Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Kekasih dan Adik


__ADS_3

"Tidak ada. Aku hanya ingin memperbaiki semuanya. Antara kita berdua. Tidak seharusnya kita begini." Dhira menundukkan kepalanya dalam-dalam. Menunjukkan dirinya yang sanggup menyesal.


"Itu ulah mu! Entah apa yang ingin kau lakukan. Apa kau ingin menjual ku agar dapat uang lebih banyak lagi?" Hardik Ara. Wajah dan matanya melebar dengan warna memerah. Ia benar benar melepas amarahnya. Sakit hatinya menerima perbuatan Dhira.


"Tidak. Sebenarnya ini semua karena Meli, ibumu. Ibuku hilang dan dialah pelakunya. Demi bisa membuatnya mengaku aku melakukannya padamu karena aku tahu kamu adalah anaknya." Dhira berbicara apa adanya.


Ara tidak kaget. Sebenarnya ia sudah tahu dari Rendra. Pria itu telah menceritakannya padanya dari balik pintu kamar. Tapi ia tetap marah karena sahabatnya sendiri membuat dirinya menjadi sasaran. Padahal dirinya juga salah satu korban dari kebohongan itu. Rasanya makin sakit mengingat bagaimana semua orang mempermainkannya.


"Pergilah! Aku tidak mau punya hubungan apapun lagi denganmu. Jangan menggangguku." Usir Ara.


"Aku sangat menyesal. Aku akan memperbaiki semuanya..."


Ara menatap Dhira dengan tatapan tajam. "Tidak ada yang perlu diperbaiki. Aku bisa mengurus diriku sendiri."


"Ijinkan aku melakukannya. Aku sungguh merasa bersalah. Aku tidak punya dendam atau kebencian apapun padamu. Aku sudah menyadari itu. Yang salah telah tiada. Tidak ada artinya mempersoalkannya." Dhira meraih tangan Ara dan menggenggamnya.


Ara mendengus sambil buang muka. Bagaimanpun ia sungguh sakit hati.


"Aku akan mengurus mu selama kamu belum mau pulang ke keluarga Atmaja. Aku akan bertanggung jawab atas mu."


"Emang aku anak kecil?! Tidak bisa mengurus diri sendiri? Jangan kau kira aku tidak pergi dari sini karena ingin menumpang disini. Aku bisa pergi dari sini!" Ara beranjak dari tempatnya. Diambilnya bantal dari ranjang dan mengeluarkan sarungnya. Lalu menutup bagian depan tubuhnya dengan kain itu. Ia berjalan dengan cepat ingin keluar.


"Ara! Jangan pergi!" Dhira menghadang pintu agar Ara tidak bisa keluar.


"Awasss! Aku benci kalian semua! Jangan sok baik padaku! Kalian hanya para penjahat yang suka mempermainkan hidup orang!" Ia berteriak sambil menangis.


"Ara, aku bersungguh sungguh. Aku ingin menebus kesalahanku. Bagaimanapun kamu adalah sahabatku yang paling baik. Aku terpaksa Ara, terpaksa." Dhira sungguh menangis dan memeluk Ara dengan kuat.


Ara terdiam. Ia bisa merasakan pelukan hangat Dhira.


"Lepaskan! Aku tidak bisa memaafkan mu!" Ara mendorong Dhira hingga terjatuh. "Jangan pernah menemui ku lagi!" Ara membuka pintu. Ia ingin pergi kemanapun asal jangan bertemu mereka yang sudah menyakitinya.


Tapi kakinya tidak bisa melangkah karena di pintu telah ada Leo. Pria itu berdiri dengan tegap ditengah pintu.


"Ara, tenangkan dirimu. Jangan terbawa emosi. Kamu dan kita semua adalah korban dari kejahatan dari mami kita. Kita bisa membenahi keluarga kita selama kita menginginkannya." Leo berhenti sebentar, lalu mengalihkan pandangannya pada Dhira. "Sedangkan Dhira? Ibunya belum juga ketemu. Dia yang lebih dirugikan atas perbuatan mami. Kita harusnya bisa mengerti posisinya."


Ara menunduk. Sedikit banyak perkataan Leo bisa menyadarkan dirinya. Ia mundur dan bersender ke dinding. Kegetiran dalam hatinya mendesak air matanya kembali merembes. Saat ini yang terbayang di benaknya adalah Robert dan Jhon. Kemarahan kembali naik ke dadanya dan ingin sekali melabrak dua pria yang mengaku keluarganya itu.


"Hussss...sudah cukup menangis nya. Kamu sudah kembali ke tempatmu. Aku dan papi akan melindungi mu. Kami akan membahagiakanmu. Apapun akan kakak lakukan demi kamu." Leo menarik Ara ke pelukannya. Tangis Ara makin kuat dalam pelukan Leo. Diantara kebingungan dan kemarahannya secercah bahagia menyelinap ke hatinya.


Ara melepaskan diri dari pelukan Leo. Ia berjalan dan duduk di tepi ranjang. Sedangkan Dhira masih duduk di lantai sedari jatuh karena di dorong Ara.


Leo mengambil tangan Dhira dan menariknya agar bangkit dari lantai. Lalu membawanya duduk di sisi Ara. Kemudian ia sendiri berlutut di hadapan mereka berdua "Kalian adalah hidupku. Aku hidup hanya demi kalian. Prioritas dan tujuan ku adalah kalian berdua. Tolong jangan pernah tinggal aku. Tetaplah disisi ku. Tanpa kalian aku tidak bisa hidup."


Ara begitu terhanyut dengan kata kata Leo. Ia mulai tertarik dan menyukai kakaknya itu.


Dhira mendengus pelan. Bagaimanpun ia yang paling tidak beruntung. Sebaik apapun Leo padanya tetap tidak diterimanya selama ibunya belum kembali.


Leo tahu betul apa yang berkecamuk dalam pikiran Dhira. "Kita akan mencari ibu. Apapun akan kita lakukan untuk menemukannya."


Dhira membuang muka ke samping. Selama hampir dua bulan Leo selalu berkata begitu tapi hingga saat ini belum ada pembuktiannya.

__ADS_1


"Dan kamu Ara, kembalilah bersamaku. Papi menunggumu. Bagaimanpun hanya rumah kitalah tempatmu kembali." Ajak Leo hati hati. Jika Ara sudah tenang dan tinggal di rumah bersamanya ia akan tenang bekerja sekaligus mencari Amelia.


"Tidak. Aku mau tetap di sini. Rumah itu asing bagiku. Biarlah aku tinggal di sini untuk sementara." Tolak Ara. Sebenarnya ia ingin menyelesaikan masalah ini dengan Robert barulah pulang ke rumah Atmaja.


Leo menghela nafas panjang. Meski ia sangat ingin Ara pulang bersamanya, tetapi memaksanya bukan ide yang bagus. Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah menuruti Ara. Melihat Ara, tidak histeris menolak kenyataan hidupnya sudah membuatnya lega.


"Ini tempat laki laki. Tidak ada wanita yang tinggal di rumah ini. Apa kau nyaman?" Tanya Dhira dengan nada kaku.


Ara hanya diam.


"Aku memintamu menemaninya di sini. Tinggallah di sini selama Ara ingin di sini." Pinta Leo pada Dhira.


Dhira mengangguk malas. Padahal dalam hatinya sangat senang, artinya ia bisa lebih leluasa menggali informasi dari Ara tentang Jhon.


"Baiklah, Kalian di sinilah. Aku tidak bisa sering-sering datang kesini. Mulak besok aku dan papi kembali ke perusahaan. Malam ini banyak yang harus aku persiapkan. Aku harus pulang ke rumah berbicara pada papi."


"Kembali? Maksudmu, Jhon mengembalikan perusahaan?" Tanya Dhira.


"Iya. Entah kenapa lelaki itu berubah pikiran. Jelas jelas semua permasalahan diciptakan olehnya. Semua dilakukannya untuk mendepak papi dan aku dari perusahaan. Mulai dari pemasok bahan baku yang tidak mau bekerja sama lagi hingga membuat para investor menarik saham dan berimbas dengan dengan hutang yang menumpuk. Sekarang malah ingin membalikkan keadaan dan mengatakan semua hutang kami telah lunas. Kini tugasku lebih berat lagi, harus mulai dari awal."


Dhira mengerutkan keningnya. Menurut pemahamannya, Jhon kemungkinan akan semakin kejam karena Ara sudah lepas dari genggaman mereka. Tapi ada apa ini? Apa mungkin karena telah meninggalnya Meli sehingga mereka sadar bahwa yang mereka lakukan adalah kesalahan juga? Hanya pertanyaan dan pertanyaan yang tersimpan di dalam pikiran Dhira.


Sementara Ara mengerjap tidak mengerti pembicaraan Leo dan Dhira. Ia tidak mengetahui apapun tentang itu. Tapi untuk bertanya ia malas. Diam adalah cara terbaik untuk menenangkan dirinya.


Tiba tiba mata Leo menangkap pakaian Ara yang robek. "Kenapa pakaianmu? Dan sepertinya ini masih baju mu dari dua hari yang lalu."


Ara tidak berniat menjawab. Ia hanya menunduk malas berbicara.


Akhirnya Dhira menceritakan cerita yang diketahuinya dari Rendra. Kejadian yang nyaris Ara kehilangan kehormatannya saat senja sehabis penguburan Meli.


Sedangkan Ara berdiam saja tidak menunjukkan penolakan. Diam diam hatinya mulai nyaman.


"Kalian jangan malas makan. Pesan apapun yang kalian inginkan. Lihatlah, kalian berdua menjadi kurus." Pesan Leo.


"Ngomongin orang. Kau aja kurus!" Sahut Dhira.


"Aku laki-laki. Ketahanan tubuhku lebih kuat dari kalian berdua. Lagian asal kalian berdua senang dan sehat, aku pasti merasa akan senang dan sehat juga."


"Hem...iyalah." Dhira mencebik tapi tidak terlihat karena hanya sedikit.


"Baiklah. Aku harus pulang sekarang. Seandainya tidak ada hal penting yang ingin ku kerjakan bersama papi, aku akan lebih senang tinggal di sini bersama kalian. Masih kangen pada kalian berdua."


Dua gadis itu hanya terdiam.


Sepeninggal Leo, Ara sedikit berubah. Ia tidak semarah sebelumnya. Sudah mau berbicara dan menuruti kata kata Dhira. Ia sudah mandi juga sudah makan. Dua gadis itu kini duduk di balkon menikmati roti buatan Rendra lengkap dengan teh hijau.


"Memangnya apa yang terjadi? Barusan kalian berbicara tentang Jhon dan perusahaan Leo." Suara Ara sudah normal, walau belum seceria sebelunya. Tidak terlalu kaku dan dingin.


"Semenjak hilangnya kamu, Jhon merusak citra Leo dan Rudy. Mempengaruhi para investor juga yang lainnya agar perusahaannya hancur. Hingga dinyatakan mereka berhutang banyak dan perusahaan terancam bangkrut. Saat itu Leo sedang sakit dan berada dibawah tekanan ku. Rudy sendiri tidak ada kemampuan melawan Jhon. Ditambah keadaan Meli yangulai labil. Mereka hanya pasrah dibawah kelicikan Jhon."


Ara terlihat tidak percaya. Menurutnya Robert dan Jhon adalah pengusaha jujur dan bersih. Ia belum pernah melihat mereka melakukan hal buruk apalagi sampai memfitnah.

__ADS_1


"Itulah kenyataannya. Papimu dan Jhon adalah orang kejam. Buktinya mereka bisa berbohong dan mengambil identitas mu." Dhira memulai aksinya. Ia menjadi sangat penasaran siapa sebenarnya lelaki yang menjadi papi palsu Ara.


"Rasanya sulit ku percaya sebelum aku mendengar sendiri dari papi." Jawab gadis itu dengan tatapan kosong.


Dhira mengangguk "itu wajar. Setelah kamu merasa lebih baik, temui mereka dan tanyakan sendiri. Dengan mendengar dari mereka secara langsung kamu bisa merasa lega."


Ara menghela nafas panjang. Wajahnya sangat murung, menyimpan kesedihan yang dalam. Rasanya ia tidak sanggup mendengar dari papinya bila kenyataan ini benar. Sangat berharap yang terjadi hanya kesalahpahaman. Ia lebih memilih papinya adalah Robert. Lelaki baik yang tak pernah menolak permintaannya. Lelaki baik, selalu memanjakan dirinya.


***


Hari berikutnya Dhira dan Ara masih setia di rumah Rendra. Setiap pagi Dhira berangkat kerja dari sana dan kembali lagi ke sana. Tentu setiap pagi ia tidak pernah absen memeriksa dan mengikuti Jhon setiap ada kesempatan. Harapannya mulai mengabur, karena ia tidak pernah mendapati Jhon berbohong. Lelaki itu benar benar hanya sendirian di rumahnya. Tidak ada orang lain selain para pekerja dan satpam.


Sedangkan Ara tidak pernah membahas tentang keluarga palsunya saat mereka bersama. Sering ia bertanya dan memancing Ara agar mengatakan sesuatu tentang papinya tapi ia tidak pernah berhasil. Kini kebuntuan mematahkan semangatnya. Kadang berpikir, mungkin ia hanya menghabiskan waktunya mencurigai Jhon.


Sehabis makan malam, Ara meminjam jaket Dhira. Gadis itu sudah terlihat sedikit ceria dan gesit. Sudah tidak suka melamun dan kini terlihat bersiap pergi ke suatu tempat


"Mau kemana?" Tanya Dhira heran karena selama tujuh hari Ara tidak pernah keluar.


"Ada hal yang mau ku urus." Ara bersiap dan sudah memakai jaket.


"Aku ikut. Jangan keluar sendirian. Bagaimana kalau kamu menemukan kesulitan."


"Tidak usah. Aku bisa jaga diri. Urusan ini harus ku urus sendiri."


"Ara, kamu itu seorang gadis. Bagaimana kalau bertemu lelaki kurang ajar dan..." Kalimat Dhira menggantung melihat perubahan wajah Ara yang menjadi takut.


"Biar ku temani." Dhira mengambil jaketnya yang satunya lagi. "Kita naik motor."


"Akan merepotkan mu." Ujar Ara dengan kepala tertunduk.


"Tidak. Aku senang kok. Kita bisa sambil jalan jalan."


Akhirnya Ara menuruti Dhira. Setelah turun ke bawah, ia naik ke atas motor dibelakang Dhira.


"Mau kemana?"


"Ke rumah."


"Ke rumah?" Tanya Dhira. Ia bingung rumah yang dimaksud Ara.


"Rumahku selama ini." Ara menyebut alamat rumah Robert.


"Baiklah." Jawab Dhira singkat. Dalam hati sangat berharap ia menemukan sesuatu setelah memasuki rumah Jhon.


Mereka berhenti di depan pos jaga. Dua satpam yang sudah dikenal Dhira mendekat untuk memeriksa.


"Ini aku." Ara membuka helm di kepalanya.


"Oh Non Ara! Nona sudah pulang!" Teriak satpam tersebut dengan wajah berseri.


"Apakah Jhon dan papi ada di rumah?"

__ADS_1


"Hanya ada pak Jhon."


"Baiklah. Buka gerbang itu! Kami mau masuk."


__ADS_2