
Dhira berdiri di samping ranjang Meli. Ia menatap wanita yang terlihat tidur lelap itu. Dua hari semenjak jatuh, Meli belum bangun dari komanya. Entah kapan ia bisa mendengar penjelasan dari Meli. Makin hari kesabarannya makin habis. Setiap hari pikirannya tidak bisa tenang. Kecemasan dan ketakutan membayanginya terus.
Ia menghela nafas panjang. Lalu mendekat sehingga menempel ke ranjang. "Aku mohon bangunlah. Jangan mempermainkan ku seperti ini. Aku berjanji tidak akan menyakiti mu. Cukup kau katakan dimana ibuku." Ucap Dhira seakan Meli bisa mendengarnya.
"Aku sangat membutuhkan ibuku. Hanya dia seorang yang kumiliki di dunia ini. Dia satu satunya keluargaku. Aku mohon...bangunlah dalam keadaan sehat. Katakan yang sebenarnya padaku." Kali ini Dhira terisak. Dorongan emosional dari hatinya yang sedih membuatnya menangis. Ia sudah tidak tahu bagaimana caranya lagi untuk menemukan ibunya.
"Aku mohon...tolonglah." bisik nya lagi seraya menghapus air matanya yang terlanjur membasahi pipinya.
Ia duduk selama setengah jam di sana. Menunggu keajaiban akan bangunnya Meli. Namun tanda tanda itu tidak terlihat sedikitpun. Sudah merasa bosan, Dhira bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.
Di luar ia bertemu Kim dan Leo. Tidak ada niat untuk mengatakan apapun, ia melewati mereka begitu saja. Bisa dilihatnya lewat ekor matanya Leo hampir bangkit dari duduknya namun tidak jadi. Pria itu kembali duduk karena ditahan oleh Kim.
Tiba tiba kaki Dhira berhenti. Beberapa detik kemudian, ia berbalik arah berjalan ke arah Leo dan Kim.
Melihat Dhira datang ke arahnya, Leo segera bangkit dan berdiri menunggu datangnya Dhira.
Dhira berhenti tepat di depan Leo. "Jangan coba coba menyembunyikan Meli dariku. Biarkan dia tetap di sini di ruangan ini." Ujar Dhira. Nada dan auranya begitu dingin.
"Itu tidak akan terjadi." Jawab Leo.
Tanpa mengatakan hal lain lagi, Dhira berputar dan pergi.
Leo masih berdiri memandang punggung Dhira yang makin menjauh dan hilang di ujung lorong.
"Jangan berdiri terus. Dia sudah tidak ada." Kim menarik tangan Leo.
"Aku tahu betul bagaimana kondisinya saat ini." Leo berkata dengan tatapan kosong.
"Iya, aku tahu. Tapi apa yang bisa kamu lakukan?" Tanya Kim.
Leo membuang nafasnya dengan kasar. Ia sudah tidak sabar lagi dengan keadaan suram ini. Kapan semua ini berakhir? Kapan dirinya dan Dhira kembali seperti dulu. Hidup penuh cinta dan kebahagiaan?
Setelah menggaruk kepalanya dengan asal asalan, ia ke kamar di mana maminya berada. Di betulkan nya selimut Meli sambil merapal kan doa agar maminya segera bangun.
Hanya dirinyalah yang perduli pada Meli saat ini sebagai keluarganya. Papinya tidak pernah muncul selama Meli di rawat. Kekecewaan lelaki itu sepertinya tidak terobati lagi. Ia sungguh meninggalkan Meli. Meski sudah mendengar kabar tentang Meli yang koma, sedikitpun tidak bisa menggerakkan hatinya lagi.
Leo sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Meski dalam hati ia ingin papinya berbesar hati dan memaafkan maminya, tapi ia tidak bisa memaksa keinginannya. Papinya sendiri terluka, ia tidak tega menambah penderitaannya lagi.
Dengan sabar ia mengurus maminya. Menjaga dan membiayai semua perobatannya. Bagaimanapun wanita itu adalah ibunya yang telah melahirkannya. Yah meski kadang hatinya merasa sakit atas apa yang telah dilakukan maminya itu.
***
Saat ini Dhira berada di sebuah gedung yang lumayan besar untuk ukuran ruko. Gedung bertingkat empat bernama koperasi HANDAL, yang di datanginya untuk melamar pekerjaan. Ia berada di lantai empat dimana ia diarahkan oleh scurity sebelumnya.
Setelah dihitungnya, uangnya kini tinggal lima juta lagi. Ternyata uang yang dua ratus juta yang dipulangkan Meli padanya, lama lama habis. Tidak mau jadi gelandangan, ia harus mencari pekerjaan.
Kali ini ia tidak mau pekerjaan yang berdiam di dalam kantor. Lumayan banyak teman yang merekomendasikannya pekerjaan. Tapi semua ditolaknya karena harus bekerja seharian di dalam gedung.
__ADS_1
Ia ingin bekerja di lapangan. Kalau bisa sambil membawa kendaraan. Sambil bekerja ia bisa mencari ibunya.
Ketepatan ada teman lamanya yang berasal dari Lampung bernama Heru Kavian menginformasikan tentang pekerjaan yang bergerak di bidang pinjam uang. Bisa di sebut koperasi tapi sudah termasuk besar.
Dikatakan, mereka butuh seseorang pekerja yang bisa menguasai bela diri dan siap bekerja di lapangan sebagai penagih khusus ke bagian kelompok orang tertentu. Ia tertarik karena pekerjaan ini otomatis akan membuatnya berkeliling kemana saja menagih hutang. Sembari bekerja, ia bisa memacari ibunya juga.
"Hem...!"
Lamunan Dhira buyar, mendengar suara seseorang yang baru masuk. Terlihat seorang wanita berpenampilan modis berjalan ke arahnya. Wanita itu, sudah tidak muda lagi. Mungkin berusia empat puluh tahunan. Tapi karena penampilannya yang elegan dan terawat sempurna, membuatnya terlihat muda dan segar.
"Apakah kamu yang direkomendasikan Heru Kavian itu?" Tanya wanita itu, setelah duduk di kursinya. Cara duduknya saja terlihat berwibawa dan berkelas. Kaki kirinya yang panjang menumpang di atas kaki kanannya sehingga belahan roknya terbuka lebar dan menampakkan setengah pahanya hingga ke bawah.
Dhira yakin bahwa wanita inilah yang menjadi bos di koperasi ini.
"Iya Bu. Saya Andhira teman sekaligus satu kampungnya." Jawab Dhira.
"Hemmm..." Wanita itu terlihat sedang berpikir sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya yang berkuku panjang ke atas pahanya sambil membaca riwayat CV lamaran kerja Dhira. "Tak ku sangka dia akan mengirim seorang wanita. Padahal khusus pekerjaan ini kami butuh uang tangguh dan hebat."
Dhira hanya menatap wanita itu dengan tenang. Ia sudah diberitahu oleh Heru, Dewi Ivanka adalah wanita yang sangat tidak suka dengan seorang penakut. Demi keberhasilan usahanya ia rela menggaji karyawan penagih dengan upah yang lumayan tinggi.
"Okelah. Aku percaya Heru, tidak akan mengirimkan yang kaleng-kaleng padaku." Wajahnya terlihat berubah ringan dan berseri. "Kau diterima. Bekerjalah mulai hari ini."
Wajah Dhira berseri. Ia sangat senang bisa mendapat pekerjaan ini. "Terimakasih Bu." Ucapnya setelah berdiri.
"Sekarang kamu turun ke lantai tiga. Temui di sana yang bernama Alvian. Dia akan mengajarimu sekaligus menjadi rekanmu."
"Baik Bu." Dhira berdiri dan pergi turun dengan naik lift.
"Selamat pagi, dimana saya bisa menemui pak Alvian?" Tanyanya.
Dua wanita yang masih gadis itu menatap Dhira dengan tatapan tajam. Mereka seperti mengoreksi gadis yang mencari Alvian.
Dhira memasang senyumnya dengan ramah. Ia tahu sebagai pendatang baru ia harus lebih merendah dan tahu diri.
"Belum datang. Tunggu aja di situ. Mungkin tidak lama lagi akan datang."
"Terimakasih." Dhira pergi ke sofa yang tersedia dibagian sudut.
Selama menunggu di sana, ia sungguh bosan. Tidak ada yang mengajaknya bicara meski banyak orang yang berdatangan ke ruangan itu untuk mengobrol dan bercanda dengan dua gadis di meja. Untuk mengusir kebosanannya, ia mengambil ponselnya dan bermain game.
Tidak di pedulikannya tatapan mereka yang mencemoohnya. Jelas terdengar ke telinganya mengatakan dirinya sok kuat dan berani menjadi rekan Alvian. Ia tetap santai dengan permainannya tanpa terpancing sedikitpun.
"Pagi semuanya. Sudah pada mandi kah?" Sebuah suara bariton, menginterupsi mereka semua. Seorang lelaki bertubuh tinggi dan kekar, menggunakan pakaian biasa hanya kaos dan celana jeans. Usianya sekitar dua puluh lima ke dua puluh delapan tahun. Gaya rambut buzz cut dengan wajah klimis membuatnya terlihat segar bersih dan rapi.
"Pagi Pak Alvian. Sudah donggg..." Jawab mereka serentak.
"Bagus."
__ADS_1
"Nanyain sudah mandi, yah pasti sudahlah. Tapi sarapan belum..." Komen salah satu gadis di meja dengan manja.
"Siti, karena aku sudah tahu kamu belum sarapan makanya gak nanya. Ntar minta dibayarin. Ogah...aku!" Sahut Alvian dengan mimik melucu.
"Huuuuu..." Mereka berkoor menyoraki Alvian.
Sedangkan yang disoraki hanya senyum saja sambil memeriksa seluruh ruangan. Dan matanya berhenti dimana Dhira duduk dengan kepala menunduk menatap ponselnya.
"Huussssttt..." Alvian menyuruh mereka diam. Lalu ruangan yang ramai itu tiba tiba hening. Mereka melihat Alvian sedang fokus pada Dhira.
Alvian bergerak mendekati Dhira. Tiba tiba ia merebut ponsel ditangan gadis itu bagai seorang pencuri.
Mendapat serang tiba tiba, membuat Dhira bergerak spontan menangkap ponselnya sembari menyelipkan kakinya diantara dua kaki Alvian agar tidak bisa bergerak.
Alvian bergerak lincah, ia mendorong bahu Dhira. Karena kaki mereka saling bertautan tubuh Dhira melengkung seperti melakukan kayang. Tapi ia langsung bergerak berdiri lagi.
Alvian belum puas, di putarnya tubuh Dhira setelah menarik kakinya, dan jadilah Dhira sebagai tawanan tangannya.
Dhira mengernyit dengan pertanyaan di benaknya. Haruskah ia melawan, atau menyerah. Mengingat dirinya masih pertama di gedung itu, ia melemaskan ototnya berniat mengalah. Tapi tiba-tiba ia teringat pekerjaan bersangkutan dengan kekuatan dan keberanian, dan takut serangan ini adalah sebuah tes untuknya. la tidak jadi mengalah tapi justru menarik tangannya dengan keras di sertai gerakan sikut nya yang mendorong dada Alvian, hingga tangannya terlepas dari pegangan lelaki itu. Langsung di susul nya sebuah pukulan kepalan tangannya di dada Alvian.
Sementara Alvian lumayan terkejut dengan serangan Dhira. Ia lengah dan akibatnya ia mundur selangkah sambil meringis. Cetakan tangan Dhira begitu kuat dan membuatnya merasakan sakit hingga ke punggung.
Sebenarnya ia tidak bermaksud menganggu Dhira. Ia sudah tahu gadis itu adalah bawahannya yang akan menemaninya bekerja. Ia hanya mengetes apa yang tertera di kertas lamarannya. Disana tertulis menguasai bela diri. Itulah yang ia ingin ketahui.
Dhira maju ia menarik kerah baju Alvian lalu menatapnya dengan mata tajam. "Apakah sambutan ditempat ini seperti ini?" Tanyanya dengan suara penuh tekanan.
Semua orang di ruangan itu tertegun dengan nafas terhenti. Mereka tahu betapa berbahayanya Alvian ketika marah. Bahkan kekuatan orang sepuluh bisa dilumpuhkannya sekaligus bila sudah marah.
"Heh! Wanita bodoh! Kau tidak tahu siapa dia? Jaga sikapmu itu. Atau kau akan dipecat hari ini juga!" Kecam Siti.
"Siapapun dia tidak akan kubiarkan menindas ku!" Jawab Dhira. Bukan marah, ia hanya berusaha mengenalkan diri.
"Kau!!! Jaga sikapmu itu!" Bentak Siti.
"Hentikan! Tidak perlu ribut ribut. Aku hanya mengetesnya. Kau Siti, kembali ke mejamu!" Alvian menghentikan Siti yang hendak mendekati Dhira.
"Dengar, aku Alvian. Mulai hari ini aku adalah atasanmu."
Dhira melepas kerah baju Alvian. Ia mundur beberapa langkah. Cepat cepat ia membungkukkan tubuhnya dan meminta maaf. "Maafkan saya. "
"Sudah sudah. Ternyata pilihan Heru memang bagus." Alvian merapikan kaosnya yang berantakan. "Mari ikuti aku. Dan kalian semua bekerjalah dengan baik." Alvian sudah berubah ke mode serius. Semua yang ada di sana kini sudah tenang tidak berani ribut lagi.
Dhira memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Ia berjalan mengikuti Alvian ke ruangannya.
Sejak hari ini, Dhira resmi menjadi salah satu karyawan koperasi HANDAL dengan jaminan Heru. Heru yang menjaminnya. Bahkan Heru menyerahkan sertifikat rumahnya dan dua buah surat surat mobilnya. Dhira juga menyerahkan semua kartu identitas dirinya juga ijazah aslinya.
Dhira memulai pekerjaannya tanpa hambatan. Kemampuannya tidak diragukan lagi. Pekerjaan menjadi lebih mudah dan tentu saja semakin menambah keuntungan bagi Dewi, bosnya itu.
__ADS_1
Ternyata para debitor banyak yang tidak bertanggung jawab menyebabkan koperasi mengalami gangguan keuangan. Mereka akan membayar bila Alvian yang turun tangan. Oleh sebab itulah mereka membutuhkan seseorang yang bisa membantu Alvian. Seseorang yang mampu melumpuhkan mereka yang nakal dan licik.
Kedatangan Dhira di koperasi ini, mendatangkan perubahan signifikan. Pengelolaan pengeluaran dan pemasukan uang menjadi lebih lancar dan teratur meski baru seminggu ia bekerja. Dan enak nya lagi, setiap pengutipan seratus juta Dhira selalu dapat bonus. Walau hanya lima ratus ribu tapi lumayan buat tambahan gaji pokoknya.