
"Ara sudah tahu segalanya. Biarkan dia sendiri yang memutuskan apa yang akan dilaluinya. Jika sudah beberapa hari Ara tidak kembali ke sini, artinya dia memilih Atmaja. Maka biarkan saja. Dia berhak memilih dengan siapa dia meneruskan hidupnya."
Jhon mengangguk.
"Dan saat itu kembalikan perusahaan itu pada mereka." Lanjut Robert. Lelaki itu terlihat sedikit menarik nafas panjang setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Artinya segala pertikaian, sudah berakhir?" Tanya Jhon.
"Selama mereka tidak menggangguku ku, kita, anggap semua itu berakhir." Sahut Robert.
Jhon hampir tidak percaya pria di depannya adalah Robert yang dikenalnya selama ini. Dendam tuannya bagai api yang tak akan bisa dipadamkan dengan usaha apapun. Bahkan hal kecil saja bisa membuatnya berkobar kobar. Dan dengan tangannya sendiri beberapa kali mengancam keluarga itu.
Ruangan itu hening. Baik Robert ataupun Jhon sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.
"Aku tidak lama di sini. Urus segalanya dengan baik. Ku percayakan semuanya padamu." Setelah beberapa menit, Robert berbicara untuk pamit pergi lagi.
"Tapi..." Jhon tidak melanjutkan katanya begitu Robert mengangkat tangannya.
"Besok aku mampir sebentar ke perusahaan. Ada yang ingin bertemu denganku."
"Pi, pekerjaan di sini sangat banyak dan aku hanya sendirian. Alangkah baiknya Papi tinggal beberapa hari lagi untuk membimbingku. Terlebih dengan masalah yang terkait dengan Ara."
"Kau mampu! Aku tahu itu!" Ujar Robert dengan wajah serius.
Inilah salah satu kelebihan Robert. Tidak pernah menjatuhkan bawahannya meski mengeluh. Ia selalu memberi motivasi agar optimis. Terlebih pada Jhon.
"Yang penting jangan keluar dari jalur yang ku tetapkan." Pesan Robert dengan mata menatap tajam.
"Baiklah. Akan ku usahakan. "Tapi, bagaimana kalau Ara tetap ingin bersama kita, tapi Atmaja memaksanya? Apa yang harus ku lakukan?" Yang paling berat ia tangani adalah soal Ara.
"Aku yakin Ara tidak ingin kembali lagi. Tapi kalau memang seandainya begitu, jangan terlalu keras pada Atmaja. Dalang dari semuanya adalah Meli. Dia sudah tiada. Sudah cukup mereka menanggung kesalahan yang diakibatkan wanita itu. Mereka juga berhak hidup bersama putri mereka."
"Baiklah." Kini Jhon sudah paham. Robert sungguh iklhas melepas Ara.
Malam ini Robert tidur di rumah. Rumah tempatnya bercengkrama dengan Ara. Ia masuk ke kamar Ara sebelum ke kamarnya. Ditatapnya sekeliling ruangan itu dengan nafas berat. Sosok Ara terbayang dibenaknya. Besar rasa kehilangan dihatinya. Bahkan terasa dinding hatinya merongrong karena harus melepasnya.
Gadis periang yang selalu melawan keinginannya tapi tetap tunduk padanya juga walau harus melalui berbagai drama.
Gadis yang telah mengisi kekosongan hidupnya selama ini.
Gadis yang memberinya pencerahan sehingga bisa menahan diri dari segala perbuatan tercela dan yang jahat.
Gadis yang akhirnya disayanginya bagai darah dagingnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, membuatnya melupakan bahwa darah gadis itu adalah darah yang sama dengan wanita yang dibencinya.
Kini harus dilepasnya dengan suka rela demi kebahagiaan gadis itu juga. Tetap ada rasa bersalah di hatinya telah menawan gadis itu di dalam lingkup dendamnya. Telah membuat gadis itu sebagai alat pembalasan dendamnya terhadap Meli.
Bisa saja ia berkeras mengadopsi Ara jika mau. Tapi tidak dilakukannya. Ia merasa sudah cukup segala dendam dan kepalsuan hubungannya dengan Ara. Lelah dan ingin mengakhiri semuanya. Ia ingin hidup normal tanpa ada segala dendam lagi. Lagian, bagaimanapun caranya menahan Ara bersamanya, suatu saat pastilah kebenaran akan terungkap.
Di tutupnya pintu kamar Ara dan berdiri dengan kepala tertunduk. Di tekannya dadanya yang terasa sakit dan sepi. Lalu menaikkan kepalanya ke arah langit-langit dan terdengar seperti menarik ingusnya dalam-dalam. Setelah menarik nafas panjang, baru diturunkannya kepalanya hingga tertunduk. Setelah menarik nafas panjang barulah lelaki itu pergi, meninggalkan kamar Ara.
Jhon juga berdiri tidak jauh dibelakang Robert. Ia bisa melihat sebenarnya lelaki itu sangat kehilangan. Baru kali ini ia melihat lelaki itu begitu sedih dan menyesal.
__ADS_1
'Ternyata Papi menyembunyikan rasa kehilangannya. Justru lebih menyedihkan melihatnya begitu' Batin Jhon. Ia pun pergi ke kamarnya.
***
Masih pagi sekali, Jhon dan Robert sudah berada di dalam mobil. Mereka menuju perusahaan. Ada banyak dokumen serta surat lainnya yang menunggu tanda tangannya.
Waktu yang harus dipergunakan Robert sesingkat mungkin ternyata memakan waktu hingga tengah hari. Belum lagi tamunya yang berjanji akan bertemu jam sepuluh di restoran di dekat perusahaan ternyata mengundur waktu hingga jam satu siang.
Ia merenggangkan tubuhnya setelah selesai dengan tumpukan dokumen penting. Setelah membereskan peralatannya ia bangkit hendak berangkat ke restoran karena sudah pukul satu kurang sepuluh menit.
Ternyata tamunya sudah duluan tiba di restoran. Seorang wanita seumurannya menyambutnya dengan lambaian. Mengajaknya ke meja yang telah dipesan.
"Saya terlambat beberapa menit." Ujar Robert dengan bahasa Inggris yang fasih.
"Ah tidak. Ini juga belum pukul satu." Wanita itu menjawab dengan bahasa Indonesia yang sangat lucu kedengaran. Wanita ini adalah investor di perusahaan Robert yang ada di Belanda.
"Oh, tenyata Anda sudah makin mahir dengan bahasa di sini. Oke, kita pakai bahasa saya saja agar Anda makin bisa." Robert tertawa pelan. Wajahnya yang berkarisma juga fanatik terlihat begitu tampan tapi tetap menampilkan aura dingin dan tak tergapai.
"Kamu makin tua makin tampan." Puji wanita itu dengan lidah belepotan.
"Makin tua makin reog. Anda salah." Robert tetap tertawa pelan. Tapi kali ini tawanya sangat palsu.
"Hahaha...apa itu reog?" Wanita itu tertawa lalu bertanya.
"Hahah...artinya rusak, menua maksudnya."
Wanita itu tertawa lagi. "Oke, langsung ke topik saja. Bagiamana dengan penawaran ku? Apakah sudah kau pikirkan? Aku bahkan memberimu imbalan yang nilainya berlipat kali. Aku ingin vila milikmu beserta lahannya." Wanita bernama Agatha Daisy mendapat bocoran kalau pemilik resort yang sudah lama di incar nya di Bali ternyata adalah Robert, temannya sendiri.
"Hahaha...kenapa kau begitu pelit? Kau punya harta dan usaha yang banyak. Kenapa harus menahan tanah yang nilainya hanya seujung kuku salah satu perusahaan mu?" Wanita itu tertawa penuh rayuan.
"Karena tanah itu bukan milikku." Tandas Robert lagi. Kali ini mimiknya berubah lebih serius dan menjadi kaku.
"Kau tidak usah membohongiku. Aku sudah tahu semuanya. Kau lah pemiliknya." Agatha memandang Robert dengan pandangan kemenangan.
"Kalau begitu, informasi yang Anda dapat tidaklah benar."
"Ck, kau sangat pintar mengelabui ku. Tapi itu tidak mempan. Oke, katakan berapa lagi yang kau minta."
"Hahhh, Anda hanya membuang waktu." Robert merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan selembar kertas berupa sertifikat. "Lihat ini dengan jelas. Nama dan cap tangan yang ada di kertas ini bukan milikku. Pemilik aslinya adalah dia." Tunjuk Robert ke sebuah nama di kertas itu.
Ia sudah bosan terus kejar-kejar oleh Agatha demi lahan dan vila yang dilindunginya itu. Belum lagi dari pihak lainnya. Mereka begitu naksir dengan lahan itu. Mereka ingin membuat resort di sana. Yang tentunya akan semakin menambah penghasilan mereka.
Agatha mengerutkan keningnya. Informasi yang didapatnya ternyata salah. Dibacanya nama yang tertera di kertas itu. Robert tidak berbohong. Lelaki itu sungguh bukan pemilik resort strategis yang memiliki lahan luas yang luar biasa. "Anda adalah seorang pebisnis handal yang sudah memiliki apapun. Kenapa Anda capek capek sebagai pengurus vila itu?" Tanya Agatha dengan mata tajam. Terdapat keinginan yang besar dari mata itu.
"Dia temanku. Dia mempercayakan itu padaku." Jawab Robert dengan wajah misterius. Dan Agatha melihat ada binar yang tak biasa saat lelaki itu mengatakan lahan itu adalah milik temannya.
"Huh, aneh. Yang aku tahu kau justru mempercayakan semua usahamu pada bawahan mu. Kenapa kau mau capek dengan harta orang lain." Ujar Agatha dengan sinis. Ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Robert. "Dan setahu ku, kau tidak punya teman wanita. Pemilik sertifikat itu adalah wanita." Tatap wanita itu dengan sorot menyelidik.
"Bagiku dia adalah yang terpenting. Makanya aku mau repot repot. Maaf bila Anda kecewa." Robert meminum air putih dan berdiri.
"Kenapa harus buru-buru. Makan siang kita tidak perlu berantakan." Agatha menunjuk makanan yang sudah terhidang.
__ADS_1
Robert berpikir sebentar. Baru saja ia berhasil menolak Agatha sang pebisnis ulung yang memiliki kaki tangan yang terkenal kejam. Ia merasa perlu menyelesaikan makan siang ini agar Agatha bisa sedikit senang. Ia tidak mau berurusan lagi dengan wanita yang selalu menatapnya dengan tatapan lapar. Ia sangat tidak suka.
Ia pun duduk dan mengambil sendok. Makan perlahan. Ia tahu Agatha menatapnya tak berkedip. Tapi mengabaikan wanita itu adalah yang terbaik. Pura pura sibuk makan dan menikmatinya.
Sedangkan satu meja di seberang mereka, Dhira juga sedang makan siang dengan Alvian. Mereka habis bekerja dan Alvian mengajaknya makan bersama dan kebetulan tempat yang terakhir mereka kunjungi, tidak jauh Dafi restoran.
Dari tadi pembicaraan dua orang tua di samping sebelah kirinya cukup menyita pendengarannya. Diam diam ia mengikuti pembicaraan itu sambil menikmati makan. Tak luput tugas utamanya selalu memeriksa sekitarnya mencari keberadaan ibunya. Itu sebabnya kapanpun Alvian mengajaknya selalu menurutinya demi mencari ibunya.
Saat Robert yang bertubuh kekar itu menarik sesuatu dari kantong jasnya, Dhira menyadari ada sesuatu yang jatuh ke bawah meja. Tapi tidak ada keinginan untuk memberitahukan si pemiliknya. Selain asing, ia tidak mau repot. Ia berdiam saja sambil sesekali melirik ke bawah meja. Matanya berusaha menyelidiki benda putih yang terlipat seukuran telapak tangan di ujung sepatu pria itu. Ada yang menarik perhatiannya. Sesuatu yang tidak asing di tengah benda itu. Tapi ingatannya tidak terlalu jelas tentang apa itu.
"Makan yang banyak. Lihat tubuhmu itu sangat kurus." Alvian menambahkan nasi ke piring Dhira.
Dhira tidak menampik. Ia membiarkan Alvian menyusun makanan di piringnya. Bahkan jika dilihat orang lain, mereka terlihat romantis dengan segala perhatian Alvian.
Tiba tiba Dhira berhenti makan. Ia berdiri saat tetangga mejanya sudah meninggalkan meja. Ia bergerak cepat ke bawah meja. Memungut benda putih itu dan menggenggamnya.
Darahnya seketika terhentak mengalir deras saat membuka benda itu. Sehelai kain putih bersulam bunga teratai dengan lukisan huruf D. "Ini saputangan ku." Pikiran Dhira langsung mengarah pada ibunya. Ia berlari sekencangnya ke luar restoran. Melangkah secepatnya dan panjang ke arah parkiran yang berada di samping.
"Hei...! Tunggu!" Dhira berteriak memanggil Robert yang sudah masuk ke mobil. Dan mobil bergerak perlahan lalu lama lama kencang. Ia berlari ke arah pinggir jalan mendahului mobil keluar ke jalan raya, tapi usahanya gagal karena mobil itu lebih cepat dari kakinya. Ia terus berlari mengejar mobil itu walau ia sudah jauh tertinggal.
"Hah, itu mobil Jhon. Iya aku sangat hafal nomor platnya." Ia tiba tiba teringat dengan nomor mobil itu.
Tanpa pikir panjang ia berniat ke rumah Jhon. Ia harus mendatanginya sekarang agar bisa bertemu dengan pria itu.
"Dhi, kamu kenapa? Kok lari lari?" Alvian sudah ada di belakanganya.
"Aku pinjam mobilmu! Cepatttt! Berikan kuncinya!" Teriak Dhira. Bahkan ia merebut kunci dari tangan Alvian.
"Ayo aku antar. Aku yang menyetir." Alvian mengangkat tanganya tinggi untuk menjauhkan kuncinya.
"Aku kehabisan waktu bereng*ek!" Dhira memukul paha Alvian hingga pemuda itu terjatuh. Direbutnya kunci dan segera berlari ke arah mobil.
"Dhi, tunggu aku! Itu mobilku! Kau tidak berhak memaksaku!" Alvian berlari terpincang mengejar mobilnya.
"Aku pinjam dulu!" Teriak Dhira dari jendela dan berlalu bagai angin topan. Ia membalap semua kendaraan di depannya hingga membuat Alvian berteriak histeris ketakutan, melihat cara Dhira membawa mobilnya.
Dhira memperlambat laju mobil setelah menemukan mobil Jhon. Ia langsung memposisikan mobil tepat dibelakang.
Melaju selama dua puluh menit, akhirnya mereka sampai di area perumahan Rabiga. Jhon mengerutkan dahinya melihat sebuah mobil mengikutinya hingga ke depan rumah. Dari tadi ia sudah tahu kalau mobil itu selalu berada dibelakangnya. Tapi tidak menyangka akan mengikutinya hingga di kediaman.
Ia tidak langsung turun. Memilih menunggu tindakan selanjutnya dari tamu yang tak diundangnya itu.
Tokkk tokkk...
Kaca jendela di seberangnya diketuk. Ia menurunkan kaca dan sangat kaget melihat Dhira yang tak sabar terus mengetuk pintu.
"Kau? Sedang apa kau di sini?" Jhon langsung melompat turun.
Dhira membuka pintu mobil dan memeriksa ke dalam. "Kenapa tidak ada orang? Jelas jelas aku tadi melihatnya duduk di sini." Gumam Dhira.
"Heh!" Bentak Jhon sembari menarik tangan Dhira agar keluar dari mobil.
__ADS_1
"Di mana lelaki yang kau bawa dari restoran tadi?" Tanya Dhira dengan nafas memburu.