Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Kisah Robert dan Araysa 3


__ADS_3

Abi memang mengingat itu. "Tapi ada yang melaporkanmu padaku. Kalian suka menginap di apartemen. Jangan bohongi aku Araysa. Jujur pada Ayah. Ayah tidak mau kamu rusak. Hanya kamu satu satunya yang kumiliki. Jangan kecewakan ayah!"


"Aku tidak pernah menginap di apartemen. Jujur aku memang menyukai Robert. Tapi kalau ayah melarang ku maka aku bisa apa." Terpaksa Araysa berbohong. Ia sangat takut melihat kemarahan ayahnya barusan. Baru ini Abi marah hingga memecahkan perabotan.


Setelah beberapa kali menarik nafas panjang Abi menarik kursi yang jungkir balik dari sudut dapur, setelah membuat kursi berdiri dengan baik ia duduk dengan tubuh lunglai. Mungkin tenaganya telah terkuras setelah meluapkan emosinya barusan.


"Baiklah. Ayah mempercayaimu kali ini. Jangan berbuat aneh aneh yang bisa menghancurkan masa depanmu. Kamu masih butuh setahun lagi agar lulus sekolah. Bila kamu tidak lulus apa lagi yang akan kamu peroleh dalam hidupmu kelak? Kita ini hanya orang miskin. Tanpa sekolah kau bisa jadi apa? Apa kau mau hanya sebagai seorang wanita yang akhirnya akan hidup dikampung dan berladang dengan Ayah? Kalau memang akhirnya begitu, untuk apa ayah menghabiskan uang dan tenaga selama ini?"


Abi berhenti bicara sehingga dapur itu terasa hening. Bahkan saking hening nya suara cicak terdengar begitu nyaring.


Araysa hanya tertunduk menyembunyikan wajahnya yang dibanjiri air mata. Ia tau yang dikatakan ayahnya adalah benar.


"Kuliah lah hingga menjadi seorang sarjana agar nantinya hidupmu bisa bagus dan enak. Agar bisa kuliah, kamu harus bertahan. Sampai kau jadi orang, Ayah akan selalu mendukungmu. Membiayai semua kebutuhanmu walau tidak bisa semewah orang kaya."


"Jangan tergoda oleh masa pacaran yang terlalu bebas. Ayah bukannya melarang mu mengenal laki-laki. Boleh-boleh saja. Tapi berpacaran lah dengan sewajarnya sebagai anak sekolah. Dan lihat siapa yang bisa kau terima dan dekati."


"Nanti setelah dewasa ada saatnya kamu mengalami itu. Berpacaran dan memilih jodohmu sendiri. Akan ada kemenangan tersendiri dalam hidupmu kelak bila kau bisa menjaga dirimu, dan berhasil meraih cita-cita mu! Dan kemenangan itu adalah milikmu sendiri dan akan kau nikmati sendiri!"


"Ayah bukannya kejam melarang mu ini itu. Tapi itu Ayah lakukan demi hidupmu sendiri."


Panjang lebar Abi menasehati putrinya. Ia sangat berharap putrinya tidak gagal dan menyesal esok hari. Seorang ayah pastinya menginginkan yang terbaik buat putrinya. Pasti setiap ayah begitu.


"Iya Ayah. Aku tahu." Sahut Araysa. Meski dalam hati, Araysa menangis tapi dari mulutnya masih bisa keluar kekuatan. Tidak mungkin baginya mengatakan yang sebenarnya. Ayahnya bisa gila saking marah dan sedihnya. Toh dirinya tidak kenapa kenapa. Mungkin seandainya ia sampai hamil, mau tak mau ia harus jujur, meski ayahnya akan mematahkan tulang tulangnya lebih dulu saking marahnya.


Tapi keadaannya saat ini masih bisa diatasinya. Sehingga tidak perlu jujur.


"Jauhi Robert itu! Dia bukan tandingan kita. Mereka yang kaya tidak akan sanggup kita hadapi. Siapakah kita ini dihadapan mereka? Sebelum kamu makin menyesal lebih baik mulai hari ini kamu berhenti. Jangan lagi bertemu dengannya. Meski kamu sudah lulus ayah tetap tidak mau kamu bergaul dengannya. Meli juga. Dia bukan teman seumuran atau sekelas dengan mu. Status sosial mereka yang tinggi hanya akan mempengaruhi mu. Fokus sekolah dan sekolah!"


"Iya Ayah."


Setelah menyampaikan semua kata-kata yang dimilikinya, Abi bangkit dari kursi. Ia masuk ke kamarnya, meninggalkan putrinya yang masih duduk di lantai.


Mendengar pintu kamar ayahnya telah tertutup, Araysa bangkit dengan mata berkabut. Di punguti nya semua benda-benda yang berserakan di lantai dan membuangnya. Dibersihkan semua lantai itu dan barulah ia masuk ke kamarnya.


Di kamarnya, Araysa menumpahkan air matanya. Sedih dengan semua larangan ayahnya juga yang sudah terjadi padanya. Ia juga membenarkan yang dikatakan ayahnya. Status sosial Robert dan Meli memang menjadi pengaruh buruk baginya. Tidak mengenal mereka, mungkin akan lebih baik baginya.

__ADS_1


Sebelum ia bertemu dengan Robert, ia adalah gadis polos yang bagai anak kecil yang tak tahu menahu tentang cinta. Ia hanya fokus belajar. Tapi semua dunia hatinya berubah setelah mengenal Robert.


Menyesal. Itulah yang dirasakan Araysa. Ia menyesal kenapa menerima Robert. Coba ia berkeras tidak mau di dekati lelaki itu maka pasti ia akan baik-baik saja hingga saat ini. Tapi seribu kali pun ia menyesal sudah tidak berarti lagi. Semua sudah terjadi, dan satu lagi ia sudah sangat mencintai lelaki itu. Bahkan terakhir-akhir ini, ia begitu tersiksa merindukan Robert bila dalam dua hari tidak bertemu. Yang ada dirinya sudah makin gila. Ia menjadi terlalu mencintai lelaki itu. Lalu bagaimana ia akan menghindarinya? Sanggupkah dirinya?


Dan sejak saat itulah mereka pindah kontrakan dan juga pindah sekolah. Abi bergerak cepat agar, putrinya tidak lagi terhubung dengan Robert dan Meli. Ayahnya itu benar benar memutuskan segalanya dari hidup Araysa. Temannya, sekolahnya, dan hubungannya dengan Robert.


Abi membawa Araysa pindah ke tempat yang lumayan jauh. Masih satu kota tapi memilih ke arah pinggiran kota.


****


Robert bagai kebakaran jenggot. Sudah dua Minggu ia tidak bertemu Araysa. Segala usaha dilakukannya untuk mencarinya tapi tidak ketemu. Bahkan rumah kontrakan Araysa juga sekolahnya didatanginya. Ia tidak tahu mencari gadis itu kemana lagi. Meminta bantuan Meli pun sia sia. Ia juga tidak tahu kemana mereka.


"Sudah lah Robert. Dia mungkin pulang kampung. Bisa saja setelah puas dengan semua uangmu dia melarikan diri. Dia tidak sungguh sungguh denganmu. Barangkali dia sudah mendapat laki laki lain yang lebih kaya darimu." Meli mengambil kesempatan itu untuk menjelek-jelekkan Araysa.


"Tidak mungkin. Aku tahu betul Araysa. Dia bukan gadis seperti itu. Jika kamu hanya membuatku makin pusing, lebih baik kamu jangan temui aku lagi. Bukannya membantu malah bikin tambah pusing. Lama lama aku muak dengan wajahmu itu!" Memang selama dua minggu, Meli selalu berada di dekatnya. Entah itu dik kampus, kantor dan rumah.


"Begini sikapmu setelah semua yang kulakukan padamu? Saat kamu butuh bantuan ku mendekatkan mu dengan Araysa, kamu sampai menjilat ku. Sekarang kamu bilang kamu muak dengan wajahku? Kamu anggap apa aku, hah?" Meli marah. Semua yang telah menumpuk dalam hatinya selama ini serasa ingin meledak. Inilah kesempatannya untuk menunjukkan dirinya yang sebenarnya sangat mencintai Robert.


"Tingkah mu memuakkan! Akhir-akhir ini kamu tidak menyukai Araysa. Dia sering mengeluh dengan semua ucapan mu. Aku tidak menanggapinya karena ku kira kamu memang sahabatku."


"Itu wajar, tidak masuk akal kalau selamanya aku begitu padamu. Aku juga ada kehidupan pribadiku sendiri. Jangan seperti anak kecil! Kamu sudah dewasa. Siapa yang bisa menyukaimu kalau sifat mu menyebalkan seperti itu!" Robert meninggalkan Meli.


"Carilah wanita lacur mu itu! Kamu seperti orang gila! Bilang saja kamu butuh tidur dengannya!" Teriak Meli.


Robert melotot marah. Ia menggertak kan giginya dan melempar rokok beserta koreknya ke lantai. Kalau saja yang melawannya saat ini adalah seorang pria, ia pasti sudah menonjok wajahnya hingga babak belur. Ia sangat tersinggung mendengar perkataan Meli itu. Ia tidak pernah memandang Araysa seperti itu. Tidak pernah sedikitpun! Ia sungguh mencintai dan menyayangi Araysa. Benar, ia sudah tidur dengannya. Tapi demi menghormati kekasihnya itu, ia tidak berani untuk mengulanginya. Ia sudah berjanji sebelum mereka menikah tidak akan mengulangnya lagi. Ia akan sabar menunggu beberapa bulan lagi Araysa lulus. Lalu bagaimana bisa ia terima dirinya dan kekasihnya di hina begitu?


Tidak mau kelepasan amarah, ia pergi meninggalkan Meli. Karena jika ia sudah mengamuk, ia bisa lupa kalau dihadapannya adalah seorang wanita.


Kepanikan dan kegundahan Robert makin memuncak. Pencarian selama sebulan belum juga berhasil. Robert bagai orang kesetanan setelah ditinggal Araysa. Hampir setiap malam ia mabuk dan berantam. Siapa pun yang menyinggungnya akan dihajarnya. Memang dasarnya ia adakah pria mempunyai emosi tinggi dan mudah marah.


Beberapa kali Meli menjemput Robert dari bar saat tak sadarkan diri. Karena mereka berteman dekat, pemilik bar hanya menghubunginya. Kesempatan bagus baginya berdekatan dengan Robert. Terkadang hal hal rahasia pun meluncur dari mulut Robert saat mereka hanya berdua saja. Tak jarang Meli, memanfaatkan situasi menggoda lelaki itu. Tapi sampai sejauh ini belum berhasil. Robert terlalu emosian dan kasar, membuat rencananya selalu gagal.


Tapi beberapa kali ia berhasil mengambil foto mereka saat berbaring bersama. Bahkan sengaja melucuti pakaian mereka seakan akan mereka telah melakukan hal intim. Seperti pose saat berpelukan, dan berciuman. Semua hanya akal-akalannya. Ia akan memanfaatkan foto foto itu suatu saat bila ia sudah nekad menjerat Robert.


"Araysaaaa...aku rindu padamu. Kamu dimana? Kenapa kamu menghilang?" Robert meracau di dalam mobil. Ia baru saja dijemput dari bar dan di bawa oleh Meli masuk.

__ADS_1


"Huh kamu itu, lagi saat tidak sadar pun masih mengingat gadis jelek itu!" Meli menutup pintu setelah ia masuk. Lalu mendekat pada Robert untuk memasang sabuknya.


Tiba tiba Robert memeluk Meli. "Sayang, aku kangen. Kemana saja kamu selama ini?"


Jantung Meli berdetak keras saat kedua telapak tangan Robert memeluk erat punggungnya. Dengan senang hati ia menyambut pelukan itu dan melancarkan aksinya untuk menggoda lelaki itu.


"Kamu tahu? Aku sungguh menepati janjiku padamu. Kamu memintaku agar tidak mengulangi yang kita lakukan itu. Aku menahan diri agar tidak melakukannya walau aku sangat ingin saat saat bersamamu. Demi kamu tidak marah dan menganggap ku tidak serius ku teguhkan hatiku untuk menepati janji itu. Tapi kenapa tiba tiba kamu menghilang? Apa kamu tidak merindukan ku?" Robert mengendus-endus leher Meli.


"Aaahhhh, aku sangat merindukanmu. Sangatttt...makanya aku datang. Aku ingin kamu." Balas Meli dengan sengaja membuat gerakan dan suaranya menjadi lebih sensual.


"Oh makasih sayang, kamu telah kembali. Aku mencintaimu...muaahhh..." Robert mencium dahi Meli dengan sangat dalam.


Ini adalah kesempatan paling bagus bagi Meli. Ia tidak akan melewatkan momen ini. Dengan berani ia naik ke pangkuan Robert untuk duduk di sana. Ia melancarkan aksinya agar Robert terpancing untuk melakukan hal yang lebih lagi.


Robert bagai terbakar. Kerinduan yang sudah menumpuk di dadanya menguap dengan bangkitnya bir*hi alami dari dalam dirinya. Ia memeluk tubuh Meli dengan sangat erat sambil menciumnya dengan penuh penghayatan.


Meli sampai terengah-engah dengan aksi Robert. Dalam hati ia begitu senang, akhirnya yang diinginkannya terwujud juga. Robert pasti sudah berada di genggamannya. Yang mereka lakukan kali ini akan menjadi sebuah alasan, Robert harus menikahinya. Ia mulai merekam kegiatan mereka dengan ponselnya.


Tangannya berusaha menggapai tasnya yang ada di dashboard untuk mengambil ponsel dan mulai merekam dengan kamera. Tapi belum lama merekam, tiba tiba ponselnya itu terjatuh ke bawah tempat duduk Robert. Ia pun segera mencari benda itu dengan satu tangan sambil meladeni aksi Robert. Ia masih ingin melanjutkan merekaman. Karena tangannya yang sedang menggapai, kepalanya harus ikut bergerak dan menjauh sedikit dari dada Robert.


"Haaeeecimmm...!" Tiba tiba Robert bersin dengan keras. Hidungnya teras geli dan gatal. Ia melepas tangannya dari punggung Meli dan menggosok hidung dengan keras. Beberapa helai ujung rambut Meli masuk dan menyentuh lobang hidungnya.


"Puueeeihhhh...kenapa parfum mu bau sekali. Huuakkhhh...aduh aroma mu bikin mual!" Keluh Robert sembari menutup mulutnya. Ia tidak sedang bercanda. Ia sungguh mual dan ingin muntah. Aroma wangi yang masuk ke dalam rongga hidungnya membuat perutnya mual.


"Itu karena kamu terlalu banyak minum! Tidak apa apa. Nanti juga berhenti. Ayo kita lanjutkan lagiiii..." Dengan ngos-ngosan, Meli berusaha membuat Robert agar tidak berhenti.


"Aihhh....huuaakkhhhh..." Lagi lagi Robert mau muntah. Kali ini perutnya terasa di guncang dan bikin tenggorokannya tidak enak. "Kamu bau busuk! Siapa kamu? Araysa tidak bau seperti ini! Iiihhh...nggak tahan baunya!" Robert mendorong Meli. Diraihnya botol minum yang ada di bagian pintu mobil dan menuangkannya ke wajahnya. "Ah baunya!"


Meli tidak terima. Ia memeluk Robert dengan memaksakan diri untuk tidak berhenti dengan kegiatan mereka. Ia harus berhasil menaklukkan Robert malam ini juga. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini?


"Heh! Aku tahu kamu bukan Araysa. Siapa kamu! Kenapa baumu bau comberan busuk!" Robert menarik rambut Meli. Terpaksa kepala Meli menjauh darinya.


"Kamu? Meli? Kenapa menjadi kamu?" Mungkin karena sudah cuci muka kesadaran Robert sedikit pulih.


Meli bagai kedapatan mencuri. Ia gelagapan sehingga menyembunyikan wajahnya dengan tangannya.

__ADS_1


"Ah...ternyata kamu! Beraninya kamu! Kamu memperko*aku?" Hardik Robert sembari melemparkan Meli. Ia sendiri berusaha turun dan merapikan penampilannya yang sudah acak-acakan. "Dasar perempuan sun*al! Hohhh untung aku bisa selamat. Ternyata Meli ini menakutkan!" Racaunya sembari pergi menjauhi mobil. Ia masih setengah mabuk.


__ADS_2