
Tidak sabar dengan keadaan yang terjadi, Jhon akhirnya pergi ke rumah Atmaja walau tanpa sepengatahuan robert.
Mobil Jhon memasuki jalan ke rumah kediaman Atmaja.
Tak peduli apapun, ia menerobos masuk menabrak pagar masuk ke pelataran rumah. Tiga orang scurity berlari tunggang langgang karena takut tertabrak.
"Hei! Berhenti! Jangan masuk!" Teriak mereka menghentikan mobil Jhon. Setelah parkir dengan cara dramatis, Jhon keluar dari mobil. Ia membiarkan kaca mata hitam tetap bertengger di atas hidungnya. Dengan gagah ia naik ke teras rumah dan bersiap menendang pintu.
Tapi tendangannya tidak mengenai karena pintu sudah terbuka duluan menampakkan Rudy diikuti Leo disampingnya.
"Apa kau tidak punya sopan santun, memasuki rumah orang seperti garong!" Bentak Rudy.
Tapi tanpa aba-aba, Jhon maju dan langsung mencengkram leher Rudy. Tapi Leo tidak membiarkan itu terjadi dengan cepat ia meninju Jhon tepat di atas telinganya. Hingga kaca mata hitamnya terpental ke tanah.
Tangan Jhon terlepas dari kerah baju Rudy. "Kalian mencari mat*! Dasar manusia busuk! Dimana Ara!" Teriak Jhon. Wajahnya sudah memerah.
"Kenapa kau mencari anak asuhan mu ke sini? Apa kau kehilangan dia? Atau sudah tidak bisa mengasuhnya lagi?" Nada Rudy penuh ejekan.
"Bangs*t! Sudah berani berulah kalian ya?! Baiklah! Aku akan menghancurk*n kalian semua!"
Leo tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia maju menerjang Jhon kembali. Sudah lama ia tidak berkelahi sehingga kali ini ia sungguh sungguh ingin memat*hkan semua tulang tulang Jhon.
"Hentikan! Kalian berdua berhenti!!" Rudy berteriak menyuruh Leo dan Jhon berhenti. Perkelahian dua pemuda itu sudah sangat serius, saling berhasrat untuk menyakiti dan melumpuhkan lawan.
Jhon tidak mau kalah. Ia memuaskan kekesalannya pada Leo. Tangan dan kakinya bergerak cepat menangkis dan membalas setiap terjangan Leo. Suara pukulan dan sepakan terdengar begitu nyaring tapi membuat Rudy yang mendengarnya ketakutan.
Begitu juga dengan Leo, ia begitu panas dan berniat memberi pelajaran yang tak terlupakan pada Jhon. Bahkan ia ingin sekali membun*h Jhon saat ini juga. Selama ini ia tahu Jhon adalah pengasuh Ara, tapi tidak bisa berbuat apapun karena masih memperhitungkan akan keselamatan adiknya itu. Sekarang, mendengar Ara tidak bersama mereka membuatnya untuk pertama kalinya bebas mengeluarkan emosinya.
Tapi perkelahian mereka baru berlangsung beberapa menit,
"Berhenti!!!!"
Teriakan seorang wanita membuat mereka berdua tiba tiba berhenti. Tidak jauh dari tempat mereka, Meli yang sedang duduk di kursi roda menatap mereka dengan mata terbelalak. Sementara disampingnya berdiri seorang perawat.
"Untung kau datang! Apa kau tidak memperingatkan anak dan suamimu? Kalian cari mat*! Dimana Ara!" Bentak Jhon. Ia mendekati Meli.
"Bicara apa kau?" Terdengar suara Meli bergetar. Entah karena takut pada Jhon atau karena mendengar hilangnya Ara.
"Ara adalah tanggung jawab mu! Dimana dia?" Meli malah balik berteriak sambil memegangi bagian perut dengan tertunduk!" Wajahnya meringis dan masih pucat.
"Aku tahu trik busuk kalian." Jhon menunjuk wajah Meli dan Rudy juga Leo. "Kalian mengirim orang ke perusahaan kami, untuk memata-matai kami. Apa kau sudah melupakan seseorang yang akan datang meruntuhkan rumah dan keluargamu ini? Tunggulah hari kemat*an kalian! Robert akan membak*r kalian hidup hidup!"
Air muka Meli nampak makin bingung. Wajah yang pucat makin putih seperti tidak dialiri darah. Kedua bola matanya bergerak ketakutan.
"Apa kau sudah lupa bagaimana dulu kau berteriak minta ampun untuk nyawamu? Hah! Ini berarti kalian sudah tidak mengindahkan peraturannya. Baiklah akan ku mulai dari membun*h kau!" Tunjuk Jhon pada Leo.
__ADS_1
"Setelah itu kau!" Jhon menunjuk Rudy.
Dan jarinya berpindah ke arah Meli "kau belakangan! Kau harus menyaksikan mereka semua mat* satu persatu. Apalagi kemati*n Ara! Kau harus menikmatinya hingga sampai di neraka pun kau tidak bisa melupakannya."
"Heh brengs*k! Kau pikir membun*h itu seperti memukul nyamuk? Memangnya siapa kau, berhak mencabut nyawa kami?" Bentak Leo. Ia maju lagi dan menerjang Jhon. Darahnya makin mendidih mendengar ocehan Jhon.
"Berhenti!" Teriak Meli.
"Leo masuk kau ke dalam. Biar kami yang menangani ini." Bentak Meli.
"Tidak! Sekarang mami yang masuk! Mulai sekarang aku yang menangani ini!"
"Leo!!! Masuk...!!!"
Leo sangat terkejut mendengar teriakan Meli. Namun sedikitpun ia tidak bergerak dari tempatnya. Ia sudah tidak mentolelir perseteruan keluarganya dengan Jhon lagi. Sekarang saatnya ia ikut campur dan akan menyelesaikan perseteruan ini.
Melihat Leo tidak mengindahkan perintahnya, Meli bangkit dari kursi roda dan berjalan tertatih ke arah Jhon.
Sementara Rudy dan Leo sangat terkejut melihat Meli berani mendekati Jhon.
"Dengar," Meli memelankan suaranya. Bahkan dia setengah berbisik di telinga Jhon "kami tidak pernah mengirim orang. Justru kalianlah yang mengirim mata-mata untuk menakuti kami." Meli berhenti sebentar untuk menarik nafas.
"Sampaikan pada Robert, dia sudah keterlaluan. Setelah mengambil putriku, masih tega merusak ketenangan keluargaku. Kalau begini, berikan Ara pada kami karena ia telah melanggar perjanjian." Dengan berani Meli menatap mata Jhon dengan melakukan penawaran atas Ara.
"Siapa kau berani mengatur? Kalianlah yang sudah melanggar perjanjian! Selama Ara tidak kalian ganggu tidak akan terjadi apapun. Tapi sudah setengah tahun ini, kalian berusaha mendekati Ara. Kami bahkan sudah terlalu longgar pada kalian. Sekarang malah menculik Ara dari kami! Katakan dimana Ara!" Jhon menunjuk wajah Meli.
'Apa ini? Dhira bekerja untuk siapa? Selama ini sungguh aku mengira dia datang ke kehidupan kami sengaja mengacau atas perintah Robert. Ku kira dia anaknya.' Meli berbicara sendiri dalam hatinya. 'mereka sedikit mirip. Bibirnya, dahinya garis wajahnya, seperti milik Robert.'
Tiba tiba Meli limbung sambil memegangi kepalanya. "Ah tidak mungkin! Itu tidak mungkin! Itu pasti bukan dia. Aaarrrggghhhh...!"
Leo dan Rudy berlari menolong Meli yang tiba tiba histeris sendiri. Wanita itu seperti membayangkan sesuatu yang mengerikan.
"Mami...ada apa?" Leo menggendong Meli membawanya masuk ke dalam rumah diikuti Rudy.
"Dengar Rudy Atmaja!"
Rudy berhenti. Ia menoleh dengan wajah marah.
"Segera pulangkan Ara! Kalau tidak jangan menyesal terjadi hal menger*kan pada kalian." Setelah bicara begitu, Jhon angkat kaki dari sana. Ingin sekali menyakiti orang-orang yang dihadapinya itu. Tapi ia tidak berani gegabah, karena Robert belum memerintahkan apapun. Ia takut salah bertindak dan malah membuat bosnya itu marah.
Rudy berlari ke dalam. Langsung naik dan mencari istrinya di kamar.
"Kenapa langsung keluar dari rumah, sakit Mi? Ini luka mami masih parah." Leo sangat menghawatirkan kondisi maminya.
"Ibunya ngotot mau pulang. Dari pada ibunya menjadi stres kami membawanya pulang." Perawat itu merapikan perban di perut Meli.
__ADS_1
"Ibu harus beristirahat total. Jangan banyak bergerak dulu. Terus jangan memikirkan hal berat. Agar ibu cepat sembuh." Ujar perawat itu.
Meli tidak menjawab. Ia malah termenung.
"Mi, sebenarnya apa yang terjadi antara kita dan Jhon? Kenapa keluarga kita berseteru sampai harus merelakan Ara pada mereka?" Setelah menyelimuti maminya, Leo duduk ditepi ranjang.
"Jangan bahas ini dulu. Mami masih sakit."
"Huhhh...terlalu banyak yang ditutupi oleh Mami dan Papi. Entah apa yang sudah terjadi. Terkadang aku merasa, aku ini seperti bukan anggota keluarga ini." Leo mendesah berat. Tidak tahu lagi cara membuat orang tuanya bicara jujur dan berterus terang padanya.
"Bagaimana dengan Dhira. Apakah dia sudah dipenjara?" Tanya Meli.
"Ini masalah kekeluargaan Mi. Tak perlu membawanya ke sana. Lagian Dhira melakukannya dengan tidak sengaja." Sebenarnya Leo hendak mengatakan bukan Dhira yang melukai maminya. Tapi tidak tega terlalu membela Dhira dihadapan Meli yang masih sakit. Setelah sehat beberapa hari ke depan barulah Leo berniat menjelaskan permasalahan ini.
"Apa kau bilang? Mamimu terluka seperti ini. Tapi masih membela gadis itu? Kau telah dibutakan olehnya Leo! Buang gadis itu! Kenapa harus memilihnya. Dia itu berbahaya!"
"Mi, sekarang fokus untuk segera sehat kembali. Soal ini lupakan dulu."
"Kau sudah dipengaruhi Dhira! Sebentar lagi kau bisa tidak mengakui kami sebagai orang tuamu demi nya. Kau menjadi durhaka! Kau memilih kami mat*!" Meli menangis. Ia menunjukkan betapa dirinya terluka karena perlakuan Leo.
"Sudahlah Mi. Tidak usah bahas ini dulu!" Bentak Leo.
"Kau anak kurang aj*r! Kau masih membelanya? Oh nasib...! Kenapa aku harus memiliki anak sepertimu!"
"Aaakkk...! Leo berteriak. Ia tidak tahu lagi cara menenangkan maminya.
Ia mempercayai Dhira. Tidak mungkin Dhira menusuk maminya. Tapi juga tidak percaya maminya sengaja melukai dirinya. Kepalanya sakit, panas dan terasa mau pecah. Ia keluar dari kamar dengan kesal.
Rudy hanya menggeleng kepala melihat putranya. Ia juga tidak tahu mau bilang apa alias bingung.
Leo pergi menaiki sepeda motonya. Kepalanya terasa kosong tapi berdenyut sakit. Tanpa tujuan ia terus melaju berputar putar mengelilingi kota. Merasa bosan ia mampir dimana saja. Kadang ditepi jalan, di taman, di persimpangan. Ia seperti orang bodoh yang tak tahu ingin melakukan apa. Hingga malam ia belum pulang. Ia masih setia dengan motornya.
Pukul dua belas malam Leo keluar dari bar dalam keadaan setengah mabuk. Masih sadar tapi sedikit oyong dan bicara melantur. Ia membawa motornya pulang kearah rumah Dhira.
Tapi ia sangat kecewa ternyata Dhira tidak berada di rumah. Diteleponnya tapi tidak aktif. Lalu menelepon Vanya, tapi gadis itu tidak tahu dimana keberadaan Dhira. Merasa pusing ia duduk begitu saja dilantai teras rumah Dhira. Bersender dengan tangan bertolak di dahi dan dengkulnya. Ia menekan matanya yang berkunang-kunang.
Dhira baru tiba di depan rumahnya. Ia habis dari Depok untuk mengontrol Ara. Ada rasa kasihan, juga tidak tega hatinya melihat Ara yang tak henti henti menangis memanggil papinya kak kakaknya. Tapi tidak membuatnya melepaskan Ara. Hingga ia menemukan ibunya ia tidak akan melepas Ara.
Ia menoleh melihat ada motor besar mangkir di tepi jalan depan tetangganya. Sedikit heran kenapa motor itu berhenti persisi ditepi jalan, padahal bisa membawanya masuk hingga depan rumah. Tidak memperdulikannya lagi, ia terus berjalan ke arah teras rumahnya.
Suasana gelap membuatnya tidak melihat Leo yang duduk di sudut teras. Ia mengambil kunci dari tas dan membuka pintu.
"Andhira? Kamu baru pulang?"
Dhira melompat kaget mendengar suara Leo. Dari tadi sebenarnya ia sudah mencium aroma parfum Leo campur bau minuman alkohol tapi hanya sekilas. Ternyata yang dikiranya khayalan adalah sungguh nyata.
__ADS_1
"Kamu? Ngapain di sini?" Dhira membuat suaranya dengan nada tidak suka.
"Aahhh...pegal badanku" Leo bangkit dari lantai dan langsung menyongsong Dhira dengan melebarkan kedua tangannya.