Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Hari Terakhir


__ADS_3

Leo menggeliat. Dibukanya matanya dan tiba tiba ia tersentak. "Andhira? Kamu Andhira! Hahah...akhirnya kamu datang juga." Leo bangun dan menubruk Dhira untuk memeluknya.


"Aku rindu padamu. Sangat rindu. kenapa lama sekali kamu baru datang, hum?" Kedua mata Leo yang memerah berbinar.


Dhira tidak menjawab. Ia hanya berdiri saja dan membiarkan Leo memeluknya.


"Aku seperti orang mati Andhira, aku kehilangan hidupku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Tolong jangan tinggalkan aku." Leo tersedu-sedu.


Tangan Dhira terangkat menyentuh punggung Leo. Di peluknya juga tubuh rapuh itu. Ia juga menangis dalam diamnya. Ia sangat mengerti yang dirasakan oleh Leo. Karena dirinya juga seperti itu. Tapi tidak ditunjukkannya dihadapan Leo.


"Jangan pergi lagi. Atau aku akan mati. Ayo kita pergi jauh. Sangat jauh sehingga tidak ada yang tahu kalau kita bersama." Leo mengurai pelukannya. Ia mengangkat wajah Dhira dengan jemarinya. Ditatapnya kedua mata wanita itu dengan sangat dalam.


Meski mulai mabuk tapi ia masih sadar bahwa yang ditatapnya juga menyimpan kesedihan yang dalam. Telapak tangannya mengelus pipi Dhira yang halus pelan pelan. Lalu perlahan ia mengikis jarak hingga bibir mereka menempel sempurna.


Pelan-pelan diciuminya bibir lembab itu. Sangat lembut agar yang dirasakannya terasa lebih nyata.


Tidak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan Dhira. Antara senang dan melambung juga menyayat. Hatinya bahagia bisa memeluk dan mereguk cintanya. Tapi hatinya teriris mengingat ini hanya kesemuan belaka.


Setelah ini, semua rasa indah ini akan hilang. seandainya dirinya bisa memilih memiliki cintanya dan bersama belahan jiwanya. Tapi apa dayanya. Ia tidak tega mengkhianati ibunya. Ibunya juga merupakan bagian dari jiwanya. Kalau saja masa lalu ibunya tidak berkaitan dengan Leo, ia akan melewati batas apapun demi memilikinya.


Mereka menarik dan menghempaskan nafas bersamaan. Saling menatap sebentar dan lagi lagi menyatukan nafas mereka. Kali ini Dhira bertindak lebih agresif. Ia terburu dan menguasai medan. Mengingat setelah ini, tidak akan ada lagi kebersamaan seperti sekarang, semakin dirinya terbawa emosi untuk memuaskan hatinya.


"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu." Ujar Leo berulang kali.


"Benarkah?" Untuk pertama kali Dhira berbicara.


"Sumpah demi apapun. Aku hanya ingin kamu." Leo mengeratkan pelukannya. Rasanya ia ingin membuat mereka jadi satu sehingga tidak akan bisa dipisahkan.


Bruuukkk


Dhira mendorong Leo hingga terhempas ke sofa.


Leo terhenyak mendapat perlakuan Dhira.


"Maka jadilah lelaki yang jantan! Jangan seperti ini! Mau jadi apa kamu kalau setiap hari mabuk?"


"Aku stres. Rasanya aku gila bila tidak minum." Jawab Leo. Ia bangkit dan kembali memeluk Dhira. "Andhira ayo kita pergi aja!"


"Kenapa kamu jadi pengecut seperti ini! Kamu merusak hidup hanya gara gara tidak bisa bersamaku? Kenapa kamu sangat bodoh?"


"Lalu apa yang harus ku lakukan?" Teriak Leo. Dilepaskannya Dhira dari rangkulannya.


"Hiduplah dengan baik. Banyak wanita di luar sana yang lebih segalanya dari aku."


"Hah? Segampang itukah? Apa kamu sudah berhasil melupakanku? Apakah sudah ada pria lain di sini?" Tunjuk Leo ke dada Dhira. "Huh, kamu tidak bisa menolak pesona laki-laki yang menjadi kakakmu itu ya?" Tanya Leo marah.


Selama seminggu ini ia melihat Dhira begitu dekat dengan Jhon. Sangat ketara dimatanya, lelaki itu tak pernah melewatkan kesempatan buat memberikan perhatiannya pada Dhira. Bola mata lelaki itu berbinar terang terhadap Dhira.


Kecemburuan membakarnya, rasanya ingin sekali membakar Jhon. Tapi tidak bisa melakukannya. Itu sebabnya ia pergi ke kuburan maminya dan melampiaskan amarahnya di tanah itu hingga tanpa sadar menginap dan tidur di sana.


"Terserah kamu mau bilang apa. Aku hanya ingin kamu hidup baik. Lupakan semuanya. Sebelumnya juga aku sudah bilang, kita tidak ada pilihan selain menerima takdir. Kita tidak berjodoh. Ini terakhir kali aku mau menemui mu. Aku akan menjalani hidupku. Dan kiranya kamu juga menjalani hidupmu dengan baik. Sadarlah. Hidupmu masih panjang. Keluargamu membutuhkanmu."


Wajah Leo makin memerah. "Aku akan tetap menunggumu sampai semua hambatan hubungan kita hilang!" Seru Leo.


"Apa maksudmu? Apa kamu berdoa agar ibuku cepat mati?"


Leo menggeleng. "Dosa mami telah banyak terhadap ibu. Bagaimana mungkin aku menambah dosa itu lagi. Tapi pendirian ku tetap, lebih baik aku mati dari pada melihatmu bersama lelaki lain."


"Banyak orang di dunia ini mencintai tapi tidak memiliki. Sang pemilik cinta itu sudah tersurat. Ingatlah itu. Aku harus pulang." Selesai menyampaikan niatnya Dhira pergi. Dalam hati ia berharap Leo segera melupakan dirinya agar terbebas dari siksaan perasaannya.


Sementara Leo duduk dengan kepala tertunduk. Dari perkataan Dhira, ia menyimpulkan kalau gadis itu sudah merelakan dirinya. Dadanya sakit. Secepat itu Dhira menyerah. Artinya dirinya sudah hapus dari ingatan gadis itu. Mungkinkah karena adanya Jhon. Sosok dirinya begitu cepat tergantikan.


Air matanya berjatuhan. Ia menangis tanpa suara. Rasanya seperti terjatuh ke jurang yang dalam. Terhempas sangat keras.


Tangannya meraih botol dan meminum minumannya tanpa henti. Lagi dan lagi hingga ia muntah-muntah. Ia berjalan hendak keluar, tapi kakinya seperti tidak bisa menapak. Ia linglung dan tumbang. Tubuhnya terbanting ke lantai dan tidak bisa bangun lagi.


Meski sudah tiba di depan rumahnya, Dhira masih tetap diam di dalam mobil. Melampiaskan hatinya yang sakit lewat tangis. Ia hanya bisa menangis. Berkali kali ia menghapus air matanya tapi masih saja keluar dan membasahi pipinya.


Tokkk.... tokkk


Dhira terkejut mendengar suara ketukan di dekat telinganya.

__ADS_1


"Ayah?" Dhira buru-buru membersihkan wajahnya dengan telapak tangannya sebelum membuka pintu.


"Ayah pikir kamu ketiduran." Robert membantu Dhira turun dengan meraih tangannya.


Nyesss...


Dada Robert terasa ketir merasakan tangan Dhira yang sangat dingin. Meski cahaya tidak terlalu terang, ia bisa melihat mata dan wajah Dhira yang sembab.


Saat kedua kaki Dhira sudah tiba di tanah, Robert menarik tubuh putrinya dan memeluknya sangat erat. Ia berusaha memberi kekuatan pada anak gadisnya itu. Sakit sekali rasanya melihat anaknya yang begitu rapuh.


"Haaaa...hiks...hiks hiks... haaahahaaaa..." Tanpa komando tangis Dhira mengeras dan menenggelamkan wajahnya ke dada Robert.


Robert menepuk-nepuk bahu Dhira yang bergetar. Kedua matanya memanas dan berair. Andai ada yang bisa dilakukannya untuk menyembuhkan luka putrinya, pasti akan dilakukannya.


Ia sangat terluka menyaksikan putrinya yang dibalut lara. Seandainya bisa dengan uang, ia akan menebus kebahagiaan putrinya dengan harga semahal apapun. Dirinya serasa tidak berguna harus menyaksikan penderitaan anaknya.


***


"Hei bangun...! Bro...ini udah siang. Kamu bau banget! Ihhh..." Kim yang kini menjadi pemilik bar menggoyang-goyang bahu Leo.


"Hmmm...ssshhh...auhhh...kepalaku!" Leo memegangi kepalanya yang sakit.


"Ya iyalah! Kamu minum terlalu banyak. Entah kapan kebiasaan mu ini akan berlalu. AU takut tubuh mu itu rusak karena minuman alkohol tiap malam." Kim membantu temannya berdiri.


"Aku tertidur di sini lagi ya?" Tanya Leo.


"Hem. Emangnya biasanya tidur dimana? Disinilah langganan mu terakhir ini."


"Semalam aku berniat pulang ke apartemen. Tapi malah ketiduran di sini." Leo memukul mukul kepalanya pelan-pelan.


"Mandilah dulu. Itu pakaianmu. Sarapan sudah ada di kamar sebelah. Kamu jorok! Karyawan ku sampai muntah muntah membersihkan ruangan ini!"


"Hahhh... sorry. Ini yang terakhir bro. Besok nggak lagi."


"Hah? Emang kamu mau kemana?"


"Aku tidak akan datang lagi kesini untuk minum. Aku ingin pergi ke tempat yang jauh."


"Hari ini aku ingin kembali ke London."


"Kenapa mendadak?"


Leo tidak menjawab. Ia ke kamar sebelah. Merasa lebih segar sedikit setelah mandi.


Kim hanya diam menyaksikan Leo yang hanya meneguk air putih. Sarapannya tidak disenggol sedikitpun. Lelaki itu terlihat makin tidak hidup. Makin muram.


"Semalam Dhira datang."


"Apa? Dhira? Terus?" Tanya Kim. Kini ia mengerti apa yang membuat Leo makin menderita.


"Dia ingin aku melupakannya dan menyuruhku mencari wanita lain. Ia sudah menyerah dan tidak menginginkan ku lagi."


"Ohhh..." Kim tidak tahu mau bilang apa selain ber ohhh.


"Dari pada aku melihatnya bersama lelaki lain, lebih baik aku pergi. Aku tidak sanggup. Aku taku melewati batas jika berada disini terus."


"Tapi dadakan gini? Apa udah ada persiapan mu kesana?"


"Persiapan apa? Tinggal berangkat aja. Hal lainnya bisa menyusul, dikirimkan."


"Hahhhh..." Kim membuang nafasnya dengan kasar. "Mungkin inilah jalan yang harus kamu lalui. Jangan putus asa, yakinlah akan ada kebahagiaan lainnya yang menantimu." Kim menyemangati sahabatnya.


"Entahlah. Rasanya tidak menemukan jalan itu lagi." Setelah menghabiskan segelas air ia berdiri dan pamit pergi.


Sebelum pulang ke rumah, ia pergi ke apartemennya terlebih dahulu. Ada beberapa barang dan dokumen penting yang harus dibawanya ke London.


Tanpa mengulur waktu lagi, Leo bersiap dan membawa sebuah koper keluar dari unitnya. Setelah itu menuju rumah. Ia akan memberitahu adik dan papinya setelah tiba di London saja. Ia tidak mau dihalangi oleh mereka. Tekadnya sudah bulat, akan hidup jauh dari tempat Dhira berada.


Leo berangkat ke bandara diantar oleh supir.


Sepanjang perjalanan ke bandara, Leo memandangi pinggiran jalan yang berlarian berlawanan dengan arah mobil. Tatapannya kosong. Bayangan hari-harinya tanpa Dhira sudah mulai menghampirinya. Sepi, sunyi itulah yang dirasakannya.

__ADS_1


"Stop pak!" Tiba tiba Leo minta sopir berhenti.


"Ada apa Mas?"


"Belok ke kiri dulu. Ada yang mau ku lihat di sana!"


Sang sopir menurut, padahal tinggal beberapa meter lagi mereka akan memasuki tol jika lurus.


Ternyata Leo mampir membeli batagor. Ia teringat, habis persimpangan ada pedagang batagor langganan Dhira. Untuk yang terakhir kalinya ia ingin memakan makanan itu.


"Mas Leo? Sendiri? Biasanya bersama Dhira?" Mamang pedangan sudah hafal mereka berdua.


"Sendiri Mang." Jawab Leo pelan.


Dirogohnya dompet dari kantong celananya kemudian mengeluarkan uang lima puluh ribuan. Ia menyodorkan uang itu setelah menerima batagornya.


"Ma...mama...mamaaaa..." Tiba tiba terdengar suara seorang anak yang menangis.


"Haaahaaa...mammaaa..." Leo memeriksa sekitarnya mencari sumber suara.


Ia terkejut melihat seorang balita perempuan sedang menangis ditengah jalan yang ramai kendaraan.


Suara klakson yang makin melengking membuat anak itu panik dan mondar-mandir tak tentu arah sambil meraung ketakutan.


"Ehh, itu anak ngapain di sana? Dimana orang tuanya?" Teriak pedangan batagor.


Beberapa orang yang melihat anak perempuan itu berteriak juga. Ia menangis sambil menutupi kedua telinganya. Ketakutan, mobil mobil yang lalu lalang yang nyaris menabraknya.


Tanpa pikir panjang, Leo berlari ke arah tengah jalan, membuat para pengendara berteriak panik. Bahkan ada yang menabrak ekor mobil didepannya karena mengerem mendadak.


Tapi belum sampai kaki Leo di tempat anak itu, seseorang dari seberang mengambilnya. Leo bernafas lega melihat anak itu sudah selamat. Ia memutar tubuhnya ingin kembali ke pinggir jalan.


Tapi tiba tiba saja, kepalanya pusing. Terik matahari yang sangat menyengat membuat penglihatannya buram. Mobil mobil dan motor yang melewatinya terlihat berbayang menjadi lebih banyak. Ia bingung akan melangkah ke arah mana. Terlihat tidak ada selah baginya untuk lewat. Ia hanya bergerak ditempatnya saja.


Di saat yang bersamaan, Dhira juga mampir ingin membeli batagor. Ia malas makan siang, sehingga kepengen batagor saja. Saat ia turun dilihatnya Leo tengah sempoyongan di tengah jalan. Suara deru dan bunyi klakson bersahutan memperingatinya.


"Dia mabuk lagi! Sampai sampai tidak lagi bisa membedakan maut sama keselamatan." Gerutu Dhira.


Ia berlanjut mendekati gerobak mamang pedangan batagor langganannya. Tapi ia tidak bisa segera memesan karena mamang pedagang sedang sibuk meneriaki Leo yang belum bisa keluar dari jalan.


"Mang, batagornya!" Panggil Dhira.


"Tunggu ya neng! Itu kasihan mas Leo. Sepertinya ada yang tidak beres."


"Biarinlah Mang. Dia itu mabuk!"


"Tidak Neng, dia tadi lagi beli batagor juga. dia berusaha menyelamatkan seorang anak. Sekarang malah dia yang terjebak."


Saat itulah sebuah sedan biru yang melaju kencang tepat di depan Leo.


Semua orang bersorak, ketakutan mobil itu menabrak Leo. Tapi untungnya mobil itu bisa membelok sehingga tidak digaris lurus yang sama dengan Leo.


Brakkkk...


Tapi sayangnya justru Leo yang berlari ke arah mobil itu. Tidak bisa mengelak lagi, tubuh Leo terhempas jauh ke depan dan ditabrak sebuah sepeda motor lagi. Leo terpental ke pinggir jalan dengan balutan darah.


"Aaaaa...!!!!!"


Semua yang ada disana berteriak histeris. Mereka berlari ke arah Leo yang sudah tumbang. Ada yang pucat pasi campur keringat dingin ada juga yang sibuk merekam dengan ponselnya.


Dhira berlari bagai angin ke arah Leo. Didorongnya orang yang menghalanginya hingga kerumunan orang terganggu.


"Leooooo..." Teriak Dhira dan langsung bersimpuh disamping lelaki itu. Diangkatnya bahu Leo ke perutnya sambil menangis.


"An-Andhiraaaa...kamu datang sayang?"


"Hiks haaahaaa...tolong...tolong bantu bawa ke rumah sakitttt!" Teriak Dhira. Seluruh wajahnya bersimbah air mata.


"I-ini sungguh kamu?" Leo meraba wajah Dhira sambil tersenyum kecil. Kedua mata lelaki itu berkaca-kaca.


"Aaaa...aku mohon tetap bersamaku. Aku mohon bernafas lah..." Dhira menangis melihat Leo yang tidak bisa menghembuskan nafasnya. Sementara tangan kirinya menegang dan melepaskan bungkusan batagor yang sudah pecah dan bercampur warna dengan darah yang mengalir dari tubuh Leo.

__ADS_1


__ADS_2