
Leo terlihat lelah dan melepas tangan Dhira. Kesempatan itu digunakan Dhira turun dari ranjang. Ia berlari ke lemari di sudut kamar. Dibukanya dan diacaknya semua pakaian itu untuk mencari pakaian yang cocok dengan Leo. Ada kemeja dan celana masih ada labelnya, diambilnya juga sebuah pakaian dalam yang masih dibungkus kotak. Tidak lupa dua buah handuk.
Ia menghampiri Leo yang sekarang malah menggigil. Diambilnya selimut kemudian ditutupinya ke pinggang hingga kaki Leo. Pertama dibukanya kancing kemeja Leo yang sangat bau. Bahkan pakaian itu sudah robek dan bolong dibeberapa bagian.
Diambilnya salah satu handuk dan dicelupkannya ke air hangat. Untung belum dingin sehingga langsung digunakan Dhira. Pelan pelan dibasuhnya tubuh leo yang merinding dan menggigil. Sangat hati hati karena terdapat luka dan lebam kebiruan. Tidak lupa kepalanya juga dibasuhnya juga seluruh wajah dan telinganya. Ia berlari ke pintu meminta air hangat lagi karena air itu sudah berwarna merah dan bau.
Semua dilakukannya dengan hati hati. Apalagi saat dibagian pinggang ke bawah. Lumayan sulit karena ia bekerja dengan dibatasi selimut. Ia tidak mau melihat hal yang tak seharusnya dilihatnya. Kini Leo sudah sudah lengkap berpakaian.
Karena pakaian Leo yang basah membuat ranjang jadi basah. Ia memanggil para pria di luar menyuruh mereka mengangkat Leo. Ia segera mengganti seluruh seprai dan selimut. Barulah Leo diletakkan kembali ke ranjang.
"Ren, belikan betadin dan beberapa obat ke apotik. Juga bubur ayam. Dia harus makan dan diobati."
Rendra mengangguk dan segera pergi.
Hanya butuh waktu lima belas menit, Rendra sudah kembali. Malah komplit dengan betadin, perban, obat dan sebotol air infus.
"Untuk apa itu?" Tanya Dhira.
"Dia dehidrasi dan kelelahan akut. Dia butuh ini agar tenaganya pulih."
"Jangan sok bisa. Itu hanya para petugas medis yang tahu. Itu tidak diperlukan." Tolak Dhira.
"Percayalah. Dia termasuk parah. Dan dia membutuhkan ini. Aku lulusan perawat. Aku bisa merawatnya."
Dhira menatap Rendra dari ujung rambut hingga kaki. Ia sulit mempercayai kemampuan Rendra.
"Kalau kamu tidak percaya, terserah. Paling paling dia mengalami komplikasi nantinya karena telat penanganan."
Dhira berpikir sejenak.
"Ya pasanglah. Awas tapi kalau terjadi sesuatu. Kau akan membayarnya!" Sorot mata Dhira begitu tajam dan mengerikan. Ia tidak main main.
"Iya. Justru kamu itulah yang ingin membun*hnya. Aku tidak punya dendam apapun lagi padanya. Untuk apa ku melukainya." Jawab Rendra enteng.
"Lakukanlah! Jangan banyak bicara!"
Rendra memasang jarum ke pergelangan tangan Leo. Dan memasang infus selayaknya seorang perawat profesional. Lalu memeriksa luka luka dan jahitan di dahi, bahu dan kaki Leo. "Untung belum terlambat. Aku tadinya sudah takut lukanya infeksi."
"Tapi demamnya masih tinggi." Ucap Dhira.
"Setelah makan obat pasti turun. Pastikan aja dia makan dan minum obat yang ini." Rendra memilih obat beberapa jenis dan memisahkannya dari kumpulan obat.
Leo sudah minum dan makan bubur tiga suap. Ia bahkan sulit membuka mulutnya karena terluka juga. Tapi dengan sabar ia terus membuat Leo menelan obat. Setelah semuanya selesai, ia mengoleskan minyak kayu putih ke bagian tubuh Leo yang tidak luka. Menggosoknya pelan agar pemuda itu merasa hangat.
Tanpa terasa hari sudah malam. Dhira merasa sangat lelah dan mengantuk. Leo benar benar diurusnya dengan baik sehingga pemuda itu sudah mendingan. Kini Leo sudah tidak menggigil lagi dan sudah tidur nyenyak.
Dhira merenggangkan tubuhnya. Niatnya hanya sebentar tiduran disamping Leo agar ototnya terasa renggang. Tapi matanya langsung terasa berat dan tanpa sadar sudah tertidur dengan posisi telungkup dengan kedua tangan diatas kepalanya.
Suara mesin kendaraan dan klakson yang berisik mengganggu tidur Leo. Memang, posisi ruko Rendra tepat berada di persimpangan jalan. Ia sempat heran dengan suasana kamar di sekitarnya, saat pertama kali buka mata. Namun segera disadarinya dimana saat ini ia berada. Samar samar ia mengingat kejadian yang sudah berlalu.
Diangkatnya tangannya dan melihat jarum menancap di kulitnya. Ia juga mengingat kemarin Rendra yang memasang itu. Ia menoleh mencari pintu kamar. Tapi pemandangannya malah tersangkut di sampingnya dimana Dhira yang tidur miring menghadap padanya.
Ia mengerjap beberapa kali lalu menatap wajah Dhira dalam dalam. 'Aku tahu kamu sangat terluka juga dengan yang kamu lakukan. Makanya aku diam saja. Membiarkanmu melakukan apapun padaku. Aku sangat mengerti keadaanmu. Dengan begitu, ketakutan dan beban di hati mu sedikit berkurang.'
Leo terus menatapi wajah tenang Dhira. Kemudian mencoba memikirkan langkah apa yang akan dilakukannya berikutnya. Cara menemukan Amelia, cara mengatasi masalah di perusahaan, cara mengatasi maminya, dan masih banyak hal yang dipikirkannya.
Tiinnnnn...tiinnnn
Suara klakson mobil dari luar membuat Dhira kaget dan bergerak. Cepat cepat Leo menutup matanya pura pura tidur.
Dhira mengangkat tangannya ke atas sambil mengulet. "Aaaahhh...rasanya enak banget tidur." Ujarnya masih mengulet lalu menguap.
Dhira membuka matanya dan tersentak melihat wajah Leo yang sangat dekat dengannya. "Hah,apa ini? Aku malah tidur di sini." Ujarnya sembari menggosok matanya yang terasa berkunang-kunang.
Ia berdiam diri lalu melihat Leo yang tidur dengan menutupi matanya dengan lengannya. Ia menyentuh tangan Leo dan terasa sangat dingin.
"Semalam dia sangat panas. Sekarang malah dingin begini." Dhira berpikir sebentar. Tiba tiba ia duduk dan meraba dada Leo. Ia sangat takut Leo telah menghembuskan nafas terakhir saat dirinya tertidur. Tidak cukup dengan meraba, ia mendekatkan telinganya di atas dada Leo. Mendengarkan jantungnya. Bahkan tanpa sadar dadanya sendiri menimpa sebagian perut Leo.
"Apa kamu takut aku mati?"
Dhira mengangkat wajahnya dari dada Leo. Ia sangat bingung dengan pendengarannya sendiri. Ia tidak mendengar suara apapun dari dada lebar itu.
"Oh, jantungmu kayak berhenti." Decak Dhira dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Itu karena kamu baru bangun. Coba sekarang pasti sudah bisa dengar."
"Ck itu nggak penting." Ucapnya pelan. Aslinya dalam hati ia begitu lega Leo sudah lebih sehat dan segar. Diambilnya tangan Leo yang menimpa wajahnya dan memasukkan ke dalam selimut. "tanganmu dingin sekali."
Leo hanya menuruti Dhira. Ia memandangi wajah Dhira yang sibuk membetulkan selimut disekitar tubuhnya.
"Jangan menatapku terus. Itu membuatku jengah!" Sungut Dhira.
"Terimakasih."
Dhira berhenti bergerak membetulkan selimut di kaki Leo. Tidak ada reaksi diwajahnya.
"Aku mengerti kemarahan mu. Mungkin dengan membuatku cacat sekalipun kamu tidak akan puas."
Dhira bergeming. Tidak ada niat untuk bergerak atau berbicara.
"Aku akan tetap menjadi tawanan mu selama ibu belum kembali."
Barulah Dhira menoleh. Menatap Leo yang sedang menatap langit langit.
"Paksalah mami ku mengatakan yang sebenarnya. Paksa agar melepaskan ibu." Lanjut Leo.
Dhira masih bergeming. Ia tidak berniat menjawab apapun. Setelah beberapa menit, Dhira turun dari ranjang dan memungut pakaian Leo dan membawanya keluar.
"Beri dia makan. Tidak usah mengunci pintu. Biarkan saja dia bebas. Kalau dia mau pergi jangan dihambat." Pesan Dhira pada Rendra. Ia ingin melihat kesungguhan Leo tentang mengatakan dirinya akan menjadi tawanannya.
***
Di kediaman Rabiga, Jhon baru saja turun dari ranjangnya. Rasa sakit dan kaku di sekujur tubuhnya terasa menyiksa meski sudah diobati dokter. Saat ini ia sedang menelepon nomor Robert hendak memberitahukan berita baru keberadaan Ara. Namun, lagi lagi kekecewaan melandanya karena nomor Robert tidak bisa dihubungi.
"Sebenarnya sedang apa papi di Bali? Kenapa sulit sekali dihubungi? Sepenting apa sampai menomor duakan Ara?" Ia bertanya tanya sambil mondar-mandir.
"Den, ada tamu di depan." Bi Aira datang.
"Siapa Bi?"
"Seorang wanita. Katanya perlu bicara dengan Den Jhon."
"Iya Bi, aku akan turun." Ia menduga itu adalah Dhira.
"Sedang apa kau di sini?" Tanya Jhon dengan nada judas.
"Tolong pertemukan aku dengan Robert. Kalau tidak hubungkan kami lewat telepon. Ada yang perlu ku sampaikan padanya."
"Papi sudah sejak lama pergi ke Belanda. Beliau tidak bisa dihubungi. Hanya beliau yang bisa menghubungi ke sini." Sarkas Jhon dengan aura seram.
"Aku mohon. Aku butuh bantuannya. Ini sangat penting. Jangan gegabah melawan Andhira. Dia sangat berbahaya. Salah sedikit Ara bisa mati ditangannya."
"Kau itu punya telinga nggak?! Pergi Dari sini! Siapa kau menggurui ku, hah!"
Meli bersimpuh di kaki Jhon. "Aku mohon, ini demi Ara. Ijinkan aku bicara dengan Robert. Aku hanya ingin bilang, Ara...Araysa masih hidup."
"Gila kamu ya! Memangnya siapa yang bilang Ara sudah meninggal?" Jhon naik pitam mendengar ucapan Meli.
"Bukan, bukan itu maksudku."
"Pergi! Kau sudah dua kali melakukan kesalahan menampakkan wajahmu di hadapan kami. Penjaga!! Seret wanita ini!" Teriak Jhon. Wajahnya memerah. Darahnya naik begitu mendengar Meli mengatakan Ara masih hidup. Menurutnya wanita itu hanya main gila.
Tiga orang penjaga datang berlari dan menangkap Meli.
"Tutup mulutnya itu, berisik sekali! Bila dia masih berani masuk ke sini berikan dia pelajaran. Pukul mulutnya itu hingga peot!!"
Salah satu satpam langsung menyumpal mulut Meli dengan sapu tangan. Mereka menggeret Meli dengan paksa hingga keluar dari pekarangan. Kini ia sedang menangis tersedu di balik pagar berharap para satpam mengasihaninya.
Jhon menyepak keset dikakinya karena sangat kesal. Masalah makin runyam. Sekarang ia akan bersiap menemui Dhira dan mengambil Ara darinya.
***
"Woiiii...ke sini! Woiiii...woiiii...woiii!" Ara berteriak teriak sembari memukul-mukulkan bangku yang terikat di punggung dan bokongnya. Suara berisik memenuhi ruangan itu.
"Woiii...laki laki sama perempuannnn! Aku nggak tahan lagi! Aku mau ke toilet!"
Brakkk
__ADS_1
"Mulutmu itu berisik sekali!" Teriak paman Bali setelah membanting pintu.
"Aku mau pipisss."
"Barusan ke toilet. Alasan saja!"
"Sungguh" Ara memasang wajah memelas. Rasa mules dan panas diperutnya sudah tidak bisa ditahannya. Memang ia barusan pipis. Tapi sekarang ia ingin buang air besar. Sudah tiga hari tidak buang air besar. Sekarang malah perutnya terasa sakit.
"Nyai, tutup mulutnya itu. Berisik sekali!" Paman Bali sengaja memanggil istrinya Nyai untuk penyamaran nama mereka.
"Aaa...jangan! Ku mohon. Ini perutku sakit banget. Tolong bawa aku ke toilet."
"Diam!!! Kalau tidak mau diam ku pukul kau!" Ancam paman Bali.
"Aku mau ber*ak!!! Puasss?" Teriak Ara tanpa malu. Ia sangat marah.
Preeeetttttt...
Diujung teriaknya, ia buang angin dengan sangat keras. Membuatnya terlonjak kaget. Wajahnya memerah menahan malu.
"Uuuhhh baunya!!!" Teriak paman Bali sambil berlari keluar dari ruangan itu.
"Ada apa Bang?" Tanya Ayunda dengan panggilan Abang. Ke suaminya.
"Itu, anak itu ee di celananya. Bau busuk!" Paman Bali mengibas-ngibas tangannya ke wajahnya mengusir bau tak sedap dari ruangan Ara.
"Iiiiii!! Aku tidak ber*k celana! Itu hanya kentut bodoh!" Teriak Ara. Ia mengakui bau kentutnya sangat bau. Ia sendiri sampai menggoyang goyangkan cuping hidungnya tak tahan dengan aroma yang keluar dari tubuhnya sendiri.
"Aaaa...biarlah. Aku mau ee celana aja. Toh kalian juga yang repot membersihkannya!"
Teriakan Ara berhasil membuat Ayunda masuk. Dengan menahan nafas ia membuka ikatan Ara dari kursi.
"Cepat! Ayo!!" Ayunda mendorong Ara ke toilet di ruangan itu.
"Gimana mau bab kalau tanganku terikat gini? Bukain cepat!"
"Aaahhkkk...kau ini bikin orang repot aja. Ngapain paket ber*k segala!" Bentak Ayunda.
"Udah cepat! Buka tanganku atau keburu keluar nih?"
"Dengar! jangan coba coba membuka tali di matamu! Sekali kau membukanya, ini ada setrum di tanganku. Kau akan ku setrum!" Ayunda membuka tali ditangan Ara.
Lalu menuntun Ara duduk di kloset.
Takkkk....
"Auhhh....sakit!" Teriak Ara.
Ayunda menyetrumnya dengan raket nyamuk. Ia melihat tangan Ara yang naik hendak membuka tali di matanya.
"Coba sekali lagi, matamu itu langsung ku setrum!" Ujar Ayunda.
"Iya tidak akan. Keluarlah. Aku sudah tidak tahan lagi."
"Yah udah tinggal dikeluarin!"
"Gimana aku mau buka ini kalau kau ada di situ?" Ara memegangi pinggang celananya.
"Tak masalah. Kita sama sama wanita." Ayunda malah menarik celana Ara yang sudah longgar karena Ara sudah kurus.
"Aaaa! Apaan kau ini! Kau melecehkan ku!" Ara segera menarik celananya kembali. Tapi wajahnya sudah sangat memerah menahan kebelet.
"Kau ini susah di bilangin!" Ayunda menarik paksa celana Ara hingga pakaian dalamnya dan memaksanya duduk. "Sudah? Aman kan? Cepat itu! Awas tanganmu! Ini setrum panjang pegangannya, sekali kau menarik tali ini arus ini akan mengenai mu!"
"I-iya. Aku tidak tahan lagi." Ara mengejan dan bau yang sangat menjijikan pun menyerang Ayunda. Wanita itu berputar putar menahan nafasnya. Untung Ara langsung menyiram sehingga bau itu berkurang.
"Ohhh astaga, aku bisa mati kalau begini terus. Entah apa salahku sampai disekap seperti ini."
"Jangan banyak bicara! Cepat itu! Atau alat ini akan menyentuh paha mu itu!"
"Aaa...tidak!!! Iya ini tidak lama lagi. Jauhkan itu dariku!" Ara menggoyang-goyangkan tangannya ke arah Ayunda.
Sudah dua kali Ara mengalami hal memalukan ini. Buang hajat dijaga ketat.
__ADS_1
Sungguh nasibnya sangat buruk.