Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Bertemu R.Ga


__ADS_3

Esok harinya, Dhira dan Leo berada di rumah Dhira menunggu seseorang yang telah berjanji akan datang membawa hasil pencarian.


Sepuluh menit kemudian, seorang pria datang dan disambut Leo.


"Bagaimana bro?" Tanya Leo pada Boni, lelaki suruhannya.


"Hah lumayan banyak yang memakai jam seperti itu." Pria itu mengeluarkan ponsel dan iPad dari dalam ranselnya. "Hanya Ada delapan orang yang memakai jam seperti itu. Tapi warna jam tangan mereka tidak ada yang berwarna White Ceramic."


Ia membuka layar iPad miliknya dan menunjukkan satu persatu foto orang itu. "Hanya ini informasi yang ku dapat."


Dhira dan Leo memeriksa setiap wajah lelaki itu.


"Bagiamana? Apa ada diantara mereka yang cocok dengan yang kamu pria lihat?" Tanya Leo pada Dhira.


Dhira menggeleng. "Tidak ada." Sahut Dhira pelan.


"Apa mungkin bukan orang lokal ya? Tapi sangat tidak masuk akal jika pelakunya adalah seorang turis atau semacamnya." Gumam Leo. Ia menggaruk kepalanya.


"Sorry jika kamu menyuruhku menyelidiki orang luar negeri juga. Ini aja aku sangat kesulitan, apalagi jika harus mencari di seluruh dunia ini." Pria suruhan Leo angkat tangan.


Leo dan Dhira terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Bagaiman cara kita mencarinya?" Tanya Dhira.


"Bersabarlah. Aku yakin bukan hanya mereka ini yang memakai jam mewah ini. Masih ada banyak." Leo sangat yakin.


"Coba cari lagi, ini belum semua." Ujar Leo pada Boni.


Boni menggaruk kepalanya. Menurutnya hanya merekalah memang yang layak mengoleksi barang mewah dan mahal tersebut. Siapa lagi kira-kira?


Dhira duduk dengan wajah lemas. Sedangkan Leo masih memeriksa internet dan mencoba mencarinya.


Dreeettt...dreeettt...


Ponsel Boni bergetar ada notifikasi pesan yang masuk.


Ia mengambil ponsel yang berada di sampingnya dan memeriksanya. "Eh ini ada satu lagi. Lihat...warna jamnya sama dengan yang dikatakan anak itu!" Seru Boni menunjukkan foto yang baru masuk.


"Iya. Ini dia!" Dhira berseru. Matanya berbinar melihat foto itu lelaki itu. "Dia adalah pria yang kulihat."


"Tapi informasi tentangnya hanya sedikit. Pria ini disebut-sebut pengusaha dari Belanda. Informasi tentang dirinya sangat sulit dicari. Namanya aja cukup simpel 'R.Ga.' Nama yang unik dan misterius." Tutur Boni. Ia langsung mencari di internet tentang R. Ga, namun hasil apapun tidak ada.


"Leo mari kita temui anak remaja itu. Kita pastikan apakah lelaki ini yang menggendong ibu."


"Kita telepon saja. Biar ku kirimkan foto ini padanya." Leo segera mengirim foto R.Ga.


Tidak lama kemudian anak itu menelpon dengan panggilan video call.


"Gimana Jeri? Apakah lelaki itu adalah orang sama?" Tanya Leo.


"Iya. Mereka sangat mirip. Bahkan pakaiannya waktu itu sama dengan yang di foto ini." Jawab Jeri, si remaja itu.


"Oke. Nak, misi mu bertambah mulai dari sekarang. Coba cari pria itu dengan cara apapun. Begitu kamu melihatnya hubungi aku. Akan ku transfer uang muka sekarang juga ke rekening mu." Tawar Leo.


"Siip Om. Tugas dilaksakan." Remaja itu menunjukkan jempolnya. Ia sudah menerima dua kali transferan dari Leo karena informasinya.


"Apa kamu mempercayai anak itu?" Tanya Dhira.


"Anak segitu justru lebih bersemangat jika diberi tugas yang berhubungan dengan pencarian. Aku yakin dia akan mengajak teman temannya melakukan tugas itu. Kesempatannya lebih banyak dari pada kita. Mereka tidak perlu diwaspadai. Sedangkan kita mungkin saja sudah diawasi dengan ketat sehingga jaringan yang kita cari sudah terputus." Leo mengungkapkan pandangannya.


"Yap, aku setuju. Sekalipun anak itu bertatap muka dengan si R.Ga, anak itu akan tetap aman. R.Ga tidak akan menyangka dirinya sedang diincar."


"Oke. Kamu juga, jangan lengah. Pantau terus Jeri. Ada kabar baru langsung hubungi aku." Leo menepuk bahu Boni. Ia tetap menyuruh Boni memperhatikan Jeri.


"Baik. Oh iya, apakah dia..." Boni melirik Dhira, "calon kakak ipar?" Tanyanya.

__ADS_1


"Hem. Dia Andhira kekasihku"


"Salam kenal kak, saya Boni."


Dhira menerima jabatan tangan Boni. Sekarang ia merasa lebih baik, ada beberapa orang yang akan membantunya.


***


Seminggu sudah penyusuran tentang R.Ga dilakukan tapi tak membuahkan hasil apapun. Tidak ada orang yang bernama seperti itu.


Tapi mereka tak putus asa. Sambil menjalankan aktivitas masing-masing, mereka tak pernah lupa mencari R.Ga.


Hari ini Dhira dan Alvian menemani bos mereka ke suatu tempat. Dewi Anvanka sang empunya koperasi akan mengembalikan uang pinjaman yang diambilnya dari seorang temannya. Dulu ia bisa mengelola koperasi, dengan modal pinjaman. Sekarang sesuai janjinya ia akan mengembalikan uang itu dan sekalian mengucapkan terimakasih.


Mereka bertiga menuju tempat yang disebut oleh Dewi dengan tiga koper uang. Ia akan menyerahkan semua uang itu untuk melunasi hutang yang sebenarnya tidak pernah dituntut harus dibayar tunai. Tapi ia sengaja melakukannya agar bisa bertemu langsung dengan lelaki baik yang telah mempercayainya berutang.


Alvian memarkirkan mobil di depan sebuah rumah. Lalu mereka turun.


Dua orang pria datang menyambut mereka.


"Nona Dewi, silahkan masuk. Bos masih diperjalanan menuju ke sini. Sekitar dua puluh menit beliau sudah tiba."


"Oh...ku kira kami sudah terlambat."


"Belum. Bos sekarang jarang di kota ini. Ini aja Nona bisa bertemu, kebetulan bos lagi ada urusan di kota ini. Seandainya bukan karena kebetulan, Nona akan sulit bertemu dengan beliau."


"Hahhh dia memang tak kenal lelah. Selalu bersemangat bekerja. Padahal perusahaannya sudah mapan. Dia bisa tinggal duduk manis penghasilan akan terus mengalir."


"Nona seperti tidak tahu bos. Beliau memang begitu."


"Apakah dia sudah punya istri?"


"Belum. Bos sepertinya terlalu nyaman dengan kesendiriannya."


Senyum Dewi terbit mendengar bos yang dibicarakan belum punya pasangan.


"Syukurlah. Rasanya kaku kalau nggak ada tuan rumah." Senyum Dewi makin lebar.


"Kalian berdua pergi ambil koper itu." Dewi menyuruh Dhira dan Alvian.


Dhira dan Alvian keluar.


Tidak lama, seorang pria datang. Kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya di copotnya. "Dewi...ternyata kamu duluan tiba di sini." Lelaki itu mengulurkan tangan untuk berjabatan.


"Hehe...lebih baik aku yang menunggu dari pada kamu kan?!" Seloroh Dewi.


"Ah....iya juga. Ini aja waktu ku hanya ada beberapa menit. Terpaksa harus menunda penerbangan karena telepon mu." Jawabnya dengan tingkat kepedean tinggi. Ia duduk di sofa yang berhadapan dengan Dewi. "Oke...apa yang perlu, sampai harus bertemu denganku?" Tanya R.Ga, si lelaki yang ingin sekali dilihat oleh Dewi yang tak lain adalah Robert Rabiga.


"Aku ingin mengucapkan terimakasih atas bantuan yang telah kamu berikan padaku dua tahun lalu. Dengan pinjaman modal sebanyak itu, aku bisa berkembang hingga seperti sekarang." Tutur Dewi.


"Ku kira ada hal genting, soal itu bisa kamu bicarakan ditelepon padahal." Robert menampakkan wajah muram.


"Pengen ketemu sekalian lah. Setahun lalu kita terakhir bertemu." Dewi tahu Robert sedang kecewa.


"Urusanku banyak Wi, bahkan lebih genting dari pertemuan kita sekarang." Wajah tidak suka semakin jelas terlihat.


Tapi Dewi tetap senyum, "Sekalian memulangkan uang kamu. Hutang harus dibayar, dan aku sudah mampu mengumpulkannya."


"Soal uang bisa kamu transfer. Tidak harus buang waktu seperti ini. Harusnya aku sudah di pesawat saat ini." Penyesalan begitu jelas di nada dan mimik Robert.


Dewi baru merasa hatinya menciut. R.Ga memang pria dingin yang ceplas-ceplos, galak dan tidak suka buang waktu. Tapi biasanya tidak sesombong sekarang. Biasanya kalau membahas yang berhubungan dengan pekerjaan, ia bisa lebih hangat walau masih dominan membatasi diri.


"Hanya sebentar. Setelah menyerahkan uang, aku akan pergi." Jawab Dewi. Nadanya tersirat kekecewaan.


R.Ga bangkit. Sedikitpun ia tidak tertarik soal uang yang dibicarakan Dewi. "Selesaikan saja dengan putraku Jhon. Dia akan datang ke sini." Ucapnya sebelum melangkah. Lalu ia berbalik dan akan meninggalkan Dewi. Tapi seketika, tatapannya mengarah pada Dhira yang sedang menuju ke arahnya dengan sebuah koper di tangannya.

__ADS_1


Di waktu yang bersamaan juga, Dhira mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan R.Ga. Pandangnya mereka saling mengunci. Tapi tidak lama, karena Robert mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia langsung sadar akan peringatan Jhon, jika wanita dihadapannya sedang mencarinya.


Jantung Dhira memompa lebih cepat begitu ia bersitatap dengan lelaki yang berdiri tidak jauh darinya. Tanpa disadarinya ia mempercepat langkahnya agar bisa lebih dekat dengan pria itu.


"Pak R.Ga? Benarkah Anda R.Ga?" Tanya Dhira dengan mata berbinar campur curiga.


Robert kembali menatap Dhira. Lelaki itu tidak menjawab hanya matanya yang nampak memeriksa Dhira dari ujung kepala hingga kakinya.


"Dhira! Kamu ini gak sopan amat!" Bentak Dewi. "Jaga sikapmu!"


Dhira tidak memperdulikan Dewi ia menaruh koper ke atas meja lalu melangkah hingga berdiri tepat di depan Robert. Pertama diperiksanya lengan lelaki itu dengan tatapannya. Benar, lelaki itu memakai jam tangan yang sama dengan yang dilaporkan oleh Jeri. "Oh Tuan R.Ga, lelaki kaya yang tidak seberapa terkenal." Pancing Dhira.


Dewi dan Alvian melotot. Tidak percaya dengan sikap Dhira.


Sementara Robert menatap Dhira dengan tatapan yang sangat tajam. 'Gadis ini cukup berbahaya! Awalnya Ara. Sekarang kenapa dia ingin mengincar ku? Siapa dia ini? Maunya apa?' batin Robert. Matanya masih mengawasi gadis itu.


"Saya ingin bicara sesuatu dengan Anda. Bisakah?" Dhira tidak mengulur waktu lagi. Ia ingin segera membereskan Robert. Sudah terlalu lama ia membiarkan Robert. Ia langsung membayangkan tentang ibunya yang digendong oleh pria yang sekarang ada dihadapannya. Inilah kesempatannya menangkap pelakunya.


"Dhira, kamu ini tidak sopan! Keluar kamu sekarang juga!" Dewi berteriak dan menunjuk wajah Dhira.


"Bu, saya ada urusan dengan tuan R.Ga ini!" Dhira membalas nada Dewi. Membentak wanita itu juga.


"Kurang aj*r! Sekarang kamu keluar!!! Atau ku pecat!" Dewi menarik tangan Dhira agar segera keluar.


Dhira tidak memperdulikan Dewi. Ia malah maju lagi, semakin mendekat pada Robert dengan pandangan tatapan mengerikan


"Penjaga!!!! Usir mereka semua!!" Suara bariton Robert memenuhi ruangan itu. Dalam hitungan detik, dari segala pintu berdatangan beberapa penjaga. Dengan sigap, mereka menangkap ketiga tamu itu dan mendorong keluar.


"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!" Teriak Dhira. Ia berontak dengan terjangan kaki dan tangannya.


Dua pengawal yang menariknya kewalahan lalu dua penjaga lainnya datang membantu.


Robert melewati mereka dengan wajah marah. Mereka bertiga ditatapnya yang wajah yang sangat marah. Sorot matanya sangat tajam, dan memyeramkan. Lelaki itu terus berjalan semakin cepat meninggalkan mereka.


"R.Ga! Berhenti! Aku ingin bicara denganmu! Tunggu!" Teriak Dhira. Ia berontak dari tangan para pria kekar itu namun tidak bisa lepas.


"R.Ga, hadapi aku! Jangan jadi pengecut!" Dhira berteriak padahal sama sekali tidak lagi didengar oleh Robert karena sudah berada di mobil dan bersiap melaju.


Merasa akan kehilangan R.Ga, Dhira mengerahkan tenaga agar bisa lepas dari kurungan para pengawal.


Tapi perlawanannya hanya kesia-siaan belaka. Para pengawal itu terlalu banyak. Ia tidak mampu mengalahkan mereka semua.


Terdengar suara deru mobil meninggalkan pekarangan rumah.


"Aaaaaakkkk!" Ia berteriak keras. Hatinya sangat kecewa telah kehilangan R.Ga. Padahal sangat sulit menemukan keberadaannya.


Plaaakkkk!


Tamparan mengenai pipi Dhira. Dewi sangat marah melihat polah anak buahnya. "Kamu ini apa-apaan? Kamu pikir dia itu siapa, hah? Sesukamu menyebut namanya! Dasar wanita ganjen!! Mulai hari ini kamu dipecat!"


"Bodo!" Sahut Dhira. Ia sangat kesal sehingga Dewi menjadi pelampiasannya.


Dewi tidak terima, ia mendekati Dhira dan bersiap dengan tangannya.


"Bu, sudah. Dia itu kayaknya lagi frustasi. Biarkan aja. Lebih baik kita pulang." Alvian menengahi kedua wanita itu. Ia tahu bagaimana kemampuan Dhira. Tidak bagus kalau sampai bosnya kalah dari Dhira. Ia juga tahu bagaimana emosi Dhira saat ini. Ia sudah sering melihat saat dhira marah. Sangat sulit membuat gadis itu berdamai.


"Dia harus diberi pelajaran! Sangat tidak tahu diri!" Dewi menunjuk wajah Dhira.


"Dengar, aku lagi malas berurusan denganmu!" Dhira mendorong dua pengawal di hadapannya dan pergi dari sana. Mungkin karena tuannya sudah pergi jauh, mereka tidak lagi menahan ketiga tamu itu.


Dewi dan Alvian geleng-geleng kepala melihat tingkah Dhira. Mereka tahu Dhira sangat mudah marah, tapi selama ini selalu bisa menjaga sikap. Tapi ini kenapa tiba tiba gadis itu menjadi lebih tak masuk akal? Sampai menghina dan meneriaki tuan R.Ga yang banyak ditakuti orang-orang.


Dhira berlari ke pekarangan, dilihatnya sudah tidak ada mobil di sana kecuali mobil Dewi.


Tanpa pikir panjang, ia menaiki mobil tersebut begitu mengingat kunci mobil ada di dalam. Di bawanya mobil itu dengan kecepatan penuh.

__ADS_1


Sementara Dewi dan Alvian berteriak memanggil Dhira yang sudah tidak kelihatan.


__ADS_2