
"Lalu bagaimana? Aku mohon bantu ibukuuuu....uuuu..."
"Bersabarlah. Dokter yang menangani pasien sedang dalam perjalanan."
"Apa? Itu terlalu lama. Apa tidak ada dokter lain. Lakukan apapun. Selamatkan ibuku!"
"Ibu ini pasien khusus. Hanya dokter Kamal yang bisa menangani. Itu peringatan keras bagi kami."
"Astagaaa...ya Tuhan. Tolong selamatkan ibuku. Jangan biarkan terjadi hal buruk. Tolong..." Pinta Dhira dengan wajah memelas.
Selama sepuluh menit mengalami guncangan hebat barulah dokter Kamal datang. Dengan terburu-buru ia memasuki ruangan Amelia.
"Dokter pasien mengalami syok."
Dokter itu memeriksa Amelia seperti yang dilakukan para perawat. "Kenapa bisa begini? Harusnya saat dia mau sadar tidak panik seperti ini. Apa pemicu hal ini?"
"Sebelumnya masih aman Dok. Saat saya hendak pergi tiba tiba ibu mengalami seperti ini."
"Kamu tidak melakukan apapun kan?" Tanya dokter itu.
"Hah? Saya? Saya tidak melakukan apapun. Tidak mungkin aku membuat ibuku sendiri dalam bahaya." Dhira merasa dirinya di curigai dengan pertanyaan dan tatapan dokter itu.
"Bukan itu maksud ku. Jangan panik."
"Oh. Aku hanya berbicara dari semalam. Dan barusan aku memeluk dan berpamitan."
"Kalau begitu sebaiknya kamu ke sini lagi." Dokter itu memberi Dhira jalan. "Coba lakukan lagi. Ku rasa dengan adanya kamu membuat ibumu sempat tenang, dan secara alami ibumu panik saat kamu bilang mau pergi."
Dhira maju dan memeluk ibunya. "Ibu, aku ada di sini. Jangan takut. Aku akan terus bersamamu. Tenanglah." Bisik Dhira di telinga ibunya.
Dan itu benar benar ajaib. Perlahan detak jantung Amelia tenang. Suara tak beraturan di layar sudah terdengar normal.
"Ibu mu tidak mau kamu meninggalkannya." Dokter itu berkata sembari memeriksa mata Amelia lagi.
"Dok, jari pasien bergerak." Seru salah perawat.
Semua mengalihkan mata ke arah jemari Amelia yang masih bergerak gerak pelan.
"Ini pertanda bagus. Ibumu sepertinya sudah mau sadar. Ikatan diantara kalian berdua mampu memanggilnya hingga ingin siuman." Ucap dokter.
"Lihat Dok, kelopak mata ibu Amelia bergerak gerak."
Dokter tersenyum. "Ibumu tak sabar ingin melihatmu."
Dhira menangis dengan wajah bahagia. Kegundahan yang baru dialaminya kini akan segera berlalu. Apalagi secara perlahan mata Amelia terbuka.
"Bu...ibu sudah sadar. Hiks hiks terimakasih Ibu sudah kembali." Tangis haru tidak bisa Dhira tahan lagi.
Amelia hanya mengerjap dengan wajah mulai berwarna.
"Halo Ibu, saya dokter Anda. Apakah Anda merasa baik baik saja?"
Amelia mengangguk pelan.
"Tidak ada yang terasa sakit?" Tanya dokter lagi.
Amelia menggeleng.
"Apakah ibu mengenal nya?" Dokter menunjuk Dhira.
"Anakku." Dengan lemah Amelia bergumam.
"Oke. Sepertinya ibu baik baik saja. Kita hanya menunggu beberapa waktu, untuk kepulihan ibu. Sekarang ibu beristirahatlah."
"Terima kasih Dok." Dhira menganggukkan kepala dan dibalas dengan anggukan juga oleh dokter itu.
__ADS_1
Kini tinggal mereka. Perawat juga dokter telah keluar. Dokter menyuruh Dhira menemani ibunya agar perasaan wanita itu lebih tenang. Tapi dengan syarat jangan membuat pasien lelah atau stres.
Dhira memijit tangan ibunya sambil terus tersenyum. Ia sudah tenang. Sesekali ia berbicara menjawab pertanyaan ibunya. Semua dijawabnya dengan senyuman dan wajah ceria.
Setelah bangun selama setengah jam, Amelia tertidur. Wanita itu sangat nyenyak dan tidak melepas genggamannya dari tangan Dhira.
Jam sepuluh, Leo datang. Begitu dapat telepon dari perawat kalau Amelia sudah sadar.
"Bagaimana keadaan ibu?" Tanya Leo setengah berbisik.
"Sudah baik. Ini baru tidur."
"Kamu pasti belum makan, ini makan lah dulu. Biar aku yang menjaga ibu." Leo membawa sarapan.
"Aku tidak selera. Nanti aja."
"Sarapanlah. Cara makanmu akhir akhir ini tidak beraturan. Jangan sampai sakit. Apalagi ibu sudah sadar. Kondisimu juga harus lebih fit."
Dengan malas Dhira akhirnya menurut. Ia keruangan tunggu makan sarapan sendirian.
Hari ini mereka berdua tidak masuk kerja. Amelia menjadi prioritas dari segalanya. Sorenya mereka sudah berbincang dan bersenda gurau seperti biasanya. Amelia juga sudah makin kuat. Kebahagiaan mulai terbentuk di wajah mereka.
"Dhi, ibu pulang aja ke Lampung. Kita berdua tidak akan aman bila aku ada di kota ini." Tiba tiba Amelia minta pulang.
"Bersabar ya Bu. Tunggu ibu sehat kembali. Setelah itu, aku akan mengantar ibu pulang."
"Ibu sudah sehat. Setelah besok ibu sudah normal. Ibu harus pulang." Wajah Amelia terlihat cemas.
"Kita tunggu beberapa hari lagi Bu. Yang penting ibu sehat dulu." Bujuk Dhira.
"Tapi Ibu tidak bisa berlama lama di sini. Ibu takut..."
Rasanya Dhira ingin sekali mendesak ibunya berbicara tentang hal yang ditakutkan nya. Memaksa jujur sebenarnya kenapa ibunya di buru orang. Tapi mengingat kondisinya, Dhira menahan diri. Lebih baik menunggu dari pada ibunya tertekan lagi.
"Dengan cepat mereka akan menyadarinya." Suara Amelia bergetar.
"Kami menyamar setiap datang ke sini. Jadi, mereka tidak tahu." Dhira meyakinkan ibunya.
Amelia sedikit tenang. Ia menatap putrinya dengan tatapan sendu.
"Ibu nggak usah mikirin yang aneh aneh. Bahkan orang orang di rumah sakit ini pun tidak tahu kalau ibu ada di sini. Hanya dokter dan tiga perawat yang mengurus ibu yang tahu." Lanjut Dhira.
"Untuk sementara ibu tinggal di ruangan ini aja. Rumah sakit ini melindungi ibu dari siapapun." Tambah Leo juga.
Akhirnya Amelia bisa dibujuk. Wanita yang terlihat lemah itu sudah bisa tenang.
Sore harinya Leo pulang. Sementara Dhira masih menemani ibunya. Ia sudah dapat izin cuti selama dua hari. Selama dua hari itu, ia mengurus ibunya. Mulai dari menyuapi membersihkan tubuh, menyisir rambut dilakukannya dengan senang hati. Bahkan mereka terlihat sudah mulai bercanda dan tertawa.
Dhira berharap tidak ada lagi kejadian yang membuat mereka cemas. Sangat memohon agar semua baik dan ibunya makin sehat
***
Lima hari berlalu. Leo dan Dhira bekerja seperti biasa. Sedangkan Amelia tetap di rumah sakit. Sampai kini semua masih terkendali. Tidak ada yang perlu ditakutkan.
Begitu juga dengan Rendra. Ia masih tetap dengan pengawasannya terhadap Dhira. Ia bahkan tidak perlu terlalu dekat padanya. Namun tetap bisa dalam pengawasannya.
Siang itu, tiba tiba sebuah kabar mengejutkan membuat dunia Dhira bagai runtuh. Ia mendapat telepon, ibunya mengalami drop karena ginjalnya sudah tidak bisa bertahan lagi. Secepatnya ia harus mendapatkan ginjal atau rutin menjalani cuci darah. Itupun kemungkinan tidak akan mampu membuat nyawa Amelia bertahan.
Sama halnya dengan Leo. Ia juga dapat kabar soal ibu Dhira dari perawat.
Lalu segera menghubungi orang yang pernah menghubunginya soal calon ginjal yang harganya lima ratus juta. Tanpa banyak rintangan kesepakatan pun terjadi. Leo menyuruh pendonor ke rumah sakit tempat Amelia di rawat menemui dokter Kamal. Dan ia juga sudah menyerahkan semuanya pada dokter itu agar lebih gesit soal pertolongan Amelia.
Baru selesai bicara, pintu ruangannya terbuka dan Dhira berdiri dengan lemas dengan air yang sudah membasahi pipinya.
"Sayang, jangan terlalu panik. Semua sudah terkendali. Kita tinggal menunggu proses."
__ADS_1
"Terimakasih..." Dhira berhambur ke tubuh Leo tanpa lagi peduli tempat dan sekitarnya. Ia sudah tahu soal ibunya yang sudah dapat pendonor. Siapa lagi yang sanggup melakukan itu selain Leo.
"Iya. Kita tinggal berdoa agar semuanya lancar. Setelah operasi ibu berhasil semua akan baik baik saja." Leo memeluk Dhira dan mengelus punggungnya dengan penuh kasih sayang.
Betapa beruntungnya dirinya bisa mengenal Leo. Sosok pria baik dan murah hati, dikirimkan padanya untuk membantunya atas semua kesulitannya.
Ponsel Dhira berdering. Dan dokter meminta dirinya datang ke rumah sakit untuk mendampingi ibunya. Juga ia perlu menandatangani berkas persetujuan operasi.
"Pergilah. Tetap lakukan penyamaran. Bagaimanapun kita harus tetap waspada." Leo menyuruh Dhira.
"Sekali lagi terimakasih." Dhira kembali memeluk Leo.
"Oke. Nggak perlu segitunya. Apapun pasti akan ku lakukan demi wanita masa depanku." Leo tersenyum memberi ketenangan.
Dhira bersiap dengan penyamarannya. Untungnya sedang jam istirahat sehingga orang orang agak sepi di kantor.
Tiba di mobil pesanannya ia mengarahkan sopir ke rumah sakit. Baru dipertengahan jalan, Dhira curiga, merasa melihat ada mobil yang selalu mengikutinya. Entah mobil siapa karena itu bukan milik Rendra.
"Pak tolong ambil jalan lain. Atau putar balik dulu. Sepertinya ada yang mengikuti kita."
Mobil berputar arah sehingga berada di ruas jalan sebelah. Dan terbukti mobil itu masih setia mengikuti.
"Brengsek. Bagiamana dia tau aku di dalam sini? Apa dia sudah tahu kalau aku menyamar. Oh Tuhan, ini menakutkan. Untung aku hanya sekali ini ke rumah sakit setelah ibu sadar. Kalau tidak, entah apa yang sudah terjadi." Dhira begitu gugup, mobil itu masih setia berada dibelakang.
Berputar putar selama sejam mobil itu juga masih belum menyerah. Tidak tahu harus berbuat apa lagi, Dhira nekat turun. Sekarang pilihannya hanya satu. Membuat si penguntit tidak sadar agar dirinya bisa sampai ke rumah sakit.
Mobil yang membawa Dhira berhenti. Begitu juga mobil merah yang berada beberapa puluh meter darinya.
setengah berlari Dhira menghampiri mobil itu. Diketuknya jendela kaca.
Kaca turun dan Rendra melongok dari kaca melihat siapa yang berdiri di luar mobilnya. "Apa?" Tanyanya dengan bentakan. Ia tidak berhasil melihat wajah orang itu.
Dhira menyuruh Rendra mendekat dengan isyarat telunjuknya.
Rendra memanjangkan lehernya agar lebih dekat. Wajahnya terlihat bertanya tanya, 'siapa orang ini'.
Begitu kepalanya keluar, Dhira menarik rambutnya kemudian mencekik lehernya.
"Aaaaaakkk....aaakkk...lepasin. kamu siapa. Apa maumu." Rendra berkata terbata bata karena sulit bernafas.
"Matilah brengsek! Aku tidak perduli!" Teriak Dhira. Ia sungguh kalap dengan tingkah Rendra.
Mata Rendra terbelalak mengetahui itu adalah Dhira. Ia mengerjap mengerjap sambil berpikir cara melepaskan lehernya. Tapi belum terpikir apapun, tubuhnya sudah digeret dari jendela mobil.
Dhira bagai kerasukan, ia mampu menarik Rendra hingga keluar dari jendela kemudian dicampakkan lelaki itu ke batu berkerikil dipinggir aspal. Belum sempat bangkit dari bebatuan, Dhira sudah kembali menerjangnya. Menendang dan meninju sepuasnya.
Tidak mau mati konyol, Rendra mengambil batu sebesar genggamannya lalu memukul kepala Dhira.
Plakkk
batu itu menghantam kepala Dhira. Matanya berkunang kunang. Ia terhuyung ke belakang dan rubuh ke tanah. Rasa sakit di kepala mengakibatkan penglihatannya gelap
Kesempatan itu digunakan Rendra untuk bangkit. Ia menghirup dan menghembuskan nafas panjang untuk memulihkan tenaganya. Setelah memutar sebentar kepalanya kemudian berjalan ke arah Dhira yang tergeletak dengan mata terpejam.
"Wanita ini seperti kerbau. Tenaganya gak tanggung tanggung." Ia menyenggol kaki Dhira untuk mengetes apakah beneran gadis itu pingsan.
Rendra berpikir sebentar. Kemudian ia teringat ponsel Dhira. Ia berjongkok dan merogoh tas selempang gadis itu. Akan memeriksa apa saja yang ada di ponsel itu. Siapa tahu ada petunjuk soal keberadaan ibunya.
Tapi tiba tiba sebuah pukulan menghantam kepalanya hingga membuatnya terjungkal. Di waktu bersamaan Dhira juga membuka matanya dan langsung tersadar dengan yang terjadi.
Ternyata Kim sudah ada disana. Kim berdiri dengan gagah diantara mereka.
Yang memukul Rendra adalah Kim. Ia curiga dengan tas yang dipegang Rendra mirip milik Dhira. Ia mengenali tas itu. Tapi merasa menyesal setelah melihat wajah si pemilik tas adalah orang lain. Bahkan seorang laki laki.
"Cih apa sekarang kau menjadi seorang pencopet? Sungguh miris nasibmu." Kim memandang Rendra begitu rendah.
__ADS_1