
"Apa kamu tidak percaya dengan kekuatan cinta?" Tanya Leo. "Kalau cinta kita berdua sama besarnya aku yakin kita berjodoh." Optimis, itulah Leo.
Lagi lagi Dhira diam.
"Atau kita menikah aja?" Sontak Dhira mengangkat kepalanya menatap mata Leo.
"Agar hatimu menerima semua yang kulakukan?" Tanya Leo lagi. "Dengan senang hati aku akan segera menikahi mu asal kamu sudah siap." Ucap Leo penuh harap.
Dhira menggeleng setelah menurunkan tatapannya "Belumlah. Rasanya gimana menikah dengan keadaan sekarang. Pikiranku masih kusut selama ibu belum sembuh."
"Yah udah, jangan ragu menerima bantuan ku. Aku tulus melakukan semuanya." Tatap Leo dengan tajam tapi penuh kehangatan.
Dhira mengangguk. Rasanya tidak ada kata kata lagi untuk menampik keinginan Leo. Sejujurnya ia senang ada Leo apalagi dengan semua bantuannya. Siapa yang berdaya menolak dengan keadaannya sekarang ini? Tapi, melihat bagaimana tatapan Meli padanya hari itu selalu menjadi ganjal besar di hatinya. Bagaimana jika esok hari cintanya membawa prahara baginya dan ibunya?
***
Di kediaman Atmaja sudah sebulan sepi karena Rudy dan Meli sedang keluar negeri. Tapi hari ini, rumah kembali hidup dengan kembalinya mereka.
"Bi, apa Leo pernah pulang?" Tanya Meli pada asisten rumahtangga.
"Tidak pernah Nyonya."
"Hah anak itu benar benar. Selama sebulan tidak pernah memberi kabar. Kalau tidak ditelpon, dia tidak pernah bertanya kabar kami." Gerutu Meli.
"Masak makanan kesukaan Leo. Aku akan mengantarnya ke kantor. Kami akan makan siang bersama."
"Baik nyonya."
Meli menyusul suaminya ke atas.
"Mas, ke kantor nggak?"
"Iya. Rasanya ada yang kurang selama sebulan tidak ke kantor."
"Bareng Mas. Kita makan siang bersama Leo sekalian. Aku sudah suruh Bi Atun masak."
"Udah lama kita tidak makan bareng. Nggak usah makan di kantor. Suruh aja putra kita pulang. Kita makan siang bersama di rumah ini."
"Baiklah Mas. Anak kita ini benar benar sombong. Sebulan tidak berjumpa, sekalipun tidak pernah menelepon kita."
"Biasalah Mi namanya anak muda. Apalagi kalau sudah punya pacar. Perhatiannya pasti tercurah pada pacarnya."
"Mas pernah lihat dia bersama wanita?"
"Beberapa kali saat di restoran dan loby perusahaan." Jawab Rudy dengan santai.
"Mas!!!" Jerit Meli.
Rudy yang sedang membuka kancing kemejanya terlonjak kaget. "Ada apa? Kenapa kamu berteriak?"
"Apakah dia gadis yang aku ceritakan hari itu? Kenapa kamu tidak melarang mereka?" Kedua mata Meli menyala karena marah.
"Ah penglihatan mu itu salah. Sudah aku periksa, dia gadis baik-baik. Selain pintar dia cantik. Bagaimana cara Leo melepasnya? Aku sudah lihat bagaimana putra kita mencintai gadis itu. Mata anak kita sudah dipenuhi api cinta." Rudy malah sambil tertawa dengan bangganya menceritakan sang anaknya yang sedang dilanda asmara.
"Itu tidak benar Mas!" Teriak Meli histeris.
"Meli, kenapa kamu ini? Jangan berlebihan!" Bentak Rudy. Ia gusar melihat reaksi istrinya yang tak berdasar.
"Pokoknya Leo tidak boleh dengan gadis itu. Apa kamu sudah tidak sayang pada Leo? Bagiamana kamu membiarkannya bersama gadis berbahaya itu?"
"Pikiranmu sepertinya terganggu. Dhira gadis baik. Aku sudah lihat bagaimana Leo bisa tertawa bahagia bersamanya. Justru aku sayang padanya. Aku tidak tega merampas kebahagiaanya. Dengan menjauhkannya dari Dhira, bisa membuatnya sedih dan terluka. Biarkan lah mereka menikmati hubungan yang mereka miliki. Leo sudah cukup terluka selama ini. Jadi, tenanglah. Jangan membuat kehidupan Leo kacau.
"Justru gadis itu datang menghancurkan Leo Mas."
__ADS_1
"Apa alasanmu menilai Dhira seperti itu?" Rudy menjadi kesal dengan istrinya.
"Pokoknya aku tidak suka padanya."
"Kenapa?" Desak Rudy.
"Dia hanya gadis kampung yang miskin. Bagaimana cara kita menerimanya? Tidak berpendidikan jauh dibawah status kita!"
"Jangan pernah mengungkapkan ini pada Leo. Atau dia akan marah besar dan melawan mu. Kamu tidak menyukai Dhira hanya karena dia bukan anak orang kaya? Betapa tingginya hatimu itu. Sudah! Jangan bahas ini lagi. Biarkan Leo memilih wanita manapun yang akan menjadi istrinya. Jangan ikut campur! Udah hatinya yang kita patahkan selama ini ditambah lagi dengan penolakan mu pada Dhira, Leo pasti makin marah!"
"Tapi Mas, ini juga demi..."
"Stop!" Potong Rudy. Hatinya dongkol dengan sikap istrinya. "Jangan bahas ini lagi. Lebarkan hatimu dan terimalah siapapun yang akan di bawa Leo sebagai menantu kita." Rudy menghempaskan pintu kamar dan keluar setelah mengganti pakaian. Beradu mulut dengan istrinya hanya membuat kepalanya pusing.
Akhirnya makan siang bersama yang direncanakan tidak terjadi. Rudy sudah berangkat entah kemana. Sedangkan Meli ngambek dan mengurung diri di kamar.
Semua orang di kantor yang berpapasan dengan Rudy memberi hormat dengan menundukkan kepala. Mereka sangat segan padanya. Menyandang sebagai direktur baik tapi tegas membuat orang orang menyayanginya sekaligus menghormatinya.
Rudy tidak masuk ke ruangannya. Tapi mengunjungi putranya. Sudah sejak lama ia tidak bicara santai dengan sang anak membuatnya ingin melakukannya.
"Papi? Sudah pulang dari London?" Leo cukup terkejut melihat papinya tiba tiba ada di depannya.
"Hm. Bagaimana kabarmu? Untuk menelepon kami aja kamu sepertinya tidak sempat." Ucap Rudy dengan santai. Lalu duduk di sudut meja kerja putranya.
Melihat gaya papinya, Leo merasa lega. Mengatakan protes tapi dengan wajah tenang. Sebenarnya ia merindukan gaya papinya yang terkadang bisa menjadi sahabat baginya. Entah sudah berapa tahun berlalu hal seperti ini tidak lagi terjadi. Padahal waktu ia kecil papinya lah satu satunya yang menjadi sahabatnya. Perlahan kekakuan yang membeku di hatinya menghangat. Seulas senyum terbit di sudut bibirnya mengingat masa itu.
"Sekarang kamu sudah lebih segalanya dariku."
Kening Leo mengernyit. Tidak mengerti arti ucapan papinya.
"Lebih ganteng, lebih kekar, lebih pintar, lebih terampil, dan pokoknya kamu sudah mengalahkan papi."
Leo tidak menanggapi papinya. Ia kembali sibuk dengan laptop di hadapannya.
"Tapi pencapaian mu rasanya masih kurang lengkap, karena masih setia melajang. Jika sudah punya istri, barulah Papi akui, putraku yang paling top!"
"Bukan. Aku sendiri yang ingin datang dan memintamu memperkenalkan pacarmu pada kami. Kami ingin kamu menikah secepatnya. Ku lihat kamu semakin menempel dengan kekasihmu itu." Rudy sengaja melambatkan kalimatnya.
Gerakan tangan Leo yang sedang mengetik berhenti. Ia menatap papinya dengan tatapan berbinar. "Papi sudah tahu kekasihku?"
"Hanya sering melihat. Belum pernah bertatap muka secara langsung. Makanya kenalkan dia pada kami."
"Hum, aku ragu. Sikap Mami terlalu keras."
"Aku akan menangani mamimu. Ajaklah dia makan bersama kita nanti malam. Kami akan menunggu kalian."
"Kalau hanya untuk mengatakan hal tidak enak di dengar mending nggak usah. Andhira sudah pernah tersinggung dengan perkataan mami. Aku tidak ingin melukai hatinya lagi." Leo langsung memberikan perlindungan terhadap kekasihnya.
"Tenanglah. Papi suka kok sama Dhira."
Leo menatap papinya lagi "Papi tahu namanya? Apa papi sudah pernah bertemu dengannya?"
"Hahaha" Rudy tertawa ringan. "Tentu saja aku tahu apa yang dilakukan putraku. Apalagi soal calon pasangan hidupnya. Aku selalu memantau."
Wajah Leo tiba tiba menciut. Takut papinya tahu tentang uang yang ia keluarkan demi Dhira. "Sedalam apa papi mengetahuinya?" Pancing Leo.
"Nggak banyak sih. Hanya tahu wanita yang di sukai anakku adalah wanita cantik dan baik." Rudy tersenyum.
Leo bernafas lega. Ternyata aman. Ia hanya takut papinya menolak Dhira karena dirinya berkorban uang yang tidak sedikit. "Hem soal, mengenalkan Andhira pada papi mami aku minta waktu lagi. Calon mantu Papi saat ini sedang ada urusan keluarga. Biar dulu masalah ini selesai agar lebih tenang."
"Oke. Soal itu bisa dimaklumi. Tapi setelah itu, secepatnya bawa dia."
"Iya Pi." Senyum Leo tidak bisa hilang bahkan walau Rudy sudah pergi. Hatinya riang mendapat respon papinya. Tadinya ia berpikir akan sulit jika kedua orang tuanya keberatan dengan gadis pilihannya.
__ADS_1
Sore harinya Leo menunggu Dhira di mobilnya. Di ambilnya bunga mawar yang segar dan indah di sampingnya dan menciumnya. Kebahagiaan menghiasi wajahnya. Rasanya tidak sabar menyerahkannya pada Dhira.
Yang ditunggu tunggu akhirnya muncul juga. Dhira berlari sambil menutupi kepalanya dengan tas agar wajahnya tidak tersorot langsung ke kamera pengawas.
Leo membuka pintu dan Dhira masuk.
"Kamu senang banget bikin aku jantungan." Sungut Dhira sambil menutup pintu. Sudah berapa kali dikatakannya agar tidak menyuruh dirinya naik di dapan loby, tapi Leo tidak mengindahkan permintaanya.
"Biasa aja. Kenapa memangnya kalau orang orang tahu kamu itu milikku? Memang benarkan kan, kita pasangan kekasih." Leo merapikan rambut Dhira yang acak acakan. Sambil sesekali menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. Sedangkan Dhira sibuk merapikan roknya yang tersingkap.
"Sudah?" Tanya Leo. Tangannya masih berada di kepala Dhira.
"Hem?" Dhira menoleh. Sedikit bingung dengan pertanyaan Leo.
"Aku ada sedikit hadiah untukmu. Sebagai wujud betapa aku senang saat ini." Kedua mata Leo berbinar memancarkan kebahagiaan.
"Hadiah? Emang ada acara apa gitu?" Melirik Leo sedikit.
"Hehe...kamu ngegemesin banget." Leo mengelus rambut Dhira sambil menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa makin hari ia makin gemas dan tidak tahan melihat wajah kekasihnya. Saking cintanya, untuk tidak melihat Dhira sehari saja tidak rela.
"Ketawa? Apanya yang bikin gemas?" Dhira tertawa pelan.
Leo manarik kepala Dhira "Ummmaaahhh....!" Di ciumnya puncak kepalanya dalam dalam. Sementara tangannya berpindah ke arah belakang. Kemudian mengambil bunga yang ditaruhnya disan. "Aku mencintaimu." Ucapnya sembari memberikan seikat bunga mawar merah dengan senyum manis.
"Wah, indahnya..." Dhira yang suka bunga begitu terpesona dengan kelopak mawar yang tersusun cantik di setiap tangkainya. Diciumnya kelopak kelopak bunga itu dengan bahagia. Wajahnya terlihat bersinar walau barusan menampakkan kelelahan. "Wangi..." Ucapnya sambil melirik Leo yang hanya beberapa senti darinya.
"Hem. Asal jangan lebih besar cintamu padanya dari padaku." Leo menunjuk bunga dengan dagunya. Wajahnya terlihat cemburu pada bunga indah itu. Bagaimana tidak cemburu, bunga dicium segitunya dihadapannya. Padahal dirinya harus penuh rayuan agar dapat perlakuan yang sama. Itupun kadang gagal. "Rasanya aku ingin jadi bunga aja." Bisiknya dengan lirikan kesal yang dibuat-buat.
"Hahaha...jangan jadi bunga. Bunga ini fana." Ia mengelus bunga "Setelah dia dicintai begitu dalam, tidak lama dia akan layu meninggalkan kehampaan."
Leo terdiam. Dinding hatinya tersentuh mendengar ucapan Dhira.
"Jadilah seperti dirimu. Mencintaiku apa adanya. Hidup yang lama agar selalu bisa mencintaiku. Agar cintaku tidak patah seperti pada bunga ini."
Dada Leo berdesir. Ucapan Dhira menyentuh hatinya yang paling dalam. Ditatapnya dalam ke wajah Dhira yang juga menatapnya.
"Tidak ada cinta yang lebih besar selain untukmu. Seumur hidupku mencintai dan menyayangimu." Leo memeluk Dhira. Mereka berpelukan cukup lama. Saling meresapi perasaan masing masing.
"Papi menyetujui hubungan kita."
Dhira mengangkat kepalanya dari bahu Leo. Ia menatap Leo dengan ragu.
Leo tersenyum. "Papi ingin segera kita menikah."
"Tapi, mami kamu beda kayaknya."
"Mami akan tunduk pada papi. Bahkan papi bilang akan menangani mami agar hubungan kita bisa diterima mami."
"Tapi gimana caranya kita menikah secepatnya? Sementara ibu masih belum sembuh."
"Tenang aja aku sudah minta waktu pada papi. Setelah ibu sehat baru aku memperkenalkan mu dengan keluargaku."
Dhira mengangguk. Walau dalam hati ada keraguan. Ragu akan kondisinya yang jauh dibawah keluarga Atmaja. Terutama soal ibunya yang masih belum mendapat ginjal. Rasanya kondisi sekarang makin rumit untuk membicarakan pernikahan.
Dua hari yang lalu ada yang meneleponnya mengatakan ada ginjal di jual sesuai dengan tipe ibunya. Tapi harganya tak main main. Bila beberapa yang meminta hanya sebatas seratus juta maka yang ini minta milyaran. Ia tidak akan mampu atau tega menyampaikan pada Leo harga itu. Bila batas seratus juta tidak terlalu berat. Unang penjualan kebun dan tabungannya cukup. Yang dipinjamnya dari Leo hanya biaya operasi dan selama di rumah sakit. Tapi satu milyar sangat jauh diluar kemampuannya.
"Kenapa? Wajahmu tiba tiba sedih begitu?"
Dhira menggeleng. "Tidak ada. Aku lapar." Sahut Dhira asal.
"Kita makan bersama ibu. Mungkin makanannya sudah tiba di rumah saat ini."
Mereka pun pulang.
__ADS_1
Kira kira tiga ratus meter lagi tiba ke rumah, mereka berpapasan dengan sebuah mobil putih. Entah perasaan Dhira saja, atau secara kebetulan para penumpang di mobil itu seperti mengawasi mereka berdua. Kebetulan jalan yang sempit menyebabkan mobil berjalan pelan agar tidak saling senggolan.
Ia menoleh dan bersitatap dengan orang di dalam mobil. Tiga orang pria bisa dilihatnya dengan jelas karena mereka juga sedang memperhatikan dirinya.