangan suaminya dan dalam waktu singkat ia sudah terlihat normal. Tidak kaget ataupun takut. "Guntur barusan membuatku terkejut." Ujarnya pelan pada suaminya.


"Kau...!!" Tunjuk Meli pada Dhira.


"Sepertinya kau salah paham. Jangan sambil marah membahas masalahmu. Mari ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi." Suara Meli tiba tiba berubah lembut berusaha membujuk Dhira.


Dhira terheran dengan perubahan reaksi dan gaya Meli dalam sekejap bisa berubah.


"Pi, dan kamu Leo minggir dahulu. Biar aku bicara dengannya." Meli menunjukkan keibuannya dan menunjukkan perhatiannya pada Dhira.


Rudy dan Leo tidak mengatakan apapun atau bergerak dari tempatnya. Mereka hanya berdiri dengan wajah bingung.


"Leo ambilkan minum. Dan Papi tolong minggir. Aku ingin bicara berdua dengannya." Suara Meli begitu lembut dan terkesan sabar.


Leo yang sangat khawatir hanya bisa menuruti maminya. Ia bergerak turun dengan segala kebingungannya.


"Begini saja. Mari kita ke kamar dan bicara pelan pelan. Kamar Tante ada di sebelah itu." Sikap manis Meli sungguh membuat Dhira mual. Tapi otaknya yang setengah sadar mengikuti permintaan Meli. Ia mengikutinya ke kamar.


"Pi, sebentar ya...sepertinya calon menantu kita butuh teman bicara. Setelah dia tenang, papi baru boleh masuk."


Rudy tidak bereaksi. Ia hanya berdiam diri dan menyaksikan dua wanita itu masuk ke kamar mereka. Ia sungguh bingung dan keterkejutannya belum hilang.


Meli menutup pintu lalu menarik tangan Dhira dengan kasar dan menghentakkan nya ke lantai.


Dhira yang tanpa persiapan terhuyung dan terduduk. Ia mendongak ke atas melihat wajah Meli yang kembali berubah beringas.


"Kau jangan asal menuduh orang! Ibumu yang bernama Amelia itu memangnya siapa? Apa kau bilang? Suamiku mengham*li ibumu? Dasar gila kau! Jadi sekarang kau ingin bilang, kau meminta suamiku mengakui mu sebagai anaknya? Ibumu yang murahan itu, pastikan dulu hamil dengan siapa baru kau bisa bicara!" Meli menarik kasar rambut Dhira.

__ADS_1


__ADS_2